Sabtu, 12 September 2015

Karena Kompasiana, saya Eksis



acara bedah buku "Refleksi 70 tahun Kemerdekaan, Yusran Darmawan, Thamrin Dahlan, Iskandar Zulkarnain, mbak Ella (dok. Pribadi)

Media sosial, sejak lama saya kenal. Namun, hanya sekedarnya. Bahkan ada kesan kurang baik yang timbul pada saya. Aneh saja, melihat teman yang asyik ber-fb-ria, seakan lari dunia nyata. Bukan untuk sesuatu yang penting-penting amat. Melainkan, hanya untuk menghindar dari beban kerja yang sudah nyata di depan mata. Lalu, apa indahnya baca berita di internet?  Jika ada Koran. Koran lebih lengkap beritanya, lebih lengkap analisanya. Jika dibandingkan dengan berita Internet, dengan berita singkatnya.
Hingga akhirnya, saya pindah ke daerah terpencil, jauh dari kota, jauh dari jangkauan Koran dan Radio. Lalu, apa ganti dari semua kehilangan itu? untuk melakukan aktifitas mancing saya kurang hobby, untuk berenang di laut, resikonya sangat besar. Karena, laut di lokasi baru saya, laut Pantai Selatan. Laut yang dikenal sangat tidak ramah.
Selesai acara bedah buku, narsis dulu (dok. Pribadi)
Akhirnya, saya mulai akrab dengan facebook, ada kepuasan tertentu, jika foto yang saya upload memperoleh banyak jempol dan banyak komen. Hingga akhirnya, saya tersadar ketika seorang teman, memberikan komentar, jika saja foto-foto yang saya upload diberi narasi yang lengkap. Maka, jadilah dia menjadi sebuah tulisan yang lengkap.
Untuk memperjelas komen teman tadi, kami inbox’an, teman tadi menjelaskan lebih rinci, lalu memberikan alternative lain, selain facebook, untuk tempat upload tulisan yang telah “jadi” itu. yakni, kompasiana. Setelah semuanya penjelasan sang teman jelas saya terima, mulailah saya melakukan apa yang dianjurkan sang teman. Tanggal 9 November 2011 menjadikan tanggal yang menandakan saya mulai jadi kompasianer dengan diuploadnya tulisan pertama di Kompasiana. Sejak itu, saya, seakan mendapat dunia baru yang berbeda, facebook menjadi berubah fungsi sebagai tempat saya memperkenalkan tulisan yang baru saja di upload agar lebih banyak dibaca, terutama untuk teman-teman yang aktif di facebook.
Satu-satu, teman kompasianer bertambah, satu-satu tulisan mereka saya baca, banyak hal yang saya peroleh dari tulisan teman-teman kompasianer, mulai dari bentuk tulisan, karakter kompasianer, serta “geng” yang ada diantara kompasianer. Semuanya begitu menarik untuk dipelajari dan dicermati. Meski, jujur, semuanya masih dalam dunia maya. Dunia yang tak berbentuk nyata.
Akhirnya, tanggal 3 syawal, ketika saya pulang dari lebaran ke Bandung, tempat mertua, datang “undangan” dari pak Tjiptadinata Effendi, untuk sebuah silaturahmi kecil di jalan Juanda, depan Binagraha. Jakarta Pusat. Siapa yang mampu untuk menolak undangan itu? Bukan hanya pertemuan dan silaturahmi yang akan terjadi, dibalik semua itu, pertemuan ini, sebagai ajang pembuktian bahwa mereka yang disebut kompasianer itu, memang sesungguhnya ada, sesungguhnya nyata. Bukan sesuatu yang mengawang-awang tak berbentuk.
Singkat cerita, siang itu, saya bertemu dengan pak Thamrin Sonata, Maria Margaretha, Ibu Roseline, Pak Tjip, Pak Kate dan masih banyak kompasianer yang lain. Pribadi-pribadi dengan latar belakang yang beragam dengan keberagaman kekaguman saya pada mereka semua. Betapa tidak, pak Tjip dengan tampilan sosok kebapakannya, seakan menghadirkan kembali sosok almarhum ayah saya yang telah lama berpulang, Ibu Rose, sosok wanita yang mengayomi, yang kebetulan nama beliau sama dengan nama ibu saya yang telah almarhum, seakan menghadirkan kembali sosok Ibu yang telah “pergi jauh” kembali hadir, dihadapan saya. Menghadirkan rasa haru yang sangat, dalam hati, makin lengkap rasa itu, ketika mereka berdua, berbicara dengan saya, dengan bahasa yang digunakan oleh kedua orang tua saya, dalam percakapan sehari-hari di rumah, bahasa Minang.
Kompasianer gaek di kompasianival 2014 (dok.Pribadi)
Dengan penuh harap dan rasa haru yang sangat, saya katakan pada kedua “orang tua” saya itu, ijinkan saya memanggil mereka berdua dengan sebutan bapak dan mandeh. Mereka berdua, dengan takzimnya mengangguk, keharuan ketika menggangguk itu, masih tetap saya rasakan, hingga ketika saya menuliskan cerita ini.
Sosok pak kate dengan tulisan-tulisannya yang menyejukkan, Maria dengan kecerdasan dan pengabdian serta penjiwaannya dalam dunia pendidikan yang luar biasa, Pak Thamrin yang cerdas dengan ide-ide segarnya yang menjadikannya semuanya berbeda.
Dalam silaturahmi pasca Ramadhan jalan Juanda itu, dilahirkan ide membuat buku yang terdiri dari kumpulan tulisan kompasianer, ide yang dilontarkan pak Thamrin Sonata, bak gayung bersambut, mendapat apresiasi teman-teman yang hadir. Akhirnya, buku “36 kompasianer Merajut Indonesia”  lahir, sebagai bukti dari ide yang lahir dari silaturahmi di Jalan Juanda pasca lebaran itu.
Pertemuan pertama dengan kompasianer diikuti dengan kopdar-kopdar yang lain, disadari atau tidak, ikatan bathin diantara kita sesama kompasianer semakin kuat, kita seakan sudah menjadi sebuah keluarga besar dalam rumah yang bernama kompasiana.
Setelah sekian banyak tulisan yang di upload, dalam sebuah kopdar, kami (saya dan pak Thamrin Sonata) sepakat untuk membukukan sejumlah tulisan saya yang diambil dari cerita tentang perjalanan. Dari kesepakatan ini, lahirlah buku “Jabal Rahmah rendezvous Cinta nan Abadi”. Inilah buku pertama saya, yang seluruh isinya saya tulis sendiri. Buku yang pada sampul halamannya tertulis nama saya.
Cerita tentang buku pertama itu, ternyata, tidak selesai dengan serta merta ketika proses cetaknya selesai. Masih ada cerita lain yang mengiringinya. Ketika kampus saya tahu dan saya menawarkan untuk acara bedah buku di kampus. Pihak Kampus dengan antusias menyanggupi acara yang dimaksud. Jadilah saya, pak Thamrin Sonata dan pak Isson Khairul menjadi nara sumber,  seluruh civitas academika hadir, Rektor, dekan dan para Dosen yang hampir seluruhnya merupakan adik kelas saya dulu, ikut hadir dengan antusias. Jadilah acara itu, sebagai pertanda, bahwa anak yang hilang itu, telah kembali. Maklum, saya adalah alumni yang selama ini, seakan terputus komunikasi dengan kampus dimana dulu pernah mengenyam pendidikan di sana.
tiga generasi kompasianer, kakek-nenek, anak, menantu dan cucu (dok. Pribadi)
Lima tahun sudah saya menjadi kompasianer, selama itu, empat buah buku telah saya lahirkan, pada setiap buku itu, selalu ada cerita yang mengiringinya. Tentu saja, tidak mungkin semua cerita, akan saya tuliskan disini. Tetapi dengan kehadiran buku-buku itu, saya merasa, ada sekat-sekat yang dulu seakan terdapat penghalang untuk saya masuki, kini dengan mudah saya masuki.
Buku terakhir saya, “catatan kecil, perjalanan PNPM-MPd” bahkan telah di bedah diantara kita sesama kompasianer, pada tanggal 25 Agustus 2015. Buku ini pula yang telah membawa saya untuk hadir di beberapa kota dan beberapa event yang awalnya saya pikir tidak mungkin. Buku-buku itu pula yang telah mempertemukan saya dengan mereka yang selama ini saya rasa tidak mungkin untuk bertemu.
Perjalanan bersama kompasiana, agaknya akan terus membawa cerita baru, seperti baru-baru ini, ada tawaran dari Kompas untuk liputan sebuah even di luar jawa yang akan berlangsung bulan September 2015, sebuah pengalaman baru yang tidak mungkin saya tolak untuk tawaran yang diajukan itu. Jika tawaran pertama, sukses saya kerjakan, tidak tertutup kemungkinan, tentunya, akan ada tawaran-tawaran berikutnya.
Terima kasih Kompasiana, terima kasih kompasianer, untuk, perjalanan selama kurun waktu yang  kita lewati bersama, selama ini. telah membawa banyak hikmah  pada saya, membawa banyak pencapaian yang diluar perkiraan saya. Dengan redaksi bahasa yang lain, dapat saya katakan.  Karena Kompasiana, saya Eksis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar