Minggu, 13 September 2015

Analisa Minat Baca Pemberdaya



Acara Coaching Clinic payuguban UPK&BKAD se Jawa Barat yang berlangsung di Purwakarta, dibuka oleh Bupati Purwakarta Dedy Mulyadi (dok.Pribadi)

Untuk menjadi penulis yang baik, dibutuhkan banyak membaca. Sedangkan, banyak membaca belum tentu mengakibatkan seseorang menjadi penulis. Agak bingung ya?. Arti sederhana Kalimat itu, kira-kira demikian. Untuk menjadi penulis yang baik, kita harus banyak membaca. Tetapi, membaca banyak saja, tidak otomatis menjadikan kita menjadi penulis. Ada syarat lain untuk menjadi penulis. Apa itu? ya banyak membaca, ya banyak menulis. Menulis tentang apa? Ya apa saja. Perjalanan waktulah, kelak yang yang menuntun “rasa” kita, kita cocoknya jadi penulis apa.
Lalu, apa hubungannya pemberdaya terhadap minat baca? Sudah tentu sangat berhubungan. Meskipun pemberdaya tidak diharapkan jadi penulis. Tetapi, profesi pemberdaya menuntut mereka untuk banyak membaca. Kenapa? Karena, pemberdaya adalah mereka yang melakukan pekerjaan volunting, mengajarkan masyarakat tentang apa yang harus mereka perbuat, apa yang tidak boleh mereka perbuat. Apapun jenis pemberdayaan yang mereka geluti, pada posisi apapun pemberdaya berada. Apakah itu di tingkat Desa, di tingkat Kecamatan, di tingkat Kabupaten, Provinsi atau Ibu kota sekalipun. Merekalah yang memberdayakan masyarakat, merekalah “Guru” masyarakat.
Bisa dibayangkan, apa jadinya kualitas murid, jika sang guru tidak banyak membaca, tidak memiliki banyak referensi. Tentunya, apa yang mereka ajarkan pada murid-muridnya, hanya sebatas pada apa yang tertulis pada buku textbook. Tanpa penambahan modifikasi, tanpa pendekatan phsykologis sang murid, tanpa analogi yang sesuai dengan kemampuan intelektual sang murid dan inovasi bagaimana bahan ajar yang mereka sampaikan akan memperoleh hasil maksimal dalam pencapaian prakteknya.
Dalam menganalisa minat baca pada pemberdaya, saya hanya membatasi diri pada pemberdaya yang berada pada program yang bernama PNPM, yang sebentar lagi, mereka akan berganti baju dengan nama pemberdaya “Pendamping Desa”. Mereka inilah yang diharapkan jadi “guru” masyarakat Desa, mampu memberikan advis pada masyarakat Desa dan perangkat Desa sesuai dengan ilmu dan budaya lokal Desa dimana mereka  berada. Tentang apa yang boleh dikerjakan, apa yang tidak boleh dikerjakan, tentang bagaimana membuat rencana kerja pembangunan Desa, melihat semua kendala yang ada di Desa, lalu kendala yang ada di Desa itu, bagaimana dirubah menjadi sebuah potensi, hingga menjadikan Desa lebih maju dan berdaya. Bagaimana melihat dan merunut prioritas apa dulu yang akan dikerjakan.
Lihat… bagaimana kompleksnya masalah yang akan dihadapi oleh pendamping Desa. Meliputi hal-hal tekhnis seperti yang saya sebutkan diatas, serta masalah non tekhnis. Bagaimana beban berat tersebut harus tersampaikan dan terlaksana?. Pendekatan yang dilakukan secara Texbook tanpa sentuhan budaya lokal sudah dapat dipastikan akan mengalami kegagalan.
Lalu bagaimana mengetahui budaya lokal, psykologi masyarakat Desa, mengetahui cara Inovasi terobosan pada masyarakat Desa, serta terobosan-terobosan cerdas lainnya, jika pemberdaya tidak banyak membaca, banyak mendengar dan menyerap informasi sebanyak-banyak dari rekan pemberdaya yang telah lama bergelut di bidang itu?
Metode ini juga, hanya berdasarkan tingkat pembelian bahan bacaan yang berhubungan dengan dunia pemberdayaan yang sudah terpraktekkan, sudah dialami sendiri oleh penulisnya, serta inovasi-inovasi yang telah dilakukan. Semua pengalaman lapangan, berupa kendala dan solusi penyelesaiannnya serta wacana perbaikan untuk masa depan, yang telah dikemas dalam sebuah buku yang berjudul “catatan kecil, perjalanan PNPM-MPd”.
Langkah yang saya lakukan dengan menawarkan buku tersebut pada kelompok pemberdaya dengan ragam level yang berbeda. Seperti;
Satu, fasilitator Kecamatan. Saya melakukan penawaran buku, pada acara rapat koordinasi yang dilakukan fasilitator Kecamatan yang dilangsungkan di Kabupaten tempat fasilitator bekerja. Pada rakor fasilitator Kecamatan itulah saya menerangkan bagaimana perjalanan buku itu, hingga terwujud menjadi sebuah buku, bagaimana isi kandungan buku, jumlah halaman, hingga cerita tentang bagaimana buku tersebut telah di bedah di Kompas Gramedia.
Pada rakor fasilitator Kecamatan, saya melakukan penawaran buku itu, di dua Kabupaten dengan waktu berbeda dan tempat berbeda. Hasil penjualan buku, jika dibandingkan dengan jumlah peserta yang hadir terdapat angka 46% dan 38%.
Dua, Acara Coaching Clinik, Paguyuban UPK dan BKAD ditingkat Provinsi Jawa Tengah yang berlangsung di kota Solo dan Acara Coaching Clinik paguyuban UPK dan BKAD ditingkat Provinsi Jawa Barat di Kota Purwakarta. Kedua acara yang dihadiri oleh Bapennas, kementrain Hukum dan Ham, OJK (Otoritas Jasa Keuangan) dan kementrian Koperasi itu, terjual buku 8.2% untuk Provinsi Jawa Tengah dan 9.2% untuk Provinsi Jawa Barat.
Tiga, fasilitator Kabupaten. Pada Acara Pelatihan Penyegaran fasilitator Pendamping Desa tingkat Kabupaten yang di lakukan di Jakarta, tepatnya hotel Boutique jalan Angkasa Jakarta Pusat ini, diikuti oleh fasilitator tingkat Kabupaten yang terdiri dari Provinsi Sumatera Barat, Provinsi Riau, Provinsi Sumatera Selatan, Provinsi Jambi, Provinsi Bangka Belitung, Provinsi Lampung dan Provinsi Banten. Terjual buku hanya 2%.
Coaching Clinic paguyuban UPK se Jawa Barat, di hadiri Bapennas, kemenkum ham, OJK dan kementrian Kopersai (dok. Pribadi)
Lalu pertanyaannya sekarang, bagaimana membaca angka-angka itu? bagaimana menjelaskan angka-angka itu, sehingga dapat dimengerti oleh kita semua. Terutama, pada masyarakat awam di luar dunia pemberdayaan.
Penjelasannya, dapat kita uraikan sebagai berikut:
Satu, fasilitator Kecamatan berminat membaca karena merekalah pelaku pada garda terdepan dari program pendampingan Desa. Mereka adalah anak-anak muda dengan strata pendidikan S1, dengan tingkat idealis tinggi. Gaji  mereka kecil, tapi idealime yang mereka miliki, mengalahkan apa yang mereka terima. Mereka inilah para Bintara dan Tamtama yang diterjunkan langsung ke Medan pertempuran dengan satu tujuan memenangkan peperangan.
Dua, UPK dan BKAD adalah elemen yang secara hierarki tidak berada langsung pada medan fasilitasi. Tetapi, peran mereka demikian krusial, penyaluran dana fisik sarana prasarana melalui mereka, demikian juga dengan penyaluran dana kegiatan simpan pinjam. Kedudukan mereka di daerah Kecamatan. Para anak-anak muda UPK dan BKAD ini, strata pendidikan mereka sama dan atau kurang dari pada fasilitator Kecamatan, ada yang S1 dan non S1. Namun, keuletan dan daya juang UPK dan BKAD ini sudah teruji, indikasinya jelas, inilah satu-satunya jasa keuangan yang tetap bertahan, sementara jenis koperasi seperti KUD dll sudah almarhum. Indikasi lain, ketika program PNPM dihentikan di awal 2015, keberadaan UPK dan BKAD tetap eksis hingga kini.
Tiga, fasilitator Kabupaten adalah mereka yang memiliki autoritas pada fasilitator Kecamatan, sebagai atasan, tentunya mereka yang dilevel Kabupaten memiliki pengetahuan yang lebih dari mereka yang berada pada level Kecamatan, memiliki kebijakan yang lebih, memiliki inovasi yang yang lebih dan selalu update, memiliki semangat ingin tahu yang lebih. Namun, pada kenyataan hal-hal ideal demikian tidak selalu terjadi.
Mereka tidak memiliki pengetahuan yang lebih, kebijakan yang lebih, inovasi dan metode pendekatan yang lebih. Malah, cenderung texbookt, lebih kaku, lebih otoriter dan tak memiliki keinginan untuk selalu update pengetahuan. Inilah, mungkin, mengapa pada  level fasilitator yang lebih atas itu, penjualan buku “catatan kecil, perjalanan PNPM-MPd” hanya berkisar pada angka 2%.
Atau juga, sebagaimana pendapat peserta coaching Clinik UPK & BKAD di Jawa Barat, ketika session Tanya jawab, tentang leading sector keberadaan UPK & BKAD untuk berada di bawah Kemendes, sang peserta mengeluarkan pendapat, sebagai “untuk apa kita harus berada dibawah mereka yang menyebut dirinya sebagai pemberdaya itu?  sesungguhnya, merekalah yang tidak berdaya, bukan kita. Ketika program PNPM itu dihentikan, mereka hanyalah sekumpulan para penganggur yang merengek-rengek agar program dilanjutkan kembali, tujuannya bukan untuk kita, melainkan untuk mereka, agar mereka dapat bekerja kembali. Sedangkan kita, hanya dijadikan obyek alasan”
Atau pendapat seorang fasilitator Kecamatan dari Jawa Tengah yang menulis pada saya sebagai berikut : “Para pelaku pemberdayaan Kabupaten saat ini, sedang dilanda hipokrisi dengan munculnya bibit-bibit kesombongan. Karena, seolah-olah merekalah yang paling tahu soal pemberdayaan dan Desa. Jadi, ketika ada orang lain, sesama pelaku pemberdayaan menuliskan tentang PNPM dan Desa, yang ada hanyalah, mereka seolah-olah sudah tahu dan lebih tahu. Sehingga, apresiasi terhadap karya pemberdayaan dan desa menjadi sangat kurang…dan tidak aneh bila mereka asing dan bahkan cenderung apriori.
Lalu, bagaimana pendapat pribadi saya tentang fenomena ini? saya tidak ingin berpendapat, biarlah pembaca yang menyimpulkan sendiri, atas fenomena yang saya tuliskan diatas. Hanya saja, saya ingin menceritakan, bagaimana ketika buku ini dibedah di Kompas Gramedia, tidak seorangpun para “mbaurekso” yang di kemendes itu turut hadir. Padahal mereka sudah saya beri tembusan terhadap acara bedah buku yang dimaksud….. wallahu a’laam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar