Rabu, 16 September 2015

Kedai Kopi, ini Dunia Laki-laki Bung..!!!

kopi Aceh....maknyussss (dok.Pribadi)
Ketika Kompasianival tahun 2014, saya ketemu dengan Boss Penerbit Jentera Pustaka. Lelaki yang sayang keluarga dan Bapak yang baik untuk anak-anaknya. Kami ngobrol kesana-kemari, hingga beliau akhirnya bertanya tentang asal daerah saya. Ketika saya sebutkan asal daerah saya, beliau menyebutkan, jika beliau juga berasal dari daerah yang sama. Bahkan Kampung kecilnya, hanya terpisah Desa saja dengan saya.
Satu hal yang saya ingat dari pertemuan itu, beliau mengatakan, mengapa banyak penulis-penulis handal lahir dari daerah beliau? Jawabnya, dikarenakan adanya budaya “maota di lapau”.

Selasa, 15 September 2015

Yang Tersisa Pada Ramadhan di Pesantren



Ada masa ketika, kita merasakan sesuatu yang kurang nyaman, lalu dirasa berat, padahal sesungguhnya, kejadian-kejadian itu, kelak menjadi sesuatu yang begitu berarti, tak tergantikan dan tak mungkin terulang kembali. Sebabnya, mungkin saja karena kita sudah berada jauh dari lokasi yang dimaksudkan, atau memang zaman sudah berubah, hingga kita tak mungkin untuk mengembalikan jarum waktu pada ketika yang kita inginkan.
Berikut ini, hanya sepenggal kisah hidup ketika, saya menghabiskan masa-masa muda, sebagai seorang dengan idealis tinggi, ikut mencerdaskan anak bangsa jauh di sudut terjauh dari pulau Sumatera. Kejadian  yang terjadi pada saat Ramadhan, jauh dari sanak saudara, sementara santri yang akrab dengan kehidupan keseharian kita, sedang berlibur di kampong mereka masing-masing.
Sebagaimana biasa, ketika bulan Sa’ban tiba, kami warga Pesantren gembira, sibuk dengan berjibun kegiatan sekaligus sedih, gembira karena dipenghujung bulan ini, akan datang Ramadhan, bulan yang menjanjikan berbagai bonus pahala yang melimpah  dengan puncak bonusnya itqum minannar (terbebas dari api neraka), yang menurut logika agama, ketika seorang hamba terbebas dari api Neraka, maka tiada tempat lain yang akan dikunjunginya

Polygami itu Sunnah Rasul



ilustrasi Polygami (dok.Pribadi)

Belum lama ini, saya bertemu dengan seorang teman yang sudah sukses. Kami yang biasanya ngobrol di warung kopi pinggir jalan, kini berpindah ke warung kopi dengan pendingin ruangan. Tak terasa obrolan jadi ngelantur kemana-mana. Mulai dari perjuangannya meraih sukses pasca perpisahan kami yang terakhir, hingga niatnya untuk menikah kembali. Ingin menambah Istri lagi. Tokh, hal itu tidak salah, demikian penuturan teman saya, sudah ada Presedennya, sudah ada contohnya, yang dalam bahasa agama disebut dengan sunnah. Teman saya menyebutnya dengan istilah sunnah Rasul. 
Saya terkejut dengan istilah “sunnah Rasul” itu. saya katakan pada sang teman, jika ingin menambah istri. Maka, lakukan saja, tanpa ditambah dengan istilah sunnah Rasul. Tokh agama mengijinkannya dengan beberapa syarat yang mengiringinya. Tetapi, sekali lagi, kata saya, jangan gunakan istilah sunnah Rasul.
Teman saya bertanya, mengapa saya keberatan untuk menggunakan sunnah Rasul? Untuk menjawab pertanyaannya itu, maka saya buat tulisan ini.

Senin, 14 September 2015

Stasiun Binjai



Tampak Depan Stasiun Binjai (dok.Pribadi)

Binjai itu, seperti Bekasi untuk Jakarta. Kota yang mendukung Kegiatan kota Medan. Meski, bagi saya, Binjai memiliki arti dan kenangan sendiri. Banayak hal yang menyertainya, banyak kenangan yang berkaitan dengan Binjai.
Bagi mereka yang mengenal Bandung tahun 70-an, di sudut Jalan Braga Bandung, ada seorang pengamen buta yang memainkan alat musiknya, berupa Kecapi. Berbeda dengan pemain alat musik Kecapi lain, pemain musik dengan alat musik Kecapi ini, tidak memainkan lagu-lagu sunda. Melainkan, memainkan alat musiknya dengan lagu-lagu manca Negara yang sedang in ketika itu. sebut saja, judul lagu “love Hurt” oleh Nazaret, lagu “Delilah” oleh Tom Jones dan lagu Rolling Stones  seperti Paint It Black, Gimme Shelter, Sympathy for the Devil, Satisfaction, You Can’t Always Get What You Want, oleh Mick Jagger.

Minggu, 13 September 2015

Analisa Minat Baca Pemberdaya



Acara Coaching Clinic payuguban UPK&BKAD se Jawa Barat yang berlangsung di Purwakarta, dibuka oleh Bupati Purwakarta Dedy Mulyadi (dok.Pribadi)

Untuk menjadi penulis yang baik, dibutuhkan banyak membaca. Sedangkan, banyak membaca belum tentu mengakibatkan seseorang menjadi penulis. Agak bingung ya?. Arti sederhana Kalimat itu, kira-kira demikian. Untuk menjadi penulis yang baik, kita harus banyak membaca. Tetapi, membaca banyak saja, tidak otomatis menjadikan kita menjadi penulis. Ada syarat lain untuk menjadi penulis. Apa itu? ya banyak membaca, ya banyak menulis. Menulis tentang apa? Ya apa saja. Perjalanan waktulah, kelak yang yang menuntun “rasa” kita, kita cocoknya jadi penulis apa.

Sabtu, 12 September 2015

Karena Kompasiana, saya Eksis



acara bedah buku "Refleksi 70 tahun Kemerdekaan, Yusran Darmawan, Thamrin Dahlan, Iskandar Zulkarnain, mbak Ella (dok. Pribadi)

Media sosial, sejak lama saya kenal. Namun, hanya sekedarnya. Bahkan ada kesan kurang baik yang timbul pada saya. Aneh saja, melihat teman yang asyik ber-fb-ria, seakan lari dunia nyata. Bukan untuk sesuatu yang penting-penting amat. Melainkan, hanya untuk menghindar dari beban kerja yang sudah nyata di depan mata. Lalu, apa indahnya baca berita di internet?  Jika ada Koran. Koran lebih lengkap beritanya, lebih lengkap analisanya. Jika dibandingkan dengan berita Internet, dengan berita singkatnya.

Minggu, 06 September 2015

9 Arti Ketika Tokek Bunyi Malam Hari


Tokek (sumber gambar google)

Semua kita tentu kenal dengan Tokek, minimal pernah mendengar namanya, ada juga yang pernah mendengar suaranya, ada juga, bahkan pernah  melihat bentuk fisiknya.
Tokek adalah nama umum untuk menyebut cecak besar. Ada banyak jenis Tokek. Namun istilah Tokek pada umumnya dimaksudkan dengan adalah anggota marga Gekko, suku Gekkonidae. Yang merujuk kepada Tokek rumah (gecko gecko) yang tersebar meliputi wilayah didaerah Asia Selatan, Asia Tenggara, Korea, Jepang, hingga kepulauan Solomon dan Santra Cruz di Pasifik.