Sabtu, 01 Agustus 2015

Stasiun Cibatu Garut, harta terakhir Garut



Halaman Depan Stasiun Cibatu (dok.Pribadi)

Tahun 1976 saya ikut Kereta Api ekonomi ke Jawa Tengah dari Stasiun Bandung (seluruh keberangkatan tahun itu dari Stasiun Besar Bandung, termasuk Kereta Api ekonomi, Kereta Api Jurusan mana dan nama Kereta Api ekonominya apa, saya lupa).
Ketika Kereta Api yang saya tumpangi sampai di Stasiun Cibatu, waktu sudah menunjukan pukul tujuh sore. Sementara Kereta Api uap yang dijuluki si Gombar, dengan  Jurusan Garut telah berangkat. Itu artinya, saya terpaksa harus bermalam di stasiun Cibatu, untuk menunggu subuh ketika si Gombar bersiap melakukan perjalanan ke Garut.
sisi dalam Stasiun Cibatu (do. Pribadi)
Suasana malam di stasiun Cibatu, ketika itu sungguh hidup. Banyak calon penumpang yang sama seperti saya. Sementara menunggu waktu subuh, bajigur hangat, bandrek panas & pedas, katimus, leupeut, dan tahu merupakan menu yang menemai mereka yang menunggu si Gombar menjelang subuh.
Saya, yang ketika itu masih murid SLTA, ikut mencoba minum  Bajigur, ketimus dan sebatang rokok Jarum 76. Sebuah pengalaman manis yang tak mungkin terlupakan.
Nasib berkata lain, siapa yang menyangka, jika pada akhirnya saya berjodoh dengan wanita asal garut, tepatnya yang berasal dari daerah Cibatu Garut. Saya ternyata termasuk “Baraya” dari keluarga Cibatu.
Untuk memperkokoh tali silaturahmi keluarga besar asal Garut, akhir minggu ketiga maret 2013 saya kembali menyambangi Cibatu, tidak lupa dengan stasiun Cibatu.
Depo perbaikan itu, kini sepi (dok.Pribadi)
Ternyata stasiun Cibatu yang terletak pada +612 dpl ini, telah banyak berubah.
Menurut data, Stasiun Cibatu, didirikan pada tahun 1889, setelah sebelumnya diresmikan jalur Kereta Api yang menghubungkan Stasiun Cicalengka dengan Stasiun Cilacap oleh Staatsspoorwegwn, maskapai Kereta Api milik Pemerintah Belanda. Pada tahun 1926 dibuka jalur baru yang menghubungkan Cibatu dengan Cikajang, melalui Kota Garut.  Jalur Kereta Api Cibatu-Cikajang merupakan jalur tertinggi di Pulau Jawa (± 1200 M).  Namun, sayangnya, jalur tertinggi di pulau Jawa ini, sejak tahun 1983 sudah tidak beroperasi lagi.
Sisi lain dari Depo perbaikan (dok.Pribadi)
Perubahan lain, Dipo lokomotif yang terletak tidak jauh dari stasiun tidak lagi beroperasi, statusnya berubah menjadi sub Dipo, padahal ketika itu, disitulah tempat perbaikan dan pemeliharaan lokomotif uap si Gombar, juga sebagai tempat parkir lokomotif uap cadangan, jika saja ada penggantian lokomotif  yang rusak atau perlu perbaikan.
Demikian juga perubahan pada Ruang tunggu dan emplasment Stasiun Cibatu, sungguh bersih dan teratur, keakraban penjaja kuliner malam dan calon penumpang sudah hilang terkikis tak berkesan sama sekali, hal ini, juga disebabkan ditutupnya Cibatu-Garut-Cikajang pada tahun 1983. Bagi saya pencari nilai nostalgia tempo dulu, hal ini merupakan sebuah kehilangan besar.
Kereta Ekonomi dan Bisnis sudah tidak berhenti lagi di stasiun Cibatu, membuat stasiun terbesar di kabupaten Garut ini, kehilangan ruhnya, padahal pada era kolonial Belanda, Stasiun Cibatu merupakan stasiun primadona karena menjadi tempat pemberhentian wisatawan Eropa yang ingin berlibur ke daerah Garut. Dalam buku Seabad Grand Hotel Preanger 1897-1997  yang ditulis oleh Haryoto Kunto, antara tahun 1935-1940 setiap hari di stasiun Cibatu diparkir selusin taksi dan limousine milik hotel-hotel di Garut, di antaranya Hotel Papandayan, Villa Dolce, Hotel Belvedere, Hotel Van Hengel, Hotel Bagendit, Villa Pautine, dan Hotel Grand Ngamplang. Saat itu daerah Garut dengan kondisi alamnya yang indah memang merupakan daerah favorit wisatawan yang berasal dari Eropa.
Suasana Tempo dulu Stasiun Cibatu (dok.Pribadi)
Bahkan, komedian legendaris Charlie Chaplin pada tahun 1927 pernah menjejakkan kakinya di stasiun ini. Saat itu Charlie Chaplin bersama aktris Mary Pickford sedang dalam perjalanan liburan ke Garut. (sumber: blog focus Jabar)
Halaman Parkir Stasiun Cibatu masih luas dan asri, tetapi sudah lengang, aktivitas nyaris tak ada lagi, pada di halaman ini, pernah menjadi saksi bisu berbagai selebritis dunia dan politikus dunia pernah singgah dan menjejakkan kakinya di halaman stasiun ini.
Setelah puas bernostalgia, sore hari saya pulang, banyak kenangan yang terjadi di stasiun ini, jejaknya ada yang masih terlihat, ada juga yang sirna sama sekali, ada baiknya, pihak stasiun menerbitkan buku saku untuk pedoman bagi wisatawan ketika mengunjungi stasiun cibatu, sehingga stasiun kecil yang penuh sejarah ini, bukan hanya dilihat dari kecil fisik dan aktifitas kekinian saja. Tetapi, dapat dimaknai juga dengan sejarah panjangnya. Insya Allah.

2 komentar:

  1. Sangat disayangkan sekali pak. Padahal jika dijaga dgn baik mungkin ruh stasiun Cibatu akan terasa diera modern seperti saat ini. Salam kenal saya Blogger asal Wanaraja, Garut. Menulis via http://anwariz.com

    BalasHapus
  2. Saya mau tanya, apakah di stasiun cibatu atau sekitar nya ada penitipan motor? Terima kasih.

    BalasHapus