Jumat, 07 Agustus 2015

Sampeyan Ngerti Borong? (Analisa rasa Gelisah)



Gelisah sangat manusiawi, setiap manusia mengalaminya, karena gelisah merupakan fitrah manusia, Al Qur’an sendiri mengakuinya,  dengan ayat yang berbunyi Inamal Insanu Halu’ah  (sesungguhnya manusia dalam kondisi gelisah).
Bentuk kegelisahan berbagai bentuk, demikian juga penyebabnya. Bisa jadi,  gelisah karena jodoh yang ditunggu tidak jua kunjung tiba, bisa juga karena mau menghadapi ujian, tetapi persiapan untuk ujian belum matang, atau hal-hal yang lain. Bahkan seorang Abu Bakar shiddiq, seorang sahabat terdekat nabi Muhammad SAW, dengan keimanan yang tidak perlu diragukan lagi, pernah mengalami rasa gelisah, peristiwanya terjadi ketika beliau menemani Rasulullah  hijrah. Ketika itu, beliau bersembunyi di dalam sebuah Gua, dalam kondisi sangat lelah disertai demam tinggi, karena kaki beliau tersengat kalajengking, sementara kaki kafir Qureisy tinggal beberapa puluh senti lagi dihadapan beliau. Dalam kondisi sangat mencekam itu, Abu Bakar gelisah. Lalu Rasulullah coba menenangkan beliau, dengan ucapan La takhof wa la tahzan, Innallah ha Ma ana (jangan takut dan gelisah, sesungguhnya Allah bersama kita), perkataan menghibur inilah yang kelak menjadi hadist yang sangat terkenal, sebagai obat mujarab bagi mereka yang sedang dilanda gelisah. 
Jadi, gelisah dalam porsi tertentu sangat wajar dan manusiawi, yang jadi masalah, jika gelisah dihadapkan dengan hal-hal yang akan terjadi di masa depan. Sesuatu yang sifatnya  masih relative, belum pasti dan tidak jelas, apakah benar akan terjadi atau tidak terjadi, sementara kita telah larut dalam kegelisahan, sehingga banyak waktu terbuang percuma, banyak energy dihabiskan percuma.
Cerita tentang gelisah itu, pernah saya alami ketika beberapa tahun lalu, saya diajak bertukar pikiran oleh anak Bu De saya, beliau bekerja di sebuah Departemen yang terkenal cukup basah, berbagai kekhawatiran beliau sampaikan, sehubungan dalam setahun kedepan akan memasuki dunia Pensiun. Saya tanyakan kenapa curhat sama saya, anak Bu De mengatakan karena saya bekerja sebagai pegawai luar negri (istilah beliau untuk pekerjaan swasta), dimana saya sering sekali berhenti kerja, lalu kerja lagi, lalu nganggur lagi. Lalu kerja lagi. Sehingga data yang diperoleh dari pelaku lebih dapat dimengerti dan di pahami, jika dibandingkan mereka yang tidak pernah mengalaminya.
Karena beliau lebih menekankan pada praktisi, maka sayapun tidak memberikan teori yang muluk-muluk. Tetapi, hal-hal praktis yang dialami oleh mereka-mereka yang disebut praktisi, yang sudah terbukti tidak larut dalam rasa gelisah yang menghanyutkan.
Berikut ini beberapa tip yang pernah saya sampaikan pada beliau, berupa cerita nyata, yang jika ditarik benang merahnya dapat menjadikan teori menghilangkan rasa gelisa yang tidak perlu.
Hal pertama, supaya tidak gelisah ya jangan gelisah. Ketika saya membangun Tunjangan Plaza II Surabaya, akhir tahun 1992, disela-sela kesibukan proyek yang padat, saya sempatkan untuk showan (Silaturahmi) ke ulama yang bersuara lantang pada rezim Orde Baru, tanpa rasa Gelisah akan resiko dari semua keyakinan yang beliau  suarakan. Beliau adalah kiyai Alawi Muhammad. Singkat cerita, siang itu, saya sudah duduk di hadapan beliau, di pesantren beliau di daerah Sampang, Madura. Bersamaan dengan saya, duduk pula seorang santri beliau yang telah selesai  menamatkan pendidikan dan berniat untuk pamit karna akan merantau mengamalkan ilmu yang diperolehnya.  Mengetahui tujuan kedatangan santrinya, kiyai Alawi menggeser duduknya dan menghadap ke saya.
Lalu bertanya: “sampeyan ngerti Borong?” Tanya beliau ke saya. Saya menjadi bingung, dengan pertanyaan itu,  mau nasehati santrinya, kok malah tanya ke saya.
“Tidak tau, Yai”. Jawabnya saya singkat.
“Manuk…manuk, Sampeyan negrti Manuk?” beliau masih bertanya, sambil sedikit menjelaskan.
“Maksud Kyai, burung? Kalau itu saya tau”. Jawab saya pula, masih bingung.
Iya….. itu, maksud saya, kata beliau pula. Burung atau Manuk atau Borong, gak pernah sekolah. Tetapi, setiap pagi dia keluar dari sangkarnya, lalu mencari makan, sebelum maghrib, borong itu sudah pulang ke sarangnya dalam kondisi perut kenyang. Lalu kiyai Alawi merubah duduknya, menghadap pada santrinya, sambil berkata dengan suara keras, khas gaya Maduranya beliau berkata.
Lha, sampeyan kan sudah sekolah, bahkan sudah nyantri ditempat saya sekian tahun, lalu apa yang digelisahkan, berangkat saja, jangan kalah dengan Borong. Saya restui. Demikian kiyai Alawi Muhammad menasehati santrinya.
Hal kedua. Kalau  takut mati saja.  Ditahun 1977 dalam sebuah khutbah awal tahun pelajaran, kalau diperguruan tinggi,  disebut General  Stadium, kiyai Zarkasi, salah seorang dari Trimurti Pesantren Gontor Ponorogo, mengatakan demikian. Modal hidup bagi manusia itu adalah keberanian. Berani hidup sekaligus berani mati, kalau tidak berani hidup, maka mati saja, kalau tidak berani mati, maka jangan hidup. Perkataan itu, sampai kini masih saya ingat, sama seperti apa yang ditulis khairil Anwar…. Sekali berarti sudah itu mati.
Hal ketiga, kita memiliki zat yang selalu bersedia menolong kita. Zat yang selalu bersedia menolong kita adalah Allah SWT. Selalu kontak Dia, selalu ceritakan padaNya apa yang kita alami, apa yang kita kehendaki, minta padaNya banyak-banyak, inilah yang membedakanNya dengan selainNya, kalau dengan selainNya kita minta sesuatu banyak-banyak, maka pihak yang diminta akan marah, tetapi denganNya justru sebalikNya, ketika kita minta sedikit justru Dia marah. Karena, walau semua permintaan kita diberikanNya, lumbung kekayaanNya, tidak akan berkurang sedikitpun. Inilah yang dimaksud dengan Dzikir, lakukan Dzikron kasyiron…..
Saya masih ingin untuk menambahkan satu lagi teori tentang cara menghilangkan gelisah, lalu menyimpulannya, tetapi anak Bu De saya, menyatakan tiga hal itu saja sudah cukup, dia akan mengamalkan tiga hal itu saja dulu, jika kelak setelah tiga hal ini tidak memuaskannya, maka dia akan datang lagi menanyakan hal keempat, sekaligus kesimpulannya.
Sampai hari ini, anak Bude saya tidak pernah bertanya tentang hal ke empat itu apa, saya lihat hidupnya, hingga kini tetap bahagia, meskipun secara material beliau tidak semapan ketika masih bekerja…………Wallhu A’lam bish-shawab.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar