Jumat, 07 Agustus 2015

Saksi Bisu Kekejaman Rhomusa



Pondasi Jembatan Rhomusa (dok.Pribadi)

Sore itu, pada medio November 2011, saya yang baru saja mengunjungi daerah Banten Selatan, melakukan perjalanan ke Bayah, sebuah daerah kecamatan yang cukup besar. Sepanjang perjalanan dari Malingping ke Bayah yang berjarak 38 km, saya terkagum-kagum dengan pesona laut disebelah kanan jalan, lebih dari separuh perjalanan, saya disuguhi dengan pemandangan laut yang mempesona. 

Satu hal yang membuat tanya besar, adanya beberapa pondasi-pondasi jembatan yang kondisinya masih baik, serta gundukan tanah yang memanjang, hampir sepanjang perjalanan. Seluruh tanda tanya ini, akhirnya terjawab juga, ketika, seorang teman memberi tahu, bahwa itu adalah sisa-sisa jalur Kereta Api, yang memanjang dari Saketi ke Bayah, yang dikerjakan pada jaman Jepang, dan terkenal dengan kerja rodi Rhomusa.

Bayah yang ketika itu merupakan penghasil utama bahan bakar Batu Bara untuk Pulau Jawa, dalam kondisi mengkhawatirkan. Bagaimana tidak, pasokan Batu Bara ke Betawi atau Jayakarta, mengkhawatirkan pihak Jepang. Karena untuk melalui jalur laut, keamanan sekitar perairan Selat Sunda sungguh tidak aman. Terutama oleh pihak tentara sekutu.

pondasi jembatan yang lain (dok.Pribadi)
Maka, alternative lain, Batu Bara harus diangkut melalui daratan. Untuk itu, kondisi yang sangat layak dilakukan dengan menggunakan Kereta Api. Maka dibangunlah jalan Kereta Api dari Bayah Ke Saketi. Jarak Saketi-Bayah sekitar 90 Km. Pembangunan Jalan Kereta Api ini, konon mengorbankan jiwa sekitar 93.000 orang. Peristiwa pembangunan jaringan Kereta Api inilah yang akhirnya terkenal sebagai Rhomusa.
Di Bayah juga, pernah tinggal salah seorang tokoh pemikir republic tercinta ini yang bernama Tan Malaka. Ketika peristiwa Rhomusa itu terjadi, Tan Malaka menyamar dengan nama Ilyas Husein. Tan Malaka menggerakkan Rhomusa untuk melakukan perlawanan pada Jepang, beliau juga menulis buku yang berjudul Madilog. Buku dengan pemikiran komprehensif tentang berbagai masalah social dan solusi pemecahannya.
Bayah yang terletak di Selatan Banten memiliki pantai yang begitu Indah. Pantai yang berpasir putih dan dibeberapa empat terdapat Batu karang. Paduan antara keduanya menghasilkan panorama yang sungguh eksotik untuk dilihat. Sehingga, akan mubazir jika mengunjungi Bayah tanpa mengunjungi pantai-pantai indah yang terdapat disini.
Pondasi Jemtbatan Jalur KA Rhomusa yang lain (dok. Pribadi)
Beberapa obyek wisata pantai terletak di Bayah, sebut saja Pantai Karang Taraje, Pantai Pulomanuk, Pantai Sawarna, Pantai Ciantir dan sejumlah pantai lain.
Secara administrative, Bayah adalah ibu kota Kecamatan di kabupaten Lebak, Provinsi Banten, Beberapa puing hasil kerja Rhomusa itu hingga kini masih dapat kita lihat sepanjang sisi jalan antara kecamatan Malingping hingga kecamatan Bayah, berupa gundukan tanah yang lebih tinggi dari tanah sekitarnya, serta beberapa pondasi jembatan Rel Kereta Api, Namun, sangat disayangkan, kondisi Infrastruktur yang dulu harus dibayar dengan 93.000 nyawa itu, kini kondisinya terbengkalai dan meninggalkan puing-puing sisa. Padahal sisa-sisa infrastruktur jalan KA ini masih sangat jelas, sisa jalur KA sepanjang 90 km itu, hingga kini, masih dapat dengan mudah dilacak. Pada kiri-kanan jalan Jalan Raya antara Malingping-Bayah. dengan kasat mata, semua sisa Rhomusa itu, dapat kita temukan, apakah dari pondasi-pondasi jembatan KA yang kondisinya masih kokoh atau pada gundukan tanah yang merupakan jalan KA.
Restorasi pada jalur KA ini, agaknya cukup mendesak, bila diingat bahwa  kegiatan penambangan Batu Bara itu hingga kini masih berjalan, meskipun dikerjakan oleh masyarakat, bukan sebagai perusahaan tambang sebagaimana biasanya. Namun, jumlah yang dihasilkan masih dengan jumlah besar.
Jembatan KA yang lain (dok. Pribadi)
Sungguh, sangat arif agaknya apabila pemerintah kita dapat menghidupkan kembali jalur ini,  dengan tujuan menghargai korban Rhomusa, merestorasi sejarah yang kini seakan makin dilupakan oleh generasi penerus bangsa ini. Sehingga dengan demikian dapat meningkatkan Pariwisata. Mengingat  daerah ini merupakan daerah sangat indah dengan obyek wisata laut, apakah itu berupa pantai, maupun olahraga selam dan olahraga selancar, sehingga memungkinkan daerah ini, sebagai destinasi dari pariwisata di Banten Selatan. Dapat juga sebagai alternative angkutan darat, sehingga dapat mengurangi beban Jalan Raya, yang selama ini, dibebani oleh angkutan Batu Bara, kayu hasil hutan, dan buah kelapa. Apalagi jika diingat, dalam beberapa tahun ke depan, jika pabrik Semen Merah-Putih yang berlokasi di Bayah akan berproduksi secara penuh, maka akan lebih menambah beban jalan raya yang selama ini sudah berat.
Dengan demikian, jika jalur KA ini, dapat beroperasi kembali, maka paling tidak, sebagai bentuk solusi dari kondisi Jalan Raya yang didaerah Banten Selatan selama ini terkenal dengan kondisinya yang sangat memprihatinkan.…… semoga 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar