Rabu, 12 Agustus 2015

Rumah Bung Hatta



Bugi yang diapakai Hatta sekolah (dok.Pribadi)

Bukittingi, yang kini dikenal sebagai kota wisata, sesunguhnya, menyimpan banyak sejarah. Apalagi, jika dihubungkan dengan sejarah kemerdekaan Indonesia. Di  kota ini, pernah menjadi Ibu kota negara Indonesia. Mulai dari desember 1948 hingga Juni 1949. Setelah jogyakarta jatuh ke tangan Belanda.  Di kota ini juga, banyak melahirkan tokoh nasional, terutama pada awal-awal kemerdekaan. Sebut saja misalnya Bung Hatta, Bung syahrir, Agus Salim, M Natsir, Tan Malaka dan banyak lainnya. Sehingga untuk Sumatera, Bukittinggi layak disebut sebagai kota pahlawan, selain Surabaya, di Jawa Timur, tentunya. Di Bukittinggi juga terdapat jam Gadang, yang menjadi ciri khas kota di ranah minang ini. Jam gadang, juga konon, mesin mekanik penggeraknya, di dunia ini, hanya dibuat dua buah. Yang satu di Bukittinggi dan yang satu di Big Ben, Londong, Inggris.
Rumah Bung Hatta (do. Pribadi)
Pagi itu udara sejuk, khas udara Bukittingi, Jam baru menunjukan pukul 10 pagi, saya berencana mengunjungi Rumah Bung Hatta, seorang Proklamator negara Indonesia, sekaligus sebagai bapak Koperasi Indonesia.  Tujuan yang hendak saya tuju, adalah Jalan Soekarno-Hatta no 37. Di alamat tersebutlah, bung Hatta dilahirkan. Ternyata, untuk mecari alamat Jalan Soekarno-Hatta tak sesulit yang kami bayangkan. Tanpa kesulitan berarti kami telah tiba di jalan Soekarno-Hatta. Ketika kami telah sampai di Jalan Soekarno-Hatta, maka laju kendaraan, kami perlambat agar rumah No. 37 tidak luput dari pencarian kami.
Tak berapa lama, kami sampai pada rumah no 37, rumah bersejarah, rumah Kelahiran Bung Hatta sekaligus tempat tinggal beliau hingga berusia 11 tahun. Di rumah ini Beliau dilahirkan pada tanggal 12 Agustus 1902. Untuk selanjutnya Moh Hatta pergi ke Kota Padang guna meneruskan pendidikan menengahnya di Meer Uitgebred Lager Onderwijs (MULO). Letak rumah tempat beliau dilahirkan ini, terletak di kawasan Aur Tajungkang, sebuah rumah bertinggkat dua, yang terbuat dari papan, berdinding bambu dan beratapkan seng.
Ranjang tempat Bung Hatta vdilahirkan (dok.Pribadi)
Uni Dessi, Sebagai pemandu wisata sekaligus Petugas Dinas Kesejarahan dengan hangat menghantar kami ke kamar tempat bung Hatta dilahirkan. Kamar itu terletak di lantai dua, dari ruang tamu utama, berada di sebelah kiri, dengan tempat tidur besar, berkelambu dan ada sebuah meja rias besar. Pada usia delapan bulan, ayah Bung Hatta yang bernama Haji Muhammad Djamil, meninggal dunia. Kakek bung Hatta, yang bernama Haji Arsyad, merupakan ulama besar di daerah itu.
Lalu Uni Dessi menghantar kami pada kamar tidur sekaligus kamar belajar bung Hatta yang berada pada sisi belakang rumah beliau, dikamar ini pula terdapat sepeda Raleigh dengan kondisi yang masih baik, inilah sepeda yang digunakan bung Hatta ketika itu, demikian tutur uni Dessi
Diantara rumah besar dan kamar belajar bung Hatta terdapat lumbung padi yang cukup besar, lumbung padi atau dalam bahasa Minang disebut Rankiang. Dengan ukuran besar itu, menjadi pertanda bagaimana kondisi ekonomi keluarga bung Hatta pada masa itu.
Rumah Hatta Tampak dari Samping (dok. Pribadi)
Selanjutnya uni Dessi memperlihatkan “bugi” atau bendi yang sering digunakan Bung Hatta pergi ke sekolah sewaktu kecil, yang disimpan di bagian belakang Rumah Kelahiran Bung Hatta. Pada sisi sebelah rumah bugi, terdapat Istal,   Adanya istal atau kandang kuda, dapat dimengerti, karena kakek bung Hatta dari pihak ibu, Ilyas gelar Baginda Marah, adalah seorang pengusaha angkutan pos. Pak gaek ini (demikian bung Hatta memanggil kakeknya, Ilyas gelar Baginda Marah) pada masanya termasuk salah seorang hartawan yang cukup berada di kota Bukittinggi.
Agaknya, tidak afdol rasanya ketika mengunjungi kota fort de kock ini, kita tidak singgah di rumah bung Hatta, karena rumah bung Hatta, memiliki benang merah dengan sejarah kebangsaan Indonesia sekaligus sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan Bukittinggi itu sendiri.
Rangkiang di belakang Rumah Bung Hatta (dok. Pribadi)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar