Kamis, 06 Agustus 2015

Puncak Lawang…….Negeri di Awan

Masih tentang perjalanan menyusur pulau Sumatera. Setelah malam itu, bermalam di Matur, kampung air katik, yang terkenal dengan dinginnya udara, jam sepuluh pagi, keesokan harinya, kami menuju Puncak Lawang.
Hanya dibutuhkan waktu kurang satu jam, kami telah tiba di Puncak Lawang. Sayang pagi itu Puncak Lawang diselimuti awan, sehingga banyak dari bagian obyek wisata yang eksotis tidak mampu kami nikmati secara maksimal. Padahal, jika saja udara cerah, maka hamparan Danau Maninjau serta Samudera Samudera Indonesia, dapat kami nikmati secara maksimal.
Puncak Lawang yang terletak di kecamatan Matur, Kabupaten Agam. 


Puncak Lawang sering digunakan sebagai tempat diselenggarakannya kejuaraan olahraga paralayang untuk tingkat  internasional. Menurut para penggemar paralayang, Puncak Lawang merupakan lokasi terbaik di Asia Tenggara untuk olah raga tersebut.
Dari Puncak Lawang yang memiliki ketinggian ± 1.210 m dari atas permukaan laut, kita
dapat menikmati keindahan kawasan Danau Maninjau dan Samudra Indonesia. Dua tempat Destinasi wisata dengan keindahan yang luar biasa.
Bahkan karena kekagumannya, Presiden RI pertama, Ir. Soekarno pun juga pernah membuat puisi mengenai keindahan panorama Danau Maninjau itu. Puisi yang dibuat beliau ketika mengunjungi Maninjau.  “Jika makan arai Pinang, makanlah dengan sirih yang hijau, jangan datang ke Ranah Minang, kalau tak mampir ke Maninjau”. Pantun yang ditulis oleh Presiden pertama RI ini, cukup mewakili untuk menggambarkan keindahan panorama alam Danau Maninjau nan eksotis.

Route
Untuk mencapai Puncak Lawang dapat ditempuh melalui jalur darat.  Ada 2 alternatif jalur untuk menuju ke Puncak Lawang.
Pertama, dari Barat, perjalanan dimulai dari Kota Padang melewati jalur Pariaman menuju Lubuk Basung (ibu kota Kabupaten Agam), lebih kurang ditempuh selama 4 jam. Transportasi bisa menggunakan angkutan umum, travel, dan mobil pribadi atau mobil sewaan. Lalu dari Maninjau kita akan melewati perjalanan dengan 44 belokan. Itu sebabnya rute ini dinamakan Kelok Ampek Puluah Ampek, yang dalam bahasa Indonesianya tikungan 44.
Kedua, Dari timur, perjalanan dimulai dari Padang menuju Bukittinggi dan dari kota Bukittinggi perjalanan dilanjutkan ke Matur, dari Matur dimulailah Jalan berkelok dan mendaki tajam hingga akhirnya tiba di Puncak lawang.
Pada route menuju Puncak Lawang atau turun dari Puncak Lawang, sering kita jumpai, para penduduk yang sedang mengerjakan pembuatan gula merah dengan cara tradisionil. (dalam bahasa Minang disebut dengan saka). Caranya, dengan memeras batang tebu yang dijepitkan pada batu seperti orang membuat tahu tradisionil di Pulau Jawa. Tenaga yang digunakan untuk memeras Batang Tebu, menggunakan Kerbau. Setelah air tebu terkumpul, maka air tebu direbus dalam kuali yang cukup besar. Setelah beberapa jam kemudian, maka dimasukan dalam cetakan yang biasanya terbuat dari tempurung kelapa. Setelah mengeras, inilah yang disebut dengan saka atau gula merah.
Moment penduduk membuat gula merah tradisionil, sungguh sayang untuk dilewatkan begitu saja.


  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar