Senin, 03 Agustus 2015

Laut, Sawah dan Karang



sawah yang berbatasan dengan laut (dok.Pribadi)

Bicara tentang keindahan alam, Negara kita syurganya keindahan, saya masih ingat suatu ketika Buya Hamka pada ceramah Minggunya di Jalan Menteng 62, Jakarta Pusat, menyatakan bahwa Indonesia adalah seonggok tanah firdaus yang di letakkan Allah di permukaan Bumi, ketika itu (menciptakan bumi Indonesia) Allah sedang tersenyum.
Ketika awal tahun 1993, saya mengunjungi Bali dengan menggunakan vespa tua keluaran tahun 1980, setelah melewati daerah melayan, saya terkagum-kagum dengan kesatuan antara sawah dan laut, pematang terakhir sawah berada pada garis pantai, saya lama berhenti disitu, membayangkan nikmatnya petani yang sedang mengerjakan sawah dengan suguhan pantai indah Bali yang terkenal seluruh dunia.  Sehingga mereka membuat pribahasa “seeing Bali before die”…….liat dulu Bali sebelum meninggal dunia. Luar biasa..!!!.


Hamparan sawah kuning pada bibir pantai (dok.Pribadi)
Tahun 2009 saya pertama kali mengunjungi daerah selatan Banten, daerah ini membangkitkan kembali tentang sawah yang berbatasan dengan laut di Bali tempo dulu, bahkan disini lebih komplet lagi dibanding dengan Bali, Sawah berbatasan dengan laut, sekaligus berbatasan dengan batu karang laut, batu karang laut berbatasan dengan pantai dan sekaligus pematang sawah, suatu kombinasi yang luar biasa.

Agaknya saya termasuk yang beruntung ketika mengunjungi daerah ini, pada saat itu, sawah yang berbatasan dengan laut itu sedang panen, jadi kompletlah sudah keindahan itu, karena suasana indah ini, diberi bonus ibu-ibu yang sedang memanen hasil sawah mereka, memotong dan menjemurnya. Peristiwa ibu-ibu yang menampi gabah, merupakan  pemandangan indah yang sungguh menakjubkan. Lalu pertanyaannya sekarang, dimanakah daerah selatan Banten itu?
sawah, batu karang dan laut.. (dok. Pribadi)
Daerah ini, terdapat pada pinggir pantai antara Malingping dan Bayah, tepatnya terletak pada kecamatan Cihara, bernama pantai cinta. Daerah ini dapat ditempuh dengan perjalanan darat dari kota Serang sekitar empat jam perjalanan, atau dari Pelabuhan Ratu sekitar tiga jam perjalanan, meskipun ada selisih waktu sekitar satu jam, tapi secara jarak kilometer hamper sama jauh, selisih waktu perjalanan satu jam tersebut lebih dikarenakan kondisi jalan yang jelek jika kita melewati jalan melalui kota Serang, setelah memasuki daerah Saketi menjelang kota Malingping.

Jika anda dari Jakarta, anda dapat menaiki Bus Umum dengan tujuan Merak, lalu ketika Bus memasuki kota Serang, anda turun di Terminal Pakupatan, dari terminal Pakupatan, perjalanan diteruskan dengan menggunakan elf menuju Bayah, dengan biaya sekita Rp 40.000,- hingga daerah daerah Cihara yang bernama pantai Cinta, anda turun, maka didepan anda terpampanglah sebuah panorama alam yang menakjubkan. Demikian juga, jika ingin melewati Pelabuhan Ratu, Dari Jakarta, anda naik bus umum ke Bogor, dari terminal baranang siang, perjalanan dilanjutkan dengan Bus ke Pelabuhan Ratu, dari Pelabuhan Ratu, perjalanan diteruskan dengan menggunakan elf ke daerah Bayah, dari Bayah diteruskan ke Malingping dengan menggunakan angkot, lalu anda dapat turun di daerah Cihara di pantai cinta.
Kaum Ibu sedang  panen (dok.Pribadi)
Untuk mengunjungi daerah ini, disarankan, agar anda mengunjunginya, pada waktu musim hujan atau pada saat panen tiba, dengan demikian, anda dapat melihat hijaunya daerah ini atau melihat suasana, menguningnya padi di sawah yang ditingkahi angin laut disebelah pematang yang berhembus lembut membelai daun-daun dan bulir padi yang sedang menguning.
untuk dapat menikmati keindahan ini, anda tidak perlu kuatir akan tempat bermalam, di Malingping cukup tersedia tempat bermalam dengan hotel kelas Melati yang bersih dan murah meriah, cukup tersedia Rumah makan, mulai Rumah Makanan khas sunda, warteg ataupun Rumah Makan Padang.
Untuk mereka yang menggunakan kendaraan pribadi, tidak usah kuatir dengan biaya parkir yang mahal, anda tidak akan dipungut biaya parkir kendaraan, sedangkan warung-warung di tepi jalan, tempat anda istirahat memasang tarif normal, tidak ada harga “kemahalan” karena disebabkan daerah wisata, semuanya normal dan penuh suasana kekeluargaan, semuanya khas masyarakat pedesaan.  Khas masyarakat Banten Selatan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar