Minggu, 30 Agustus 2015

Kita Tak Butuh Jokowi


Judul diatas terasa provokatif, sepintas lalu, memang benar. Provokatif. Tapi, tunggu dulu, untuk sampai pada kesimpulan demikian, tentu ada alasannya. Maka jika anda semua sudah membaca tulisan ini seluruhnya, maka silahkan beri kesimpulan, apakah provokatif atau tidak.
Setelah Jokowi menjadi Presiden, maka seluruh kebutuhan masyarakat menjadi mahal, BBM naik, ongkos Kereta Api naik, gas Elpiji naik, harga daging Sapi naik, harga Ayam naik, harga Cabai naik, harga PLN naik dan yang paling krusial kini, yang paling membayahakan stabilitas Negara, harga Dollar naik. Lalu, apa kerja Jokowi? 
Nah, disinilah letak kesalahan itu. Semuanya carut marut yang sedang terjadi itu, kita limpahkan semuanya pada Jokowi. Sekali lagi, pada Jokowi. Jadilah Jokowi sebagai pesakitan tunggal. Sang terdakwa yang semua kesalahan hanya ditimpakan pada seorang manusia yang bernama Jokowi. Padahal apa sih Jokowi itu? Jokowi hanya seorang manusia yang sama seperti kita. Sama-sama makan nasi, sama-sama merasakan lelah, sama-sama merasakan sakit, mearasakan masuk angin Bahkan hanya seorang kerempeng saja, dengan ukuran tubuh mungil serta dengan bobot ringan, paling tidak, jika dibandingkan dengan bobot tubuh Iskandar Zulkarnain, sang penulis artikel ini.
Memang benar, Jokowi adalah Presiden kita semua, Presiden dari sebuah Bangsa besar, bernama   Indonesia. Presiden sekaligus Pemimpin kita semua yang merasa sebagai rakyat Indonesia.
Dalam budaya Minangkabau, seorang Pemimpin, didefinisikan sebagai orang yang diposisikan dengan, “ditinggikan sejengkal dan didahulukan sehasta”. Pengertiannya, pemimpin itu, posisinya sangat dekat dengan yang dipimpin. Sehingga ketika sang Pemimpin salah dalam bertindak dan melangkah. Maka, mereka yang dipimpin, masih dapat merengkuh serta meraihnya untuk selanjutnya dikembalikan pada tindakan dan jalan yang benar. Karna posisi sang pemimpin hanya lebih tinggi sejengkal dan lebih dahulu sehasta. Sebuah jarak yang masih pada areal yang dapat dijangkau tangan oleh mereka yang dipimpin.
Lalu, pertanyaannya sekarang, dimanakah peran mereka yang dipimpin, ketika Negara ini nyaris tenggelam dalam segala carut marut yang digambarkan dalam awal tulisan ini?. Jika dikatakan bahwa penyimpangan itu sudah demikian jauh, dimana letak peran mereka yang dipimpin,hingga sang pemimpin dapat melenggang jauh dari “jalan yang benar” itu?
Sudah hampir pasti jawabannya, ada kontribusi kesalahan dari yang dipimpin. Bisa saja karena yang dipimpin, tidak maksimal merengkuh dan meraih sang pemimpin untuk kembali ke jalan yang benar, atau ada pola berpikir yang salah pada mereka yang dipimpin. Pola pikir yang salah dengan berasumsi bahwa semua kesalahan itu, karena tanggung jawab Jokowi sendiri, biarkan Jokowi bekerja sendiri, sedangkan kita sebagai rakyat, tinggal menerima hasilnya saja. Atau pola pikir yang lebih ekstrem lagi, sesungguhnya, kita hanya kumpulan orang-orang penakut, orang-orang yang hanya mau melepaskan tanggung jawab, lalu mencari kambing hitamnya, dengan melemparkan semua tanggung jawab itu, pada Jokowi seorang.
Mana peran Dewan Pertimbangan Presiden, Dewan ini - Dewan itu, Dewan-Dewan yang memberi pertimbangan ketika Presiden akan mengambil kebijakan. Mana Peran Anggota Dewan Yang Terhormat atas kebijakan yang telah diambil Presiden. Mana sumbang-saran, serta suara anggota masyarakat yang katanya akhli, cerdik pandai itu, ketika Presiden akan mengambil kebijakan serta pasaca pengambilan kebijakan yang dirasa keliru atau kurang pas.. 

Tanggung Jawab Kita semua.
Meletakkan semua carut marut yang terjadi pada tanggung-jawab Jokowi sendiri, secara tidak sadar, kita meletakkan posisi Jokowi sedemikian tingginya, sebagai seorang Superman, Super Hero, manusia setengah Dewa. Serta, pada saat yang sama sekaligus memposisikan kita sendiri sebagai pengecut, tidak perduli, penonton passive dan pecundang.
Padahal, Negara ini, milik kita semua, tanggung jawab kita semua. Pertanyaannya sekarang, mendesak untuk dijawab, apa yang sudah kita sumbangkan untuk Negara tercinta ini, hingga akhirnya menimbulkan kondisi carut marut? apa kontribusi kita sebagai rakyat. Bukan mustahil, kondisi carut marut ini, merupakan hasil dari perilaku kita semua sebagai rakyat, sebagai bagian dari Negara yang disebut Indonesia.
Banyak yang dapat kita sumbangkan untuk Negara ini, ketika BBM naik misalnya, dengan cara meninggalkan kendaraan pribadi di rumah, kita ramai-ramai beralih ke angkutan massal, tidak melakukan kunjungan kedaerah wisata ketika liburan dengan menggunakan kendaraan pribadi.  Mengurangi konsumsi BBM untuk hal-hal yang tidak sangat perlu.
Ketika tarif PLN naik, kurangi konsumsi listrik, matikan lampu jika tidak benar-benar kita butuhkan, ketika harga daging naik, mengapa harus membeli daging di Jakarta? Sesungguhnya kenaikan harga daging hanya di Jakarta, untuk daerah lain tidak naik. Tidak mengkonsumsi makanan yang selalu dimasak, sebagai akibat gas Elpiji yang naik. Secara cerdas mengganti tanaman hias dengan tanaman sayuran di halaman rumah, sebagai cara cerdas mengakali mahalnya sayuran.
Ketika Dollar naik, masih banyak kuliner asli Indonesia yang dapat kita konsumsi. Bukankah kuliner asli Indonesia, dominan menggunakan bahan lokal. Kacang panjang, tauge, kol, jangan di buat pecel, karena kacang, sebagai bahan dasar pecel, sebagian besar barangnya di import. Melainkan, buatlah menu “sayur urap”. Karena sayur urap, bahan dasarnya dari kelapa. Kelapa asli bahan lokal, tidak perlu import.
Bagaimana dengan PHK massal? Bukankah itu akibat dari melemahnya rupiah terhadap Dollar, Inilah yang menjadi PR bagi pemerintah, kelak, jika krisis telah berlalu. Ada kebijakan yang salah dalam pengelolaan Negara. Sudah saatnya berpikir serius tentang cara percepatan pertumbuhan ekonomi dengan tidak bergantung pada bahan import. Negara ini, kaya potensi, tinggal mau atau tidak mengusahakannya dengan cerdas. Bagaimana menaikkan harga sawit, bagaimana harga karet dapat dinaikan, bagaimana tanaman aren bisa dijadikan Primadona, kayu manis, cengkeh lada, dan tanaman-tanaman komoditi khas Negara kita yang kini, jangankan untuk eksport, untuk diperoleh guna konsumsi dalam negri saja sulit. Bagaimana menaikan harga sawit, karet Aren dll itu? Dengan mengolah sawit, karet, cengkeh, aren dll itu menjadi bahan jadi,  deratif lanjutan dari hasil bumi itu, memberikan banyak keuntungan, membuka lapangan kerja yang tidak sedikit dan hasil paling krusial, kita terbebas dari ketergantungan terhadap Dollar. Bagaimana regulasi daging sapi. Karena, ternyata kelangkaan daging, akar masalahnya, bukan pada ketiadaan stok, melainkan lemahnya regulasi, sehingga membuka peluang mafia daging untuk bermain. Lupakan percepatan sektor manufaktur, mari kembali ke jati diri ekonomi bangsa, fokus pada derifatip hasil alam Indonesia. Bukankah Negara ini, merupakan pasar yang sangat besar.
Saya membayangkan, jika saja, semua elemen anak bangsa mau dan bisa mensinergikan semua potensi yang ada padanya, lalu berbuat secara cerdas untuk sedikit memberi “sumbangsih solusi” dari problem yang kita hadapi kini. Maka, bencana carut-marut yang kita hadapi kini, akan punya solusi. Sehingga kita dapat dengan lantang berujar “Kita Tidak Butuh Jokowi” . Tetapi, kita butuh semua elemen bangsa, termasuk Jokowi di dalamnya.    InsyaAllah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar