Kamis, 06 Agustus 2015

Jam Gadang, Icon Bukittinggi

Pagi itu udara sejuk Bukittinggi, menyapa lembut kami sekeluarga, setelah sarapan pagi ketupat (kalo di Jakarta, disebut ketupat Padang), kami mulai bergerak menuju Jam Gadang, karena waktu masih pagi, kami tidak terlalu tergesa-gesa untuk sampai di Jam Gadang.
Jam Gadang yang menjadi Icon kota Bukittinggi ini dibangun pada tahun 1926 oleh seorang arsitek bernama Yazin Abidin (Angku Acik) yang berasal dari Koto Gadang, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam. Dan Sutan Gigi Ameh.
Jam Gadang ini merupakan hadiah dari Ratu Belanda kepada Rook Maker, Controleur atau sekretaris kota Bukittinggi pada masa pemerintahan Hindia Belanda
Peletakan batu pertama menara jam ini dilakukan oleh putra pertama Rook Maker yang pada saat itu masih berumur 6 tahun. Dan sejak selesai dibangunnya jam gadang tersebut, maka oleh Pemerintah Hindia Belanda ditetapkan sebagai titik nol kota Bukittinggi.
Jam dengan ketinggian menara 26 meter. serta empat buah jamnya didatangkan dari Rotterdam, Belanda melalui pelabuhan Teluk Bayur dan digerakkan oleh mesin secara mekanik dan memiliki diameter masing-masing 80 cm. Konon mesin pada Jam Gadang hanya dibuat dua unit di dunia; Jam Gadang itu sendiri dan Big Ben di London, Inggris.

Unutk melihat suasana lain disekitar Jam Gadang, di kawasan Jam Gadang,  tersedia Bendi (Dokar/Andong) untuk berkeliling di kawasan pusat kota, yang juga melewati bangunan kantor Asisten Residen Afdeeling Padangsche Bovenlanden – kini jadi kompleks Istana Negara Bung Hatta. Di sisi barat, pom bensin, kantor polisi, dan kantor Controleur Oud Agam lalu kembali lagi ke Jam Gadang, dengan tarif Rp 25.000 (atau sesuai perjanjian) sekali jalan,


Penginapan.
Di Bukittinggi, cukup banyak tersedia penginapan yang berlokasi di sekitar kawasan Jam Gadang, seperti disepanjang Jalan Laras Dt. Bandaro, jalan Soekarno Hatta, Jalan Dr. A. Rivai, Jalan Jenderal Sudirman. Sementara bagi mereka yang menginginkan penginapan dengan harga murah, maka alternatifnya, mencari penginapan di kampung cina, suasana penginapan di sini sangat bersahabat dan penuh suasana kekeluargaan. Sesuai dengan namanya, penginapan di kampung cina ini, dimiliki oleh saudara kita dari suku Tionghoa, hanya saja, anda jangan heran, jika bahasa komunikasi mereka menggunakan bahasa Minangkabau, serta makanan pagi yang tersedia, semuanya khas masakan Padang.
Dari hasil perbincangan kami malam itu dengan pemilik penginapan di kampung cina, diperoleh informasi, bahwa sesungguhnya dibangunnya jam Gadang oleh Belanda salah satunya dimaksudkan untuk mengintai gerak-gerik pengikut Imam Bonjol semasa Perang Paderi.
Dalam sejarahnya Bukittinggi, dikenal juga sebagai kota tempat kelahiran Proklamator RI, Bung Hatta, dan di masa perjuangan kemerdekaan, kota ini pernah menjadi Ibu Kota Pemerintahan Darurat RI, setelah Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda pada 1948-1949. Serta pernah juga ditetapkan sebagai ibu kota provinsi Sumatera dan Sumatera Tengah.
Di Bukittinggi juga kita akan menemui ngarai sianok, sebuah lembah curam, Lembah ini memanjang dan berkelok dari selatan ngarai Koto Gadang sampai di ngarai Sianok Enam Suku, dan berakhir sampai Palupuh. Ngarai Sianok memiliki pemandangan yang indah. Pada Dinding ngarai ini terdapat pula gua yang berkelok-kelok di dalamnya dengan panjang mencapai 6 km, gua ini dikenal masyarakat Bukittinggi sebagai Gua Jepang.
Ngarai Sianok tidak dapat dipisahkan dengan Bukittingi, karena letaknya yang berada di Bukittinggi.  Pada ujung Ngarai Sianok ini, terdapat sebuah Kampung yang bernama koto Gadang, kampong yang telah melahirkan tokoh-tokoh Nasional pada awal kemerdekaan, sebut saja misalnya;  Haji Agus Salim, mantan menteri luar negeri dan diplomat ulung Indonesia, Jahja Datoek Kajo, Demang, Anggota Volksraad Fraksi Nasional yang terkenal dengan kecerdasannya, Sutan Sjahrir, perdana menteri pertama Indonesia, Rohana Kudus, perempuan jurnalis pendiri surat Kabar Soenting Melajoe dan kakak Sutan Sjahrir, Syahrir, ekonom dan pendiri Partai Indonesia Baru, Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, ahli fikih dan imam besar di Masjidil Haram, Daan Jahja, sebagai gubernur militer Jakarta dan Pangdam Siliwangi, Bahder Djohan, Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia dan banyak lagi yang lain.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar