Rabu, 12 Agustus 2015

ITU MAH RELATIF



Pada akhir februari 1992 saya meninggalkan Pinang lombang menuju ke Tanah Jawa, inilah awal perjalanan panjang yang kelak akan membawa banyak cerita. Di pinang lombang selama kurang lebih empat tahun saya berdomisili disini, tempat persinggahan yang cukup lama, karena setelah era pinang lombang ini, relatif  saya selalu berpindah tempat, dari satu tempat ke tempat lain, dari satu proyek ke proyek yang lain, dari satu budaya pindah ke budaya masyarakat yang lain, dari satu kota besar ke kota besar lain, dari satu kota besar ke kota kecil, dari satu kota kecil ke kota besar yang lain, dari pulau Sumatera yang besar ke pulau Batam yang kecil.
Apa artinya semua itu….?                                                                                        Artinya, saya mengalami banyak hal yang relatif , sesuatu yang boleh disuatu tempat, ternyata tidak boleh ditempat yang lain. Sesuatu yang bagi kita hal yang biasa saja, ternyata di tempat lain merupakan sesuatu yang luar biasa, ketika kita menyebut “kakak” di Medan artinya wanita yang lebih tua dari kita, di Lampung itu artinya pria yang lebih tua dari kita, sedangkan di Banten itu artinya bagi laki-laki yang telah beristri. Ketika kita menyebut “bu” di jawa, itu artinya sosok wanita yang kita hormati, atau wanita yang telah berkeluarga, tetapi di Papua, itu artinya abang. Semuanya jadi tidak pasti, semuanya jadi relatif, tergantung ruang dan waktu. Demikianlah terus menerus, setiap saya pindah ke daerah baru (ini umumnya disebabkan karena tugas yang mengharuskan saya selalu berpindah-pindah) saya selalu berusaha untuk menyesuaikan diri. Bagaimana caranya? Tentu dengan bertanya pada teman sekitar saya yang lebih dulu mukim disitu, atau dengan tokoh agama ketika selesai sholat di mesjid pada daerah itu. Hingga suatu waktu saya benar-benar terbentur dengan masalah relatif  itu sendiri.
Awalnya ketika saya baru tiba disuatu daerah kecil, diujung pulau Jawa, sebagaimana biasa, saya bertanya pada teman tentang adat kebiasaan di daerah tersebut, dan sebagaimana biasa pula, teman menceritakannya secara detail mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Di akhir cerita, teman tersebut berpesan agar saya jangan terlalu dekat dengan ustadz anu…….. karena ustadz tersebut punya referensi agama yang aneh, semuanya serba relatif , bahkan kalimat popular yang sering keluar dari mulut beliau yang terkenal  adalah  itu mah relatif” 
Sore itu, ba’da sholat Isya, saya berkesempatan silaturahmi dengan ustadz aneh ini, beliau lulusan Madinah dengan jurusan Ushuludin, kesan pertama saya, tidak ada yang aneh pada beliau, kecuali suka pakai celana jean, minum kopi dan merokok. Kamipun  saling tukar informasi tentang diri masing-masing, hingga akhirnya ceritapun beralih pada perihal agama.
Karena merasa saya awam dalam masalah agama, maka saya banyak bertanya tentang hal-hal yang banyak saya alami. Pertanyaan pertama saya, bagaimana soal shalat berjamaah di Mesjid, karena waktu saya gak jelas, kadang waktu sholat datang, posisi saya masih jauh dari Mesjid? Sebagaimana sudah saya duga, kalimat yang pertama keluar dari beliau adalah “itu mah relatif “, lalu beliau meneruskan, kalau hanya sebab masih jauh dari Mesjid, maka lakukan ketika sudah menjumpai masjid, tetapi jika jumlah anda banyak, maka lakukan dimana saja dengan berjamaah, karena sesungguhnya, bumi Allah yang luas ini adalah Mesjid, tetapi jika hanya agar terlihat saleh, ingin dipuji manusia, atau malu karena ada orang yang disegani, maka jangan lakukan, karena sholat sendiri dengan khusuk dan mohon ampun atas segala dosa dengan rintihan dari qolbu terdalam, jauh lebih baik daripada sholat di mesjid dengan tujuan seperti diatas.
Lalu saya bertanya lagi, bagaimana caranya agar saya lebih mengenal Allah?  Lalu jawab beliau “itu mah relatif “, jika anda seorang anak kecil, maka jalan mengenal Allah dengan belajar sifat dua puluh atau dengan asma’ul husna, walaupun seluruh sifat dua puluh dan asma’ul husna itu, sesungguhnya perumpamaan yang sangat dangkal, ketika anda tahu bahwa Allah itu Maha Melihat, maka seluruh gambaran tentang penglihatan yang dimilikii Allah itu salah, seluruh gambaran yang anda bayangkan tentang sifat mendengarnya Allah itu salah….lah…lah. mendengar ini saya kaget, “kok bisa” Tanya saya. Ya iyalah….. bagaimana anda bisa menggam barkan sang Pencipta, jika hasil ciptaannya saja anda tidak bisa gambarkan, bahkan khayal anda saja tidak dapat menggambarkannya. Demikian firman Tuhan pada hadist Qudsi, ketika menggambarkan kondisi syurga, demikian kata beliau, bahkan untuk menggambarkan beda manis pada buah mangga dan buah korma saja anda tidak memiliki cukup kata-kata agar dimengerti oleh lawan bicara anda, demikian beliau mengakhirinya jawabannya, saya jadi tertegun sendiri, beliau benar, kiyai relatif ini bicara dengan makna dan pengertian yang tak terbantahkan
Lalu saya bertanya lagi tentang hukumnya makan nasi, pertanyaan ini sesungguhnya hanya pertanyaan asal-asalan, karna merasa sangat kecil dihadapan beliau, sekali lagi beliau menjawab; “itu mah relatif “ jika anda lapar dan merasa tidak bertenaga karenanya, maka makan nasi, saat itu, hukumnya wajib, kalau anda tambah sedikit lagi maka mubah, tetapi kalau anda  tambah lagi….tambah lagi hingga tidak bisa berdiri, bahkan muntah-muntah, maka hukumnya haram. Hebat sekali jawabnya, kata saya dalam hati, lalu beliau menambahkan kembali, dan satu hal yang jarang diketahui orang, bahwa ternyata nasi itu lebih berbahaya dari pada rokok. Bagaimana bisa Tanya saya pula, “tidak setiap perokok akan memperoleh sakit jantung atau paru-paru….tetapi setiap orang yang pernah makan nasi pasti mati”. Wah……??? Luar biasa ustadz ini, lalu kami pun menghabiskan kopi kami dan pada batang rokok terakhir, saya pun mohon diri untuk pulang.
Di tengah jalan, menuju rumah, dikegelapan malam itu, saya bergumam sendiri, semuanya relative, bahkan sesuatu yang saya tahu selama ini mutlak, ternyata juga relatif, semuanya tergantung pada ruang dimana kita berada dan waktu serta kondisi bagaimana ketika hal itu terjadi, lalu yang mutlak itu apa….??? Dialah ALLAH SWT……………………………wallahu’alam bish-shawab 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar