Rabu, 12 Agustus 2015

ISTIQOMAH



Agama Islam adalah agama yang rahmatan lil alamien, rahmat bagi seluruh alam semesta dan dapat dipahami oleh semua manusia, apapun pendidikannya, mulai  dari yang tidak sekolah sampai mereka yang bergelar professor. Rahmatnya meliputi semua tempat dan semua waktu, dari mulai Timur sampai Barat, dari mulai nabi Adam hingga ketika kita duduk di mesjid ini.  Sebagai bukti dari rahmat yang meliputi seluruh manusia itu, maka marilah kita simak ketika seorang Badui (Badui disini diidentikan sebagai orang yang berpendidikan kurang) menemui Rasulullah untuk menanyakan hakekat beragama, kata Badui itu “ ya Rasulullah, ajarkanlah padaku hakekat agama ini, sehingga aku tidak perlu bertanya lagi pada orang lain, setelah aku bertanya pada engkau ini, ya rasulullah”
lalu Rasulullah menjawab: “ katakanlah aku beriman pada Allah, kemudian beristiqomahlah kamu”.

Sangat sederhana bukan, untuk paham ini, tidak dibutuhkan kemampuan piker sebagai seorang professor untuk memahaminya, seorang Badui mampu memahaminya. Tetapi bagi mereka yang berilmu juga sangat menantang untuk di dalami, apa itu istiqomah?
Lalu bagaimana cara melakukannya agar kita dapat Istiqomah? Dan sebagaimana nalurinya manusia yang selalu mengharap pamrih, apa yang akan kita peroleh dengan istiqomah tersebut?
Istiqomah secara pengertian adalah kebulatan hati dan tekad dalam tauhid, dalam beribadah ibadah dan dalam beraakhlak.
Berikut ini, beberapa pendapat tentang istiqomah menurut sahabat-sahabat Rasulullah yang juga menjadi kulafaur Rasyidin.
Sayidina Abu Bakar radhiyallahu `anhu, memberikan pengertian istiqamah sebagai teguh dalam beriman, memurnikan sesembahan, dan menjauhi kesyirikan. Imam Thabari meriwayatkan, Abu Bakar pernah ditanya tentang istiqamah yang terkandungan dalam bunyi ayat innalladziina Qaalu Rabbuna Allah Tsummas Taqaamuu,” kata beliau, “(Istiqamah adalah) kamu tidak menyekutukan Allah dengan suatu apapun.”
Sahabat Umar bin Khathtab radhiyallahu `anhu menegaskan makna istiqamah sebagai sebuah sikap teguh dalam, “melaksanakan perintah dan menjauhi larangan, serta tidak berpaling seperti berpalingnya musang.”
Imam Ali bin Abi Thalib karamullah waj’ah memahami istiqamah sebagai bentuk ketegasan sikap dalam menjalankan kewajiban. Beliau mengatakan, “Kerjakanlah kewajiban-kewajiban.”
Sayidina Utsman bin Affan radhiyallahu `anhu memaknai istiqamah sebuah suatu sikap untuk memurnikan segala tindak-tanduk kita yang berkaitan dengan ibadah hanya untuk Allah, bukan selain-Nya. Beliau berkata tentang istiqamah, “Ikhlaskan (bersihkan) amal karena Allah semata.”
Sedangkan pendapat-pendapat lain tentang istiqomah itu seperti, Al-Hasan menuturkan, “Mereka meneguhkan pendirian (istiqamah) di atas jalan perintah Allah Subhanahu Wata’ala, sehingga mereka melakukan perbuatan untuk taat kepada-Nya dan menjauhi kemaksiatan di jalan-Nya.”
Dari pendapat-pendapat diatas, maka dapatlah kita simpulkan bahwa Istiqomah adalah melaksanakan (mendirikan) perintah agama  yang lurus dan benar dengan tidak berpaling ke kiri maupun ke kanan, serta meninggalkan semua bentuk larangan-Nya. 
Lalu pertanyaan berikutnya, dalam hal apa kita harus beristiqomah? Jawabnya dalam tiga hal kita harus beristiqomah, yakni yang pertama dalam bertauhid, artinya kita harus menjaga benar bahwa Allah benar-benar Ahad dalam semua dimensinya, kita tidak boleh ke dukun atau para normal untuk menyelesaikan masalah kita, semua masalah harus dilaporkan pada Allah dan minta solusi padaNya, kita tidak boleh berharap pertolongan manusia atau makhluk lain karena sesungguhnya Allah Maha Penolong, Istiqomah yang kedua adalah dalam hal melaksanakan seluruh perintahNya, tidak meninggalkan apa yang diperintahkanNya, bukan soal pada apa yang diperintahkanNya ini berat atau ringan, tetapi karena yang memerintah ini adalah Zat yang Maha dalam segala hal, meninggalkan perintah sang Maha ini, berarti meniadakan eksistensi dari sifat ke-Maha-anNya dan ini artinya syirik, sedangkan dosa syirik kita semua tahu, yakni dosa yang tidak berampun. Istiqomah yang ketiga, adalah meninggalkan semua apa yang dilarangNya,  sebagaimana Dia yang menciptakan kita, maka Dia tentu tahu apa yang terbaik untuk kita dan apa yang tidak baik untuk kita, maka seluruh hal yang dilarangNya adalah hal yang tidak baik untuk kita. Untuk memahami apa yang baik dan buruk inipun sangat mudah, ilustrasinya, ketika seorang insinyur menciptakan sebuah mesin, maka insinyur tersebut segera menyusun buku manual tentang mesin tersebut agar mesin awet, dengan menuliskan apa yang boleh dilakukan pada mesin itu dan apa yang tidak boleh dilakukan pada mesin tersebut, demikian juga Allah yang menciptakan kita, Dia lebih tahu tentang yang boleh dan tidak boleh untuk kita.
Lalu apa yang kita peroleh dengan Istiqomah ini? Kita akan memperoleh;
1.    Hilangnya rasa khawatir dari kita
2.    Hilangnya rasa sedih/duka cita dari kita
3.    Diperolehnya syurga. Hal ini sesuai dengan firman Allah:
قال الله تعالى: {إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَٰمُواْ فَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ ١٣ أُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡجَنَّةِ خَٰلِدِينَ فِيهَا جَزَآءَۢ بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ١٤} [الأحقاف: 13، 14]
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan Kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah[1388] Maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. mereka Itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai Balasan atas apa yang telah mereka kerjakan “. QS Al-Ahqaaf: 13- 14.
4.  Hilangnya rasa taku dari kita
5.  Adanya kemantapan hati bahwa Allah pelindung kita
Sebagaimana dalam surat Fushshilat Allah Ta’ala  berfirman:
قال الله تعالى: {إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَٰمُواْ تَتَنَزَّلُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَبۡشِرُواْ بِٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ ٣٠ نَحۡنُ أَوۡلِيَآؤُكُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِۖ وَلَكُمۡ فِيهَا مَا تَشۡتَهِيٓ أَنفُسُكُمۡ وَلَكُمۡ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ ٣١ نُزُلٗا مِّنۡ غَفُورٖ رَّحِيمٖ ٣٢} [فصلت: 30-32]
” Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan Kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang “. QS Fushshilat: 30-32.
6.  Hadiah Allah, "Allah menyeru manusia menuju ke syurga-Nya, dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan  yang lurus". (Yunus:25)
7. Hidupnya dalam manhaj Al-Quran dan As-Sunnah
8. Para Malaikat mengaguminya, mendoakannya dan mengaminkan setiap doa-doa nya
9. "As sahlu" kemudahan urusan dunia dan akhirat
10. Bahagia sekali karena hidupnya dalam keteraturan taat
11. Buah dari keikhlasan akan ridho Allah
12. Puncak dari "Ma'rifatullah wa mahabbatuhu" mengenal dan mencintai Allah
13. Amalan para Rasul
14. Meninggal dunia dalam kenikmatan taat dan kerinduan berjumpa dengan Allah
14. Meraih syurga Allah (QS 41: 30-32).

Demikianlah Istiqomah yang dapat dipahami oleh semua orang, mulai dari baduy hingga professor, marilah kita berdo’a…… "Allahumma Ya Allah haqqiqna bittaqwa wal istiqoomah...Ya Allah tetapkan kuatkan hidup kami dalam ketaqwaan dan istiqomah... Aamiin".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar