Jumat, 28 Agustus 2015

Bedah Buku “PNPM” di Kompas Gramedia.


narasumber Yusran Darmawan, Thamrin Dahlan, Iskandar Zulkarnain dan moderator mbak Ella
Hari-hari berlalu, semuanya berjalan dengan kejadian-kejadian yang menyertainya, berkelindan dengan manusia dimana hari dan kejadian itu berlangsung, semua peristiwa itu, tak akan berulang kembali, kejadiannya boleh sama, tetapi waktu yang menyertai kejadian awal tentu berbeda dengan kejadian yang sama pada waktu yang berbeda. Semua itu adalah sejarah. Masalahnya, maukah kita menuliskan sejarah itu. Sejarah bukan dalam pengertian mainstream. Melainkan, dalam pengertian “kecil” yang terjadi pada sekelompok orang, beberapa orang bahkan pada satu atau dua orang saja.
Demikianlah yang terjadi pada tanggal 25 Agustus 2015, bertempat di Kompas Gramedia lantai enam, jalan Palmerah Barat. Sebuah sejarah telah ditorehkan. Sebuah buku, yang membahas tentang masalah kemiskinan, masalah masyarakat pinggiran dan masyarakat yang seakan asing bagi masyarakat Jakarta, telah dibedah dan dibahas dihadapan mereka yang menamakan diri sebagai kompasianer, para penulis atau blogger yang menuliskan buah pikirannya pada blog keroyokan yang bernama kompasiana.
Merupakan peristiwa bersejarah pula, karena buku semacam ini, belum pernah sebelumnya diterbitkan dan ditulis di Negara tercinta Indonesia. Inilah satu-satunya buku yang membicarakan perjalanan PNPM selama periode lima tahun terakhir, hingga berakhir pada waktu dihentikannya program yang peduli pada program pengentasan kemiskinan, pada 30 Desember 2014.
Sesuai judul buku “catatan kecil, perjalanan PNPM-MPd”. Maka, buku yang dibedah oleh Narasumber Yusran Darmawan, Thamrin Dahlan dan Iskandar Zulkarnain serta Moderator mBak Ella, tidaklah bercerita tentang teori-teori tentang Program PNPM secara muluk-muluk, demikian juga, tidak bercerita tentang keberhasilan yang diraih oleh program PNPM. Tetapi, lebih pada kesenjangan yang terjadi antara teori diatas kertas dengan aplikasi yang terjadi di lapangan, ketika program ini sampai di Desa.
Setelah mengemukakan kesenjangan yang terjadi, maka penulis memberikan beberapa solusi dari kesenjangan yang dihadapinya. Solusi ala orang lapangan. Karena, penulis memang pelaku PNPM pada garis terdepan dari program PNPM itu sendiri. Solusi yang diberikan, kadang terasa sangat lapang dan tidak rinci. Demikian yang dikemukakan oleh sang penulis, dengan harapan, solusi yang lebih komprehensif akan diberikan secara lebih rinci oleh mereka yang akhli dalam masalah itu, terutama mereka yang berada pada posisi pembuat kebijakan dari program PNPM.
Kang Pepih COO harian Kompas ikut "bersuara"
Beberapa masalah dan solusinya, kadang juga dipaparkan secara ringan dan relaks saja, seperti pada pada pembahasan akar kemiskinan yang “ternyata” disebabkan oleh harga beras yang murah atau solusi lain tentang pengertian, bahwa kemiskinan dikarenakan oleh sebab tidak bekerja. Ternyata kesimpulan demikian tidak benar seluruhnya.
Pembahasan makin menjadi membumi, disebabkan oleh penulis memang benar-benar menguasai medan kajian yang ditulisnya, turut merasakan apa yang dituliskannya serta mengerti betul nilai rasa apa yang ditulisnya. Semuanya, karena penulis adalah fasilitator yang sudah menggeluti dunia yang ditulisnya selama lima tahun terakhir. Sebagai Fasilitator yang berlokasi di kecamatan, posisi pada garda terdepan dari program PNPM-MPd, yang peduli pada pengentasan masyarakat miskin.
Bedah buku “catatan kecil, perjalanan PNPM-MPd” terasa sangat cair, interaksi antara nara sumber dengan peserta begitu intens dan tanpa sekat, serta dalam suasana kekeluargaan. Sebabnya, apakah karena peserta bedah buku, adalah, mereka yang suka menulis dan membuat buku juga, bisa jadi demikian. Atau karena memang datang dengan semangat untuk menambah “sesuatu” yang dirasa baru.
Kualitas peserta terasa sangat mumpuni, mereka datang dari berbagai latar belakang keilmuan dan berbagai prestasi yang mengiringinya, ada Kang Pepih Nugraha, COO harian Kompas, redaktur senior harian Kompas. Ada Thamrin Dahlan, sang Perwira yang tak kenal lelah berbuat untuk negri tercinta Indonesia dimasa  Purnawirawan nya, ada Isson Khairul, sang senior dari Majalah Gadis dan Kartini, ada Edrida Pulungan, sang Senator yang anggota Parlemen. Ada Yusran Darmawan Dosen senior dari IPB, Ada Agung Han, Blogger yang sangat produktif, ada Thamrin Sonata yang jagoan editor. Ada TB Encep sang Guru yang menyejukkan, ada juga Didik Sedyadi dengan tulisan renyahnya yang sangat beragam dari fiksi hingga budaya. Serta masih banyak yang lain, yang gak mungkin saya sebutkan satu persatu.
Last but not least, sayang acara yang jauh hari sudah diwartakan kepada fasilitator, terutama pada mereka yang kini duduk di Kemendes. Karena satu dan lain hal, mereka tak satupun yang sempat hadir. Namun, the show must go on. Buku “catatan kecil perjalanan PNPM-MPd” sudah mencatatkan dirinya, sebagai buku yang sudah di bedah di “kandang macan” negri tercinta Indonesia. Kompas Gramedia.
Selesai acara, yang masih tersisa ikutan "narsis"



5 komentar:

  1. Kandang Macan telah ditaklukan,..

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe... berikutnya kandang Singa pak TD
      salam, IZ

      Hapus
  2. Selamat dan sukses terus ya pak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih mbak Fabina sdh mampir
      salam, IZ

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus