Jumat, 07 Agustus 2015

Aceng yang gak (ng)Aceng lagi



Saat ditanya pendapatnya soal ancaman Aceng, Ahmad Heryawan terlihat santai.
"Silakan saja dia laporkan saya. Ini kan negara hukum. Semua punya hak. Semua sesuai mekanismenya, apa keputusannya, kita lihat nanti," kata Ahmad Heryawan  di Jatinangor, Bandung, Minggu 6 Januari 2013. (Vivanews)
Paragraf diatas, adalah pernyataan Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan ketika ditanya wartawan tentang bagaimana reaksi beliau ketika dilaporkan oleh Aceng (Bupati Garut) ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) terkait pernikahan kilat Aceng.
Sebenarnya, menulis tentang Aceng, sesuatu yang basi, telah banyak tulisan tentang Aceng, diberbagai media online dan media cetak serta media elektronika, dari segala sisi telah ditulis, tapi dengan perlawanan Aceng terakhir, mengadukan Gubernur ke PTUN dan
DPRD ke Polri membuat saya tertarik juga menulis tentang Aceng. Lalu dari sisi apa yang akan ditulis, karena hampir semua sisi tentang Aceng telah ditulis, Jawabnya dari sisi hati nurani.
Selama ini, perdebatan tentang Aceng, adalah apakah nikah siri yang dilakukannya sah atau tidak? Bagaimana dengan hukum positif Negara? Lalu apakah dia telah mendzolimi wanita dengan pernikahan empat harinya? Lalu bagaimana dengan etika? Apalagi jika dihubungkan posisi Aceng sebagai kepala Daerah yang harus memberikan contoh teladan bagi masyarakat yang dipimpinnya. Hasil dari seluruh pertanyaan itu menyudutkan Aceng, dengan satu kesimpulan dari hasil sidang paripurna DPRD Garut, Aceng harus dilengserkan. Kini bola sudah di MA, apakah pemakzulan akan jadi atau tidak, kita tunggu hasil dari MA.
Lalu sebagai lelaki yang sudah tersedot staminanya, Aceng mulai melawan, mulai dari Gubernur, hingga DPRD coba dilawan, dilaporkan ke PTUN dan Polri, tapi apakah itu akan berbuah sesuai harapan, mengingat Aceng kini sudah gak (ng)Aceng lagi.
Lalu bagaimana sebenarnya, posisi hati nurani dalam Islam, dalam kaitannya dengan pernikahan? Pertanyaan yang sebenarnya absurd untuk ditanyakan, tetapi dalam sebuah perkawinan harus mendapat posisi yang penting, sama pentingnya dengan rukun syahnya sebuah perkawinan, mengapa demikian? Karena dalam nikah ini, salah satu akibatnya adalah “menghalalkan barang yang haram itu dengan menyebutkan nama Allah”, sekali lagi saya ulangi.  “barang haram itu, menjadi halal, karena dengan menyebutkan Allah” .
Lalu, bagaimana bisa kita membohongi Allah?  Allah yang mengetahui niat dan sirr hati yang terdalam.
Boleh saja, semua rukun nikah telah terpenuhi, semua orang sepakat nikah yang kita lakukan syah secara sar’i, tetapi Allah lebih tahu tentang hati kita, tentang niat kita, menikahi wanita yang dihalalkan dengan menyebut namaNya. Apakah nikah yang dilakukan dengan niat akan membentuk rumah tangga yang sakinah hingga hayat dikandung badan atau hanya dalam waktu tertentu atau waktu yang ditentukan, jika niat yang kedua ini yang ada dalam dada, maka meskipun orang sepakat nikah itu syah. Namun sesungguhnya, pernikahan yang dilakukan itu haram. Wanita yang dinikahi itu, tidak halal untuk didatangi. Inna akmalu bin niat.
Pertanyaan tentang hati nurani ini, hanya Aceng yang tahu, apakah niatnya menikah untuk niat pertama atau untuk niat yang kedua? Mengingat pernikahan yang dilakukan Aceng sudah berulang-ulang. Bahkan, pernikahan yang menghebohkan ini, merupakan pernikahan yang ke delapan. Jika jawabannya ternyata untuk niat yang kedua, saya sarankan pada Aceng untuk segera bertobat. Yang  sudah berlalu, biarlah berlalu, kini saatnya untuk tobat.
Bagaimana caranya? Banyak cara yang dapat dilakukan, bisa saja dengan mengundurkan diri sebagai Bupati Garut, atau mencabut pengaduan ke PTUN atau mencabut pengaduan ke Polri. Jika  saja kelak,  putusan MA tidak menghendaki pemkzulan Aceng, maka mulailah memimpin Garut dengan lebih baik, bayar yang buruk dengan melakukan hal yang lebih baik lagi.  Karena sesungguhnya tiada manusia yang terbebas dari kekeliruan, masalahnya bagaimana kita mengganti yang keliru dengan perbuatan  yang lebih memiliki nilai guna dan nilai lebih baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar