Senin, 31 Agustus 2015

Kunjungan ke Mesjid Azizi Tanjung Pura Langkat



Mesjid Azizi dari Sisi Utara (dok.Pribadi)

Malam itu, sabtu malam atau malam Minggu, Taman Merdeka Medan yang merupakan alun-alun kota Medan, ramai dengan masyarakat. Alun-alun ini, sangat berbeda ketika saya tinggalkan dua puluh empat tahun silam. Pada sisi depan yang menghadap Kantor Bank Indonesia, berdiri stand jajanan kuliner. Beragam bentuknya, dari yang menyediakan menu tradisional hingga kuliner yang sedang “in” dari Manca Negara. Suasananya yang benar-benar Metropolis.

Minggu, 30 Agustus 2015

Kita Tak Butuh Jokowi


Judul diatas terasa provokatif, sepintas lalu, memang benar. Provokatif. Tapi, tunggu dulu, untuk sampai pada kesimpulan demikian, tentu ada alasannya. Maka jika anda semua sudah membaca tulisan ini seluruhnya, maka silahkan beri kesimpulan, apakah provokatif atau tidak.
Setelah Jokowi menjadi Presiden, maka seluruh kebutuhan masyarakat menjadi mahal, BBM naik, ongkos Kereta Api naik, gas Elpiji naik, harga daging Sapi naik, harga Ayam naik, harga Cabai naik, harga PLN naik dan yang paling krusial kini, yang paling membayahakan stabilitas Negara, harga Dollar naik. Lalu, apa kerja Jokowi? 

Jumat, 28 Agustus 2015

Bedah Buku “PNPM” di Kompas Gramedia.


narasumber Yusran Darmawan, Thamrin Dahlan, Iskandar Zulkarnain dan moderator mbak Ella
Hari-hari berlalu, semuanya berjalan dengan kejadian-kejadian yang menyertainya, berkelindan dengan manusia dimana hari dan kejadian itu berlangsung, semua peristiwa itu, tak akan berulang kembali, kejadiannya boleh sama, tetapi waktu yang menyertai kejadian awal tentu berbeda dengan kejadian yang sama pada waktu yang berbeda. Semua itu adalah sejarah. Masalahnya, maukah kita menuliskan sejarah itu. Sejarah bukan dalam pengertian mainstream. Melainkan, dalam pengertian “kecil” yang terjadi pada sekelompok orang, beberapa orang bahkan pada satu atau dua orang saja.
Demikianlah yang terjadi pada tanggal 25 Agustus 2015, bertempat di Kompas Gramedia lantai enam, jalan Palmerah Barat. Sebuah sejarah telah ditorehkan. Sebuah buku, yang membahas tentang masalah kemiskinan, masalah masyarakat pinggiran dan masyarakat yang seakan asing bagi masyarakat Jakarta, telah dibedah dan dibahas dihadapan mereka yang menamakan diri sebagai kompasianer, para penulis atau blogger yang menuliskan buah pikirannya pada blog keroyokan yang bernama kompasiana.

Rabu, 12 Agustus 2015

Rumah Bung Hatta



Bugi yang diapakai Hatta sekolah (dok.Pribadi)

Bukittingi, yang kini dikenal sebagai kota wisata, sesunguhnya, menyimpan banyak sejarah. Apalagi, jika dihubungkan dengan sejarah kemerdekaan Indonesia. Di  kota ini, pernah menjadi Ibu kota negara Indonesia. Mulai dari desember 1948 hingga Juni 1949. Setelah jogyakarta jatuh ke tangan Belanda.  Di kota ini juga, banyak melahirkan tokoh nasional, terutama pada awal-awal kemerdekaan. Sebut saja misalnya Bung Hatta, Bung syahrir, Agus Salim, M Natsir, Tan Malaka dan banyak lainnya. Sehingga untuk Sumatera, Bukittinggi layak disebut sebagai kota pahlawan, selain Surabaya, di Jawa Timur, tentunya. Di Bukittinggi juga terdapat jam Gadang, yang menjadi ciri khas kota di ranah minang ini. Jam gadang, juga konon, mesin mekanik penggeraknya, di dunia ini, hanya dibuat dua buah. Yang satu di Bukittinggi dan yang satu di Big Ben, Londong, Inggris.
Rumah Bung Hatta (do. Pribadi)

ISTIQOMAH



Agama Islam adalah agama yang rahmatan lil alamien, rahmat bagi seluruh alam semesta dan dapat dipahami oleh semua manusia, apapun pendidikannya, mulai  dari yang tidak sekolah sampai mereka yang bergelar professor. Rahmatnya meliputi semua tempat dan semua waktu, dari mulai Timur sampai Barat, dari mulai nabi Adam hingga ketika kita duduk di mesjid ini.  Sebagai bukti dari rahmat yang meliputi seluruh manusia itu, maka marilah kita simak ketika seorang Badui (Badui disini diidentikan sebagai orang yang berpendidikan kurang) menemui Rasulullah untuk menanyakan hakekat beragama, kata Badui itu “ ya Rasulullah, ajarkanlah padaku hakekat agama ini, sehingga aku tidak perlu bertanya lagi pada orang lain, setelah aku bertanya pada engkau ini, ya rasulullah”
lalu Rasulullah menjawab: “ katakanlah aku beriman pada Allah, kemudian beristiqomahlah kamu”.

ITU MAH RELATIF



Pada akhir februari 1992 saya meninggalkan Pinang lombang menuju ke Tanah Jawa, inilah awal perjalanan panjang yang kelak akan membawa banyak cerita. Di pinang lombang selama kurang lebih empat tahun saya berdomisili disini, tempat persinggahan yang cukup lama, karena setelah era pinang lombang ini, relatif  saya selalu berpindah tempat, dari satu tempat ke tempat lain, dari satu proyek ke proyek yang lain, dari satu budaya pindah ke budaya masyarakat yang lain, dari satu kota besar ke kota besar lain, dari satu kota besar ke kota kecil, dari satu kota kecil ke kota besar yang lain, dari pulau Sumatera yang besar ke pulau Batam yang kecil.

TOBAT



Kesalahan dan maksiat, dua hal yang sangat dekat dengan kita, ketika zaman sudah begitu maju ini, maksiat dapat kita perbuat bahkan dari dalam rumah, kita tidak perlu keluar untuk sekedar berbuat maksiat, tayangan tv yang mengumbar aurat, tayangan diinternet yang akrab dengan kita,  seperti Facebook dan goggle dapat menimbulkan maksiat, bahkan paling tidak maksiat mata karena melihat aurat yang terpampang disana.

Jumat, 07 Agustus 2015

Saksi Bisu Kekejaman Rhomusa



Pondasi Jembatan Rhomusa (dok.Pribadi)

Sore itu, pada medio November 2011, saya yang baru saja mengunjungi daerah Banten Selatan, melakukan perjalanan ke Bayah, sebuah daerah kecamatan yang cukup besar. Sepanjang perjalanan dari Malingping ke Bayah yang berjarak 38 km, saya terkagum-kagum dengan pesona laut disebelah kanan jalan, lebih dari separuh perjalanan, saya disuguhi dengan pemandangan laut yang mempesona. 

Satu hal yang membuat tanya besar, adanya beberapa pondasi-pondasi jembatan yang kondisinya masih baik, serta gundukan tanah yang memanjang, hampir sepanjang perjalanan. Seluruh tanda tanya ini, akhirnya terjawab juga, ketika, seorang teman memberi tahu, bahwa itu adalah sisa-sisa jalur Kereta Api, yang memanjang dari Saketi ke Bayah, yang dikerjakan pada jaman Jepang, dan terkenal dengan kerja rodi Rhomusa.

Sampeyan Ngerti Borong? (Analisa rasa Gelisah)



Gelisah sangat manusiawi, setiap manusia mengalaminya, karena gelisah merupakan fitrah manusia, Al Qur’an sendiri mengakuinya,  dengan ayat yang berbunyi Inamal Insanu Halu’ah  (sesungguhnya manusia dalam kondisi gelisah).

Rumah Soekarno di Bengkulu



Papan nama roemah Soekarno (dok.Pribadi)

Beruntung Bengkulu pernah menjadi tempat pengasingan Soekarno. Karena, dengan sebab pengasingan itu. Maka, kota Bengkulu, selalu menjadi buah bibir yang akan selalu dibicarakan ketika kita membicarakan Soekarno.
Sebab pengasingan itu pula, first Lady pertama Negara kesatuan Indonesia ini, berasal dari Bengkulu. Di samping tentunya, keunikan-keunikan lain yang dimiliki Bengkulu. Seperti, satu-satunya wilayah di Pulau Sumatera yang pernah di jajah Inggris dan satu-satunya pula daerah di Sumatera yang tidak pernah di jajah Belanda, dalam artian, Belanda datang dengan melalui perdagangan atau peperangan.

Kembali pada jejak Soekarno di Bengkulu, selain Masjid Jamik yang merupakan karya Soekarno di Bengkulu, hal yang paling kita kenal tentang pengasingan Soekarno di Bengkulu, adalah rumah dimana Soekarno tinggal ketika mengalami pengasingan di Bengkulu. Untuk itulah, ketika saya mengunjungi Bengkulu, saya sempatkan untuk mengunjungi rumah tempat Soekarno ketika diasingkan di Bengkulu.

Karya Lain Soekarno di Bengkulu



Mesjid Jamik Bengkulu, Karya Soekarno (dok.Pribadi)

Minggu lalu, disebabkan urusan pribadi, memaksa saya untuk sampai di Bengkulu, kota yang terkenal dengan nama bunganya yang fenomenal, bunga Raflesia. Sebelum sampai di Bengkulu yang terbayang di kepala saya adalah Benteng Malborough dan sekelumit kisah romantis Soekarno di Bengkulu, ingat…. Soekarno pernah di buang oleh Belanda disini, kemudian mengajar di Perguruan Muhammadiyah Bengkulu, di samping membentuk dan memimpin group tonil Monte Carlo dan tentu saja tetap melanjutkan perjuangan untuk Indonesia Merdeka. Saya sebut sebagai kisah romantis Soekarno, karena di Bengkulu ini, Soekarno mengenal gadis cantik anak tokoh Muhammadiyah, yang kelak menjadi istri beliau, yang dari Rahimnya pula kelak lahir seorang Presiden Indonesia Perempuan pertama yang bernama Megawati…..wanita cantik itu bernama Fatmawati yang dalam catatan sejarah Indonesia,  Fatmawati lah yang menjahit Bendera Pusaka Indonesia yang dikibarkan pada proklamasi kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945. Ternyata, dugaan saya tak seluruhnya benar. Masih ada karya lain soekarno di Bengkulu, yakni sebuah Masjid yang  bernama Mesjid Jamik Bengkulu.

Janda….. Memang Kenapa?



Maha suci Allah yang telah menciptakan segala sesuatunya berpasangan, ada wanita ada pria, ada siang ada malam, ada yang menikah ada yang janda atau duda………
Lalu kalau ada Janda…, memang kenapa? Tokh tidak seorangpun wanita yang ingin menjadi Janda. Konsekuensi yang ditimbulkannya sungguh berat, dalam segala hal, baik secara material atau spiritual.
Janda adalah sebuah predikat bagi seorang wanita  yang tak lagi bersuami, baik karena ditinggal mati oleh suami atau akibat dari perceraian. Dalam kehidupan social predikat janda cerai menimbulkan “hambatan psikologis” dalam kehidupan sehari-hari. Karena cerai, umumnya diasumsikan sebagai langkah akhir dari sebuah peristiwa huru-hara dalam keluarga.

Aceng yang gak (ng)Aceng lagi



Saat ditanya pendapatnya soal ancaman Aceng, Ahmad Heryawan terlihat santai.
"Silakan saja dia laporkan saya. Ini kan negara hukum. Semua punya hak. Semua sesuai mekanismenya, apa keputusannya, kita lihat nanti," kata Ahmad Heryawan  di Jatinangor, Bandung, Minggu 6 Januari 2013. (Vivanews)
Paragraf diatas, adalah pernyataan Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan ketika ditanya wartawan tentang bagaimana reaksi beliau ketika dilaporkan oleh Aceng (Bupati Garut) ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) terkait pernikahan kilat Aceng.
Sebenarnya, menulis tentang Aceng, sesuatu yang basi, telah banyak tulisan tentang Aceng, diberbagai media online dan media cetak serta media elektronika, dari segala sisi telah ditulis, tapi dengan perlawanan Aceng terakhir, mengadukan Gubernur ke PTUN dan

Kamis, 06 Agustus 2015

Jam Gadang, Icon Bukittinggi

Pagi itu udara sejuk Bukittinggi, menyapa lembut kami sekeluarga, setelah sarapan pagi ketupat (kalo di Jakarta, disebut ketupat Padang), kami mulai bergerak menuju Jam Gadang, karena waktu masih pagi, kami tidak terlalu tergesa-gesa untuk sampai di Jam Gadang.
Jam Gadang yang menjadi Icon kota Bukittinggi ini dibangun pada tahun 1926 oleh seorang arsitek bernama Yazin Abidin (Angku Acik) yang berasal dari Koto Gadang, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam. Dan Sutan Gigi Ameh.
Jam Gadang ini merupakan hadiah dari Ratu Belanda kepada Rook Maker, Controleur atau sekretaris kota Bukittinggi pada masa pemerintahan Hindia Belanda

Ngarai Sianok, Satu lagi Icon Bukittinggi

Setelah mengunjungi rumah Bung Hatta, Icon Bukittinggi yang lain, yang masih berada di pusat kota Bukttinggi adalah Ngarai Sianok , disebut  ngarai karna di situ ada ngarai atau lembah yang curam serta lebar dan sianok adalah nama batang atau sungai yang berada pada lembahnya......maka, perpaduan keduanya, jadilah dia ”ngarai sianok”.
Ngarai sianok ini berada pada batas kota Bukittinggi, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, panjang bentangan lembah ini hingga 15 km, lebar bentangan 200 m, serta

Puncak Lawang…….Negeri di Awan

Masih tentang perjalanan menyusur pulau Sumatera. Setelah malam itu, bermalam di Matur, kampung air katik, yang terkenal dengan dinginnya udara, jam sepuluh pagi, keesokan harinya, kami menuju Puncak Lawang.
Hanya dibutuhkan waktu kurang satu jam, kami telah tiba di Puncak Lawang. Sayang pagi itu Puncak Lawang diselimuti awan, sehingga banyak dari bagian obyek wisata yang eksotis tidak mampu kami nikmati secara maksimal. Padahal, jika saja udara cerah, maka hamparan Danau Maninjau serta Samudera Samudera Indonesia, dapat kami nikmati secara maksimal.
Puncak Lawang yang terletak di kecamatan Matur, Kabupaten Agam. 

Lembah Anai (tentang Rel Bergigi)

Masih tentang safari ke sumatera, kendaraan kami kini menuju kota Bukittinggi setelah meninggalkan kota Padang, setelah melewati beberapa tanjakan yang berkelok, kami dikejutkan dengan pemandangan yang eksotis...........lembah anai.

Lembah Anai terletak di Nagari Singgalang Kecamatan X Koto persisnya di jalan raya Padang-Bukittinggi. Lembah Anai terkenal dengan objek wisata air terjunnya. Air terjun yang berketinggian sekitar 35 meter ini bagian dari aliran Sungai Batang Lurah Dalam dari Gunung Singgalang yang menuju daerah patahan Anai.  Air terjun ini berada di bagian barat Cagar Alam Lembah Anai.

Jalan-jalan ke Taman Safari Indonesia

Taman Safari Indonesia,  siapa yang tidak kenal? Hanya saja mungkin yang lebih dikenal yang berada di kawasan Puncak, meskipun selain Puncak pada kawasan puncak, masih ada beberapa lagi Taman Safari sejenis, seperti Taman Safari Indonesia II terletak di lereng Gunung Arjuna, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Dan Taman Safari III di desa Serongga, Kecamatan Gianyar, Provinsi Bali.
Pada kesempatan ini, saya hanya akan bercerita tentang Taman Safari 1 yang belokasi di Desa Cibeureum Kecamatan Cisarua, Puncak. Yang saya kunjungi pada tanggal 29 Agustus 2012 bersama putra semata wayang, kenapa tanggal 29?, karna jika H+2 s/d H+8 berdasarkan cerita teman yang

Rabu, 05 Agustus 2015

Pagar Alam, kota Besemah



Setelah Palembang, perjalanan berikutnya menuju kota Pagar Alam, kota yang berjarak 298 Km dari Palembang ini, berhawa sejuk dengan suhu berkisar antara 14 – 18° C.
Menjelang tengah hari, kami tiba di kota yang berhawa sejuk itu, saya cukup surprise ketika melihat becak motor seperti yang saya lihat di Medan, padahal Pagar Alam kontur tanahnya tidak rata seperti di Medan. Rumah-rumah lama dengan arsitektur khas Melayu sangat banyak saya jumpai, kondisi jalan yang mulus, Gunung Dempo yang setia menemai sepanjang perjalanan, merupakan destinasi yang menakjubkan.
Di Kota Pagar Alam ini, ada beberapa catatan yang perlu saya informasikan pada teman-teman pembaca sekalian.

Plangon, nuansa wisata lain



Plank Nama obyek Wisata Plangon (dok.Pribadi)

Cerita lain dari mengantar anak dalam liburan kemarin adalah kunjungan ke Plangon Cirebon, setelah lelah terjebak macet di daerah wisata Kuningan, kami segera turun menuju Cirebon, rute yang kami pilih melewati kecamatan Mandi Rancan, setelah melewati beberapa tikungan yang menurun dan melewati rumah sakit Paru-paru Sidawangi, sampailah kami di daerah Plangon, daerah yang sudah masuk kabupaten Cirebon, tepatnya lokaso ini, berada di desa Babakan, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon.

Kami segera disambut oleh beberapa ekor monyet yang bergelantungan di atas pohon, bahkan beberapa diantara mereka duduk-duduk dengan santai di lokasi parkir kendaraan, seakan-akan mereka ingin mengucapkan selamat datang kepada para pengunjung obyek wisata Plangon.  

Di Cibulan ada Zorro



zorro di Cibulan (dok.Pribadi)

Masih ingat Zorro? Pahlawan bertopeng yang selalu siap menolong ketika ada ada musibah, zorro yang legenda Amerika Serikat itu  (dari Negara bagian California), seorang legendaris era tahun 1800-an. Sosok Zorro tidak ada yang mengtahuinya, kecuali istrinya sendiri Elena de la Vega. Ternyata, sosok itu kini muncul di Pemandian kolam pemandian legendaris Cibulan, Kuningan. 

Kolam yang dihuni oleh komunitas ikan kancra itu terletak di Desa Manis Kidul, Kecamatan Jalaksana, sekitar 7 kilometer dari Kota Kuningan atau sekitar 28 kilometer dari Kota Cirebon. Dan merupakan obyek tertua di Kabupaten Kuningan dan diresmikan oleh Bupati Kuningan saat itu, yakni R.A.A. Mohamand Achmad. pada 27 Agustus 1939.

Bandung Riwayatmu kini



Jalan Wastu Kencana (dok.Pribadi)

Soal lebaran, soal mudik, selalu membawa dampak berantai  pada kita, kita diingatkan akan masa lalu, sejarah hidup yang telah kita alami, apakah kita sebagai diri pribdi an sich atau kita dengan lingkungan kita, tempat dimana kita dibesarkan dengan segala pernak-pernik yang mengiringinya.  Hubungan dengan lingkungan inilah yang ingin saya ceritakan, lingkungan kota Bandung, bagaimana perbedaan Bandung sekitar 
th 75-an dengan Bandung masa kini…..

Sekitar th 75-an  sebagai siswa SLTA, saya yang berdomisili di daerah Pecinan, tepatnya Jalan Pecinan lama depan Pasar Baru , setiap pagi, selalu pergi-pulang sekolah dengan berjalan kaki dengan rute, viaduck, kantor Walikota Bandung,  Jalan Merdeka, Jalan Aceh. Ketika itu Bandung masih sejuk, jarak tempuh sekitar tiga kilo itu nyaris tidak

Senin, 03 Agustus 2015

Banten Selatan Sekali Lagi













Bayah……beberapa catatan



Di penghujung tahun 2011, Ketika masyarakat kita tenggelam dalam kesibukannya menyambut Tahun Baru, membuat catatan mengenai apa yang telah terjadi pada tahun 2011, serta memprediksi apa yang akan terjadi pada tahun 2012, maka tidak ada salahnya, kalo saya membuat catatan tentang Bayah…. Sejengkal tanah di ujung selatan Banten.

View Jebatan Bayah dari ketinggian   (dok.Pribadi)
Catatan.1. Akhir dari kerja Rhomusa
Hampir seluruh masyarakat Indonesia, tahu tentang kekejaman Jepang dengan kerja paksa yang menumpahkan darah dan jiwa, kerja paksa yang dikenal dengan Rhomusa itu, berakhir di kota di ujung selatan banten…..kota Bayah

Catatan.2.Kota Bisnis terakhir.
Hampir semua kita tahu dari pelajaran SD dulu, tambang emas tertua di Pulau Jawa, adalah Cikotok, tetapi tahukah saudara, bahwa Cikotok sebenarnya ada di selatan Banten, kehidupan yang digerakkan oleh kilaunya kuning emas itu, sebenarnya berada pada…….. kota Bayah   

Laut, Sawah dan Karang



sawah yang berbatasan dengan laut (dok.Pribadi)

Bicara tentang keindahan alam, Negara kita syurganya keindahan, saya masih ingat suatu ketika Buya Hamka pada ceramah Minggunya di Jalan Menteng 62, Jakarta Pusat, menyatakan bahwa Indonesia adalah seonggok tanah firdaus yang di letakkan Allah di permukaan Bumi, ketika itu (menciptakan bumi Indonesia) Allah sedang tersenyum.
Ketika awal tahun 1993, saya mengunjungi Bali dengan menggunakan vespa tua keluaran tahun 1980, setelah melewati daerah melayan, saya terkagum-kagum dengan kesatuan antara sawah dan laut, pematang terakhir sawah berada pada garis pantai, saya lama berhenti disitu, membayangkan nikmatnya petani yang sedang mengerjakan sawah dengan suguhan pantai indah Bali yang terkenal seluruh dunia.  Sehingga mereka membuat pribahasa “seeing Bali before die”…….liat dulu Bali sebelum meninggal dunia. Luar biasa..!!!.


Hamparan sawah kuning pada bibir pantai (dok.Pribadi)

Pantai Anyer……Riwayatmu kini



di tengah, terlihat anak Krakatau (dok. Pribadi)

Siapakah yang tak kenal Anyer? Destinasi tujuan wisata yang sangat dekat dengan Jakarta, Ibu kota Negara tercinta. Siapa juga yang tak tahu dimana tempatnya Anyer? Ketika kita masuk jalan Toll dari Jakarta menuju Merak, hanya dibutuhkan  satu pintu keluar Toll Cilegon, lalu seketika kita telah tiba di Cilegon.dan dibutuhkan satu belokkan saja menuju  Amyer, maka hanya dalam waktu singkat kita telah tiba di Anyer.
Pertimbangan waktu yang singkat, jarak yang tak begitu jauh serta jalan yang relative datar, maka tak aneh, jika Anyer merupakan destinasi yang popular dan pilihan alternative selain daerah  Puncak, ketika musim liburan tiba.

Sawarna, Keindahan Sempurna



Pantai Sawarna (dok.Pribadi)

Kalau ada keindahan pantai yang dilengkapi dengan keindahan persawahan, gunung terjal. Goa dan Hutan lindung, maka pantai itu namanya Sawarna. Keindahan yang disajikan pantai Sawarna benar-benar komplit, maka wajar saja jika kesan yang dapat saya tangkap, keindahan Sawarna adalah keindahan paripurna.
Pantai Sawarna terletak di wilayah Kampung Gendol, Desa Sawarna, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Pantai indah ini jaraknya sekitar 180 km dari pusat kota

Stasiun Rangkas Bitung



Kunjungan Ir. Soekarno ke Stasiun Rangkas Bitung (dok.Pribadi)

Pada sebagian masyarakat DKI banyak yang belum tahu tentang Rangkas Bitung, apalagi tentang  Stasiun Rangkasbitung, gambaran yang mereka peroleh adalah tampilan fisik dari Kereta Api yang masuk ke Stasiun Tanah Abang atau Stasiun Kota, dari kereta api yang datang dari Rangkas Bitung,  karena tampilan fisiknya tidak sebagus KRL Jabodetabek, maka disimpulkan bahwa Rangkas Bitung sama tertinggalnya,  sesuai dengan tampilan KA yang datang tersebut, agar gambaran tersebut proporsional, maka dibuatlah tulisan ini.
Stasiun   Rangkas Bitung, terletak  di Kelurahan Muara Ciujung Timur, Kecamatan Rangkas Bitung,Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Stasiun ini berdasarkan catatan dibangun pada tahun 1901, sekaligus satu-satunya Stasiun terbesar di Provinsi Banten.

Minggu, 02 Agustus 2015

Pantai Hati Malingping



Bicara tentang pantai, yang tergambar pada pikiran kita adalah pasir putih yang membentang sepanjang garis pantai, bila hal ini tidak sesuai dengan hal umum diatas, maka kita akan selalu identikkan dengan nama sebuah daerah, Jika pantai berbatu-batu kecil, itu pantai di daerah Ende, Nusa Tenggara Timur, Jika Pantai dengan batu besar, maka itu pantai Belitung, di selatan Pulau Sumatera, Jika perpaduan antara  pasir putih, Batu Besar dan derasnya air laut, maka itu Pantai Hati Malingping.
Pantai Hati Malingping adalah merupakan daerah di pesisir selatan Banten yang terletak di Kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, Kecamatan dengan Jumlah empat belas desa ini yakni; Desa Senanghati, Desa Cipendeuy, Desa Sumberwaras, Desa Bolang, Desa Sanghiang, Desa Rahong, Desa Kadujajar, Desa Malingping Utara, Desa Malingping Selatan, Desa Kersaratu, Desa Sukaraja, Desa Sukamanah, Desa Cilangkahan, dan Desa Pagelaran.  

Pulau Manuk dan Cerita Sedih dibaliknya


Pulo manuk di tengah... (dok.Pribadi)

Karena urusan pekerjaan, memaksa saya untuk sampai di Banten Selatan, siang itu disela-sela kunjungan di Banten Selatan, saya menyempatkan diri untuk melihat obyek wisata Pulau manuk.
Pantai yang terletak sekitar 1 kilometer dari Pantai Cipamadangan ini, lokasinya tepat di tepi jalan utama Desa Sawarna. Jika kita datang dari arah Bayah, kita pasti melewati Pantai ini. Letaknya di kanan jalan. Disebut Pulau Manuk karena ada satu pulau kecil yang letaknya terpisah dari daratan. Konon, dulu pulau ini berbentuk seperti manuk dan kini, pada waktu-waktu tertentu dihuni ratusan burung (dalam bahasa Sunda disebut Manuk)

Lemeung Malingping, khas Banten Selatan



ibu penjual lemeung Malingping (dok.Pribadi)

Jika kita menjelajahi Banten Selatan, selalu saja yang ada pada sebagian orang gambaran tentang lautnya yang indah, pantai yang putih jernih disertai karang bebatuan disebagian pantainya, atau tentang Batu Bara serta tambang Emas.  

Tetapi sebenarnya, Banten Selatan tidak hanya itu, ada wisata Kerbau, yang pada sore hari berjalan secara bergerombol menyusuri Pantai dengan Jumlah ratusan, yang konon Kerbau Banten Selatan ini, merupakan Kerbau yang paling sexy di Dunia, ( Hasil penelitian Balai Kesehatan  Ternak di Roma, Italia, menyatakan kualitas kerbau di Banten Selatan, memiliki kialitas terbaik di dunia, demikian dikemukakan oleh Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) PROVINSI Banten Agus M Tauhid.  Jumat (16/12)).

Leuit, yang terlupakan


leuit di desa Mugijaya Cigemblong (dok.Pribadi)
Jika  kita  memasuki  kecamatan Cigemblong,  salah satu kecamatan yang berada di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten,  mulai dari desa Peucang Pari sebagai desa pertama yang berada di kecamatan Cigemblong, hingga  desa  Wangun Jaya, desa terujung di kecamatan Cigemblong, yang berbatasan dengan kecamatan Cirinten,  kita akan menemukan bangunan  rumah panggung kecil dengan tiang-tiang kayu yang kokoh, dinding terbuat dari bilik serta atap dari ijuk, rumbia, atau tepus. Sedangkan ukuran besar kecilnya  satu dengan yang lain berbeda, bangunan yang terasa asing tersebut disebut LEUIT, tempat/gudang menyimpan padi kering setelah dijemur. Sedangkan besar  kecil leuit tergantung dari perkiraan banyaknya hasil padi yang dipanen oleh satu rumah tangga. 

Sabtu, 01 Agustus 2015

Ombak Pantai Banten Selatan

 
ketika omabak pantai laut selatyan Banten
mencumbu bibir pantai (dok.Pribadi)






Stasiun Cibatu Garut, harta terakhir Garut



Halaman Depan Stasiun Cibatu (dok.Pribadi)

Tahun 1976 saya ikut Kereta Api ekonomi ke Jawa Tengah dari Stasiun Bandung (seluruh keberangkatan tahun itu dari Stasiun Besar Bandung, termasuk Kereta Api ekonomi, Kereta Api Jurusan mana dan nama Kereta Api ekonominya apa, saya lupa).
Ketika Kereta Api yang saya tumpangi sampai di Stasiun Cibatu, waktu sudah menunjukan pukul tujuh sore. Sementara Kereta Api uap yang dijuluki si Gombar, dengan  Jurusan Garut telah berangkat. Itu artinya, saya terpaksa harus bermalam di stasiun Cibatu, untuk menunggu subuh ketika si Gombar bersiap melakukan perjalanan ke Garut.
sisi dalam Stasiun Cibatu (do. Pribadi)

Kerbau Banten Selatan


serombongan Kerbau Banten Selatan (dok.Pribadi)

Judul tulisan diatas terasa aneh dan seakan mengada-ada, memang awalnya saya juga berpikiran begitu, tetapi karena hal ini suatu fakta yang harus saya ceritakan, maka saya putuskan untuk tidak merubah judul tulisan diatas.
Jika kita mengadakan wisata ke daerah Selatan Banten, maka hal dominan yang ingin kita lihat adalah laut. Laut dengan berbagai aneka keindahan dapat kita liat di sini, mulai dari yang berombak besar, berpasir putih, berpantai terjal, pantai dengan batuan-batuan yang berfungsi sebagai pemecah ombak, sampai dengan laut yang menjanjikan untuk penggemar selancar seperti pantai Sawarna akan kita temukan disini, sedang lokasi antara satu lokasi dengan lokasi lainnya berjarak relatif dekat. Bonus dari keindahan laut yang kita temui itu, maka kita disuguhi dengan pemandangan Kerbau Banten Selatan yang berjalan beriringan di pasir pantai dengan jumlah puluhan.

Cikate Cigemblong


Pasar Cikupa (dok.Pribadi)

Ada anekdot yang berkembang pada masyarakat lebak Banten, bahwa belum lengkap ke Selatan Banten kalau belum mengunjungi Cikate, kalau Malingping, Bayah dan sawarna selalu ditandai dengan laut, pantai yang eksotik serta jalan yang relatif bagus, maka cikate ditandai dengan daerah perdesaan yang berada diatas pegunungan, tanjakan dan turunan yang sangat curam, serta jalan yang kondisinya rusak berat.Lalu apa yang dicari di cikate ?, daerah yang identik dengan ketertinggalan ini, menyimpan begitu banyak keindahan alam dataran tinggi serta budaya local yang belum banyak tersentuh.

Penjual Gula Cimenga (dok.Pribadi)