Selasa, 14 Juli 2015

Yang Tersisa dari Yun dan Mas.



Pagi masih menyisakan embun, ketika aku memacu kendaraan, aku ingin sepagi mungkin tiba di rumah Mas, Masdar teman satu kelas dulu, ketika di SMA.  Ada misi suci yang aku bawa, yang aku tidak ingin sampaikan pada Mas, biarlah kejutan itu berjalan alami,  tanpa rekayasa. Tanpa Mas sendiri menyadarinya.
Masih jam enam pagi, ketika aku mengetuk pintu Mas, Mas telah siap untuk meluncur, aku lihat dia hanya memakai kemeja putih dan celana Jean.  Sederhana sekali, sekaligus flamboyant. Masih seperti dulu, ketika kami satu SMA. Tak banyak yang berubah pada Mas. Tanpa banyak asesories. Kesederhanaan yang menimbulkan kesan Jantan.  Kami dulu satu sekolah, Kami yang datang dari seberang, segera akrab ditengah dinginnya kota Bandung saat itu. Tanpa, banyak prolog lagi, aku dan Mas segera naik kendaraan yang aku kendarai  sendiri. Sayup terdengar, dari tape mobilku  lagu Mus Mujiono.
Perjalan yang penuh likunya….
Kini telah tiba…
Disisimu selamanya…


“Mas, kamu masih ingat Yuni?”  kataku membuka percakapan diantara jalan yang berliku, naik dan turun, diantara rimbunan pohon karet yang diselingi kadang dengan kebun teh.  aku  menoleh kearah Mas, ada rona merah disana, dia tersenyum. Senyum yang masih seperti dulu, meskipun usia kami tak lagi muda.
“Masihlah… mana mungkin aku lupa Yuni, termasuk Neng” Jawab Mas singkat.
“aku  harap Yuni datang”. Kataku lagi. Mas masih tersenyum tanpa jawaban, sepintas dia melihat ke arahku, mungkin coba menafsirkan isyarat apa dibalik kalimat yang aku lontarkan pada Mas, atau dia terkejut kenapa aku masih juga menyebut nama Yuni.
Kalimat terakhir ini, sebuah harapan jujur dariku. Berharap Yuni benar-benar datang. Dulu kami sobatan empat orang. aku, Mas, Yuni dan Neng. aku dan Mas dari seberang, Yuni dari semarang dan Neng dari Tasik. Semuanya sekolah di Bandung. Apakah karena kami semua pendatang atau karena ada kecocokan pribadi? Tetapi yang jelas, nyatanya kami berempat bersahabat kental. Untrang-untrung kemana-mana barengan. Sangat kompak.
Dipertengahan tahun kedua, ada yang berubah dalam persahabatan itu. Mas “jadian” dengan Yuni. Sangat samar memang. Mas sangat menjaganya. Karena dia “tahu diri”. Banyak pertimbangan yang harus dibuatnya ketika itu, ketika semester lima, Mas menceritakannya padaku posisinya. Ada orang tua yang berharap banyak padanya, ada faktor orang sebrang yang akan “menyulitkan” kondisinya dan ada faktor Yuni yang datang dengan segala “toto kromo” Jawa dan ada factor keluarga Yuni di Bandung yang kademisi.
Selesai sekolah, kami semua bubar. aku ke Jakarta, Mas tak tentu rimbanya, entah dimana dan mengerjakan apa. Setahun kemudian Neng aku dengar menikah dan Yuni empat tahun kemudian menikah dengan masnya yang terkadang menjemputnya ketika pulang sekolah. Belakangan aku tahu dia adalah anak pak De dari Yuni yang kuliah di daerah Dago.
******
Tahun berlalu, kami semua terbawa nasib peruntungan hidup masing-masing, kisah persahabatan itu agaknya, akan habis disitu saja, jika tidak pada sebuah kesempatan, pada empat tahun lalu aku bertemu dengan Mas, disebuah kota, berjarak 90 km sebelah barat Bandung, Mas yang kini sudah menjadi enterpreuner sukses. Telah mempercayai anak tunggalnya untuk meneruskan usahanya. Mas sendiri sudah banyak bergelut dalam dunia sosial. Dalam sebuah acara sosial itulah aku bertemu dengannya. Kami segera saja bercerita panjang, banyak hal yang terjadi, pasca masa-masa sekolah dulu. Dalam perbincangan panjang itu, dipertemuan pertama aku dan Mas, Mas  bercerita kalau kini dia sudah sendiri lagi, istrinya berpulang keharibaan Ilahi karena serangan Jantung.
Sementara itu, ditempat lain dan waktu yang lain, tiga tahun lalu, ketika aku mengunjungi pernikahan kerabat di daerah atas Bandung, aku bertemu dengan Yuni, aku tidak akan kenal Yuni lagi, jika saya Yuni tidak menyapa terlebih dahulu, Yuni benar-benar wanita matang manggis, aroma “keilmuannya” sangat terasa, unggah-ungguhnya begitu kental. Ketika aku ingatkan tentang “Mas”, ada rona merah di wajahnya. Lalu berganti sedih, sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan Yuni. aku tanyakan kenapa? Yuni, menceritakan suaminya sudah mendahuluinya. Tak lama setelah diangkat sebagai Dekan. Dua temen akrabku semasa di SMA dulu, kini, sudah menjadi single parent.
Perjalanan ini, masih menanjak dan menurun, berbelok kekiri- ke kanan, khasnya pada perjalanan didaratan tingggi tanah Parahiyangan. aku mematikan AC, lalu membuka kaca jendela, menghidupkan rokok dan menghisapnya dalam-dalam. Mas tidak aku tawari, karena aku tahu dia tidak merokok. Syair-syair Mus Mujiono masih terus terdengar.
Perjalan yang penuh likunya….
Kini telah tiba…
Disisimu selamanya…

*********
Kami tiba di acara reuni pada pukul 8.07 WIB. Belum banyak yang datang. Masih ada kesempatan bagiku untuk mengkonfirmasi kedatangan Yuni. Yuni Janji akan datang. Jawaban Yuni, benar-benar melegakan. Aku berharap Mas dan Yuni, akan bertemu.
Reuni ini benar-benar luar biasa, kami berempat bertemu kembali, ada kegembiraan diantara kami, suasana tiga dasa warsa lebih seakan kembali lagi, seakan baru kemarin rasanya, kami semua hanyut dalam masa lalu, kalau saja, aku tidak melihat kerutan diwajahku, serta kumis yang memutih. Aku lihat pada Mas dan Yuni, ada binar mata yang terpancar diantara mereka, mulanya agak kaku, tetapi pelan-pelan, semuanya cair, kami kembali lagi seperti dulu. Saat-saat SMA dulu.
Aku duduk dipinggir, sebelah aku ada Neng, lalu Yuni, setelah itu Mas, ada raut gembira di wajah Mas, raut yang lain, lebih gembira ketika masih sekolah dulu. Sebagai lelaki aku tahu, cinta Mas itu sudah mulai kembali lagi, CLBK itu, cinta lama belum kelar  itu, kini menghampirinya, tak ada sesuatu yang perlu ditahan lagi, tak ada lagi pertimbangan “tahu diri” dan segala tetek bengek yang mengiringinya.  Semuanya terlihat lepas. Dalam hati, aku bersyukur, untuk sementara misi yang aku emban, sampai pada saat ini, semuanya masih berjalan lancar, semua mengalir secara alamiah, seakan tanpa scenario, tak ada yang tahu, bahkan Mas sekalipun.
Di sudut mataku, aku melihat bagaimana Mas, menggenggam tangan Yuni, genggaman erat penuh makna, tak ada perlawanan disitu, sementara kami tertawa lebar, Yuni masih dengan “unggah-ungguh”nya hanya menebar senyum penuh arti. Cukup bagiku yang sudah bangkotan ini, mengetahui, apa yang dirasa Mas, juga dirasakan pula oleh Yuni. Sebagai sahabat, aku tahu yang membedakan mereka hanya karakter. Mas dengan kelembutannya yang masih menyisakan perilaku “orang sebrang” sementara Yuni, yang kini jadi wanita matang manggis yang njawani.
Lalu kugamit Neng. Aku sengaja mengajak Neng jalan ke sisi lain dari sekolah kami, untuk memberikan kesempatan Mas dan Yuni berdua. Pada Neng, aku ceritakan kondisi Mas kini, demikian juga kondisi Yuni. Serta apa yang dulu pernah diceritakan Mas pada saat kita masih sekolah dulu. Cukup lama kami  tinggalkan mereka, ketika kami kembali ke tempat duduk semula, acara reunian sudah hampir selesai.
Sore itu, lepas reunian, kami lanjutkan dengan hang out, ke tempat kami nongkrong dulu, ternyata,  tempat itu sudah berubah, kini, telah berdiri Mall megah disitu, lalu kami menuju sebuah tempat kuliner didaerah atas, cukup lama kami didaerah atas, hingga mendekati tengah malam, lalu kami mengantarkan Yuni ke rumahnya, Neng tidur di rumah Yuni malam itu. Kami  kembali  ke kota kami. Diperjalanan pulang malam, Mas aku liat lebih banyak diam, apakah karena letih dari perjalanan panjang hari ini, atau Mas masih terbawa suasana yang terjadi antara dirinya dengan Yuni, tapi raut wajah itu, terlihat sumringah, segar. aku tidak ingin mengganggu kebahagiaan yang sedang dirasa Mas, aku juga tidak ingin bertanya kesannya tentang Yuni, apa yang dirasakannya kini, juga, apa langkah yang akan diambilnya. Bagiku terlalu awal untuk mengetahui semuanya, biarlah dia rasakan dulu kebahagiaan awal itu, selanjutnya, biarlah Mas yang memutuskan langkah apa yang akan diambilnya.
Mobil yang kubawa telah meninggalkan kota Cianjur, perjalanan mulai menanjak dan panjang, udara mulai sejuk, tak banyak kendaraan yang kami jumpai, sebenarnya aku dapat saja menambah kecepatan, tapi untuk apa, perjalanan ini kini hanya menuju arah pulang, tak ada target waktu yang aku kejar. Biarlah semua mengalir, sekali-kali bolehlah menikmati perjalanan lengang dengan kecepatan sedang saja. aku kembali membuka kaca kendaraan, udara segar segera masuk, lalu, aku memulai kebiasaan burukku, menyalakan rokok. Sementara syair Mus Mujiono masih terdengar lembut.  
Perjalan yang penuh likunya….
Kini telah tiba…
Disisimu selamanya…

******
Tiga bulan telah berlalu sejak pertemuan reunian tempo hari. Belum ada perkembangan apa-apa tentang hubungan Yuni dan Mas. Atau bisa jadi, Mas sengaja menyembunyikan semua perkembangannya padaku. akupun tak ingin bertanya tentang itu pada Mas. Bagiku cukup sudah misi mempertemukan kembali Mas dan Yun.
Selesai sholat subuh, aku mengemasi “peralatanku”, kamera, laptop dan sebagainya, pagi ini aku akan mengambil moment Sunrise, ditempat biasa. Pantai yang menjadi tempat langgananku mengabadikan moment sunrise. Meskipun lokasinya sama, namun selalu saja ada hal-hal berupa kejutan indah akan aku temui di sana, setiap kali aku mengunjunginya. Tiba handphone berbunyi, kulihat tertera nama Mas disitu.
“Assalamu’alaikum..” terdengar suara Mas diujung seberang sana.
“Waalaikum Salaam” jawabku singkat.
“Sehat Bang? Keluarga sehat?” tanya Mas
“Alhamdulillah sehat, semoga demikian juga dengan Mas. Tumben, ada yang bisa dibantu?” tanyaku. Di dalam hati aku yakin, ada sesuatu yang mendesak makanya Mas menelponku pagi-pagi begini.
“Hehehe…. Aku ingin menuntaskan masalah kemarin Bang? Sepertinya tak ada yang perlu ditunda lagi. Makin cepat makin baik” jawab Mas diseberang sana.
“Masalah apa tuh? Aku kok belum tahu maksudnya?” jawabku singkat, jujur aku tak tahu kemana arah pembicaraan Mas.
“Hehehe… kura-kura dalam perahu, pura-pura tak tahu. Ini masalah dengan Yuni, bang. Saya ingin abang menemani saya ke Bandung. Saya berniat untuk melamar Yuni, kami telah sepakat untuk melanjutkan hubungan ini lebih jauh,dalam sebuah ikatan pernikahan. Saya pikir, tak ada perlunya untuk menunda-nunda niat baik ini. Untuk itulah, mohon kesediaan abang untuk menemani saya. Sekaligus mewakili sebagai bagian dari keluarga calon mempelai laki-laki” demikian penuturan Mas.
“Alhamdulillah…. Aku senang mendengarnya Mas. untuk Mas dan Yun, apa sih yang gak akan kulakukan. Siap laksanakan! Kapan kita ke Bandung?” jawabku. Jujur aku sangat senang dengan rencana Mas.
“Secepatnya bang, siang nanti saya akan kabari kapan kita ke Bandung” jawab Mas lagi.
“Ok, siap..!!!! makin cepat makin baik, kalau tidak sekarang, kapan lagi”
********
Seminggu sudah berlalu, sejak Mas menelponku, ketika aku pagi itu aku hendak hang out mencari obyek kamera kesayanganku. Pagi tadi, kembali Mas menelponku. Dia memberi kabar, kalau Mas menungguku sore nanti. Rencananya, keesokan harinya, kami akan segera ke Bandung. Tujuannya sudah pasti. Kami akan melamar Yun untuk Mas.
Sore ini, Aku kembali menuju rumah Mas, rencananya aku akan bermalam dirumahnya, mempersiapkan sesuatunya, dengan matang. Karena, besok, pagi-pagi benar, kami akan ke Bandung, melamar Yuni untuk Mas.
Reuni kemarin, benar-benar peristiwa yang sangat berarti bagi kami, terutama untuk Mas dan Yun. Dua sahabat kami, Jodoh memang di tangan Tuhan. Tetapi, semuanya memiliki sebab dan akibatnya. Sebabnya, tentulah peristiwa reuni itu, akibatnya, kedua sahabatku itu  akan benar-benar akan bersatu, dalam sebuah ikatan suci, mahligai rumah tangga.
Akhirnya, misi suciku berhasil, mempertemukan dua orang sahabat dalam ikatan rumah tangga. CLBK itu, Cinta lama belum kelar. Agaknya, akan segera berakhir, menemukan titil akhir perjalanannya.
Rasa lama yang dulu hanya dalam khayal, kini kan menjadi nyata. Segala halangan yang remeh temeh itu, akan segera teratasi, tersudahi dalam ikatan suci. Kalaupun ada yang tersisa dari Yun dan Mas, semua itu, hanyalah perjalanan panjang yang harus mereka lalui untuk sampai pada mahligai bahagia.
Sayup-sayup dalam perjalan menuju rumah Mas, aku masih ingat, sepotong syair Mus Mujiono yang menemani kami dalam reuni kemarin. Sebuah syair yang memiliki kenangan dan banyak arti bagiku dan bagi Mas.
Perjalan yang penuh likunya….
Kini telah tiba…
Disisimu selamanya…






2 komentar:

  1. Ah, akhirnya terjawab sudah judul lagunya :)
    Btw, Mas, kaya'nya ada typo sedikit "...menemukan titil akhir perjalanannya."

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe... mas Ryan memang cermat,
      makasih telah mengingatkan...

      Hapus