Jumat, 24 Juli 2015

Wanita Di Halte Itu

Apalah yang abadi dipermukaan bumi ini. semuanya berubah dan berganti. Sesungguhnya, yang abadi, adalah perubahan itu sendiri. Mengingkari perubahan, sama dengan meniscayakan sesuatu yang telah pasti. Waktu berputar terus, detik berganti dengan menit, menit berganti jam. Jampun terus berputar, jam satu, jam dua, jam tiga. Dua    puluh empat, lalu berulang menjadi satu lagi.
Hari Senin, lalu selasa, rabu hingga minggu, lalu berulang senin kembali. Berputar…… untuk akhirnya sampai pada titik yang sama, walau sebenarnya tidak juga sama persis. Bisa saja ditempat yang sama, tetapi sudah pada waktu yang lain. Bisa saja, harinya sama, tetapi waktunya  sudah berbeda. Senin yang sekarang akan beda dengan senin minggu lalu. Diantara perputaran waktu pada ruang dan tempat yang sama, terjadilah peristiwa-peristiwa, kisah ini.
Aku, seorang wanita paruh baya, seorang single parent, setiap pagi berdiri di halte S, daerah Pisangan, jalan by pass Jakarta Timur, menunggu datangnya Bus Kota yang akan membawaku menuju Jakarta Kota. Penungguan rutin hingga Bus Kota yang ku tunggu datang, lalu naik Bus Kota dengan jurusan Jakarta Kota, kalau saja macet tidak begitu parah, perjalanan ke tempar kerjaku cukup satu setengah jam. Dulu ketika Jakarta belum semacet sekarang, rata-rata perjalanan hanya memakan waktu satu jam.
Rutin dan teratur. Begitulah irama hidup yang kujalani, apalagi setelah menjadi single parent, setelah suami lebih dulu menghadap sang Maha Kuasa. Karena kecelakaan yang dialaminya, dalam perjalanan ke luar kota. Maklum, sebagai karyawan dari perusahaan kontraktor, suamiku sering bertugas ke luar kota, tempat dimana proyeknya dikerjakan.
Pagi itu, suami, menciumku, memelukku, demikian juga yang dia lakukan pada anak-anak. Terasa berat kulihat dia meninggalkan kami. Kepergian kali ini, sebenarnya, hanya untuk mengerjakan  proyek kecil di Surabaya. Namun, siapa sangka, jika kepergiannya merupakan kepergian yang terakhir. Karena pesawat yang ditumpanginya tidak pernah sampai di Surabaya. Tetapi, berakhir di Perairan Jawa. Tak satupun penumpang yang selamat. Termasuk suamiku.
Pagi-pagi  pergi ke Jakarta Kota, sore pulang ke rumah. Begitu selalu terjadi. Ketika pagi hendak menuju Jakarta Kota, aku berdiri di halte yang sama, halte S. pada setiap pagi, biasanya,  aku hanya sendiri berdiri, sementara diujung sisi kiri ada seorang wanita yang selalu duduk disitu, sebentar-sebentar menjulurkan tatapannya pada Bus yang datang atau motor yang lewat, seakan sedang menunggu seseorang. Begitulah kejadiannya setiap pagi.
Pagi ini, aku kembali berdiri di halte ini, pagi ini aku agak cepat datang, seperti biasanya, wanita itu sudah ada disana, duduk di kursi yang sama, dengan perilaku yang sama, masih menjulurkan pandangannya pada Bus Kota yang datang atau motor yang lewat. Sesekali wanita itu melemparkan senyumnya padaku, akupun membalasnya dengan perilaku yang sama. Hampir selalu demikian, setiap hari. Tapi satu hal yang pasti, kami tak saling bertegur sapa.
Pagi itu, aku ingin bertegur sapa, ingin lebih mengenal siapa sebenarnya wanita itu, ingin mengetahui namanya, dimana alamatnya, bukan hanya sekedar saling senyum. Lalu aku mendekat, mengulurkan tangan, coba untuk berkenalan.
“Sedang menunggu Bus ya mbak?” sapaku pada wanita itu, sekedar awalan untuk sebuah perkenalan dengannya.
“iya Bu, Ibu juga sedang menunggu Bus Ya?” jawab wanita itu pula.
“Perkenalkan, nama saya Sarah. Nama mbak Siapa?..” kataku sambil mengulurkan tangan, untuk berjabatan tangan dengan wanita itu.
“Endang” Jawabnya singkat, dia tersenyum, terlihat ramah.
“Bus yang ditunggu, nomer berapa Mbak Endang? Jurusan mana?” tanyaku pula
“Menunggu seseorang Bu.” Jawab Endang singkat.
“Keliatan special someone” kataku iseng, sekedar menebak-nebak.
“iya bu. Namanya Atok. Dia sahabat saya di Facebook”
“Terus…” kataku, coba untuk tahu, tepatnya, memberi perhatian lebih pada Endang.
“Okh… Ibu kayak Polisi saja, pengen tahu masalahnya” jawab Endang.
“Okh… kalau keberatan jangan cerita, saya maklum kok” jawabku lagi, gak enak juga, baru pertama kenal sudah tanya masalah yang mungkin bagi Endang, dianggap sifatnya sangat pribadi..
“Gak papa Bu, saya juga butuh teman untuk mendengar cerita saya” jawab Endang lagi. Aku tak menyangka dia percaya padaku. Lalu, Endang melanjutkan ceritanya.
“Awalnya kami hanya saling sapa, lalu chatting, demikian terus berhari-hari, lalu kami saling curhat, kemudian, kami saling akrab, pada akhirnya kami pacaran. Walau dalam dunia maya. Atok laki-laki asal Malang itu, berjanji akan menemui saya bu. Dia berjanji untuk kopi darat. Saya juga sudah sangat  berharap untuk bisa bertemu dia, melihat wajahnya yang lugu” begitu Endang cerita, aku hanya mendengar tanpa bertanya. Sesekali aku tetap melayangkan pandangku pada Bus kota yang datang, manatau Bus yang datang, adalah Bus yang sedang ku tunggu.  Tiba-tiba, Bus Kota yang aku tunggu datang, aku pamit pada Endang, lalu, akupun segera menaikinya, menuju tempat kerja.
******
Hari ini aku sudah berdiri kembali di Halte S. Endang kulihat masih duduk di kursi yang sama, perilakunya masih sama seperti kemarin. Menjulurkan tatapannya pada Bus kota yang datang atau motor yang lewat, seakan sedang menunggu seseorang. Aku segera menghampirinya.
“Pagi….” Sapaku pada Endang, kulihat pagi ini, dia terlihat lebih cerah.
“Pagi juga bu. Kemarin ceritanya terputus ya bu, Bus Kota yang ibu tunggu keburu datang” kata Endang.
“hehehehe…..” aku mengangguk, sebuah isyarat, membenarkan apa yang dikatakannya.
“Kalau Ibu tidak keberatan, saya akan lanjutkan cerita saya bu” kata Endang lagi, tak kusangka dia akan lebih terbuka pagi ini padaku.
“Ok, silahkan” jawabku lagi, lumayan pikirku, sebagai selingan menjelang Bus Kota yang kutunggu tiba.
“Atok cerita, kalo dia cinta saya bu, dia cerita kalo dia mau menikahi saya, karena dia sudah berumur bu, sudah kepala tiga, menurut Atok, sayalah wanita yang ada dalam khayalnya selama ini, wanita yang menjadi idamannya, wanita yang selama ini dia cari untuk menjadi pendamping hidupnya. Dia juga cerita tentang khayal masa depan kami. Atok menginginkan kami punya dua anak, satu lelaki, satu perempuan, kami akan menempati rumah yang sedang saja, rumah yang akan dibuat sesuai dengan design yang kami rancang sendiri. Di belakang rumah, akan kami tanami bermacam sayuran, disitu, pada teras di belakang rumah, akan ada empat kursi dan satu meja, kami dan dua anak kami akan menghabiskan sore di sana, atok dengan kopi hitam kentalnya, saya dan anak-anak dengan teh hangat. Kami akan saling bercerita, Atok akan bercerita tentang segala kejadian siang tadi ketika dia kerja, saya akan cerita, apa saja yang saya lakukan ketika Atok kerja dan anak-anak sekolah. Anak-anak akan cerita tentang kejadian yang mereka alami ketika sekolah tadi, tentang teman-temannya, tentang guru-gurunya, tentang cita-cita mereka kelak. Komunikasi yang intens, terbuka dan dalam suasana santai di temaram senja, akan mengokohkan cinta dan kasih sayang kami berempat, kata Atok.” Aku hanya mendengarkan saja penuturan Endang, segurat kebahagiaan memancar di wajah Endang ketika dia cerita. Semua seakan sudah menjadi nyata dalam khayal Endang. Aku ikut trenyuh, ingat akan nasibku yang single parent. Semoga Endang tak mengalami apa yang kini kualami.
Bus Kota yang aku tunggupun datang, aku bersegera naik, meninggalkan Endang yang masih menunggu Atok yang belum juga datang.
********
Pagi ini, kembali aku berdiri di halte yang sama, kulihat Endang masih duduk di bangku yang sama. Masih dengan perilaku yang sama, menunggu kekasihnya, Atok. Aku segera menghampirinya. Lalu setelah berbasa-basi, Endang melanjutkan ceritanya.
“Atok begitu detail menggambarkan masa depan kami bu, setelah pertemuan pertama, kami akan menemui orang tua saya bu, Atok akan memperkenalkan diri, setelah itu, pada bulan yang sama, dia akan membawa orang tuanya dari Malang untuk melamar saya. kami akan menikah dengan pesta yang sederhana saja, lalu setelah dua bulan campur di rumah mertua, Atok akan membawa saya ke Malang, disana kami akan memulai kehidupan yang sesungguhnya, sesuai dengan cita-cita kami, diatas tanah orang tua Atok, Atok putra tunggal dari kedua orang tuanya bu” kata Endang panjang lebar.
“semuanya detail bu. Saya benar-benar terhanyut dengan semua cerita Atok bu. Saya berharap semuanya nyata, sudah gak sabar untuk ketemu Atok. Dia berjanji akan menemui saya di Halte ini. Dia akan datang dengan Bus yang berhenti di Halte ini, atau dia akan akan datang dengan naik motor” kata Endang pula. Oh… begitu Indah binar mata Endang ketika bercerita itu, seindah khayalnya yang sebentar lagi akan menjadi nyata. Dalam hati aku berdo’a semoga semua itu akan diraih Endang. Mereka akan menjadi keluarga bahagia hingga kakek nenek, dengan ditemani cucu-cucu, hasil buah cinta dari anak-anak mereka, yang dilahirkan Endang dari buah cintanya bersama Atok.
Bus Kota yang aku tunggupun datang, aku naik, meninggalkan Endang yang masih menunggu Atok yang belum juga datang. Diatas Bus Kota aku merasa ada sesuatu yang tertinggal, aku lupa menanyakan alamat Endang. Dimanakah dia tinggal, siapa nama orang tuanya. Jika setiap pagi dia duduk di Halte itu, mestinya alamatnya tak begitu jauh dari tempat tinggalku.
*******
Waktu terus berputar, perpuatarannya ibarat mengitari sebuah titik pada sebuah poros, selalu kembali pada titik yang sama, meski waktunya sudah berbeda.
Pagi tadi, aku bangun kesiangan, hingga tidak sempat membuatkan sarapan di rumah, pada anak-anak aku meninggalkan secarik kertas, agar mereka beli sarapan saja, aku melebihkan uang jajan mereka, agar mereka dapat membeli sarapan. Di jalan menuju halte, aku membeli gorengan sekedar untuk mengganjal perut agar tidak masuk angin. MasyaAllah…. Betapa terkejutnya aku, ketika membaca pada kertas gorengan itu, empat minggu yang lalu sebuah truk container menabrak seorang pengendara motor. Wajahnya tak dapat dikenali lagi, karena terlindas ban truck container itu. Tetapi dari KTP yang berada di kantongnya, diketahui korban bernama Atok dengan alamat sebuah daerah kecamatan di Malang Timur. Aku hanya menduga-duga, meskipun lebih pada sebuah keyakinan, itulah sebabnya Atok tak pernah menemui Endang, karena Atok sudah menjadi korban truck container itu. Lokasi kejadiannya, hanya satu halte sebelum halte S dimana aku setiap pagi menunggu Bus Kota untuk menuju tempat kerja. Halte yang sama, dimana Endang setiap pagi menunggu kedatangan Atok.
****
Pagi ini, aku masih berdiri di halte ini, pada waktu yang sama, pada pagi hari. Telah lima minggu setelah kali terakhir aku ngobrol dengan Endang. Endang masih duduk di bangku yang sama, prilakunya masih sama, masih menjulurkan kepalanya pada setiap Bus Kota yang datang atau pada motor yang lewat.
Endang sudah tidak mengenali aku lagi, aku pun sudah mulai ragu untuk menyapanya, dia sudah tidak peduli pada siapapun yang berdiri di halte itu. Ada yang lebih menyita perhatiannya, tentang sesorang yang ditunggunya. Tentang sesorang yang kan datang menghantarkan keindahan masa depan impian mereka. Endang lebih disibukkan dengan perhatiannya pada Bus Kota yang datang dan motor yang lewat. Pakaiannya sudah mulai lusuh, raut wajah itu mulai kusut dan berdebu. Agaknya pakaian itu sudah berhari-hari tidak pernah diganti, wajah kusut itu, agaknya karena kurang tidur dan sudah berhari-hari tidak mandi .
Endang masih disibukkan dengan perhatiannya pada Bus Kota yang datang dan motor yang lewat. Dia masih berharap Atok akan datang menemuinya, menjemputnya dan membawanya pada masa depan yang dijanjikan Atok.
Entah sampai kapan? Tak ada yang tahu jawabnya, termasuk aku. Aku begitu bergidik membayangkan, bahwa yang ditunggu Endang adalah Atok yang empat minggu lalu jadi korban truck container, dimana kejadiannya, hanya satu halte menjelang dia menemui wanita impiannya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar