Minggu, 26 Juli 2015

Kemiskinan Sebuah Fenomena



Dalam kesehariannya, hal yang sangat laku dijual, baik oleh pemimpin bangsa, politisi maupun masyarakat yang mengaku peduli pada masyarakat miskin serta masyarakat madani adalah tentang kemiskinan segala fenomena yang mengiringinya. Berbagai upaya dilakukan, berbagai isu dibicarakan, serta berbagai seminar diadakan. Tujuannya satu. Bagaimana mengentaskan kemiskinan. Tujuannya satu. Walau untuk beberapa politisi dan kaum avonturir, apa yang mereka lakukan, terkadang hanyalah sebuah jembatan, sebuah cara untuk dikenal dan pencitraan. Karena, soal berapa yang telah berikan pada kaum miskin, berapa kemajuan pencapaian dalam pengentasan kemiskinan. Tetapi, apa dampaknya untuk karir politik mereka, berapa side efek yang kelak akan mereka terima dari apa yang telah mereka citrakan pada kaum miskin dan termarginalkan itu.
Berbagai upaya penanggulangan pengentasan kemiskinan telah dilakukan, tetapi tetap saja, angka kemiskinan tidak berkurang, bahkan ada kecerundungan bertambah. Untuk menambah kasanah pengertian tentang kemiskinan dan upaya pengentasannya, maka tulisan ini dimaksudkan.
Secara umum, Kemiskinan dapat ditandai dengan adanya ketidak-berdayaan atau ketidak mampuan dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar manusia seperti; sandang, pangan, papan, dan pendidikan serta kesehatan. Adanya ketidak-berdayaan melakukan kegiatan yang produktif, tidak bisa menjangkau akses kesumber sosial dan ekonomi; ketidak-berdayaan untuk menentukan nasibnya sendiri dan senantiasa mendapatkan perlakukan diskriminatif, mempunyai perasaan ketakutan dan kecurigaan, serta sikap apatis dan vatalistik dan ketidakmampuan membebaskan diri dari mental dan budaya miskin serta senantiasa mempunyai martabat harga diri yang rendah. 
Beberapa pengertian tentang kemiskinan sudah banyak didefinisikan para ahli, kita tidak akan bahas masalah itu, karena solusi mendasar dan tindakan nyata lebih dibutuhkan, daripada konsep yang tidak dapat diaplikasikan pada level pelaksanaan di lapangan, sebagian dari Pengertian Kemiskinan yang diharapkan dapat diaplikasikan itu, antara lain, adalah: 1.sumber daya manusia; 2.modal usaha; 3.prasarana; 4. sumber daya alam; 5.penguasaan pengetahuan.

Sumber daya manusia 
Sumber daya manusia yang rendah dan kemiskinan merupakan lingkaran setan yang saling berhubungan dan terkait satu sama lain, saling meiliki sebab akibat. Miskin. berarti pendidikan rendah, pendidikan rendah menyebabkan SDM rendah, SDM rendah menyebabkan kemiskinan, begitu sebaliknya, setiap pemuda dapat menjadi petani penggarap, tetapi tidak setiap pemuda dapat menjadi manager, dimana letak perbedaannya? Jawabnya pada pendidikan dan skill, Untuk menjadi manager dibutuhkan pendidikan yang memadai dan keahlian tertentu. Jadi, seyogyanya harus ada sebuah terobosan yang berani untuk memutus mata rantai ini. Pemerintah harus membebaskan biaya pendidikan untuk kaum miskin, berbagai pelatihan keahlian harus inten dilakukan, anggaran pendidikan 20% jangan hanya diartikan untuk biaya pendidikan klasikal, tetapi juga diperuntukan bagi pelatihan-pelatihan kaum miskin untuk membuka wawasan dan keahlian, sehingga mereka mampu meningkatkan sumber daya manusia mereka, menyadarkan mereka akan harga diri dan harkat mereka, yang pada gilirannya kelak, mampu membebaskan mereka dari jerat kemiskinan. 

Modal usaha. 
Petani penyadap karet di Selatan Banten memiliki etos kerja yang tinggi, sebelum subuh, mereka telah menyadap karet, tapi dari tahun ke tahun nasib mereka tidak berubah, tentu ada yang salah disini. Sebabnya, bisa saja, akibat mereka tidak memiliki modal usaha, tanah dikuasai oleh kaum pemodal, mereka hanya sebagai petani penggarap, hasil jerih sadapan mereka dibayar murah. Maka, sudah sangat mendesak mereka diberi modal untuk usaha, adanya pengembangan lembaga keuangan mikro yang mampu memberikan pelayanan kredit bagi golongan miskin secara sehat, merubah paradigma dan prilaku Bank yang selama ini sebagai penyedot dana masyarakat” dan bukan sebagai “penyalur dana masyarakat”, sehingga diluar jam-jam “kerja” mereka, kaum miskin bisa mengusahakan hal lain, dengan modal usaha, hasil tani dapat dijual sebagai hasil olahan.

Prasarana 
Salah satu persoalan pokok dalam pembangunan perdesaan di Indonesia adalah kurang adanya koordinasi antar berbagai pihak yang terlibat dalam kegiatan tersebut,serta fokus kegiatan yang kurang begitu jelas, masing-masing pihak merasa paling tahu akan kebutuhan masyarakat miskin. Akibatnya, sarana & prasarana yang didanai dengan jumlah tidak kecil menjadi mubazir dan tidak tepat sasaran. Prasarana dan sarana, selama ini, selalu hanya dimaknai dengan alat transportasi, akibatnya hanya kaum padat modal dan elit desa (mereaka yang mempunyai mobil) yang diuntungkan, kaum miskin tetap terpinggirkan, solusinya, makna itu harus dirubah, makna prasarana dan sarana adalah komponen yang mempercepat hilangnya kemiskinan, bisa juga, misalnya diartikan sebagai alat produk yang merubah batok kelapa menjadi arang, merubah sabut kelapa menjadi “tepes dan dust”, merubah bentuk batu menjadi bentuk split, yang semuanya dilakukan dengan produk massal dan mudah untuk dijual.

Sumber daya alam 
Apa yang tidak ada di Banten? Emas, Batubara, Pasir Besi, Sawit, Karet semua ada, tapi kemiskinan di Banten sungguh memperihatinkan, beberapa mereka, bahkan puncak kemiskinan  berada Banten, something wrong terjadi di sini, para pemimpin kita kurang menggali akar masalahnya untuk disinergikan dengan psikologi masyarakat Banten. kaum miskin secara fitrahnya tidak berdaya menentukan nasibnya sendiri, mereka kebal akan perlakukan diskriminatif yang diterimanya selama ini, mereka mempunyai perasaan ketakutan, curiga, serta sikap apatis dan vatalistik. Psikologi kaum miskin ini harus segera dicarikan solusinya, artinya untuk sumber daya Emas, Batu Bara dan bahan tambang lainnya, harus dibuat regulasi yang jelas, prinsipnya, menguntungkan untuk rakyat kecil. Kriterianya  dibuat jelas dan akuntable, perlu pemisahan yang jelas, mana yang dapat dikerjakan oleh Negara dan Perusahaan, mana pula yang dapat dan bisa dikerjakan oleh masyarakat. Perusahaan & Negara hanya bersifat sebagai Fasilitator. Sedangkan untuk perkebunan sawit, karet dan lain-lain, pola PIR harus dilakukan, Perusahaan hanya bersifat fasilitator. Artinya, keterlibatan semua pihak sudah mendesak, BPN dan DEPTAN harus berada di garda depan. mereka, hendaknya diberi kemudahan guna kepemilikan lahan, bibit, pupuk, ilmu dan modal, setelah itu, semuanya dapat diperhitungkan ketika hasil kebun yang telah mereka usahakan itu, dijual ke Perusahaan. Outputnya diharapkan kemakmuran segera tiba, kemiskinan segera sirna.

Penguasaan Pengetahuan.
Pengertian yang sudah salah kaprah selama ini, menyatakan, bahwa kaum miskin harus diberi ilmu pengetahuan, mereka harus dibuat agar bisa membaca, menulis, dan menguasai teknologi serta mampu menjual hasil produknya dengan harga tinggi, sesederhana itukah? Ternyata tidak, jus tru disitu letak kesalahan-nya, pondamental pengeta-huan yang harus mereka terima, sebelum semua itu, adalah bagaimana cara memberi pengetahuan pada mereka yang dapat menghilangkan mental dan budaya miskin, pengetahuan yang dapat mengangkat harga diri mereka yang rendah, menemukan potensi yang ada pada diri mereka sendiri, serta menemukan potensi yang ada dilingkungan mereka, yang dapat mereka olah, setelah hal itu tercapai dan terselesaikan. Lalu, hal berikutnya, adalah pengetahuan  bagaimana membangun sistem perlindungan sosial yang efektif, membangun jaring sosial yang efektif diantara sesama mereka, menyadarkan tentang system tatanan yang tidak berpihak pada mereka dan bagaimana mencari solusinya. setelah itu, barulah mereka dibekali dengan caranya menyerap informasi yang benar, bereaksi dan mencari solusi dari informasi yang diterima, melakukan perencanaan masa depan sesuai informasi yang diterima, bagaimana pelaksanaannya, bagaimana mengevaluasi serta memperbaiki dari pelaksanaannya, serta bagaimana mengontrol diri dan bersikap, setelah hasil akhir diterima.
Baru setelah semua itu tercapai, barulah wacana pengetahuan sebagaimana yang kita ketahui selam ini, kita berlakukan pada mereka. Pengingkaran atau tidak mengurutkan prioritas sesuai dengan kebutuhan kaum miskin, hanya akan bermuara  pada berbagai kegagalan, seperti yang selama ini telah kita alami semua. Akhirnya kita perlu bertanya, jangan-jangan, bukan mereka yang tidak memiliki pengetahuan, melainkan justru kita sendiri yang tidak memiliki pengetahuan tentang mereka..?. Wallahualam.


1 komentar:

  1. PERHATIAN!
                    PERHATIAN!!
                                    PERHATIAN!!!
    °°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°° Aku AMALIA untungnya, di sini untuk mengemis dan saran semua warga negara dari Indonesia untuk berhati-hati dengan orang-orang yang menyebut diri mereka pemberi pinjaman, karena kemiskinan dan kesulitan, saya scammed dua kali oleh pemberi pinjaman kredit online, tidak sampai saya datang di PUTRI teman saya, yang memperkenalkan saya kepada Ibu KATHLEEN dari [KATHLEEN FOSTER LOAN PERUSAHAAN] yang mengubah hidup saya menjadi lebih baik. Sekarang saya bisa makan tiga makan persegi dan anak-anak saya bisa berhenti menangis untuk makanan.
    Anda dapat menghubungi dia melalui: [ kathleenfosterloanfirm@gmail.com ] untuk informasi lebih lanjut.
    Anda juga dapat menghubungi saya melalui: amaliafauzi73@gmail.com
    dan aku rela akan melakukan yang terbaik untuk membantu Anda mendapatkan pinjaman Anda dengan memperkenalkan Anda untuk secara langsung.
    Terima kasih KATHLEEN, Anda adalah hidup hemat.
    Tuhan memberkatimu selalu!

    BalasHapus