Selasa, 14 Juli 2015

Tempat Kembali Ketika Lelah




Sebuah kapal laut besar memerlukan pelabuhan besar untuk menambatkan sauhnya, untuk berhenti sejenak guna mengisi segala kebutuhan navigasi, sebelum kemudian, berlayar kembali menempuh samudra luas, sebagai kodrat yang harus dijalaninya menjadi kapal besar. Kafilah besar yang melintasi buasnya padang pasir, diantara terik matahari dan ganasnya hewan berbisa, memerlukan sebuah oase untuk istirahat sejenak, sebelum akhirnya menaklukan padang pasir buas berikutnya. Demikian halnya dengan diriku, aku juga membutuhkan sebuah tempat, untuk perhentian sejenak guna melepaskan segala jenis kepenatan sebelum akhirnya kembali meneruskan perjalanan dalam sebuah tugas besar sebagai manusia, yang ditugaskan memakmurkan jagad bumi, beserta isinya.
*****
Udara lembab langsung menyergapku, rindang pohon besar di area ini, menyejukkan udara di sekitarnya. Sementara itu, ketika disaat yang sama terik sengat Matahari membakar mereka yang berada di luar sana. Sore ini, udara jadi sedikit lembab, setelah siang tadi di guyur hujan. Aku berjongkok di sisi sebongkah batu tegak besar. Berdiri kokoh.  Sementara itu, satu meter delapan puluh senti di belakangnya berdiri satu batu yang lebih kecil lagi. Antara kedua batu berdiri itu, ada batu-batu sebesar kepalan orang dewasa yang menghubungkannya keduanya. Inilah makam Bapak, tempat periistirahatan terakhir beliau, setelah beliau lelah menunaikan tugas beratnya dalam hubungannya dengan hablum minannas dan hablum minallah, disinilah tempat aku kembali ketika lelah menyergap diri, mencari oase kesejukan bathin sebelum akhirnya kembali melakukan perjalanan panjang yang penuh onak dan duri.
Komplek pemakaman ini, berada di ujung areal persawahan, pada batas desa kami, menuju arah timur dari pusat desa, pada gundukan tanah yang agak tinggi, menyerupai bukit kecil. Pepohonan besar melindungi sekitar lokasinya, sepanas apapun udara di luar, pada komplek pemakaman itu, udara selalu segar. Orang kampung kami menamakan komplek pemakaman ini dengan nama Astana.
*****
Aku masih berjongkok di Sisi Nisan, pada sisi sebelah kepala, tak ada tulisan apa-apa di situ, nama siapa, kapan dilahirkan, lalu bila waktunya ketika pulang menghadap Sang Penguasa Jagat Alam Semesta Raya. Karena demikianlah kepercayaan orang kampungku. Tetapi aku, mengenalinya, bahkan sangat aku kenali, siapa yang sedang berbaring disana, karena akulah pewaris tunggal jasad yang sedang berbaring di bawah batu nisan itu. Dialah orang tuaku. Tempat aku kembali, ketika rindu ini, menyergap, ketika bathin ini lelah.
Kunjungan ke tempat peristirahatan Bapak, seperti layaknya perjalanan napak tilas, untuk menyegarkan kembali semua peristiwa yang terjadi bersama Bapak. Semacam refreshing spiritual, untuk mencharger kembali baterey yang mulai kosong. Sehingga sekembalinya dari ziarah pada makam Bapak, aku akan kembali segar, segar dalam pshykis dan segar dalam pemikiran. Hasil perenungan tentang pemikiran Bapak yang akan kugunakan untuk beberapa solusi dari masalah besar yang kuhadapi kelak.
*****
Aku masih mengingat sebuah peristiwa yang tak mungkin terlupakan, saat usiaku masih delapan tahun. Ketika itu, aku masih kecil, baru kelas dua SD, ketika negri ini sedang bergejolak dengan suasana politik kiri dan kanan, yang terasa didaerahku begitu menegangkan, saat itu, banyak orang yang ditangkapi, hanya karena perbedaan politik, beda cara pandang dan beda keyakinan, tentang bagaimana caranya Negara ini idealnya dikelola untuk mencapai kesejahteraan masyarakatnya, yang akhirnya kelak ketika dewasa, aku tahu, era itu adalah era peralihan dari orde lama ke orde baru.
Jaman itu, semua penduduk desa kami susah, kami makan Ubi dan Jagung. Beras merupakan barang langka dan sangat mahal. Ubi diolah oleh ibu-ibu menjadi oyek, awalnya ubi direbus dulu, hingga hampir setengah matang, lalu ditumbuk hingga setengah pecah. Dengan peralatan tampah di goyang sedemikian rupa, kemudian di jemur kering. Inilah pengganti nasi bagi masyarakat kami, sebagai makanan pokok. Sedangkan Jagung, ditumpuk hingga pecah setengah. Untuk masayarakat awam, makanan utama pengganti nasi hanya oyek, tanpa tambahan lagi, sedangkan untuk mereka yang sedikit berada, jagung merupakan tambahan disamping oyek yang sudah menjadikan makanan pokok pengganti nasi.
Tetapi, untuk keluargaku, kondisi umum itu, tidak sepenuhnya berlaku. Ada Nenek di rumah. Ibu dari Bapak. Bapak yang terkenal galak di luar rumah, yang digelarkan orang kampungku sebagai “singa”. Merupakan anak yang sangat berbhakti pada orang tuanya, pada Nenek. Setiap pagi Bapak  selalu membuat bubur untuk Nenek. Dan luar biasanya, bubur itu dibuat dari beras. Benda yang sangat berharga ketika itu. Barang yang dianggap mewah. Luar biasanya, Bapak sendiri yang membuatkan bubur untuk Nenek.
Sedangkan kami, Mak, aku dan Bapak makan oyek, khusus untukku, jika bubur untuk jatah Nenek tidak habis, maka aku dapat kesempatan makan bubur nasi, makan yang luar biasa nikmat. Kadang aku berdo’a, agar Nenek tidak menghabiskan jatahnya hari itu, hingga ketika makan malam tiba, aku akan makan bubur nasi.
“Mengapa Bapak sendiri yang memasak buburnya” tanyaku pada Bapak ketika itu.
“Bapak hanya menjaga perasaan mak’mu nak, Bapak hanya mampu memberikan Nenek bubur beras. Sedangkan untukmu dan mak’mu Bapak hanya mampu memberikan oyek” jawab Bapak, sambil mencuci segenggam beras yang dipersiapkan Bapak untuk dijadikan bubur, untuk makan Nenek hari itu.
“Tapi kan mak bisa membuat bubur beras itu” aku masih terus bertanya.
“Kelak kau akan tahu nak, bhakti seorang anak laki-laki tak akan pernah selesai hingga akhir hayatnya, meskipun dia telah beristri. Bapak kini, bukan hanya sebagai anak dari Nenek, tetapi juga suami dari mak’mu dan Bapak dari kamu. Membuat bubur ini, bagian dari bhakti Bapak sebagai anak dari nenekmu, sedangkan mencintai, memberi nafkah, memberikan perlindungan untuk kamu dan mak’mu merupakan bhakti seorang suami pada istrinya dan Bapak untuk anaknya. Mungkin, ketika Bapak bicara ini, kamu belum paham apa yang bapak maksud, tetapi kelak, kau akan tahu dan paham semua ini nak” kata Bapak panjang lebar menjelaskan apa yang dia lakukan, apa yang dikatakan Bapak ketika itu, memang tidak sepenuhnya aku mengerti.
“Iya pak” jawabu, tanpa sepenuhnya mengerti apa yang dikatakan Bapak.
“Kau tahu nak, dimasyarakat luar, nilai Bapakmu ini, ditentukan oleh kumis Bapak yang tebal melintang, kepalan tinju Bapak yang besar ini dan isi kepala Bapak yang kata mereka encer. Tetapi dimata Tuhan, nilai Bapak ditentukan dari berapa banyak Bapak dapat memberikan kalian kasih sayang, seberapa banyak Bapak dapat melakukan kewajiban pada kalian dengan keikhlasan, seberapa banyak dapat Bapakmu ini mencintaimu dan mak’mu, seberapa banyak dan hebatnya Bapak dapat melindungi kalian semua dari ancaman yang datangnya dari luar. Apakah itu ancaman fisik atau ancaman budaya asing yang akan melunturkan nilai-nilai baik yang kita miliki sekarang. Seberapa banyak Bapak dapat meneruskan bhakti Bapak pada Nenekmu, seberapa hebat Bapak mampu menjaga perasaan Nenekmu, sehingga kehadiran kau dan mak’mu, tidak merupakan ancaman bagi berkurangnya rasa bhakti Bapak pada Nenekmu” kata bapak lagi, kalimat yang sangat panjang, yang aku sendiri, tak tahu persis apa yang dikatakan bapak.
“iya pak”
“Bapak berharap, kau juga akan dapat melakukan apa-apa yang telah Bapak lakukan pada Nenekmu, untuk kau lakukan pada mak’mu. Walaupun ketika itu, kau telah beristri, telah memiliki anak-anak. Tak peduli kau akan jadi apa  kelak, tak peduli apa posisimu, tak peduli apa jabatan yang kau pegang, karena semuanya itu hanya alat, tetapi tujuan dari alat yang kau miliki itu, adalah bagaimana kau realisasikan untuk kebahagian orang-orang yang kau cintai, orang-orang yang telah diamanahkan Allah untuk kamu jaga” demikian bapak dengan panjang lebar memberikan wejangan padaku.
“iya pak”
“Kau tahu nak, kita laki-laki ini, sudah ditakdirkan menjadi “singa” ketika berada diluar rumah, tetapi menjadi pemimpin sekaligus pelayan ketika di dalam rumah. Kau pimpin keluargamu untuk sampai pada titik terakhir perjalanan hidup yang sesuai dengan apa yang diinginkanNya, kau layani mereka agar perjalanan yang kau kehendaki itu tidak terlalu mengalami aral melintang yang menyusahkan. Itulah fungsi kelelakianmu. Itulah tujuan diciptakan kau sebagai lelaki, sebagai anak Bapak” lalu sambil berpetuah itu, bapak mengelus kepalaku, sebagai ekspresi sayang bapak padaku, anaknya.
*******
Itulah dialog-dialog yang masih kuingat pada sosok Bapak, Bapak yang kini telah berbaring nyenyak di balik batu besar yang berada dihadapanku ini. Tidur panjangnya setelah dia letih dan penat dalam bersusah payah membesarkanku dan menjadikan aku kini, sebagai  seorang besar. Sebagai orang besar dengan sejibun masalah besar, aku terkadang letih juga. Maka ketika keletihan sudah demikian tak tertanggungkan, saat itulah aku kembali, untuk kembali mendo’akan Bapak, kembali mengingat nilai-nilai yang diajarkannya, kalimat-kalimat yang pernah diucapkannya, yang walaupun ketika itu, aku tidak paham sepenuhnya. Tetapi kini, kalimat itu, merupakan solusi dan inspirasi dari sejibun masalah yang kuhadapi.
Berjongkok pada Nisan bapak, bagiku bagai berdiaog panjang dengan masa laluku, dengan petuah-petuah yang syarat dengan nilai-nilai hidup. Memang, tak semua masalah yang kuhadapi akan sama solusinya dengan petuah Bapak. Tetapi petuah bapak, memberikan inspirasi bagi ku untuk mencari solusinya, sesuai dengan waktu, tempat dan keadaan dimana masalah itu kuhadapi. Itulah ketika batere ini mulai kosong, sehingga tenaganya mulai melemah, aku membutuhkan tempat untuk men-charger-nya kembali. Tempat itu, adalah Nisan di depan aku sedang berjongkok sekarang ini.
Udara di sekitarku makin lembab, senja mulai merayap turun mendatangi tanah Astana ini, temaram suasana senja makin terasa, bersama udara dingin yang menyertainya, sebentar lagi senja akan menyergap dengan kegelapan, perlahan aku berdiri, meninggalkan Astana, di langit kulihat awan mulai menebal, tanda sebentar lagi akan turun hujan.
Sambil berjalan meninggal komplek pemakaman Astana, aku masih menoleh ke belakang, ke tanah Astana, tempatku kembali ketika rindu dan letih menggelayut diri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar