Selasa, 14 Juli 2015

Tak Ada Lebaran Tanpa Puasa



Malam tanggal tua begini biasanya bulan tinggal seperti tanduk runcing,  malam-malam seperti biasanya, pada tanggal 26 ramadhan.  Tetapi malam ini, terasa lebih mencekam. Sejak sore tadi, hujan gerimis turun tiada hentinya
Bagi sebagian orang tak begitu mengganggu,  tapi bagi Haris, terasa sangat mengganggu dan mengganjal. Sesuai hasil rapat dua hari lalu, pengecoran harus selesai pada tanggal 26 Ramadhan. Itu artinya, pengecoran harus diselesaikan malam ini, tak ada kompromi dalam masalah ini.
Sejak tadi siang,  selepas tengah hari pengecoran telah dimulai, diperkirakan jika semuanya lancar, maka lewat tengah malam nanti semuanya akan selesai. Di proyek tinggal mereka berdua yang mewakili perusahaan. Haris sebagai Chieft Supervisor dan Rudi sebagai Site Manager. Sedangkan yang lain, selesai Maghrib tadi telah pulang semua. Ada yang pulang ke rumah, bagi mereka yang berdomisili di Ibu kota, ada yang langsung mudik. Tak banyak lagi waktu tersisa. Jika tak cepat-cepat mudik, maka akan mengalami krodit dijalan pantura kelak, seperti yang dialami Haris pada tahun-tahun kemarin, serta tahun-tahun sebelumnya. Semua karena dialah yang menjadi penjaga gawang terakhir, sebelum proyek ditutup sementara, untuk liburan lebaran.
Untuk para tenaga cor, tenaga yang standby  bekisting selama pengecoran, dan tenaga logistic  yang akan mudik lebaran, perusahaannya telah menyediakan bus khusus untuk mereka. Semacam bus sebesar Metro Mini.  Semua dilakukan agar pengecoran malam    ini dapat dilakukan, tanpa itu, mereka tidak bersedia melakukannya, mereka memaksa pulang mudik seminggu sebelum lebaran, lewat tanggal itu, maka akan ada biaya tambahan yang disebut toeslag. Untuk menghindari toeslag itulah, alasan mereka pulang cepat. Solusinya, mereka mau bekerja hingga malam ini, dengan konsekwensi mereka diantar pulang mudik. Untung tujuannya tak begitu jauh. Cirebon dan sekitarnya.
Menurut  perjanjian dengan perusahaan angkutan, bus akan datang jam 11 malam. Jam satu diperkirakan pengecoran selesai, lalu mereka, para pekerja bersih-bersih badan, kemudian naik bus yang tersedia, lalu tidur dalam bus dan sekitar jam delapan pagi, bus telah tiba di Cirebon. Begitu skenarionya.


Demikian juga dengan deal yang sudah disepakati dengan perusahaan penyuplai beton, Batching Plant akan buka hingga jam dua dinihari,  setelah itu, batching plant akan libur lebaran.
Semuanya sudah terschedule dengan rapih, tak boleh ada yang meleset dari schedule, meleset dari schedule, itu artinya merubah kesepakatan yang telah disepakati.akibatnya fatal. Resikonya, pengecoran terakhir sebelum lebaran ini gagal.  Kegagalan dalam kontruksi, itu artinya akan menambah biaya pekerjaan konstruksi. Jika dalam jumlah besar, akibatnya perusahaan akan rugi.  Yang terpikirkan oleh Haris bukan kerugian perusahaan, pemikiran itu terlalu besar, untuk kelas Haris, tapi bagaimana tenaga-tenaga ini, tidak menjadi anarkis ketika waktu yang disepakati untuk pulang tidak terpenuhi, gak usah hingga hitungan hari, telat satu jam saja akibatnya bisa patal.
“Bagaimana Ris, diatas lancar” tiba-tiba masuk suara Rudi di HPnya, sebuah kemajuan dalam pekerjaan  konstruksi, kini para pekerja konstruksi telah pakai HP, haris masih  ingat betul, bagaimana dulu, komunikasi dilakukan dengan menggunakan HT. Alat komunikasi yang sangat besar dan berat. Beda dengan HP,  yang kecil, ringan dan masuk dalam kantong. Sangat praktis.
“Lancar pak, Cuma gak bisa cepet, kendala gerimis ini cukup merepotkan” jawab Haris lagi.
“Apa kendalanya Ris?” Tanya Rudi lagi diseberang sana. Haris mengawasi pengecoran dilantai 16, sedangkan Rudi berada di Direksi keet untuk standby beton.  Maksud standby beton adalah, Rudilah yang melakukan komunikasi dengan batching plant, memesan berapa beton yang harus dikirim, mengatur jadwal kedatangan dan menentukan kapan harus ditunda dulu keberangkatan dari bathcing plant, jika ada trouble pada lokasi pekerjaan Haris, di lantai 16 itu, atau jika sangat lancar, Rudi juga yang memesan ke batching plant untuk memberondong kedatangan beton.
“Kita harus membagi tenaga yang ada untuk memasang terpal-terpal plastic pak, supaya lokasi yang telah dicor tidak keriting karena ada bekas gerimis” jawab Haris kembali.
“Ok, saya paham. Jaga irama pengecoran agar tetap lancar, saya percaya sama kamu Ris”. Rudi memang site Manager yang baik, dia merasa cocok bekerja dengan pak Rudi
“Baik pak” jawab Haris pendek.
*****
Haris mengupayakan semuanya lancar, kini dia bukan hanya mengawasi, tetapi ikut terjun membantu, peluh yang bercucuran ditubuhnya sudah menyatu dengan gerimis air yang membasahi bajunya. Jam sudah menunjukkan pukul 23.30. itu artinya, Haris masih punya waktu satu setengah jam lagi. Perkiraan Haris semuanya pas. Ada rasa lega yang membias dimata Haris.
“Pak ada sedikit kendala?” Abdul Manan, sang mandor, tiba-tiba telah berdiri di depannya.
“Apa itu Nan?” akh, bathin Haris, ada saja kendala, apa lagi nih kendalanya.
“Anak-anak kecapean” jawab Manan lagi
“Kamu ngomong apa Nan, semua tahu kita semua kecape’an” agak tinggi suara Haris.
“Maksud saya, gimana kalo slump beton kita tambah pak” kata Manan lagi.
“Ya ngomong gitulah, jangan berbelit-belit, muter kemana-mana. Sebentar saya lapor dulu sama pak Rudi” Jawab Rudi lagi, pendek dan langsung pada solusi masalah.
“Baik pak…”jawab Manan singkat. Dia maklum, Chieft Supervisor yang sabar itu, kadang suka marah juga kalau sedang panik atau kecape’an.
Lalu Haris menelpon Rudi, memberitahukan, melihat kondisi pekerja yang letih dan waktu yang sudah mepet. Bagaimana kalau slump beton ditambah. Dari slump 12 menjadi 14 hingga 15. Slump adalah tingkat keenceran beton, makin encer beton, maka angkanya slump makin tinggi, maka menambahkan air berarti menambah angka slump beton, maksudnya agar beton dapat lebih mudah untuk dikerjakan.
“oke Nan, pak Rudi setuju. Tambah slump hingga 14. Jangan sampai lebih.!” begitu perintah Haris pada Manan, semuanya harus dikerjakan sesuai spek tekhnisnya,  agar mutu yang diinginkan tercapai. Sehingga kualitas konstruksi sesuai dengan perencanaan.
“Siap pak..” jawab Manan. Suaranya sengaja dia tinggikan, sebuah isyarat bahwa dia masih bersemangat, masih menggebu-gebu, seperti semangat Haris, atasannya.
Haris menyalakan rokoknya, dia hisap dalam-dalam, gerimis baru saja usai, langit lelah sudah, untuk meratap sejak sore tadi, tak ada yang abadi memang, semuanya ada masanya, ada masa lelahnya, lalu berpindah pada yang baru, sekuat-sekuatnya langit meratap, tiba juga pada titik jenuhnya. Gerimispun usai. Bintang diatas sana, satu dua mulai menampakkan wajahnya.
Para pekerja masih mengerjakan pengecoran. Mereka begitu bersemangat, seakan kerasukan mereka mengerjakannya, entah apa penyebabnya, Haris tak tahu persisnya. Bisa jadi mereka terpacu agar pekerjaan ini cepat selesai. Lalu mereka membersihkan diri dan pulang, atau karena sejak jam sebelas tadi, Bus yang dijanjikan sudah menunggu di bawah. Itu artinya, bolanya pada mereka, secepat itu mereka semua dapat menyelesaikan pekerjaan, maka secepat itu pula mereka pulang, atau karna kedua alasan itu. Entahlah…
*****
Akh…. Lelah yang melegakan, kini tinggal mereka bertiga. Haris, Rudi dan security. Para pekerja baru saja meninggalkan mereka, Bus yang membawa mereka mudik, baru saja sepuluh menit lalu meninggalkan proyek. Kondisi yang mencemaskan sejak sore tadi, telah mereka lalui dengan sukses. Kini Haris dapat bernapas lega, demikian juga Rudi.
“Saya permisi dulu pak, karena kita, gak ketemu pada lebaran nanti, maka ijinkan saya mengucapkan selamat Hari Raya, mohon maaf lahir bathin….” Kata Haris, permisi pada Rudi, sambil menyalami atasannya.
“Sama-sama Ris, selamat Hari Raya, mohon maaf lahir bathin” jawab Rudi pula.
Lalu Harispun menyalami security proyek, pak Eko. Mereka saling mengucapkan salam lebaran. Harispun melangkahkan kakinya, menuju mobil carrynya. Rencananya, dari proyek ini, dia akan langsung pulang ke rumah, di rumah sudah menunggu istri dan anak semata wayangnya. Mereka akan langsung mudik malam ini juga. Jika semuanya sesuai rencana maka besok malam, sekitar jam delapan Haris telah tiba di kampung.
Perjalanan dari rumah hingga ke Cawang, lancar-lancar saja. Kalau saja Jakarta, situasi lengang seperti ini, tentu sangat menyenangkan. Lastri istrinya sedang terlelap di sebelahnya, hari menunjukkan pukul 2.30. gerimis yang sudah berhenti sejak di proyek tadi, hingga kini tidak juga kunjung kembali, di jalan toll menuju Cawang ini, jejak basah pada aspal jalan Toll dalam kota, masih ada disana-sini.  Kasihan Lastri, sejak sore telah menyiapkan semuanya untuk kepulangan mudik, tepat jam dua kurang sepuluh Haris tiba dirumah, lalu memasukan seluruh barang-barang ke mobil, lalu sesaat kemudian, langsung mengarahkan mobilnya menuju Toll dalam kota, arah cawing. Tujuannya jelas, pulang Kampung, mudik.
Lewat Cawang, kini kendaraan yang dikemudikan Haris sudah berada di toll arah cikampek, universitas Borobudur masih jelas terlihat, daerah pondok gede belum mereka lewati, tapi jalan ini sudah penuh sesak. Jalan toll ini sudah benar-benar krodit, kendaraan mulai tersendat, padahal jam belum menunjukkan pukul tiga pagi, lalu kapan mereka akan tiba di Cikampek, kapan akan tiba di Kampung?
*****
“Jam berapa Las?” Haris terbangun, rasanya telah lama sekali dia tadi tertidur.
“Jam 2 siang Mas… Lastri liat, Mas begitu nyenyak, terlelap dalam tidur,  rasanya tak tega membangunkan” jawab lastri.
“okh… maaf Las, Mas terlalu lama tertidur, membiarkan Lastri dan Yudo menunggu. Mas benar-benar nyenyak” kata Haris pula.
“Gak papa Mas, Lastri maklum kok, semuanya memang perlu dapat jatah yang cukup, mas sudah membayarkan utang pada tubuh Mas untuk istirahat, membayarkan utang pada Mata untuk tidur”
“Tapi mas membuat Lastri dan Yudo menunggu terlalu lama”
“Tidak apa Mas, ada saatnya Lastri dan Yudo mengalah untuk sesuatu yang lebih besar. Sama seperti yang kita lakukan sekarang…Puasa. Tak ada lebaran tanpa didahului puasa, tak ada kesenangan tanpa didahului kesulitan, tak ada kelulusan tanpa didahului ujian”. Jawab Lastri lagi.
Makjleebb…. Kata-kata terakhir itu. Menghujam tajam, tepat dijantung Haris. Tak ada lebaran tanpa didahului puasa, tak ada kesenangan tanpa didahului kesulitan, tak ada kelulusan tanpa didahului ujian.
Memang, macet di jalan toll sejak Pondok Gede hingga keluar Toll cikampek sungguh menguras tenaganya. Bayangkan, sejak kemarin siang dia ngecor di proyek, diselingi ketegangan karena gerimis berkepanjangan, belum lagi ditambah macet yang krodit, begitu memasuki Toll Jakarta - Cikampek. Ketika Haris tiba di Cikampek, jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi.
Melewati pasar Ciasem, mata Haris sudah tak bisa diajak kompromi lagi, waktu itu jam 10 pagi, ketika melihat ada tempat ronda siskamling, Haris menepikan mobilnya, parkir dan tidur. Kini, disinilah dia bersama anak istrinya. Masih diwilayah Ciasem. Sementara waktu sudah menunjukkan jam 2 siang. Perjalanan ke Kampung halaman masih jauh.
“Kita jalan lagi Las?”  ajak Haris pada Lastri.
“Iya Mas, tapi pelan-pelan saja, di Mesjid pertama yang kita temui, kita sholat Dzhuhur dulu” Lastri mengingatkan Haris, akan kewajiban lain yang belum dia tunaikan.
“Iyalah, kita kan puasa. Masak gak sholat”  jawab Haris lagi.
Pada perjalanan pasca istirahatnya Haris di Ciasem, sekali lagi Haris menepikan kendaraannya, pada halaman Mesjid yang pertama dia jumpai. Menjadi imam bagi Lastri dan anak-anaknya, dalam sholat Dhuhur sekaligus Ashar, karena keringanan yang diberikan Allah bagi hamba-hambaNya, yang sedang dalam perjalanan.
*****
Memasuki jalan raya kembali, setelah melakukan kewajiban sholat, membuat Haris benar-benar segar. Segar secara jasmani karena tidur di Ciasem tadi, segar secara rohani karena kewajiban sholat pada sang khaliq telah ditunaikan.
Jalanan di Pantura itu, masih terus krodit, kemacetan masih terus terjadi dimana-mana, dibanyak tempat. Tapi, semuanya terasa ringan bagi Haris, dia sudah tidak memperdulikan lagi, jam berapa harus sampai di kampung halaman. Biarkan semuanya berjalan dengan sendirinya, justru yang kini menjadi perhatian haris bukan pada akhir perjalanan, melainkan pada proses perjalanan itu sendiri,  yang perlu dipertahankannya sekarang adalah puasanya tetap terjaga dengan baik, agar dia memperoleh lebaran, ujian Haris kini, sebisa mungkin, mensiasati ujian selama diperjalanannya agar dia dapat lulus, hingga selamat sampai di Kampung.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar