Jumat, 10 Juli 2015

Surat Cinta untuk Istriku



Ditahun baru ini, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, aku selalu mengirim surat cinta padamu, semacam bentuk evaluasi cintaku padamu selama kurun waktu setahun. Sehingga, dengan demikian, aku dapat memperbarui lagi cinta kita. Cinta yang kuharapkan akan selalu tumbuh menghijau, ditaman hati kita. Tidak semua memang, perlu dilakukan peombakan. Tapi,  selalu saja ada bagian-bagian yang perlu diperbaiki, dimodifikasi, dan disesuaikan dengan konteks kekinian. sehingga cinta kita tetap update. Selalu on, sehingga dapat kita mengerti bersama, mengapa hingga kini aku masih mencintaimu, begitu pula sebaliknya dengan dirimu, mengapa hingga kini, kau tetap mencintaiku, meskipun kondisiku kini sudah banyak berubah, terutama setelah aku meninggalkan dunia hitam. Perlahan-lahan kumisku memutih, lalu janggutku demikian, kemudian silanjutkan dengan rambutku, lalu…lalu..lalu, mulai dari bagian yang dapat  terlihat dengan kasat mata, hingga yang tidak terlihat.

Istriku..
Sudah  cukup panjang waktu yang kulalui bersamamu, mulai ketika kau awalnya, malu-malu lewat di depanku, di depan kelas kita, ketika kita masih sama-sama di sekolah lanjutan atas tempo dulu. Dari ujung sudut matamu, aku tahu kalau kau menaruh hati padaku, sari banyak moment ketika kau mencuri pandang padaku, sementara aku sendiri, dengan banyak pertimbangan, tidak serta merta langsung menghampiri dirimu. Berjibun peristiwa antara kita berdua dengan segala pernak-perniknya, serta banyak sekali kenangan cerita tentangmu yang kusimpan rapi di lemari kokoh bilik hatiku.
Telah tiga dasa warsa lebih kita lalui dalam  kebersamaan alur rumah tangga yang ku nakhodai, begitu banyak kita koleksi kenangan indah dan buruk, disela-sela canda tawa ria yang menggairahkan serta sedu sedan yang mengharuskan kita untuk saling menguatkan satu sama lain.
Istriku..
Mendampingimu dan mencintaimu, adalah hal terindah dalam hidupku yang dapat kuraih. Meskipun dibalik pelukanmu, aku masih saja, terkadang melirik wanita-wanita seksi yang berseliweran dalam perjalanan pulang pergiku ke tempat kerja, untuk salah-salah kecil ini, aku mohon maaf, tetapi sekaligus juga, dari penyesalan-penyesalan kecil itu, membuat cintaku padamu makin menggunung dan membahana. Tak ada kata puas ketika aku menghabiskan hari-hari bersamamu, dan ingin rasanya selalu di dekatmu, merasakan aroma cintamu.
Istriku…
Telah banyak keringat ini tercucur, hanya karena aku ingin membuktikan betapa besarnya cinta ini padamu, telah kuhabiskan malam-malam panjang begadang untuk membuktikan rasa tanggung jawabku sebagai suami padamu, terutama diawal-awal pernikahan kita. Karena, ketika itu, kita bukan siapa-siapa. Tetapi, apakah semua itu, telah cukup sebagai penyeimbang cintamu padaku? Hanya kaulah yang dapat menilai semuanya.
Istriku..
Telah banyak capaian-capaian yang telah sukses kita raih, meskipun masih banyak juga yang belum dapat kita genggam. Diantara capaian yang belum dapat kita peroleh itu, seperti secara rutin kita menghabiskan sepertiga malam terakhir untuk bersujud padaNya, membesarkan dan menghantarkan anak kita pada kedewasaannya, karena dia anugrah terbesar yang diberikan Allah, ketika usia kita tidak muda lagi. Menjadikan kita berarti untuk masyarakat sekitar kita, sehingga kehadiran kita merupakan anugerah yang dapat dirasakan oleh sesama manusia, paling tidak untuk masyarakat terdekat kita dulu.
Istriku…
Capaian-capaian belum terwujud itu, aku harapkan agar menjadi nyata pada tahun 2014 ini, aku masih sangat berharap dukunganmu untuk meraih semua itu, terutama cintamu yang besar itu, dengan cintamu itu, rasanya, akan dapat kutransformasikan dengan sempurna, guna meraih apa yang selama ini menjadi cita-citaku, cita-cita kita berdua. Untuk tujuan itulah, maka surat cinta ini kutulis untukmu.

Selamat tahun baru 2014
Sejahteralah Indonesiaku, Damai sentosalah negriku

3 komentar:

  1. wow, surat 'lama' ya Pak :)

    BalasHapus
  2. hehehe... surat lama yg di publish ulang
    Makasih mas Ryan sdh hadir..

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus