Jumat, 10 Juli 2015

Sepotong Kisah Umroh yang tertinggal

 
Sudah tiga hari saya kehilangan ide untuk menulis apa, semua upaya sudah saya lakukan, tetap saja gak ketemu. Maka pagi ini saya bertanya pada diri sendiri, kenapa gak nulis beberapa hal yang ketika umroh kemarin tidak ditulis.

Memang ada beberapa hal ketika umroh kemarin yang saya hindari untuk ditulis, karena dapat menimbulkan multi tafsir pada beberapa pembaca. Yakni tentang pengalaman rohani. Karena prinsipnya, pengalaman itu akan berbeda antara seseeorang dengan lainnya. Diantara kejadian-kejadian itu, adalah sebagai berikut.

Ketika uang tak berguna, soreitu setelah lepas Ashar kami meninggalkan Madinah menuju Mekkah, keberangkatan terlambat sekitar satu jam dari Jadwal awal. Ketika Maghrib tiba kami masih diperjalanan, sehingga Sholat Maghrib dilakukan diatas Bus dan setelah Isya kami baru memasuki Hotel. Rencana awal, begitu menaruh barang-barang kami akan segera melakukan ibadah Umroh, karena, kami sejak diperjalanan telah mengenakan pakaian ikhram. Tetapi ternyata, ada saja kendala yang terjadi, maklum mengatur rombongan dengan jumlah besar bukan masalah sederhana. Jam sebelas malam baru kami meninggalkan hotel untuk melakukan Ibadah Umroh.
Pembimbing kami, dengan sabar membimbing kami tawaf (mengelilingi Ka’bah tujuh kali) dengan segala bacaan do’a  yang mengiringi ibadah tawaf itu. Kami berusaha untuk tetap berkumpul dan Alhamdulillah rangkaian tawaf berjalan dengan sukses. Setelah itu, pembimbing kami menganjurkan untuk minum Air Zam-Zam berserta do’a yang mengiringinya. Lalu ibadah berikutnya Sa’i,yakni berjalan tujuh kali antara safa dan Marwa. Pada ibadah tawaf inilah kejadian yang akan saya ceritakan itu terjadi. Saya dengan sukses telahmenyelesaikan lima kali putaran, berarti tinggal dua kali putaran, tetapi kaki ini sudah tidak mau diajak berjalan lagi, terasa berat dan kaku. Ditempat saya berdiri itu, banyak kursi-kursi roda yang disediakan Mesjidil Haram untuk digunakan oleh Jamaah dan disana juga ada anak-anak penyedia jasa untu kmendorongnya, saya segera memanggil mereka dan menawarkan satu kali perjalanan lima puluh ribu, jadi dua kali pulang pergi seratus ribu, mereka menolaknya, lalu tawaran itu saya naikkan menjadi seratus ribu untuk sekali perjalanan, jadi pp dua ratus ribu,  mereka tetap menolaknya. Padahal informasi yang saya dapat, dengan lima puluh ribu saja,biasanya berebutan mau.
Disini saya sadar, bahwa uang kadang tidak selamanya berlaku, atau ada apa hikmah dibalik ini? (diMekkah, mereka paham uang kita hanya biru dan merah, jika menggunakan biru dan merah, kita tidak perlu menukarkannya dengan real). Akhirnya sisa dua putaran terakhir itu saya selesaikan dengan segala kemampuan yang tersisa. Hikmah yang mungkin saya petik, agar saya tahu, sesungguhnya uang itu tidak selalu menjadi alat yang menolong kita, atau karena saya Umroh itu memang tidak membawa bekal uang yang cukup, hingga saya bisa gunakan uang itu, untuk kebutuhan yang lebih penting dari hanya sekedar untuk ongkos mendorong kursi roda.

Ketika nasi diganti roti,  seperti sudah saya ceritakan, kalau saya tidak membawa bekal uang yang cukup ketika umroh kemarin, maka saya lebih banyak menghabiskan waktu di Mesjid, apakah itu Masjid Nabawi di Madinah atau Masjidil Haram di Mekkah, meskipun transportasi gratis antara hotel dan Mesjidil haram tetapi saya ke hotel hanya untuk makan siang dan makan malam terus tidur, untuk sebelum subuh kembali ke Mesjidil Haram. Tidak Jarang pada makan malam ini, makanan sudah habis, karena saya selalu terlambat datang ke ruang makan. Keterlambatan itu karena memang saya agak telat keluar masjid, juga saya harus mengalah jika ada jamaah wanita yang berebut untuk naik Bus. Untuk beberapa malam itu saya sudah tidak peduli lagi dengan apakah menu makan malam masih tersedia atau sudah habis, karena beberapa malam   ini, selalu saja ada yang memberi saya roti isi yang volumenya sangat besar untuk ukuran perut Indonesia, sebelum saya menaiki Bus terakhir menuju Hotel. Roti itu dibagikan dari mobil yang sama dan oleh orang yang sama, saya hanya berpikir, inilah rezeki yang diberikan Allah pengganti nasi yang kemungkinan besar sudah habis di hotel.

Ketika guru olahraga sakit, ada cerita yangmashur diantara jamaah umroh untuk tidak berbicara yang kurang patut ataumelecehkan sesuatu karena dianggap sepele atau tidak perlu. Teman seperjalanansaya, yang selalu ceria, adalah seorang guru olahraga dan masih muda. Beliau menceritakan bahwa ibadah yang katanya memerlukan ketahanan fisik, ternyata tidak seberat yang diduganya. Ada kesan sombong yang tertangkap oleh saya dalam omongan itu. Singkat cerita setelah melakukan tawaf dan sa’i pertama ketika kita baru datang, beliau sakit……… sakit yang tidak memungkinkannya untukmelaksanakan ibadah di Mesjidil Haram. Hingga ketika kita melakukan tawaf wada’ atau tawaf perpisahan sebelum meninggalkan Mekah menuju tanah air, beliau tetap tidak mampu melakukannya. Tetapi, ketika diatas Bus antara Mekah menuju Jeddah, sahabat saya ini sembuh dan segar bugar kembali. Apakah sakitnya itu disebabkan karena sikap beliau? Wallahu A’laam.

Ketika kepala Dinas ditabrak kursi roda, juga ada cerita yang mashur diantarajamaah umroh, bahwa ada beberapa kejadian yang berkaitan dengan perilaku kita di tanah air, kejadian itu bisa diartikan sebagai penebusan dosa dari prilakuselama ini, atau sebagai peringatan agar kita mau memperbaiki dan tidakmengulangi kembali. Seorang sahabat saya yang lain, seorang kepala Dinas, terkenal galak ketika di Tanah Air, ketika sore itu saya bersama beliau berjalan di Halaman Mesjidil haram, kaki beliau tertabrak dengan kursi roda hingga beliau tertatih-tatih menahan sakit, lalu ketika kami sampai di dalam, kamipun melakukan tawaf sunah mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali. Kejadian serupa kembali terjadi, bahkan kejadian terakhir begitu menyakitkan, hal ini dapat saya lihat dari expresi beliau yang menahan sakit luar biasa.
Diperjalanan pulang, diatas Bus, beliau berkata pada saya;
“kalau saja kejadian itu terjadi di tanah air, orang yang mendorong kursi roda itu sudah saya tabokin sampai gak bisa berdiri, tetapi saya sadar, mungkin inilah teguran dari Allah atas perilaku saya selama ini, yang suka naik darah”.  Demikian penuturan beliau pada saya.
Begitulah beberapa kisah umroh yang tertinggal, yang tidak sempat saya tulis, karena beberapa pertimbangan sebagaimana saya tulis diawal tulisan ini. Semoga saja ada hikmah yang dapat kita petik…….. InsyaAllah!!!.

2 komentar:

  1. pengalaman yang sangat menarik kak, cek juga paket umroh murah di website travel umroh terbaik di Jakarta. Terimakasih

    BalasHapus
  2. apabila ingin berencana untuk menunaikan ibadah umroh kembali, cek di sini ya pak untuk paket umroh murah

    BalasHapus