Jumat, 31 Juli 2015

Selamatkan Indonesia -Refleksi HUT RI ke 70-



Merdeka adalah bebas dari penjajahan. Untuk selanjutnya, bebas menentukan nasib diri sendiri dengan segala konsekwensinya. Artinya, bangsa merdeka adalah bangsa yang bebas berbuat sesuatu dan bebas menentukan sesuatu, dengan hak dan kewajiban yang melekat pada dirinya.
Kebebasan untuk menentukan pilihan dan melaksanakan pilihan yang sudah disepakati sebagai sebuah bangsa merdeka, tidaklah kalah beratnya, jika dibandingkan dengan perjuangan untuk merebut dan meraih kemerdekaan itu sendiri. Sebab, kegagalan pada pelaksanaan terhadap apa yang sudah menjadi pilihan, dapat mengakibatkan negara ini, menjadi sebuah Negara yang gagal. Akibatnya, Indonesia bisa saja, kelak, hanya menjadi sebuah catatan sejarah masa lalu. Bahwa, pernah ada sebuah Negara yang bernama Indonesia.
Kita tidak menginginkan hal itu. untuk itulah maka dalam rangka memperingati HUT RI yang ke 70, dirasakan perlu untuk mereflesi diri. Hal apa yang sudah kita capai dan hal apa yang belum kita capai, serta potensi apa saja yang dapat menjadikan Negara ini, menjadi sebuah Negara yang gagal.

Bangsa dengan sejarah panjang.
Kemerdekaan 17 Agustus 1945, adalah titik puncak perjuangan panjang sebuah bangsa yang kelak bernama Negara Indonesia, dalam mengusir penjajah. Dimulai dengan perjuangan-perjuangan sektoral pada daerah-daerah yang menginginkan kemerdekaan melawan penjajah Belanda dengan mengangkat senjata. Sebut saja, seperti Pangeran Diponegoro, Sultan Hasanudin, Tuanku Imam Bonjol, Teuku Umar, Cut Nyak Dien, dan banyak lagi yang lain.
Selanjutnya, perjuangan melawan penjajah Belanda, berlanjut dengan penyadaran akan eksistensi anak bangsa, pentingnya persatuan, hingga lahirnya kelompok pemuda-pemuda kedaerahan dengan kesadaran sebagai unit kesatuan bangsa yang dikenal sebagai Jong Sumatera, Jong Java, Jong Ambon hingga akhirnya melahirkan Boedi Utomo. Dengan  cirinya khasnya, membangun kesadaran, menumbuhkan kepedulian dan komitmen kebangsaan.Hingga akhirnya, terbentuk kesadaran jiwa akan pentingnya persatuan dan kesatuan berbangsa.
Pemuda-pemuda dengan Inteletual tinggi, berbasis pendidikan tinggi dengan kesadaran nasionalime tinggi, inilah, yang kelak membawa Indonesia Merdeka. Mereka-mereka inilah yang kemudian dikenal sebagai founding father Indonesia. Dasar-dasar bernegara telah sukses mereka letakkan.  Apakah itu falsafah Negara, symbol Negara, hingga acuan dalam penyelenggaraan bernegara serta filosophi mencapai kemakmuran Negara Indonesia.
Lalu pertanyaannya sekarang, apakah yang telah sukses diletakkan oleh founding father itu, telah sukses pula dilaksanakan dan dicapai oleh generasi penerusnya. Jawaban inilah yang mendesak untuk dijawab, meski jawabnya bukan iya atau tidak, sudah atau belum. Banyak varian masalah yang perlu dikaji dan dibuatkan manualnya hingga sampai pada jawaban dari pertanyaan tyang dimaksud.

Kompleksnya masalah.
Masalah yang dihadapi bangsa Indonesia, cukup kompleks. Hampir dalam semua hal, seperti Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial Budaya, dan Pertahanan Keamanan.
Awalnya, semua kita mengira, setelah tumbangnya rezim orde lama, yang kemudian disusul dengan tumbangnya orde baru, maka bangsa Indonesia, segera akan memasuki kebangkitan dari berbagai hal, seperti Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial Budaya, serta Pertahanan Keamanan. Namun, kenyataan yang terjadi, jauh dari harapan.
Jargon kehancuran orde baru, disebabkan karena KKN. Awalnya, semua beranggapan akan selesai dengan kehadiran orde reformasi. Namun, kenyataan yang terjadi, KKN bukannya hilang, melainkan, malah semakin subur. Merata pada semua tingkatan dan subur terjadi nyaris pada semua level.  Bak Jamur di musim hujan.
Korupsi yang awalnya, hanya terjadi dilingkup kecil pada puncak kekuasaan zaman orde baru. Pada zaman reformasi terjadi pada semua lini dan semua daerah, apakah daerah tingkat satu, tingkat dua bahkan hingga Desa. Demikian juga, tidak hanya terjadi pada mereka yang berada di eksekutif, tetapi sudah biasa terjadi pada elemen Yudikatif dan legislative.  Kasus tertangkap tangannya anggota DPR oleh KPK bukan berita asing lagi. Demikian juga, kasus suap menyuap hakim dan panitera serta Jaksa bukan sesuatu yang mengejutkan lagi.
Demikian juga yang terjadi pada grass root. Pada Akar rumput. Dengan nafsu untuk dapat duduk sebagai anggota legislative, para calon anggota legislative ini, tak malu-malu melakukan serangan fajar pada masyarakat akar rumput agar memilih mereka. Demikian juga yang terjadi pada kandidat kepala daerah, apakah Bupati atau Gubernur. Mereka melakukan apa saja untuk dapat menduduki jabatan yang dimaksud. Mulai dari melakukan serangan fajar, black campaign hingga melakukan kecurangan pada saat pelaksanaan Pilkada. Akibatnya, mudah ditebak, selalu saja ekses negative terjadi pada setiap kegiatan Pilkada, dari mulai gugatan hukum hasil dari Pilkada hingga konflik horizontal antara para pendukung kedua kandidat.
Pilkada yang syarat dengan perputaran uang, pada gilirannya, mereka-mereka yang telah  terpilih lebih berkonsentrasi pada kegiatan yang dapat mengembalikan segera nominal yang telah mereka keluarkan, beserta “bunga” dan komitment pada pendukung Akibatnya, kegiatan pembangunan yang dilakukan bukan diniatkan untuk kesejahteraan rakyat, melainkan bagaimana secepatnya modal dapat kembali. Tak heran jika, angka kemiskinan tetap tinggi, kesejahteraan rakyat masih jauh dari capaian yang ingin diraih.
Hilangnya rasa malu
Adagiumnya, apa yang tak dimiliki bangsa Indonesia, kecuali malu? Benarkah demikian? Bangsa ini memiliki segalanya? Jawaban dari pertanyaan itu. Sejatinya memang demikian. Bangsa ini memiliki segalanya. Hutan lebat dengan luas jutaan hektar dengan batang pohon sebagai sumber material kayu beserta turunannya. Memiliki lautan yang demikian luasnya dengan hasil lautan yang beraneka ragam, mulai dari ikan yang berlimpah, pemandangan bawah laut nan mempesona serta bermacam turunannya. Perut bumi, mengandung bahan tambang yang demikian kaya. Emas, Minyak, Batu Bara, Timah dan lainnya. Namun, pertanyaannya, mengapa hingga kini, kesejahteraan untuk rakyat itu, serasa semakin jauh saja? Utang Negara yang baru saja lunas, kini jumlahnya semakin membengkak saja. Tentu ada kesalahan pada management Negara.
Salah satu jawaban dari pertanyaan itu, karena bangsa ini, nyaris tak memiliki lagi rasa malu. Indikasinya jelas terlihat, para pemimpin yang dieksekutif sudah tak memiliki beban moral ketika mengingkari janji-janjinya mereka ketika kampanye Pilkada. Para wakil rakyat hanya sibuk memikirkan kepentingan pribadi dan kelompoknya, hingga tidak malu-malu melanggar etika serta moral. Ketika semua pelanggaran baik yang dilakukan oleh eksekutif maupun legislatif telah sampai ditangan yudikatif, maka disini masih tersisa malu yang tak kunjung habis itu, semua perkara dapat diatur dengan kong-kalingkong sejumlah nominal uang. Bahkan, hal itu terjadi hingga pada putusan Majelis Konstitusi. Sekali lagi, uang dapat mengatur semuanya, sementara disisi lain, malu sudah terbang jauh dari sebagian besar pemimpin bangsa Ini. Naudzu Billahi Min dzalik.
Apakah hanya mereka yang berada dilingkar Yudikatif, eksekutif dan legislative yang tidak memiliki rasa malu? Ternyata tidak. Rasa malu itu, bahkan sudah tidak dimiliki oleh hampir seluruh lapisan masyarakat.
Ketika bencana alam datang, masayarakat tidak memaknai sebagai peringatan karena rusaknya alam oleh perilaku manusia, tidak dimaknai dengan mata bathin karena Allah memperingati hambanya untuk memperbaiki perilaku yang selama ini salah. Tetapi, dimaknai dengan akan turunnya bantuan material yang berlimpah dari pusat. Perbaikan sarana dan prasarana yang rusak, bukan dipikirkan bagaimana caranya menggerakkan potensi local, seperti gotong-royang dan material alam local yang dapat digunakan. Melainkan, dimaknai sebagai proyek yang akan mendatangkan banyak keuntungan, terutama pada mereka memiliki akses untuk itu.
Tiba-tiba saja, jumlah mereka yang mengaku sebagai keluarga miskin bertambah dengan drastis, dengan satu maksud agar memperoleh bantuan. Kemana harga diri mereka itu perginya? Kemana marwah diri itu hilang? Ironis.
Pada dunia pendidikan, hal yang sama terjadi. Nilai Ujian Negara hanya didasarkan pada kemampuan akademis. Kemampuan lain diluar akademis seakan terabaikan. Jumlah kehadiran, tata-krama, sopan santun, kemampuan budaya local dan kepatuhan pada pengamalan agama, semua terabaikan.Tak heran, jika out-put pendidikan dengan model demikian hanya memiliki kemampuan piker tanpa hati. Pakar dalam analisa, namun miskin dalam rasa. Semua pelanggaran maupun korupsi sah saja, selama masih dalam koridor pelaporan yang bisa dipertanggung jawabkan.Jauhkan pemikiran tentang dosa dan  akibat yang ditimbulkan pada kebangkrutan bangsa. Gak perlu malu untuk melakukan semua itu.
Dalam perjalanan penyelenggaraan ekonomi Negara, segala jalan dilakukan. Jika perlu, lakukan ekonomi liberal. Serahkan harga pada pasar. Negara hanya berfungsi sebagai regulator dan fasilitator saja, biarkan pasar berjalan sesuai dengan hukum pasar, tanpa campur tangan Negara. Cabut semua subsidi pada masyarakat, dengan harapan agar  masyarakat semakin cepat mandiri dan bertanggung jawab pada diri mereka sendiri. Pasang pajak pada setiap kegiatan masyarakat, dengan demikian, masyarakat akan cerdas dalam merencanakan semua aktifitas ekonominya.
Dengan gambaran diatas, lengkap sudah segala carut marut yang dialami bangsa ini. seakan tak ada lagi celah untuk menyelamatkannya. Pupus semua harapan. Hilang semua kemungkinan menjadikan Negara ini besar, sebagaimana harapan founding father.  Hopless dan speechless

Kembali pada Jati Diri Bangsa
Peringatan ulang tahun kemerdekaan ke tujuh puluh, yang akan kita rayakan pada 17-8-2015 bukanla sebuah kebetulan, jika terletak antara dua peristiwa besar. Yakni Hari Raya Iedul Fitri dan Hari Raya Idhul Adha.
Iedul Fitri artinya kembali fitri, kembali ke asal-mula, kembali suci, setelah sebelumnya, mungkin saja kita telah melakukan beberapa kesalahan dan kekeliruan.
Idhul Adha, adalah kemenangan setelah kita mampu mengorbankan benda yang paling kita cintai untuk meraih sesuatu yang lebih besar lagi. Lebih luhur dan mulia lagi.
Dua peristiwa besar itu, merupakan moment bagi kita untuk merubah carut marut negri ini menuju perbaikan. Dengan demikian, apa yang selama ini, menjadi harapan founding father itu, perlahan tapi pasti, dapat kita raih. Caranya?
Dengan kembali fitri, kembali ke-asal. Kembali pada falsafah awal bangsa Indonesia. Yakni Panca Sila, NKRI, UUD 1945 dan Bhineka Tunggal Ika.
Dengan kembali Adha, mengorbankan semua ego, ego jabatan, ego kedaerahan, ego yang bersifat pribadi dan golongan. Kemudian, dengan besar hati kembali pada jati diri bangsa dengan konsekwen melaksanakan Panca Sila, NKRI, UUD 1945 dan Bhineka Tunggal Ika
Pada Bhineka Tunggal Ika, ada pengakuan tentang keberagaman anak bangsa, tetapi keberagaman itu, tidaklah menjadi potensi untuk berpecah belah. Melainkan potensi untuk saling menguatkan. Seperti keberagaman antara batu, pasir dan semen. Yang menjadikan bangunan Indonesia menjadi kokoh.
Pada UUD 45 ada pengakuan akan kebebasan berekonomi. Tetapi,  ekonomi yang dijalankan bukan yang dilepaskan bebas pada pasar. Melainkan, ada campur tangan Negara untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran Bangsa dan Negara.
Pada Pancasila, ada hikmah kebijaksanaan, ada persatuan, ada Ke Tuhanan Yang Maha Esa.  Artinya, sebebas apapun kita menerima kemajuan bangsa lain, ada faktor hikmah yang menjadikan filter, ada persatuan yang harus dijaga,demi keutuhan berbangsa dan bernegara. Ada Tuhan, yang menjadikan kita memiliki rasa malu dan takut untuk melakukan pelanggaran, hingga berakibat pada kebangkrutan Bangsa dan Negara.
Jika tadinya, kita telah salah melangkah, telah jauh tersesat. Mengapa tidak coba untuk kembali ke pangkal jalan? Kembali ke rumah asal?
Tidak dibutuhkan segala macam seminar yang menghabiskan waktu berhari-hari untuk meyakinkan ke empat pilar berbangsa itu benar. Tak dibutuhkan keahlian setingkat professor untuk meyakinkan bahwa pilihan untuk kembali ke empat pilar berbangsa itu tidak salah.
Yang dibutuhkan,hanya kebulatan tekad para pemimpin dan seluruh lapisan masyarakat untuk konsisten melaksanakan keempat pilar berbangsa itu. Dalam semua aktifitas bernegara, apakah pada kegiatan rutin atau pada Kebijakan yang akan diputuskan guna dilaksanakan dalam  kegiatan rutin menuju Indonesia yang lebih baik. Indonesia yang sesuai dengan harapan dan cita-cita founding father. InsyaAllah.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar