Jumat, 24 Juli 2015

Sebisa Yang Dapat Kuberikan

Eka baru saja membelakangiku, meninggalkan ruangan tempat aku kini duduk, ada raut kecewa di wajahnya. Aku tak pedulikan semua itu, peduli syetan semuanya, aku telah muak dengan semua yang terjadi. Telah kuhabiskan seluruh waktu untuk mereka semua. Seakan aku mengabdikan diri pada profesi, tetapi semua itu hanya pelarian, semacam sebuah balas dendam karena suatu sebab. Kini “Sebab” itu telah dekat pada diriku, seakan sudah dapat kuraih dengan sekali rengkuh.
Sore tadi sebuah sms masuk. “Benk, aku tunggu di atas. Jam delapan sore ini, jangan terlambat…..Hartini”
“Ok, aku datang on time” Balasku singkat.
“Kamu tahu tempatnya kan? Tempat terakhir kita ketemu dulu” balasan smsku masuk lagi
“Ok, tempat itu, aku tau, tak mungkin aku lupa” balasku lagi. Mana mungkin aku bisa melupakan tempat itu. Sampai kapanpun, tak mungkin terlupakan.
Lalu, siapa sangka Eka, manajer sekaligus istriku datang menemuiku, meminta untuk menghadiri makan malam yang diadakan EO untuk pihak yang mengundang kami. Kalau saja bukan Hartini yang meng”sms”ku, aku pasti akan menuruti permintaan Eka, tapi untuk kali ini, aku berontak, harus ada penolakan dariku, paling tidak hanya untuk kali ini, setelah sekian ribu kali aku selalu mengabulkan permintaannya. Selalu aku mengikuti kemauannya.
*********
Tepat jam 19.00 aku mengeluarkan mobilku dari halaman parker Hotel itu, segera mobilku masuk Jalan Naripan, lalu berbelok ke kiri, lurus terus, hingga akhirnya berbelok ke kanan masuk Jalan Braga. Jalan yang penuh kenangan dari masa mudaku, di Jalan inilah aku memulai karierku sebagai penyanyi jalanan, tak jauh dari perapatan yang baru saja kulewati. Pas pada perempatan itu, dulu ada seorang penyanyi buta yang menyanyikan lagu-lagu Barat dengan iringan kecapinya, tak banyak orang tau siapa namanya, mereka hanya mengenal seniman buta itu dengan nama Braga stone, sementara aku mengenalnya sebagai Slamet dari Binjai, nama sebuah Kabupaten yang berjarak hanya 20 km dari kota Medan. Beberapa meter dari posisi Braga stone, disanalah lapakku, membawakan lagu-lagu evergreen dari penyanyi Jim Reeve, Nat King Cole, Engelbert Humperdink, Tom Jones dll. Mobil yang kusetir berbelok ke kiri, melalui depan Braga Sky, melewati bawah viaduct,  lalu setelah melewati viaduct, aku belokkan ke kanan, lalu terus belok kiri kembali memasuki Jalan Wastu Kencana. Arah perjalananku sudah jelas, ke daerah atas, daerah Dago.;
Memasuki jalan Ir. H Juanda, daerah ini sudah banyak berubah, kemacetan sudah kelihatan akrab, aku menjalankan kendaraanku dengan perlahan saja, memastikan alamat yang kutuju tidak terlewati, sambil menikmati masa lalu, masa-masa kuliahku dulu, masa-masa jadi penyanyi jalanan di Braga, masa sulit yang kini terasa indah untuk dikenang kembali,  tetapi, yang pasti aku tidak mau terlewati dengan tempat yang sudah dijanjikan Hartini. Setelah melewati beberapa perapatan setelah jalan Ghanesa tempat aku dulu menuntut ilmu, aku menghentikan kendaraan, lalu memarkirkannya, aku yakin inilah tempat yang dimaksud Hartini. Selang beberapa lama kemudian, sebuah sedan dengan nama pabrikan tiga huruf parkir di belakangku, aku yakin itu Hartini.
Hartini, keluar dari mobilnya, berjalan kakimenghampiri kendaraanku, aku membukakan pintu untuknya, dia masuk dan duduk disebelahku. Entah siapa yang memulai, kami sudah berpelukan, lamaaaaa dan hangat. Lalu, ada penolakan dari Hartini, aku sadar kami bukan lagi sepasang kekasih, tetapi manusia dewasa yang bertemu untuk sebuah maksud tertentu. Aku tak tahu maksud Hartini, tapi maksudku sudah jelas, ini bukan hanya sebuah nostalgia, sebisa mungkin, jika dapat, aku akan melamarnya, meraih apa yang dulu tak dapat kuraih, membuat nyata apa yang dulu hanya menjadi impian semata. Harus ada tindakan berani dan tuntas, kalau tak sekarang, kapan lagi.
“Apa kabarmu Benk?” Tanya Hartini.
“Baik…” Jawabku, ditemaram lampu jalanan yang memasuki kaca mobilku, aku masih melihat pesona Hartini tak juga surut. Bahkan dengan guratan usia matang yang tampak diwajahnya, pesona itu semakin kuat saja di mataku.
“Bagaimana dengan istri dan anakmu, Benk…” tanya Hartini lagi.
“Baik, aku belum memiliki anak Tin. Bagaimana denganmu Tin?”
“Baik…” jawab Hartini singkat.
“Suamimu? Anak-anakmu?” Tanyaku pada Hartini.
Ada perubahan di wajah Hartini, wajah itu mengguratkan kesedihan, aku tak tahu persis kenapa? Apa yang salah dalam pertanyaanku.
“Kamu benar-benar gak tahu Benk? Atau hanya basa-basi bertanya, pura-pura tidak tahu?” Hartini balik bertanya.
“Aku serius tanya Tin, untuk apa aku berbohong?” aku jujur, memang tidak tahu.
“Anton sudah lama almarhum, ditahun kedua perkawinan kami, dia meninggalkan janin di rahimku usia tiga bulan ketika itu” Kata Hartini pula.
“Anak dalam kandungan yang ditinggalkan Anton, bernama Adam, kini sudah selesai kuliah Benk, dua tahun lalu dia sudah nikah”
“Adam tinggal dimana? Sama Tini?” Tanyaku.
“Adam di Papua Benk, Tini sendirian” katanya singkat.
“Lalu, apa maksudnya pertemuan ini?” Tanyaku pada Tini, aku berharap itu peluang, dengan memancing pertanyaan, ada celah agar aku bisa masuk dan meraih impianku yang tertunda selama ini.
“Aku hanya ingin memohon maaf  Benk, aku telah berbuat salah, aku telah menerima Anton dalam hidupku, meskipun itu sebenarnya keinginan Bapak, tapi, bagaimanapun itu, aku tetap salah” kata Tini, coba menjelaskan masalah sebenarnya
“Apa bukan karena, waktu itu aku mahasiswa miskin yang gak punya masa depan? Mahasiswa Exacta yang lebih larut dalam dunia seni? Yang menjajakan suara untuk sesuap nasi?”
“Benk……” Tiba-tiba Hartini menangis, sedu sedan itu, membuat aku merasa sangat bersalah, begitu konyol, beginikah perilaku seorang pecinta, pada orang yang dicintainya? Pada pertemuan pertama, setelah sekian puluh tahun tak bertemu?
“Sudahlah Tin, hentikan tangisan itu, aku jadi gak tentu rasa mendengar tangis itu, aku bisa menerima apapun alasan Tini,  semua sudah berlalu, jujur banyak hikmah yang aku peroleh dengan kejadian itu. Mungkin dendam kejadian itu yang membuat aku sekarang jadi seperti ini Tin” Kataku, kulihat tangis Tini mulai reda.
“Hanya satu permintaanku Tin…” aku mulai mulai lagi dengan misiku untuk meraih Tini.
“Apa itu Benk? Katakan saja, sebisa mungkin aku akan kabulkan..” kata Tini.
“Aku ingin Tini jadi istriku, aku ingin meraih apa yang selama ini lepas dari kehidupanku. Tini akan jadi permaisuri dalam pernikahan kita, kalau perlu aku akan menceraikan istriku, tokh selama ini, Eka belum juga memberiku seorang anak?” Kataku pula penuh harap pada Tini.
“Permintaan itu tak mungkin Benk, aku gak ingin jadi duri dalam kehidupan Eka, aku tegas menolak permintaanmu Benk. Bukan hanya soal perasaan Eka yang terlukai, tetapi aku pernah merasakan beratnya menjadi single Parent Benk. Jadi, sekali lagi, mohon maaf Benk” Jawab Hartini.
“Atau ada opsi lain Tin?”
“Apa maksudmu Benk? Kamu mau meniduri aku? Kalau itu permintaanmu, aku akan penuhi Benk, ini bukan soal nafsu Benk, tapi soal bukti, kalau aku masih tetap mencintaimu” Jawab Tini.
“Itu justru yang aku tidak mau Tin, bagiku Tini adalah malaikat suciku, gak mungkin kukotori dengan nafsu sesaat. Cinta dan respectku pada Tini, menjadikan aku gak mungkin melakukan hal itu” aku coba menjelaskan prinsip hidupku pada Tini, kulihat dia bernapas lega, aku yakin, Tini punya pemikiran yang sama denganku.
Pembicaraan kami malam itu, berakhir nihil, tak membuahkan hasil apa-apa. Tini tetap pada kesimpulannya, tak bersedia jadi istriku. Sekali lagi mimpiku untuk meraih Tini dalam kehidupanku, harus berakhir kandas. Satu hal yang sama-sama kami sepakati, bahwa kami masih saling cinta, dengan segala pemikiran yang unik, yang tak bertemu pada satu langkah kesepakatan yang dapat kami lalui bersama.
Setibaku di hotel tempat menginap, Eka mengatakan bahwa makan malam yang sudah direncanakan batal dilaksanakan, karena salah satu Direksi Hotel wanitanya batal untuk datang. Aku hanya mengiyakan saja apa yang dikatakan Eka. Apapun yang dikatakan Eka, sungguh tak menarik perhatianku. Aku masih terbawa rasa, tentang pertemuanku beberapa jam yang lalu dengan Tini.
*******
Bandung memang benar-benar sudah berubah, bukan hanya soal soal kemacetan yang mengular dimana-mana, udara dingin yang dulu mencekam jika malam tiba, kini sudah tak terasa lagi. Pergantian tahun yang dulu hanya tumpah dijalan-jalan, kini sudah beralih pada hotel-hotel berbintang, paling tidak untuk mereka yang berkantong tebal. Informasi yang kudapat, semua kursi yang tersedia sudah terjual habis untuk menyaksikan pertunjukkanku di malam tahu baru nanti. Namun, satu yang tak berubah, Hartini masih belum juga bersamaku, Hartini masih dalam khayal yang belum dapat kuraih dalam dunia nyata. Sampai kapan? Aku sendiri tak tahu. Mungkin hanya keajaiban yang dapat merubah semuanya dan aku masih berharap keajaiban akan datang segera datang.
Malam ini, aku mengisi acara pergantian tahun, lagu-lagu yang kubawakan mendapat applause luar biasa, seluruh pengunjung merasa puas, bahkan Eka mengacungkan dua jempol padaku, mengatakan inilah performance terbaik yang pernah aku hadirkan selama karierku, sebuah profesionalisme yang membuahkan decak kagum pada semua orang. Aku hanya tersenyum dengan pujian Eka. Biarlah hanya aku yang tahu rahasia penampilanku yang sempurna malam ini. Karena di deretan kursi terdepan pengunjung malam itu, duduk seorang Direksi Hotel yang batal datang pada jamuan makan malam beberapa hari sebelumnya. Dialah Hartini.
Aku membawakan lagu-laguku dengan sebaik mungkin yang dapat kulakukan. Seluruh kemampuanku kuusahakan agar membuahkan hasil yang terbaik, hasil terbaik yang aku persembahkan pada pengunjung istimewaku malam itu. Pada Hartini. Aku membayangkan, membawakan semua lagu, dihadapan Hartini seorang, bukan untuk yang lain. Biarlah kami, memaknai cinta kami dengan cara kami sendiri, dan caraku malam itu, adalah dengan memberikan yang terbaik, sebisa yang aku dapat berikan, pada Hartiniku.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar