Senin, 13 Juli 2015

Sang Paman



Sore baru saja meninggalkan Mayapada, semburat jingga merah masih menyisakan sedikit berkas diufuk barat sana. Kemarau tahun ini, terasa sedikit berbeda disbanding dengan tahun-tahun sebelumnya. Langit selalu cerah, membuat siang seakan lebih terasa lebih lama. Karena malam tak segera mendekap gelap, masih tersisa kecerahan di ufuk barat sana. Sementara hembusan dingin angin kemarau melantakkan tubuh Indra, membuat dia dan Hasnah mengakrabkan diri dengan jaket, untuk mengusir rasa dingin yang mulai selalu datang.
Hari ini, ramadhan telah usai, selesai berbuka sore nanti, suara takbir akan mulai terdengar di surau diujung jalan ke rumah Indra. Tiba-tiba ada suara ketukan pada pintu rumah yang ditempati Indra dan Hasnah. Refleks Indra menuju pintu yang diketuk,  lalu membukanya.
Laki-laki itu berdiri di depan Indra. Masih tersisa keperkasaan disana, sorot mata itu masih tajam dan mencorong, meski tak setajam dulu lagi. Separuh dari rambut yang berada dikepalanya sudah didominasi warna putih, cambang dan kumis masih tumbuh lebat, meski semuanya sudah berwarna putih. Lalu… lelaki tua itu, tersenyum, disela-sela senyum itu, terlihat giginya yang masih utuh, senyum yang masih seperti dulu. Senyum seorang lelaki  jantan dan Perkasa. Refleks Indra merangkulnya. Tepatnya, siapa yang mendahului merangkul, tak ada yang tahu, yang pasti mereka sudah berangkulan.
“Paman….mari masuk..” kata Indra penuh haru, lalu menuntun lelaki yang disebutnya paman itu, memasuki ruangan dalam rumahnya.
“Iya Ndra…” jawabnya, sembari berjalan di belakang Indra. Menuju ruang tamu.
“Siapa bang?” ada tanya Hasnah dari ruangan dalam.
“Paman Has, kemarilah….” Jawab Indra lagi.
Indra melihat Hasnah keluar dari ruang dalam, menuju tempat mereka duduk, lalu menyalami Pamannya, terlihat ada kekakuan dalam sikap Hasnah ketika menyambut pama Pendekar Sutan, tepatnya lebih pada rasa takut. Indra dapat memakluminya, inilah pertemuannya yang pertama dengan paman Indra, setelah sekian lama mereka mengarungi bahtera rumah tangga.
*****
“Bunda… bagaimana pendapat Bunda?”
“Bunda setuju Ndra, bagi Bunda, asal Indra sudah senang dan yakin akan bahagia dengan Hasnah, Bunda tentu merestuinya” jawab Bunda lagi.
“Iya Bun, Indra sangat berharap keikhlasan Bunda, sebab tanpa keikhlasan Bunda, apalah artinya Hasnah? Indra akan menuruti apa kata Bunda. Tapi Indra juga sangat berharap, jika Hasnah berkenan pada Bunda” bujuk Indra, dia bersimpuh pada Bunda Saidah, Indra merebahkan kepalanya ke pangkuan sang Bunda. Membuat Bunda trenyuh, hati bunda mana yang tak trenyuh, ketika sang buah hati, satu-satunya anak yang disayangi, merebahkan kepalanya pada pangkuan sang bunda. Bunda mengelus kepala sang anak, ada tetes air mata disudut pipi Bunda yang mulai keriput, yang segera Bunda  seka.
Berbilang tahun telah berlalu, sejak Ayah Indra tiada, Indra tumbuh hanya dengan kasih sayang seorang Bunda semata. Apakah karena sentuhan Bunda yang lebih dominan pada sang anak semata wayang, hingga perilaku Indra kadang kekanakan, selalu, jika punya keinginan sulit untuk ditolak. Bagi Indra, keinginan harus terpenuhi, asa mesti terkabul, walau permintaan itu, selalu saja disajikan dengan kelemah lembutan, selalu saja dengan mempertimbangkan perasaan sang Bunda. Seperti yang kini terjadi. Indra memohon pada Bunda, agar Bundanya merestui, jika dia ingin berjodoh dengan Hasnah.
Indra tak menyadari ada masalah besar, yang menghadang sang Bunda. Masalah yang justru datang dari keluarga terdekatnya, dari adik Bunda sendiri, dari pamannya sendiri, Pendekar Sutan.
*****
“Bunda ingin Indra tahu saja” kata Bunda Saidah memulai pembicaraan dengan Indra sore itu, Indra kini lebih banyak pulang sore. Ada sebuah tuntutan pada bathinnya untuk lebih banyak menghabiskan waktu bersama Bunda. Ingin lebih mengakrabkan diri dengan Bunda. Apakah itu hanya perasaannya sendiri, atau diluar sadarnya, juga menjadi kebutuhan sang Bunda. Selalu saja ada rasa kehilangan pada hati terdalam seorang Bunda, ketika anak lelaki semata wayangnya telah menentukan jodoh  untuknya. Apakah kelak sang anak, masih menjadi miliknya, masih mau untuk bergantung banyak padanya? Atau segera saja melupakan bundanya, lebih memperhatikan sang Istri dibandingkan dengan bundanya. Atau bahkan ada kecenderungan melupakan sang Bunda.
“Iya Bun, mengenai apa itu?”
“Pamanmu, Pendekar Sutan, Bunda ingin sedikit cerita tentang beliau” kata Bunda.
Lalu, Bunda bercerita tentang paman Indra, Pendekar Sutan, dalam budaya daerah mereka, budaya Matriarchat, maka hak kepemilikan warisan jatuh pada perempuan, demikian juga dengan garis keturunan, diturunkan oleh perempuan. Lelaki hanya memiliki tanggung jawab yang lebih, sedangkan hak yang mereka miliki sangat terbatas. Setelah ayah Indra tiada, maka seluruh tanah warisan yang dimiliki Bunda, dikerjakan oleh sang Paman, Pamanlah yang mengusahakan semuanya. Hasil dari kepemilikan tanah itulah, yang digunakan Bunda untuk membiayai kehidupan mereka, termasuk biaya sekolah Indra hingga menyelesaikan S1. Lalu, paman Pendekar Sutan itu, ingin menjodohkan Indra dengan anak beliau satu-satunya. Yang dalam adat Minang disebut dengan pulang ka bako. Inilah pernikahan ideal yang paling layak untuk dilakukan. Tujuannya jelas. Agar klan kekerabatan ini tak terputus dan harta warisan tinggi tak jatuh keluar atau mereka yang berada diluar klan keluarga.
Masalahnya baru timbul, ketika Indra akan berjodoh dengan Hasnah. Posisi demikian, mempersulit posisi Bunda. Lalu bagaimana menyelesaikan masalah ini, jika  dikaitkan dengan  keinginan Pendekar Sutan? Keinginan yang sangat ideal, menjadikan Indra dan Maya untuk pulang ka bako.
“Bagaimana pendapatmu Ndra?” Tanya Bunda.
“Indra tahu maksud baik paman Bunda, tapi, mau gimana lagi. Rasanya sulit untuk membina rumah tangga dengan Maya. Lagian, Maya sudah Indra anggap sebagai adik sendiri” jawab Indra, sangat hati-hati. Indra ingin tak ada yang tersakiti dalam kaitannya dengan keinginannya mempersunting Hasnah. Tidak Bunda, juga tidak Pamannya. Pendekar sutan.

Oh Tuhan….tolong hamba menyelesaikan masalah pelik ini.
Hamba tak ingin melukai hati Paman, Maya dan Bunda. Tapi…
Hamba juga tak dapat memenuhi keinginan Paman,
*****
“Sebenarnya, Paman dapat memaklumi jika Indra menolak maksud Paman” kata Paman Pendekar Sutan, sore itu Paman Pendekar Sutan dan Indra duduk diberanda rumah Indra, Rumah keluarga besar mereka, rumah yang kadang disebut juga dengan rumah warisan tinggi. Sementara Bunda sedang pergi pengajian di majelis Taklim.
“iya Paman…maafkan Indra yang tak tahu diuntung ini” jawab Indra. Jujur, Indra merasa tak enak pada Paman Pendekar Sutan. Begitu baiknya Paman itu padanya, juga pada Bunda. Pamanlah yang selama ini mengangkat muru’ah keluarga besar mereka. bukan hanya menyelesaikan persoalan ekonomi mereka, tetapi Paman juga dikenal sebagai Pendekar besar. Sikap kesatria yang dimiliki Paman, demikian juga kemampuannya dalam ilmu silat, keberpihakannya pada kaum lemah, sudah dikenal oleh orang kampungnya, sehingga membuat orang kampung, memberinya gelar Pendekar Sutan.
“Tetapi masalahnya kenapa harus dengan Hasnah?” tanya Paman Pendekar Sutan.
“Ada apa dengan Hasnah Paman?’ tanya Indra, tak mengerti maksud Pamannya.
“Hasnah sebagai Pribadi, tak ada masalah Ndra, Hasnah anak yang baik, perilaku Hasnah juga halus, Paman yakin dia akan mampu menghormati bundamu, juga dia akan mampu melayani kau dan anak-anakmu kelak dengan sempurna, dengan sentuhan seorang isteri dan Ibu yang salehah. Tetapi, masalahnya pada keluarga besarnya. Keluarga besar mereka dan keluarga besar kita, sudah lama tidak cocok, ketidak-cocokan yang sudah berjalan turun-temurun, selama beberapa generasi kebelakang” kata Paman lagi.
“Penyebab  persisnya apa Paman?” Tanya Indra, Indra tahu kalau keluarga besar dia dan keluarga keluarga besar Hasnah sudah lama tak cocok, tetapi apa penyebab persisnya Indra tak tahu dengan persis.
“sebenarnya, Paman sendiri juga tak tahu persis. Perseteruan ini sudah beberapa generasi diwariskan. Paman rasa hanya masalah ego agaknya. Keluarga kita sebagai pemilik tanah huma terluas di kampung ini, tak mau direndahkan oleh keluarga Hasnah pemilik lahan sawah terluas di kampung ini pula. Demikian juga sebaliknya?” jawab paman Pendekar Sutan, coba menjelaskan pada Indra.
“Lalu, kalau masalahnya soal itu, kenapa tidak berdamai saja?” tanya indra polos, sebagai anak yang mengecam pendidikan cukup tinggi, Indra terbiasa dengan berpikir logis. Pikiran yang seluruhnya digantungkan pada rasio tanpa dibebani dengan perasaan dan emosi yang tak jelas juntrungannya.
“Itulah masalahnya. Orang kita ini, pada gede ego. Padahal apa untungnya?” jelas Paman. Terlihat sekali, kebesaran jiwa Paman Pendekar Sutan dalam memandang masalah yang terjadi pada dua keluarga besar itu.
“solusi dari masalah ini tetap ada Ndra, tetapi tentunya tidak sempurna, artinya akan tetap ada pihak-pihak yang merasa dirugikan” lanjut Paman lagi. Merasa ada solusi, Indra merasa mendapat tambahan darah segar. Ini langkah maju, betapapun tak sempurnanya solusi yang ditawarkan Paman.
“Bagaimana solusinya Paman?” tanya Indra, dia sudah tak sabar mendengar usulan Paman. Indra bertekad, selama syarat yang diinginkan dalam mendamaikan kedua keluarga besar itu, masih masuk akal, mengapa tidak dilakukan.
“Solusi pertama, Paman akan segera meninggalkan kampung ini. Ini bukan karena Paman kecewa, karna tawaran Paman kamu tolak. Tetapi untuk memudahkan pertemuan antara dua keluarga besar kita dan Hasnah. Jika ada Paman mereka akan segan dan sungkan. Demikian juga Paman. Paman akan merasa kikuk dalam bernegosiasi, lalu,  jika ada hal-hal yang sensitive yang mereka lakukan atau dari pihak kita yang melakukannya, maka akan terjadi pertumpahan darah” urai Paman Pendekar Sutan. Solusi pertama, menurut Indra masuk akal, meski ada pihak yang dirugikan. Dalam hal ini, pamannya sendiri. Pendekar Sutan.
“Solusi kedua, Paman?” kejar Indra. Dia ingin segera mendengarnya, lalu, jika mungkin, ikut memberikan pertimbangan pada paman, untuk memilih satu diantara dua opsi yang akan ditawarkan itu.
“Setelah pernikahan terlaksana, maka Indra jangan tinggal di rumah Hasnah, karena ini akan membawa ketersinggungan Muru’ah keluarga kita. Demikian juga dengan Hasnah, jangan tinggal di rumah kita. karena akan membawa ketersinggungan Muru’ah keluarga Hasnah. Jadi kalian terpaksa keluar dari kampung kita. Tinggalkan hiruk pikuk antara kedua belah pihak” jelas paman Pendekar  Sutan lagi.
“Solusi ketiga…Paman?”
“Jangan kalian pulang ke kampung, sebelum kalian memiliki keturunan”. Jelas Paman Pendekar Sutan lagi.
Agaknya, antara alternative satu, dua dan tiga. Saling berkaitan. Indra tidak keberatan untuk menerima seluruh persyaratan yang dikemukakan Paman Pendekar Sutan. Demi berdamainya dua klan besar di kampungnya, lebih utama lagi, demi tercapainya keinginan, agar Indra dapat berjodoh dengan Hasnah. Kalaupun ada keinginan yang diminta Indra, dia ingin, bunda mengikutinya kemanapun mereka pergi, pasca pernikahan kelak. Hingga ketika Indra telah memiliki keturunan, maka mereka akan dapat pulang kampung. Tapi, untuk mengemukakan keinginan Indra itu, dia piker tidak tepat untuk menyampaikan sekarang, lebih bijak jika, kelak dia bicara langsung saja pada Bunda. Indra sangat yakin, tentu Bunda akan mengabulkan keinginannya itu.
*****
Begitulah akhirnya, solusi yang ditawarkan Pamanlah yang disepakati untuk dilakukan. Pernikahan itupun akhirnya berlangsung. Paman pergi entah kemana,    tak satupun tahu dimana, beliau bersama Maya hilang bagi ditelan bumi.
Indra segera memboyong Hasnah merantau ke Jakarta. Bunda ikut bersama mereka. Apa yang dicari Indra memang menjadi kenyataan. Keluarga itu bahagia. Nikmatnya bahtera rumah tangga, mereka benar-benar mendapatkannya. Begitu perhatiannya Hasnah pada Indra dan Bunda. Demikian juga kasih sayang Bunda pada Hasnah. Menantu dan Mertua yang saling sayang, saling akur.
Namun, tak ada gading yang retak, tak ada terang yang tak ditelan gelap. Kepergian Paman Pendekar Sutan meninggalkan luka mendalam pada Bunda. Kebahagiaan yang dialaminya bersama anak dan menantu, harus dibayar tunai dengan kehilangan adik kandung satu-satunya yang dia miliki, ponakan satu-satunya yang dia miliki. Bak memakan buah si malakama. Pilihan yang sangat berat bagi Bunda. Tak jarang, pada waktu tertentu Indra memergoki Bunda sedang melamunkan adik kandungnya yang tak tentu rimbanya.
Saat-saat Indra bersimpuh meletakkan kepalanya di pangkuan Bunda, untuk memohon maaf pada idul fitri, tak jarang diantara helaan napas, diantara tangis Bunda, terdengar nama Pendekar Sutan. Tak jelas terlihat memang, tapi hal yang samar itu, menimbulkan polemik bathin pada Indra…
Oh Tuhan….tolong hamba menyelesaikan masalah pelik ini.
Hamba tak ingin melukai hati Paman, Maya dan Bunda.
Hamba juga ingin membahagiakan mereka semua
Hamba ingin membahagiakan Bunda dan Hasnah….
*****
Telah dua bulan lalu Bunda menghadap sang Khaliq, Sang Maha Pengasih, sang Maha Penyayang. Tak ada warisan yang paling berharga, yang ditinggalkan Bunda kecuali dua wasiat.
Wasiat pertama, hendaklah kau Indra, menyayangi dan menghormati istrimu Hasnah sebagai mana engkau telah menyayangi Bunda. Jika kau menyakiti Hasnah, itu sama dengan kau telah menyakiti Bunda.
Wasiat kedua, Jika kelak kau bertemu dengan Pamanmu, Pendekar Sutan, maka hendaklah kau hormati dia sebagai kau menghormati Bunda. Kau rawat dia diusia tuanya, sebagaimana kau telah merawat Bunda.
Kini………. Diantara suara takbir menyambut hari kemenangan ini, Indra melihat Hasnah dan Paman sedang duduk saling berhadapan. Bertiga, mereka, Indra, Hasnah dan Paman saling bertanya tentang banyak hal. Hal-hal yang banyak terjadi diantara waktu-waktu yang mereka habiskan tanpa kehadiran satu sama lain.
Indra memandang dua orang yang telah menjadi obyek wasiat Bunda. Dua orang yang kini sedang berada tepat didepannya….
Oh Tuhan….tolong hamba menyelesaikan masalah tanggung jawab ini
Tanggung jawab, melaksanakan apa yang telah Bunda wasiatkan.
Hamba tak ingin melukai hati Bunda.
Hamba juga ingin membahagiakan mereka semua
Hamba ingin melaksanakan wasiat Bunda semampu yang dapat Hamba lakukan.
Wasiat Bunda itu kini telah dihadapan hamba, berilah kemampuan bagi hamba
Untuk membahagiakan mereka semua.
Mereka yang telah membuktikan cinta dan perhatiannya pada hamba.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar