Jumat, 24 Juli 2015

Ritual Ziarah Di Stasiun Itu



Senja temaram mulai turun, rona merah sisa Mentari jatuh dilereng pegunungan nan hijau. Indah sungguh sebenarnya, tetapi bagiku, keindahan itu menyimpan banyak kenangan warna-warni yang menyertainya. Aku masih duduk di Emplasment Stasiun, masih menatap ke arah sisi lereng pegunungan itu. Tampak temaram sinar senja yang bertelingkah dengan hijaunya lereng pegunungan. Pegunungan yang menyimpan banyak cerita masa laluku.
Stasiun ini, sudah kembali dipugar, dikembalikan pada bentuk awalnya. Tak ada lagi kekusaman yang kutemui seperti ditahun-tahun sebelumnya. Memang, dulu stasiun ini, merupakan stasiun yang hidup dan cukup sibuk. Bahkan sebagai stasiun transit untuk mencapai daerah destination wisata di daerah tinggi dikaki pegunungan itu, beberapa pesohor dunia pernah datang kemari. beberapa Kereta yang dari Bandung ke Surabaya atau arah Solo, akan berhenti di sini pula, lalu dari stasiun ini. Sebagian diantara mereka meneruskan  perjalanan dengan Kereta Api lain ke kaki gunung itu. Tetapi, sejak Gunung itu meletus tiga puluh  dua tahun silam, jurusan kereta api ke kaki Gunung itu berhenti. Stasiun inipun tak disinggahi lagi. Lalu mulailah perlahan-lahan stasiun ini mulai kusam dan lapuk di sana-sini. Persis  seperti rumah yang ditinggalkan penghuninya. Merana, perlahan-lahan kusam dan mati.
Sebentar lagi bulan Ramadhan akan tiba. Itu sebabnya mengapa aku duduk di Emplasment stasiun ini. Ada semacam ritual zaiarah yang kulakukan pada setiap akan memasuki bulan Ramadhan. Duduk di Emplasment, lalu memandang ke Gunung itu, seperti orang yang menikmati keindahannya. Padahal, sesungguhnya tidak demikian adanya, di kaki Gunung itu, terkubur anak istriku dan seluruh keluarga besar mereka pada kejadian letusan yang terjadi tiga puluh dua tahun silam. Lalu setelah dua hari aku duduk di Emplasement ini, akupun kembali ke kota. Meneruskan rutinitas kehidupan. Untuk datang lagi di tahun berikutnya, pada momen peristiwa yang sama, menjelang datangnya bulan Ramadhan.
Kini, kembali aku duduk di sini, ini adalah hari pertama, nanti malam aku akan bermalam di penginapan yang berada di dekat stasiun ini, sebuah penginapan kelas Melati, lalu lewat tengah harinya, aku akan kembali duduk di sini hingga waktu maghrib tiba, setelah sholat Maghrib,  maka akupun akan meninggalkan stasiun ini, menuju kota. Kembali ke rumah, ke kota tempat tinggalku, untuk selanjutnya kembali pada rutinitas kehidupan.
Kulihat pengemis tanpa kaki itu masih duduk disana. Tinggal dia yang masih ada di stasiun ini, tak ada yang lain, sedangkan yang lain sudah pulang, kereta yang akan singgah masih lama, sekitar jam sepuluh malam nanti. Memang empat tahun terakhir, setelah stasiun ini direhab, kembali ada Kereta Api yang singgah untuk menurunkan penumpangnya, apakah itu yang datang dari Bandung atau yang datang dari Surabaya. Jika saja anakku, ketika itu selamat, pada letusan gunung itu, mungkin umurnya akan sama dengan pengemis itu. Tetapi sayang, mereka hilang semua, terbawa lahar yang tidak ramah itu, ketika Gunung itu meletus tiga puluh dua tahun silam.
Aku berpindah tempat duduk, mendekati sang pengemis tanpa kaki itu, lalu dengan sebuah lambayan, pengemis tanpa kaki itu, mendekat. Kami duduk berdekatan, aku duduk di kursi, sementara pengemis itu di lantai, dekat kakiku.
“Belum pulang?” Tanyaku memulai perbincangan, coba mengakrabkan diri.
“Belum pak, tanggung, jam sepuluh nanti Kereta akan singgah” jawabnya ramah.
“Namanya siapa kang?” tanyaku lagi, tak enak rasanya, ngobrol tanpa menyebut nama.
“Haris pak, tapi disini orang memanggil saya cepi” jawab pengemis tanpa kaki itu lagi.
“Apa itu Cepi?” tanyaku penasaran, selalu saja, ada nama alias pada anak muda, sebuah panggilan yang membuat mereka menjadi lebih akrab, tak terkecuali pada pengemis yang sedang kuajak bicara ini.
“Ceker Pincang” jelas Haris singkat, aku terkejut dengan istilah itu, ada-ada saja. Sebuah ketidak sempurnaan yang dibuat bahan olok-olok. Tapi, bagi sebagian mereka, hal itu lumrah saja, bahkan menjadikan lebih akrab.
“Oh… sorry”
“Gak apa apa pak”..Haris tersenyum, meyakinkanku, bahwa semuanya oke saja.
“Sudah lama kerja di sini, Ris” Aku gak tega untuk menyebutkan ‘mengemis’ atau Cepi.
“Sudah empat tahun pak, sejak Stasiun ini berfungsi lagi” jawab Haris lagi
“oooo….”
“Bapak jarang  ke sini ya?” Tanya pengemis itu, kini dia semakin akrab saja, sudah mulai berani bertanya sesuatu padaku.
“Iya… hanya setahun sekali” jawabku jujur.
“Setiap mau masuk bulan puasa ya pak?” tanya Haris lagi.
“kok tahu…?” terkejut juga aku, akan pertanyaannya yang tepat.
“Iya… saya selalu perhatiin Bapak, setiap mau masuk puasa selalu datang ke sini, lalu duduk di kursi sana setelah lewat tengah hari… Memandang Gunung itu..”
“Wah…. Hebat kamu Ris, segitunya kamu perhatiin saya” Jawabku, tak menyangka dia memperhatikanku sampai sedetail gitu, sebuah pengamatan yang bukan main.
“Memang Gunung itu indah pak, banyak orang kota yang mengatakan itu sama saya”
“Heheheh… iya, tapi ini bukan soal keindahan Gunung itu” jawabku lagi, coba menerangkannnya dari sisi yang lain, sisi kepentingan diriku untuk datang kemari setiap tahun.
“Lalu soal apa pak?”
“Kenangan yang terjadi di Gunung itu” jawabku ringkas,
”Bapak pecinta alam ya? Suka naik Gunung?”
“Bukan…”
“Lalu, apa Pak…” kejar tanya dari Haris.
“Keluarga Bapak hilang ketika Gunung itu meletus” jawabku, kini mulai jebol pertahananku, pada orang pertama yang bertanya tentang sebab kedatanganku ke stasiun ini.
“MasyaAllah… Jadi bapak berasal dari sana ya pak” tanya Haris lagi, ada nada terkejut dalam ucapannya
“Iya…” jawabku singkat.
“Dari Desa apa pak?”
“Sirna Galih..”
“MasyaAllah…. Saya juga berasal dari sana”
“Oooohh, kamu masih punya keluarga Ris” tanyaku antusias, aku seakan dapat tambahan energy, dapat transfusi darah baru, semangat diri ini terpacu bangkit kembali. Ternyata ada orang kampungku yang masih tersisa hidup, apakah asa itu masih mungkin untuk terkabul dan terwujud lagi.
“Orang tua saya sudah meninggal pak, saya hanya hidup dengan Bibi, tetapi sekarang beliau sedang sakit-sakitan, sayalah mencari nafkah. Kami hanya berdua yang tersisa”
Tak terasa, ada rasa hangat di kelopak mata ini, tetapi air mataku sudah tak akan jatuh lagi, sudah habis tanpa sisa setelah tertumpah pada awal-awal kejadian dulu.
“Begini aja Ris, kamu pulang sekarang aja, kamu belikan makanan kesukaan bibimu, lalu belikan beliau obat, mumpung masih belum malam, besok pagi kita ketemu disini, lalu kita ke rumahmu, bertemu dengan Bibimu. Pulanglah sekarang..!” kataku, sambil kutempelkan empat lembaran uang kertas merah, ratusan ribu rupiah, ke telapak tangan Haris.
*******
Semalam aku susah tidur, setitik harapan masih tersisa. Apapun hasilnya kelak, yang penting aku sudah berusaha semaksimal mungkin. Tetapi, mudah-mudahan Allah masih memberikan kesempatan itu untukku.
Sepulangnya aku dari Sumatera, begitu mendengar kabar letusan Gunung itu. Aku segera menghadap komandanku untuk minta ijin menjenguk keluargaku, karena lokasi kejadian tepat berada didekat desa istriku. Tetapi, semuanya terlambat. Butuh waktu dua hari untuk sampai lokasi bencana. Ketika aku datang ke desa istriku.  Semuanya sudah tertimbun abu dan larva, tak satupun anggota keluarga yang tersisa. Hanya jasad istriku yang dapat dikenali, sedangkan yang lain, bak hilang di telan bumi. Sejak itu, aku masih berharap dapat bertemu dengan anakku, atau dengan siapa saja yang merupakan keluarga istriku, apakah adik ipar, kakak Ipar atau Mertua. Sembilan  tahun pertama, aku masih mengunjungi desa Sirna Galih setiap akan memasuki Bulan Ramadhan, seminggu lamanya aku disana, mencari informasi kesana- kemari. Tetapi hasilnya tetap nihil. Memasuki tahun ke sepuluh, hingga kini, aku hanya sampai di stasiun ini, memandangi Gunung itu, tepat dilerengnya dusun kami,  Ziarah itu, kuanggap cukup dari sini saja. Tidak seminggu seperti dulu, tapi cukup hanya dua hari saja.
Pagi tadi, aku terjaga bersamaan dengan adzan Subuh, lama dzikir dan Do’a kupanjatkan padaNya, aku masih berharap, jika Allah suatu ketika kelak, masih memberikan kesempatan bagiku untuk mempertemukanku dengan anggota keluargaku. Sepagi ini, aku telah duduk di Emplasement Stasiun. Aku melihat jam tanganku, baru jam 6.30, terlalu pagi memang rasanya, aku janjian dengan Haris jam setengah delapan pagi, ketemu di stasiun itu, untuk menjenguk bibinya. Detik-detik waktu berjalan lambat sekali, seakan jarum jam enggan untuk berpindah tempat. Ada sesuatu yang sulit ku gambarkan pada pertemuan dengan Haris semalam, mata Haris itu, seakan aku kenal, persis seperti mata Neng, almarhum istriku. Tetapi untuk meyakinkannya, aku tak berani, aku ragu sendiri dengan usiaku dan perasaanku. Jangan-jangan itu, hanya perasaanku saja, atau mata tuaku yang salah melihat. Pertemuan dengan Bibi Harislah yang akan memberikan jawaban atas teka-teki itu, perasaanku mengatakan demikian.
Tiba-tiba haris muncul, terlihat dia terburu-buru. Aku  segera menghampirinya.
“Bagaimana Ris?” Tanyaku tak sabar
“Maaf pak saya terlambat..” kata Haris, agaknya dia merasa salah, karena aku telah tiba di stasiun untuk menunggunya.
“oh.. tidak Ris, baru jam 7.18. kamu belum terlambat, bapak aja yang datang kepagian”
“Semuanya karena Bibi pak?” kata Haris lagi.
“Kenapa dengan Bibimu?” tanyaku pula, aku tak ingin ada apa-apa dengan Bibinya, karena, perasaanku, kunci jawaban atas pertanyaanku dan kegelisahanku malam tadi terletak pada bibi Haris.
“Setelah saya cerita tentang Bapak, beliau maksa untuk ikut ke stasiun ini.”
“Sekarang dimana bibimu?” tanyaku tak sabar untuk menemui bibi haris.
“Di Luar pak, gak boleh masuk oleh Satpam, katanya kereta datang masih lama….”
Tanpa menunggu lagi, aku segera melangkah keluar, aku ingin segera tahu, siapakah sosok Bibi Haris ini, benarkah mata tuaku tidak salah ketika melihat tatapan Haris semalam.
MasyaAllah….sosok tua yang duduk di kursi tunggu itu aku kenal betul, dialah Iroh, adik iparku. Adiknya Neng, almarhum istriku. Kami berpelukan,tepatnya aku yang bersimpuh untuk memeluk Iroh yang duduk di kursi, dia tak mampu berdiri dengan kokoh lagi. Iroh menangis dengan sedu sadannya, karena terharu. Demikian juga dengan aku.
 Mata tuaku ternyata tak salah lihat, Haris adalah anak yang selama ini kucari. Tetapi kenapa kakinya buntung? Bukankah dulu kedua kakinya utuh. Tetapi saat ini, aku tak membutuhkan semua jawaban itu, berbagai pertanyaan muncul, banyak hal belum terjawab, kenapa Iroh bisa selamat? Kenapa Haris berganti nama dari Sutisna menjadi Haris, Mengapa kaki yang utuh menjadi buntung?. Kami bertiga hanyut dalam keharuan pertemuan itu. Suatu keajaiban telah diperlihatkan oleh Yang Maha Kuasa. Jam tiga sore nanti supirku akan datang menjemputku, tidak seperti biasanya setelah Maghrib aku akan kembali ke kota, tetapi untuk kali ini, begitu supir datang, aku akan segera bawa mereka pulang ke kota. Sementara menunggu jam tiga datang, aku menyuruh tukang ojek untuk mengantarkan Haris ke rumahnya, menyiapkan apa saja yang dirasa perlu untuk kepergian Haris dan Bibinya nanti sore. Sudah aku putuskan untuk memboyong  mereka ke rumahku di kota.
Aku tak perlu buru-buru untuk memperoleh seluruh jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab selama ini, masih banyak waktu untuk menjawab semuanya, biarlah semua jawaban dari seluruh pertanyaan itu, akan terjawab dalam perjalanan pulang nanti sore, ketika Iroh dan Haris ikut bersamaku, atau ketika waktu luang kelak. Satu yang pasti, apa yang selama ini kucari telah kudapat. Setelah pertemuan itu. Aku tak ingin berpisah lagi dengan mereka. Mereka adalah hartaku yang paling berharga, Anugerah dari Tuhan yang tiada tara, yang tersisa dari masa laluku.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar