Kamis, 23 Juli 2015

Rinai Gerimis Diantara Apartemen Kemayoran

Temaram senja baru saja meninggalkan maya, semburat merah masih terbayang diatas langit sana, pada sela-sela diantara lingkup bangun pencakar langit. Senja baru saja lewat. Orang Jakarta kini lebih suka tinggal di sana. Apartemen namanya. Sebagai tempat pelarian dari banjir yang kian sering menyergap. Mungkin, sebagai solusi dari kondisi yang makin tak bersahabat, Jakarta kini, memang sudah tak ramah lagi, hujan yang datang sebentar saja, telah mengakibatkan genangan air dimana-mana, apatah lagi jika turun hingga dalam hitungan jam, akan menyebabkan banjir dimana-mana. Sementara, rintik hujan masih setia membasahi bumi Jakarta, tak henti dan tak kenal lelah, paling tidak untuk hari ini dan beberapa hari yang lalu. Sementara lalu lalang masih menyisakan kerumitan dan kemacetan yang belakangan ini, makin membuat krodit Jakarta.
Sepeninggal sore, menjelang mala mini, Kau masih berdiri di sana, dibawah payung hitammu, dibawah rindang pohon, ditepi jalan, terkadang sinar mobil menyoroti wajahmu, ketika itu, aku dapat melihat wajahmu yang pasi. Matamu melihat setiap kendaraan yang lewat, satu dua kendaraan, ada yang berhenti, lalu kau datang menghampiri, lalu wajahmu kau dekatkan pada kaca jendela yang sengaja dibukakan si pemilik mobil, entah apa yang kau bicarakan, aku tak tahu pasti, lalu kendaraan itupun berlalu. Kau kembali berdiri untuk menanti kendaraan yang lain, begitu berulang-ulang. Entah sampai kapan? Mungkin sampai pagi menjelang.
Bajumu yang lengan panjang, ada sedikit renda di bawah sekitar kerah bajumu, celana jean yang kau kenakan membayang tubuh sintalmu, agak sedikit kurus memang, tetapi lekuk tubuh itu aku sangat kenali, kau masih seperti dulu. Ketika aku meninggalkanmu. Perlahan aku berjalan mendekat, aku nekat malam ini akan menemuimu. Setelah dua malam sebelumnya hanya memperhatikan dirimu dari kejauhan karena berbagai alasan, dengan segala pertimbangan, tepatnya aku belum cukup memiliki keberanian untuk menemuimu.
*****
Taksi yang kutumpangi, perlahan mendekatimu, aku segera membuka kaca jendela.
“Lia….” Sapaku, Lia terkejut bukan main, tak menyangka akan pertemuan yang mendadak ini, ada juga rasa malu disana, yang tergambar diwajahmu, juga rasa takut disana, dua rasa yang menyatu. Lia menyurutkan langkahnya, agak menjauh dari kaca taksi yang kubuka jendelanya.
“Masuklah….” Kataku membukakan pintu taksi yang baru kunaiki baru seratus meter sebelum tempat Lia berdiri, sepanjang dua malam ini.
“Mau kemana..?” Tanya Lia.
“Dekat sini saja, aku hanya butuh bicara, aku akan bayar untuk waktumu, seperti yang lainnya membayarmu, berapapun Itu yang Lia mau. ok, naik deh, jangan sampai nanti orang curiga dengan kita” kataku pula, berusaha bersuara seramah mungkin, menghilangkan rasa takut yang masih tersisa pada raut wajah Lia. Lia masih menoleh kekanan-kekiri sebelum akhirnya naik, lalu taksipun meluncur, meninggalkan tempat Lia biasa mangkal.
Taksi melanjutkan perjalanan, menuju arah Gunung sahari, lalu, di dekat jalan layang, Yang menuju ujung Jalan Jayakarta, kulihat ada warung kopi pinggir jalan, ada tempat duduk disitu, terindungi oleh hujan gerimis yang masih setia turun sejak sore tadi, dibelakang warung kopi itu, ada bengkel mobil besar, agaknya akan aman dari guyuran hujan, jika kami duduk berteduh disana. Aku segera meminta Taksi untuk berhenti, lalu membayar biaya ongkos taksi sesuai yang tertera pada Argometer. Selintas kulihat Lia, bingung akan sikapku, kenapa kami turun di tempat terang benderang itu, meskipun sepi orang. Bukan ke hotel kelas Melati atau penginapan yang biasa dilakukan oleh  mereka yang membawa Lia.
“Kita bicara disini aja Lia..” kataku membuka pembicaraan, setelah memesan satu kopi hitam pada penjual warung dan satu teh hangat untuk Lia.
“Gak salah tempat Tung?”  Tanya  Lia, masih dengan keheranannya yang belum hilang.
“Gaklah, Aku jujur sama kamu Lia, kalau tempatnya bukan disini, melainkan ke tempat dimana ketika orang lain, biasa membawamu, aku takut hanyut, pembicaraan ini bagiku sakral, aku tak mau menodainya dengan nafsu murahan yang tak berkesudahan, cukup sudah salahku selama ini sama kamu, jangan ditambah lagi dengan kesalahan yang sama malam ini..” aku coba jelaskan pada Lia, mengapa aku membawa Lia kesini. Tempat yang tidak biasanya bagi Lia, ketika Lia dibawa pergi oleh lelaki yang membutuhkannya, untuk melepas hajat sesaat, lalu mencampakkannya.
“ok, bicaralah Tung, jangan lupa bayaran yang kamu janjikan…” kata Lia bicara pendek, langsung pada sasaran, aku terkejut dengan profesionalitasnya, apa yang baru dia katakan, seakan dia bukan Lia yang aku kenal selama ini. Lia yang kini dihadapanku, seakan sosok asing bagiku.
“Jangan kuatir Lia, kamu pegang ini..”  kataku pula, sambil menyerahkan segepok lembaran rupiah berwarna merah, bergambar dwi tunggal proklamator pada Lia, kurasa itu, cukup untuk membayar malam-malammu, untuk kurun waktu satu minggu.
“Terlalu banyak Tung…”
“Ambil aja, hitung-hitung sedikit menebus dosaku selama ini sama kamu” kataku pula.
“Ok, langsung pada inti  masalah aja..” kata Lia. Sekali lagi aku terpana dengan sikap Lia, begitu langsung dan professional. Kemana sikap manja dan lunaknya yang kukenal selama ini? Apakah kehidupan malam yang belakangan akrab digeluti olehnya,  membuat Lia berubah. Bisa jadi begitu jawabannya.
“Ok, seminggu yang lalu aku bebas, jatah untukku masih utuh, mereka masih menepati janji padaku. Jumlah bagianku itu, cukup untuk  hidupku kedepan selama beberapa tahun tanpa kerja, cukup untuk membeli rumah dan kendaraan roda empat, cukup untuk bekal hidup kita kedepan Lia. Tetapi pengalamanku selama dipenjara merubah semuanya, aku kini, tidak butuh semua uang haram itu. Di Penjara aku belajar banyak tentang hidup, tentang kebenaran, tentang kesucian, tentang tujuan hidup, tentang agama. Disana, aku belajar mengaji, belajar sholat, belajar sabar dan belajar menerima semuanya dengan ikhlas, apapun yang terjadi sebagai akibat dari perilaku konyolku. Tuhan Maha Baik dan Maha Sayang padaku, dengan dipertemukannya aku dengan Shodiq. Pada Shodiq aku belajar semuanya. Belajar untuk mengulurkan tangan bagi siapa yang dapat di tolong dan dientaskan pada jalan benar”
“lalu, apa hubungannya denganku?” tanya Lia lagi.
“awalnya, aku berniat ketika keluar kelak, akan menemuimu, aku akan bangun rumah untuk kita dari jatah yang bakal kuterima, aku akan membelikanmu kendaraan roda empat, kita akan berbulan madu ke Luar Negri. Tetapi setelah bertemu Shodiq, semua niatku itu berubah. Apalagi setelah aku tahu, akibat yang terjadi padamu, akibat aku masuk hotel Prodeo. setelah dua hari ini aku memperhatikanmu, rasa marahku hilang Lia, berganti Iba, rasa cinta dulu yang terpaku pada kondisi fisik Lia yang seksi, sekarang berubah Lia. Aku merasa berdosa, semua yang kini kamu jalani, sesungguhnya akibat dosaku, pekerjaan yang kini Lia lakukan,  akibat dari semua perbuatanku. Kalau Allah saja mau mengampuniku, kalau Shodiq saja mau menerima aku sebagai shabatnya, lalu mengajari aku dengan bekal yang tak terhingga nilainya, kenapa aku tidak”
“apa maksudmu..” Tanya Lia, aku tak tahu arah pertanyaan Lia, apakah Lia masih belum juga mengerti arah pembicaraanku, atau dia ingin mengetes aku, atau mungkin juga Lia kini sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
“Aku akan melamarmu, mengajakmu bersamaku mengarungi bahtera rumah tangga, aku melamarmu tidak dengan sejumlah harta yang menjanjikan, aku mengajakmu hidup tidak dengan harapan yang melambung-lambung, aku hanya memiliki tekad untuk mengajarimu mengenal arti cinta dan tanggung Jawab. Aku akan mengajarimu mengenal bagaimana nilai sebuah cinta, cintaku padamu akan aku buktikan untuk melakukan hal-hal yang baik, aku akan mengajarimu ilmu agama yang benar, sehingga kita kelak mampu bergandengan tangan untuk mendaki cinta yang lebih tinggi lagi, bukan hanya cinta pada fisik, cinta pada harta, cinta pada dunia, tetapi cinta yang sesungguhnya, mencintai Allah SWT.
Kita tinggalkan  bersama dunia lama kita, kita tinggalkan lingkungan kita kini, Jika saja Lia  mau menerimaku, aku akan mengajak Lia untuk meninggalkan Jakarta ini, menuju tanah seberang, kita hijrah menuju dunia yang sama sekali baru, disana kita akan mulai semuanya dari  nol, nol dari modal, nol dari semua keterkaitan dengan masa lalu kita, mengganti semua teman dan lingkungan lama kita dengan teman dan lingkungan baru, modal kita hanya cinta, cinta antara kita berdua dan cinta kita pada Allah, sebagaimana yang dilakukan Ibrahim ketika menapakkan kakinya bersama Hajar di tanah haramain. Bermodalkan cinta Ibrahim pada Hajar dan Cinta mereka berdua pada Allah” demikian, panjang lebar kuutarakan niatku pada Lia. Aku sendiripun tak tahu, apakah Lia mengerti apa yang kubicarakan atau tidak.
Tak ada jawaban dari Lia, tak ada sanggahan, tidak juga penolakan, dia hanya duduk menunduk dan menengadah dan menghisap rokok mentholnya dalam-dalam. Aku begitu miris melihat perubahan yang terjadi padanya, pada saat yang sama, aku sungguh menyalahkan diriku sendiri. Kalau saja ketika terjadi perampokan itu, aku tidak tertangkap tentu kami sudah menikah dan memiliki keturunan yang lucu-lucu. Tapi nasib berkata lain, aku dipenjara, tiga tahun kemudian, ketika aku masih dipenjara, ayah Lia berpulang, lalu Lia terjerumus pada kehidupan malam.
*****
Waktu terus berjalan, hiruk pikuk Jakarta telah menjadi asing bagiku dan bagi Lia, Jakarta telah lama kami tinggalkan. Kami telah jauh meninggalkan Ibu kota untuk memulai hidup baru, sebagaimana Ibrahim dan Hajar yang memulai hidup barunya di tanah Haramain. Apa yang dulu kami takutkan ketika meninggalkan Jakarta tak sepenuhnya benar, tak sepenuhnya terjadi, kerasnya hidup yang dimulai dari nol, tak sepenuhnya kami rasakan, apakah itu karena kami memiliki modal cinta yang tulus, cinta yang tak sekedar terpaut pada keindahan fisik semata, cinta yang begitu memperdulikan kepemilikan materi pada keluarga kami. Tetapi, cinta yang mendaki menuju pada cinta pada Illahi? Mungkin juga demikian.
Tujuh tahun berselang setelah kami hidup di tanah seberang ini, Lia telah memberiku dua orang jagoan. Kini jagoan terbesarku telah berumur lima tahun setengah, lewat waktu Ashar aku sudah di rumah, tugas utamaku mengajar ngaji jagoanku, mengajarinya tentang arti sebuah kebenaran, kebenaran yang akan menjadi bekalnya kelak ketika memasuki dunia sesungguhnya, dunia nyata yang dipenuhi dengan tantangan, yang perlu ditaklukan.
Diantara do’a-do’a pada sujudku, pada sepertiga akhir malam, selalu kupanjatkan pada yang Diatas,  aku ingin anak-anaku akan melewati masa dewasanya tetap pada jalan lurus, tanpa pernah tersandung dan jatuh seperti yang dulu pernah kami alami, seperti yang kualami dan juga Lia alami.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar