Senin, 13 Juli 2015

Resiko Aku Selingkuh



Pagi masih baru saja tiba, nampak cerah dan gembira, semburat warna keemasan nampak diujung langit, memberitahukan bahwa sang surya sebentar lagi akan menyusul menghias sang cakrawala, mengirim sinarnya untuk kehidupan semesta, semua terlihat begitu indah dan menyenangkan. Sangat kontras dengan suasana rumah tanggaku pagi ini. Suasananya begitu krodit dan amburadul. Istriku, Yulia terlihat kusut masai saja, tak biasanya dia belum mandi, kondisi yang sangat langka, sebab biasanya, sebelum subuh dia sudah mandi dan wangi, hingga ketika usai sholat subuh, disela-sela ketika dia menghidangkan kopi untukku, wangi tubuhnya sempat tercium oleh panca inderaku, harum tubuh itu pula yang terkadang menjadikan aku suka terlambat tiba di kantor, aku terkadang, tak dapat menghindar dari pesona tubuh dibalik harum wangi itu, hingga kami larut dalam lusuh, kusut masai, lalu terlempar dalam hempasan gelombang dahsyat pergumulan di pagi buta yang menggelorakan dan melelahkan, akibatnya mudah ditebak, aku terlambat tiba di kantor.
Namun, pagi ini, suasana sungguh berbeda. Tak ada kopi, tak ada Yulia yang duduk di samping untuk menemaniku ngopi. Yulia tak pergi kemana-mana memang, dia ada di rumah ini, hanya duduknya di ruangan dalam, tak di beranda, di sebelahku. Juga belum mandi, hingga tak wangi dan tak cantik. Seperti halnya, suasana rumah tangga ini, tak ada canda, tak ada tawa, hanya cemberut dan sindiran-sindiran halus, yang membuat telinga ini rasa tak nyaman mendengarnya. Benar-benar suasana rumah tangga yang tak wangi dan tak cantik.
Semua berawal, ketika cerpenku berjudul “selingkuh” di muat di harian “M” pada hari minggu. Penayangan tulisan yang membuatku benar-benar bahagia sekaligus tersiksa. Bagaimana tak bahagia? Cerpen itu berhasil menjadi tulisan cerpen terbaik pada harian “M” untuk tahun 2013. Aku yang penulis amatiran, berhasil memenangkan lomba tulisan pada harian keren Ibu Kota, mengalahkan penulis professional, pengarang, sastrawan  dan mereka-mereka yang menjadi peserta lainnya. Akulah pemenang nomer satu itu. Mereka yang selama ini menjadi idolaku, tak sengaja aku kalahkan. Berbagai ucapan selamat masuk ke ponselku, dengan berbagai variasi ucapan yang sedikit “nakal”. Seperti; tulisan yang menceritakan pengalaman pribadi, tulisan yang menceritakan kisah nyata, hingga mereka ingin mengalami seperti apa yang aku alami, juga ada yang minta tolong agar diberikan kiatnya agar bisa di copy paste apa yang kualami, dll.
Tersiksanya, karena istriku, Yulia terpengaruh dengan variasi ucapan-ucapan nakal itu, lalu hanyut dengan prasangka dan kesimpulannya sendiri. Dia jadi percaya dengan variasi ucapan itu. Aku yang bekerja sebagai orang proyek, memang suka tugas keluar kota, apalagi jika ada kerja sampingan, maka frekwensi keluar kota akan makin sering dan kadang untuk waktu yang lama. Dalam kondisi demikian, maka perselingkuhan mungkin saja terjadi. Bahkan sangat mungkin terjadi. Mengingat aku memang ganteng. Hehehe… paling tidak ini menurut versi penilaian isteriku.
Hanyut dalam persoalan yang membuat rumah tangga tak bahagia, sungguh membuat aku benar-benar tersiksa. Jika saja yang terjadi, seperti apa yang kutuliskan dalam cerpenku, maka tidak jadi masalah. Apa yang kualami sekarang, kuanggap saja hanya sebagai resiko saja dari perbuatanku. Tetapi, masalahnya, apa yang kutuliskan itu, bukanlah kejadian yang sesungguhnya.
Tiba-tiba ponselku berbunyi;
“Kamu sehat Ben? Bagaimana dengan Yulia?” suara di seberang sana bertanya tentang kesehatanku dan isteri. Suara yang sangat aku kenal. Suara Pak Sasmita, Bapak Mertua
“Semua Sehat Pak, Bapak sama Ibu tentu sehat semua?” jawabku, surprise juga menerima telepon dari Mertua, gak biasa Bapak Mertua menelponku. Atau semua itu, mungkin dikarenakan ada hubungannya dengan ketegangan yang terjadi dalam rumah tanggaku belakangan ini. Ah, aku kok jadi sensitive, berprasangka yang bukan-bukan.
“Bapak sudah rindu sama kalian semua, kalau ada waktu, datang ke rumah ya. Kebetulan kolam Ikan Mas, sebentar lagi akan panen” kata suara di seberang sana lagi. Ah… Bapak Mertuaku, selalu saja tahu, kalau aku suka makan Ikan Mas. Perhatian begini, yang membuatku benar-benar merasa memiliki orang tua sesungguhnya. Maklum aku yang yatim piatu sejak kecil, selalu haus akan perhatian orang tua.
“Baik pak, sore nanti ke rumah pak, InsyaAllah” jawabku singkat. Untuk Bapak Mertuaku, apa yang tidak akan aku lakukan. Untuk anak Mertuaku saja, aku sanggup membaktikan semua kerja dan hidupku, apalagi untuk orang yang telah melahirkan dan mengasuhnya dengan sepenuh cinta. Soal kerja, semuanya bisa diatur, kalau perlu, nanti aku akan buat alasan yang logis, sehingga pihak tempat aku kerja, bisa maklum akan ketidak hadiranku satu dua hari.
****
Sore tadi, dengan segala kemampuan merayu yang aku punya, aku berhasil mengajak Yulia untuk mengunjungi Mertua. Rumah mertua memang tak jauh dari rumahku, hanya membutuhkan waktu empat puluh menit untuk tiba di rumah Mertua. Kalaupun macet, paling lama, satu jam aku telah sampai disana.
 Aku, Isteriku, Ibu Mertua, Bapak Mertua dan Wak Ahmad sudah duduk di ruang tengah rumah Bapak Mertuaku. Agaknya, perkiraanku benar, kehadiranku di rumah ini, memang ada kaitannya dengan prahara rumah tangga yang kini sedang kualami. Wak Ahmad, adalah tokoh Agama yang semua kami segani, beliau sungguh bijak, pemahamannya tentang agama sangat mumpuni, kesimpulannya selalu kami rasa benar dan memberikan solusi. Kalau tidak menyangkut soal rumah tanggaku, lalu kenapa pula, Wak Ahmad harus dihadirkan.
“Bapak sebenarnya menganggap masalah kalian, adalah masalah salah mengambil kesimpulan saja. Lalu karena dibumbui dengan cemburu, masalahnya seakan pelik, tapi solusinya sangat gampang” begitu, Bapak Mertua memulai pembicaraannya. Setelah kami cerita kesana-kemari. Benarlah dugaanku semula. Prahara rumah tangga ini, beritanya telah sampai pada beliau.
Kulihat isteriku menunduk saja, apa malu atau apa, aku sendiri kurang tahu. Ibu Mertua wajahnya tetap teduh, tak ada tatapan menyalahkan disana, baik untukku maupun untuk isteriku. Wak Adam masih diam saja, sebagaimana biasa, orang yang kami hargai itu, tak bicara jika tak dianggap perlu atau kami minta untuk bicara.
“Sekali lagi, bapak anggap solusinya sangat gampang” tutur Bapak Mertuaku lagi. Agaknya, beliau mengulangi soal solusi gampang, agar aku bertanya, bagaimana solusinya. Tapi, aku tetap diam, aku ingin beliau sendiri yang menguraikan solusinya. Tokh, menurut beliau, solusinya hanya gampang saja.
“Solusinya, menurut Bapak, dapat diurai jika nanda bercerita pada kami dengan jujur, apa sebenarnya yang terjadi? Setelah nanda bercerita, kami akan dapat kesimpulan, dengan demikian, masalahnya dapat kita selesaikan, sesuai dengan kesimpulan yang kami dapatkan nanti. Begitukan Wak Ahmad” tutur Mertuaku, sambil minta pendapat Wak Ahmad.
“Ya,begitulah, ceritakanlah dengan jujur nak Ben, kita harus mendengarkan seluruhnya, hingga kesimpulan kita jadi benar. Jika data tidak utuh, Wak kuatir, kesimpulannya jadi tidak utuh pula” jawab Wak Ahmad pula, mendukung usulan Mertuaku.
“Silahkan Cerita nak Ben..” kata Bapak Mertua, menyuruhku untuk cerita.
Didesak untuk cerita, maka akupun bercerita tentang kejadian yang sesungguhnya. Aku pikir ada baiknya juga, mereka mendengarkan ceritaku secara lengkap, hingga mereka dapat menarik kesimpulan sendiri, dari apa yang akan kuceritakan nanti.
“Sebenarnya, tak ada kejadian yang luar biasa pak. Nanda melakukan sesuatunya seperti yang biasa nanda kerjakan selama ini. tak ada yang luar biasa. nanda tetap bekerja setiap hari, jika ada kerjaan keluar kota, tetap keluar kota, jika ada kerjaan sampingan akan nanda ambil juga, disamping, jika pada waktu-waktu luang, nanda menulis.
Suatu waktu, lepas nanda sholat Ashar, di beranda Mesjid, nanda termenung. Apakah pekerjaan sampingan yang nanda kerjakan selama ini sudah benar? Bukankah dengan mengerjakan pekerjaan sampingan, nanda sudah melakukan korupsi waktu pada perusahaan dimana nanda bekerja. Membagi kerja terhadap pekerjaan pokok nanda. Karena, korupsi sesungguhnya, bukan saja terhadap uang atau materi.Tetapi bisa juga terhadap waktu. Apakah dengan mengambil kerjaan sampingan itu nanda tidak berbuat dzalim pada isteri nanda, karena dengan mengerjakan pekerjaan sampingan, nanda harus meninggalkan rumah hingga berhari-hari.
Memang, dengan korupsi waktu, nanda menghasilkan uang lebih, penghasilan nanda makin bertambah banyak. Lalu, uang hasil pekerjaan sampingan itu, nanda berikan pada keluarga. Pertanyaannya, apakah uang yang nanda berikan pada keluarga itu, termasuk uang halal atau uang haram. Pertanyaan inilah yang mengganggu pikiran nanda.
Perilaku menerima pekerjaan sampingan itu, persis seperti perilaku orang berselingkuh, sedapat mungkin dilakukan tanpa diketahui kantor resmi tempat nanda bekerja, dikerjakan dengan sembunyi-sembunyi dari pekerjaan yang sesungguhnya. Akhirnya nanda memberi lebel pekerjaan sampingan itu sebagai “selingkuh”.
Di beranda Mesjid At-Taubah itu, ketika nanda selesai mengerjakan sholat Ashar, pertanyaan tentang, perilaku selingkuh itu sangat mengganggu pemikiran dan perasaan nanda.
Malam harinya, dengan bekal perasaan bersalah dan kecamuk pikiran tentang selingkuh itu, nanda menulis cerpen dengan judul “selingkuh”.
Nanda menggambarkan, bagaimana gejolak rasa dan pikiran lelaki dewasa yang telah berselingkuh dari isterinya yang syah. Nanda ceritakan secara detail dan terperinci. Tokoh isteri syah itu, sebenarnya adalah personifikasi tempat kerja resmi nanda, sedangkan tokoh selingkuhan itu, sesungguhnya adalah personifikasi tempat nanda mengerjakan pekerjaan sampingan. Hasilnya, luar biasa indah. Sungguh sebuah cerpen yang sangat bagus yang pernah nanda hasilkan.
Masalahnya kemudian, cerpen nanda itu, menjadi cerpen terbaik versi harian M, nanda terpilih sebagai cerpenis terbaik tahun 2013, lalu berdatangan ucapan-ucapan selamat dengan variasi ucapan nakal, seakan yang nanda tuliskan itu, benar adanya dalam kehidupannya nyata, yang nanda alami. Mereka mengatakan, pelakunya nanda sendiri. Masalahnya belum selesai disitu saja, Yulia, akhirnya ikut percaya dengan cerita cerpen itu, bahwa nanda telah melakukan perselingkuhan, ketika kerja di luar kota.
Itulah sesungguhnya yang terjadi pak, cerita ini, tidak nanda lebihkan atau kurangi, semuanya nanda sampaikan dengan sejujurnya, pada Ibu, Bapak dan Wak Ahmad, tak ada kebohongan dalam cerita nanda ini, untuk berbohong nanda malu pada Ibu, Bapak dan Wak Ahmad, sedangkan pada Allah, nanda takut Murkanya”. Begitulah aku menceritakan semua kejadian dengan detail dan jujur.
Selesai aku menceritakan semuanya, kulihat, Ibu, Bapak dan wak Ahmad saling pandang satu dengan lainnya. Sementara kulihat Yulia, dari sudut mataku, masih tetap menundukan kepalanya. Tetapi aku sebagai suaminya, tahu persis, jika dia menyesali sikap cemburunya yang  keliru, hingga prahara rumah  tangga kami, diketahui kedua orang Mertuaku dan Wak Ahmad.
“Nah, benarkan. Semua hanya salah sangka saja. Salah komunikasi” kata bapak Mertua.
“Jika saja, semuanya dijelaskan dengan tuntas tentu masalahnya tak akan rumit. Bapak percaya apa yang nanda ceritakan itu jujur. Bapak juga, dapat memaklumi sikap istrimu. Cemburu yang diperlihatkannya, sebenarnya, perwujudan dari rasa cintanya. Tetapi, masalahnya, mengapa tidak tanya pada suami, apa yang sebenarnya terjadi” lanjut Bapak Mertua.
“Yah, intinya, ada komunikasi yang tersendat, nanda tidak menjelaskan apa yang terjadi secara tuntas, sedangkan isterimu tidak bertanya hal yang sesungguhnya. Melainkan larut dalam syak wasangka. Benarlah hadist yang menyatakan, bahwa kebanyakan dari syak wa sangka itu, perbuatan salah. Maka jauhilah syak wasangka”. Kata Wak Ahmad pula, memperkuat apa yang dikatakan Bapak Mertua.
Aku hanya mengangguk, mengiyakan semua yang dikatakan oleh Bapak Mertua dan Wak Ahmad. Sementara kulihat dari sudut mataku, ada bening air yang jatuh dari mata indah istriku. Melihat kejadian itu, aku sudah tak peduli lagi pada apa yang akan dikatakan Bapak Mertuaku, demikain juga dengan apa yang akan diwejangkan oleh Wak Ahmad. Yang penting bagiku kini, prahara rumah tangga ini, akan segera selesai dan berakhir bersama jatuhnya air mata isteriku.
Persoalan nasehat dari bapak Mertua dan wejangan Wak Ahmad, biarlah dia menjadi tambahan ilmu dan rambu-rambu bagi kami, dalam menempuh perjalanan rumah tangga kami ke depan.
Sudah terbayang di depan mataku, besok  pagi, isteriku sudah dalam keadaan wangi ketika menghidangkan kopi di pagi hari, lalu duduk diteras rumah, menemaniku menikmati kopi pagi.



1 komentar: