Senin, 13 Juli 2015

Ramadhan Terakhir Reem Salih di Gaza.



 Kondisi Porak Poranda di Gaza
Sinar Matahari mencorong dengan garangnya, tanpa tedeng aling-aling, tanpa penghalang, tepat langsung menghunjam  bumi Allah, Gaza. Tak ada satupun pohon besar yang dapat mengahalangi sinar itu. Sang penguasa tunggal siang itu, membakar kulit Armand, walau tertutup baju khas timur tengah yang disebut Thawb dan kafiyeh,  serasa mutung rasanya tubuh Armand, belum lagi suhu udara siang itu yang mencapai angka 40 derajat Celsius. Hanya bangunan yang masih tersisa yang mampu menghalangi sinar Matahari. Selain itu, sinar Matahari tepat menghujam bumi Gaza.
 Armand tiba di Gaza empat bulan lalu, ketika itu dia bersama dengan tiga rekannya yang semuanya tenaga medis. Mereka berempat, semua dari Indonesia. Dikirim oleh yayasan yang peduli dengan nasib rakyat Palestina. Khususnya yang berada di Gaza. Sejengkal  tanah yang diapit oleh Mesir pada sisi sebelah barat daya, dan Israel pada Timur dan Utara, sedang pada sisi lain, berbatasan langsung dengan Laut Tengah. Negara mungil dan kecil yang kini terkenal diseantero dunia, meski luas totalnya hanya 365 km persegi, dengan populasi penduduk yang hanya sekitar 1,7 juta jiwa. Bayangkan dengan Jakarta, yang pada siang hari berjumlah 12 juta jiwa.
Armand masih ingat ketika itu, diperbatasan Mesir mereka harus tertahan dengan waktu yang tak jelas, hingga kapan. Masalahnya, mereka di curigai memiliki tujuan lain, selain untuk melakukan misi kemanusiaan. Maklum, Mesir sedang bergejolak. Presiden Moersi baru saja ditumbangkan rezim Militer. Keselamatan merekapun tak terjamin. Sewaktu-waktu bisa saja ajal menjemput. Untunglah, memasuki hari ketiga Makhmoud, relawan yang asli Gaza, berhasil meyakinkan petugas Mesir hingga mereka dapat masuk Gaza.


Sejak masuk Gaza, Armand sibuk dengan agenda kemanusiaannya. Apa yang dia baca dan lihat di Televisi, ternyata kondisi rielnya lebih parah dari yang dibayangkan Armand. Benar, korban meninggal sudah tak ada lagi, tetapi mereka yang cacat dan memerlukan perawatan jumlahnya ribuan. Mulai dari RS di Rafah, di Bani  Suheilla, demikian juga dengan di wilayah Al Qarya As Suwaidiyah.
Tak kenal lelah, siang malam Arnand disibukkan dengan tugas kemanusiaannya. Berpindah dari Rumah sakit yang satu ke Rumah sakit yang lain, kadang ditemani Makhmoud, tak jarang juga ditemani Reem salih, relawan yang cantik itu. Satu yang membuat Armand kagum, selalu ada rasa optimis pada keluarga korban, selalu ada rasa  hangat pasien pada Armand. Tak tak tampak rasa takut pada wajah-wajah korban kekejaman Israel itu. Apa sebabnya? Tak sepenuhnya Armand tahu, apakah karena mereka sudah sangat akrab dengan kondisi ini, atau karena mereka memiliki iman yang kuat, yang menyerahkan sepenuhnya masalah mereka pada Allah, atau karena mereka memang tak memiliki pilihan lain selain pasrah, atau karena pengaruh nama tempat mereka, Gaza. Gaza yang dalam bahasa Ibrani, bahasa kitab suci Yahudi, yang berarti Kuat.
*****
 “Assalamu’alaikum” tiba-tiba Makhmoud telah berada di dekat Armand.
“Waalaikum salaam…” Armand menjawab salam Makhmoud.
“Agaknya, dokter Armand, lelah banget…”
“Akh…Makhmoud tahu aja, tapi gak pake banget lho, kalau capek iya…” jawab Armand, coba membuat suasana jadi cair.
“Maaf dok, saya tahu yang membuat lelah dokter belakangan ini, semua karena Reem salih kan?” sambung Makhmoud lagi.
“Ohh.. maafkan saya Makhmoud, saya hanya takut saja”
“Apa yang dokter takutkan? Coba cerita, saya janji, untuk dapat menolong dokter, sebisa mungkin, semampu yang bisa saya buat, bukankah kita bersaudara. Paling tidak saudara seakidah..” kata Makhmoud lagi. 
“Saya takut pada perasaan saya saja. Benarkah perasaan saya ini. Apakah cinta saya pada Reem salih benar-benar cinta yang murni. Atau hanya refleksi dari rasa sepi saja. Karena saya tinggal jauh dari tanah air saya?” kata Armand lagi.    
“Tentunya dokter Armand yang lebih tahu..”jawab Makhmoud lagi.
“Itulah yang jadi masalahnya. Apa kata orang nanti, dalam situasi kalut dan kalang kabut begini, saya malah mempermasalahkan soal hati. Padahal didepan mata, sejibun masalah minta diselesaikan dengan segera. Seperti, korban-korban serangan Israel, kekurangan air, kekurangan obat-obatan, kondisi rumah sakit yang memprihatinkan dan masih banyak masalah lain” jelas Armand pada Makhmoud.
Kadang Armand, merasa menyesal dengan kondisi hatinya. Masalah yang bertumpuk di depan matanya, lebih memerlukan penyelesaian segera dibandingkan masalah hatinya, berjibun masalah pelik yang harus dia selesaikan, terkurasnya tenaga yang nyaris hingga batas kemampuan diri. Tetapi, mengapa hati ini, masih memiliki sesuatu yang harus diisi dengan ketertarikan pada gadis Palestina itu. Bukankah ini, bagai mencari penyakit untuk diri sendiri. Bagaimana reaksi teman-temannya, ketika tahu bagaimana dokter muda Armand, yang memiliki reputasi baik dan memiliki idealism tinggi, tiba-tiba diketahui jatuh cinta pada sesama relawan. Relawan cantik Paletina itu. Reem salih.
*****
Malam-malam sunyi, diantara bergelimpangan pasien, diantara lelap tidurnya teman-teman Armand, ketika dia bermunajat pada sang Khaliq. Tak jarang Armand mengadukan masalah hatinya pada sang Khaliq, meminta solusi terbaik dari masalah yang dihadapinya. Armand tak ingin menodai tugas sucinya ke Gaza ini, tak ingin jadi bahan olok-olok teman sejawatnya. Tetapi, Armand juga tak dapat membohongi hatinya, bagaimanapun, hadirnya Reem salih telah membuat hatinya berbunga-bunga.
Armand yakin dengan seyakin-yakinnya, apa yang dia rasa. Sama persis dengan apa yang dirasa oleh Reem salih. Sinar mata itu, bahasa tubuh itu, tutur kata Reem salih, semuanya menunjukkan hal itu. Tak diperlukan banyak kata untuk mengetahui, apa yang dirasa Reem salih. Armand dapat menangkap semua sinyal itu. Sinyal yang dipancarkan Reem salih sama frekuensinya, dengan sinyal yang dipancarkan Armand. Pada gelombang frekwensi yang sama itu, hati mereka saling sambung, saling bersua, saling bicara. Tanpa perlu banyak bicara. Semua berjalan secara alami diantara tugas-tugas rutin yang  melelahkan dan tugas-tugas yang berpacu dengan waktu.
*****
Sejak tanggal tujuh Juli 2014 lalu, Israel benar-benar menggila. Memborbardir Gaza dengan tanpa lelah, siang dan malam. Dua hari setelah Armand dan Makhmoud menemui kedua orang tua  Reem Salih, pada tanggal lima Juli. Dalam pertemuan dengan kedua orang tua Reem salih, disepakati, jika Allah berkenan, mereka akan meresmikan pernikahan setelah Ramadhan usai. Begitulah pertimbangan waktu terbaik sesuai dengan budaya Palestina.
Tetapi apa lacur. Dua hari kemudian, Israel membombardir Gaza.
Seminggu yang sangat melelahkan. Bom-bom Israel telah meluluh-lantakkan Gaza, sudah 240 korban berjatuhan di pihak Palestina, seribu lebih masyarakat Sipil yang mengalami luka-luka dan cacat. Armand, Makhmoud dan Reem salih terjebak di dalamnya. Mereka telah benar-benar tenggelam dalam dan hanyut dalam pusaran kebiadaban Israel. Suara raungan dan rintihan terdengar dimana-mana, sementara suara bom yang jatuh seakan tiada henti dan terjadi dimana-mana.
“Dok, baiknya dokter Armand istirahat dulu…” suara Makhmoud menyadarkan Armand, Armand menatap Makhmoud, jelas terlihat keletihan pada raut muka Makhmoud, mungkin begitu juga raut wajahku yang terlihat Makhmoud, bathin Armand
“Iya, Moud..” balas Armand. Dia menselonjorkan kakinya, mencoba berdamai dengan tubuh lelahnya. Armand melihat Makhmoud membantangkan tilam tebal di lantai. Kemah yang terlihat darurat dari luar biasa saja itu, didalamnya tersedia cukup peralatan.
“Silahkan dokter, istirahat dulu.. dua jam lagi, kita akan sahur dok. Rasanya, tubuh perlu juga istirahat, perlu juga sahur. Pekerjaan berat masih menanti kita esok hari” demikian kata Makhmoud.
“Makasih Moud, bagaimana dengan  Reem Salih?” Tanya Armand, dia tidak melihat sang pujaan hatinya.
“Reem tadi sudah tidur, sekitar dua jam lalu..” jawab Makhmoud lagi.
Ada rasa lega pada Armand, mendengar Reem Salih telah istirahat. Kasihan dia, telah seminggu ini, dia tak kenal lelah, bahu membahu dengan relawan lain, melayani para korban bombardir Israel. Tak kenal lelah dan takut. Kalau saja, Reem telah menjadi istrinya, tentu dia dapat menyuruhnya untuk istirahat, atau paling tidak berada pada daerah aman. Tetapi, adapalah daya Armand, dia kini bukan siapa-siapa Reem Salih, baru sebatas kekasih, status yang tak ada dalam kamus masyarakat Gaza. Apalagi untuk melarang-larang aktifitas Reem Salih. Sedangkan untuk menyatakan secara terbuka, hubungan mereka saja, Armand tak memiliki cukup keberanian.
*****
Baru sejam agaknya Armand tertidur, karena jam baru menunjukkan pukul tiga, ketika tiba-tiba Armand terbangun. Sebuah gunjangan besar terdengar, melambungkan sebagian isi tendanya, memporak porandakan apa yang terdapat dalam tenda itu. Terjadi kepanikan luar bisaa. Armand masih bisa melihat, bagaimana pasien-pasien yang tadi masih tergeletak sebelum dia tidur, kini sudah menjadi mayat. Armand tanpa disadarinya sudah berada di luar tenda. Kemana tenda sebelahnya, kemana? Kok sudah tak terlihat. Bukankah disana Reem Salih tadi berada. Apakah tendanya, telah diterbangkan bomb yang dijatuhkan Israel?. Akh, Armand ngeri sendiri, membayangkan pertanyaan itu, jika pertanyaan itu ternyata benar, menjadi kenyataan.
Tak ada lagi waktu untuk bertanya, semua mereka disibukkan dengan usaha evakuasi, memindahkan mereka yang terluka ke tempat yang lebih aman, ketempat-ketempat kosong di bangunan sebelah tendanya, yang telah ditinggalkan penghuninya. Debu mesiu dan debu karena terbawa angin gurun bercampur aduk, menyesakkan semuanya. Bukan hanya pada korban, termasuk juga pada Arman. Kemana Makhmoud? Mengapa dia tak terlihat, apakah dia termasuk dalam korban. Sebuah pertanyaan, yang tak mampu dijawab oleh Armand. Sekuat mungkin dia menepis segala kemungkinan, yang mengalir bersama pertanyaan liarnya. Akh, tak mungkin semua itu. Makhmoud mungkin sibuk dengan evakuasi ditempat lain, demikian sanggah hatinya, untuk menepis pemikiran terburuk yang sempat singgah tadi.
Hanya dengan sebotol air dan beberapa buah kurma, Armand masih sempat sahur diantara hilir mudik korban yang dievakuasi. Berbagai infus, operasi kecil mengangkat sisa pecahan mesiu dari tubuh korban, telah puluhan dia sepagi ini dilakukan oleh Armand. Sementara Makhmoud dan Reem Salih tidak juga terlihat batang hidungnya, kemanakah mereka?
*****
Jam baru menunjukkan pukul sepuluh pagi, ketika Armand baru keluar dari ruang operasi daruratnya. Letih yang tak tergambarkan dengan kata-kata, melihat kondisi korban dan operasi yang dilakukan sejak pukul setengah empat tadi, telah benar-benar menyita sisa energy yang ada pada Armand. Belum sepenuhnya, tubuh Armand melewati pintu ruang operasi itu, ketika dia melihat Makhmoud. Berdiri kaku dengan mata sayu, ada apa ini.
“Ada apa Moud? Kenapa berdiri kaku begitu?” Tanya Armand, tak tahu apa yang terjadi pada sahabatnya itu.
“Maafkan saya dok, saya telah lancang mengambil tindakan sendiri” kata Makhmoud pula, kini Makhmoud sudah duduk di kursi, sebelah Armand.
“Maksudnya Moud?” tanya Armand,
“Reem Salih telah mendahului kita, dok. Akibat Bom jam tiga tadi pagi, saya dan dokter Tini, mengevakuasinya. Kini jenazahnya telah ditunggui kedua orang tuanya”. Kata Makhmoud lagi, suaranya pelan, tapi itu cukup membuat Armand terguncang hebat. Dunia seakan berhenti untuk Armand. Tapi heran, mengapa tak ada air mata yang keluar. Apa karena dia sudah kebal dengan suasana kematian di Gaza ini. Tempat dimana batas hidup dan mati begitu dekat, begitu tipis, bahkan lebih tipis dari kulit bawang.
“Dimana jenazahnya, sekarang Moud?”
“Di gedung seberang itu. Dokter Tini sudah berusaha sekuat tenaga, tapi ketentuan Allah berkata lain dok, Reem Salih telah menjadi syahid”
“Ayo kita kesana” Armand langsung berdiri, dibelakangnya, berjalan Makhmoud mengikuti langkah Armand. Menuju pada gedung yang dimaksud. Tiba di gedung itu, dokter Tini, masih di kamar operasi, Jenazah Reem Salih masih disitu, tertutupi sehelai kain. Tini membuka kain penutup jenazah, terlihat wajah Reem Salih dengan senyumnya, senyum yang menggambarkan paduan kepasrahan dan kemenangan. Senyum yang akan terus dibawa Armand menyusuri hari-hari panjangnya setelah kepergian Reem Salih. Tak mungkin dia meratapi dan memeluk Reem Salih. Disitu ada calon mertuanya, diruangan itu banyak orang lain, banyak relawan. Pada dokter Tini, Armand hanya memberikan sebuah cincin, memintanya untuk mengenakannya pada jenazah Reem Salih, karena cincin yang baru dibelinya dua hari lalu itu, belum sempat dikenakannya pada Reem Salih. Itulah cincin yang diharapkan Armand sebagai lambing mereka “jadian” hingga kelak dipertemukan di syurga Firdaus.
*****
Kini Ramadhan telah memasuki hari kedua puluh, Israel dan Hamas telah menyepakati Genjatan senjata. Suara bombardir dari bom-bom  Israel telah usai. Armand masih sibuk. Masih ribuan korban yang masih memerlukan pertolongan dan perawatannya. Kondisi korban masih seperti hari-hari yang lalu. Panas Matahari masih menyengat Gaza seperti hari-hari yang lalu. Seakan tak ada yang berubah. Tetapi bagi Armand, semuanya seakan berubah. Bahkan perubahan itu terasa seratus delapan puluh derajat. Kini hanya dia Makhmoud, tanpa kehadiran Reem Salih. Meskipun begitu, perjuangan ini harus terus dilanjutkan, hasil yang diperolehpun harus lebih maksimal. Paling tidak khusus untuk Armand. Dia akan lebih keras lagi dalam mengabdi. Karena dalam dirinya, ada jatah pengabdian Reem Salih yang harus diwakilinya. Mencintai Reem Salih, berarti mencintai bangsanya juga.

Bagi Reem Salih, mungkin ini Ramadhan yang terakhir. Tapi bagi Armand, kehadiran Reem Salih akan selalu ada, selama Ramadhan itu sendiri masih ada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar