Senin, 13 Juli 2015

Petuah Ayah



Langit pagi ini begitu cerah, masih tersisa bintang yang kesiangan, satu dua ada yang masih  terlihat. Biru merata seputar atas langit sana, hujan telah lama tak mengunjungi  bumi di daerahku. Selesai sholat subuh tadi, sebentar aku bertadarus membaca ayat-ayatNya lalu membasuh diri. Mandi.
Aku akan pergi ke Sekolah pagi ini, kepergian yang menentukan masa depanku kelak, apakah aku lulus atau tidak. Pagi ini hari pengumuman hasil ujian SMP. Tentu akan ada yang lulus dan sekaligus ada yang tidak lulus. Aku bukanlah murid yang bodoh, ulangan mata pelajaran matematika, selalu aku dapat nilai Sembilan. Hanya sekali-kali dapat nilai delapan, tak pernah dapat nilai tujuh, tetapi semua itu, bukan jaminan kalau aku pasti lulus. Masih tersisa sedikit kegalauan dihati ini. Segala kemungkinan bisa saja terjadi, bisa saja aku tidak lulus ujian.
Usai menerima pengumuman lulus, aku bersama dengan teman-teman saling membubuhkan tanda tangan dan nama jelas pada baju putih yang kami kenakan. Kelak, baju yang telah ditanda tangani dan diberi nama jelas itu, akan menjadi saksi bahwa kami benar-benar memang berteman. Benar-benar jadi saksi, bahwa kami telah menghabiskan waktu selama tiga tahun dalam permulaan kehidupan kami bersama-sama. Tak mungkin, ada pengelak’an ketika Johan misalnya, ketika jadi Jendral akan mengelak bahwa dia tidak kenal kami, karena nama dan tanda tangannya ada di baju ini. Jamal yang mungkin saja jadi Rektor di Universitas terbesar negri ini. Akan bisa mengelak jika kami temannya. Bukti autentik itu ada di baju kami. Akan menjadi jimat bagi kami, bukti sejarah diam yang akan kami simpan hingga tua menjelang usia.
Selepas baju putih yang kini dipenuhi tanda tangan dan nama jelas itu, kami melipatnya dalam tas, lalu kamipun kembali pulang, masih bersama, dengan tawa lepas semua, karena kami semua, satu kelompok yang selalu bersama ini, semuanya lulus ujian. Ada lambaian tangan yang penuh makna dan arti, ketika jalan kami bersimpang, ada rasa haru, seakan itu perpisahan yang entah kapan akan bertemu lagi, ada sesuatu yang hilang bersamaan dengan hilangnya punggung teman dari penglihatanku. Selepas itu semua, aku akan memasuki liburan panjang. Lalu memasuki dunia sekolah yang lain, dunia yang baru. Dunia yang akan aku tulis dengan sesukaku, sesuai dengan apa yang ingin kuraih. Berbekal dengan kepercayaan akan kebebasan yang kumiliki, untuk menuliskan dunia baru dengan sesukaku, aku bersenandung kecil menuju rumah.
Di ruang tengah, telah duduk ayah dengan sorot mata yang mencorong. Aku, selalu saja kuatir jika melihat sorot mata yang mencorong itu. Mata singa tua itu. Seakan siap untuk menerkam apa yang ada di depannya. Firasatku menyatakan bahwa Ayah akan marah besar, apa sebabnya, aku tak tahu, rasa-rasanya sejak pagi, bahkan sejak semalam tak ada sesuatu hal yang dapat menyebabkan ayah akan marah.
“Haidar!.” Panggil Ayah, ada ketegasan suara disana, aku jadi ciut. Ada apa ini?
“Iya, Yah” jawabku singkat, penuh tanda tanya dan rasa kuatir.
“Ayah ingin mengamanatkan satu hal! Duduklah kesini!” sekali lagi, kata-kata itu tegas.
“Baik, yah..” Aku segera duduk di depannya, tak sepenuhnya tahu apa yang akan disampaikan Ayah.
“Bagaimana hasil ujianmu?” tanya Ayah pendek dan ringkas, tak ada senyum diwajah itu. Wajah Singa tua itu, terlihat makin angker saja dimataku.
“Aku lulus Yah”
“Syukurlah… Ayah sudah menduganya. Karena itu Ayah memanggiilmu” suara Ayah pelan, tapi penuh kepastian dan terkesan sangat berwibawa padaku. Entahlah, aku sendiri tak tahu. Apa mungkin karena aku masih merasa ada sesuatu yang akan dikatakan, yang akan berakibat fatal untukku.
“Iya, Yah” jawabku singkat.
“Karena Ayah merasa, saatnya sudah tiba” kata Ayah lagi.
“Iya, Yah”
“Ayah memberimu nama Haidar itu, bukan tanpa tujuan. Kau tahu itu. kau tahu artinya?” Tanya Ayah padaku. Wajahnya masih saja tegas dan  tanpa senyum.
“Iya, Yah” jawabku singkat, aku masih belum tahu kemana arah pembicaraan ini.
“Haidar itu artinya Singa. Singa memiliki sifat-sifat yang Mulia dan Agung. Singa akan memberikan rasa aman pada keluarganya, melindungi keluarganya dari serangan bahaya yang datangnya dari  luar. Mencukupi segala kebutuhan keluarganya. Singa juga memiliki keberanian untuk melawan pihak-pihak yang menyerangnya dan memberikan perlindungan pada mereka yang lemah. Kau paham itu?”
“Iya, Yah”
“Ayah berharap kau akan menjadi singa dalam keluarga ini. Artinya kau akan melindungi seluruh keluarga ini kelak. Tetapi satu hal yang perlu kau tahu, bahwa dalam keluarga Singa, yang menjadi pimpinan, hanya satu Singa. Begitu, untuk saat ini dan seterusnya. Kini yang menjadi pimpinan dalam keluarga ini, Ayah. Karena kau sudah besar dan belum jadi  pimpinan. Maka setelah kau selesai liburan nanti, Ayah akan kirim kau ke  Pulau Jawa. Di sana kau akan belajar hidup, masuk dalam belantara ladang ilmu. Kau akan bersaing untuk menjadi nomer satu dalam dunia pendidikanmu, dunia akademisi. Kemudian, kau akan masuk dalam belantara kejamnya kehidupan real ketika kau telah menamatkan pendidikanmu kelak. Dalam perjalanan di dalam dua dunia itu, kau akan banyak menemui halangan, rintangan dan tantangan. Kau jangan takut anakku, kau adalah Singa! Hadapi semua halangan, rintangan dan tantangan itu, kalahkan semuanya. Mengaumlah sekuatnya, jikalau perlu, jika belum selesai juga, kau keluarkan cakar dan taringmu, lalu kau terkam semua, masalah yang terbentang dihadapanmu, semua halangan, semua rintangan dan tantangan itu. Kau harus keluar sebagai pemenangnya” petuah ayah lagi panjang lebar.
“Iya, Yah”
“Hingga kelak tibanya kau akan jadi pemimpin, ketika kau menikah. Ketika itu, kau baru jadi pemimpin dalam komunitas kecilmu. Ketika itu, kau baru jadi pemimpin untuk anak-anakmu, untuk istrimu, ketika itu, kau belum jadi singa sesungguhnya. Kau belum jadi pemimpin untuk keluarga besar kita. Kapan kau akan menjadi pemimpin keluarga besar kita? Ketika Ayah sudah tak ada, ketika ayah sudah menghadap sang Maha Perkasa”
“Iya, Yah”
“Ayah juga akan memberimu satu cincin, tak ada apa-apa dalam cincin itu. Dia hanya sebagai symbol saja, bahwa kau akan memegang amanah yang akan Ayah berikan padamu. Ketika kau akan menyimpang dari jalan yang Ayah telah contohkan dan ajarkan, maka malulah kau dengan cincin yang kau pakai selalu itu, cincin yang ayah berikan untuk kau pakai, sebagai alat GPS yang menghubungkan kau dengan Ayahmu ini, yang membuat Ayah tahu dimana posisimu, sedang mengerjakan apa kau. Dia adalah repsentatif Ayah yang telah mengajarkanmu tentang kebaikan, kekuatan dan tentang garis lurus, yang harus kau jalani” lanjut ayah lagi, memberikan petuahnya. Tak ada pilihan bagiku selain, mengiyakan semua pesan beliau, lalu mengamalkannya kelak ketika telah tiba saatnya.
*****
Perjalanan ke Jawa itu, ternyata perjalanan yang merubah seluruh sisi kehidupanku selanjutnya. Ayah mengirimkan pada sekolah terbaik di Jakarta, demikian juga ketika aku kuliah, aku memasuki Universitas Negri yang merupakan salah satu Universitas Terbaik di negri ini. Semuanya dapat terlaksana, karena, aku merasa selalu ada yang mengawasiku, cincin yang selalu aku pakai itu. Tak mungkin aku menghianati Ayah sementara amanahnya masih melekat di jari tanganku. Aku selalu menjadi nomer satu dalam bidang akademis. Semuanya, karena semangat Singa yang ditanamkan Ayah padaku, rasanya tak mungkin pelajaran, sesulit apapun akan mengalahkanku. Aku akan mengalahkannya. Aku akan keluar sebagai pemenang. Akan kukeluarkan cakar dan taringku, akan kuterkam semua masalah, rintangan dan tantangan itu. Jadilah semua mengalir sempurna sesuai dengan keinginan Ayah.  Aku diwisuda dengan cum laude.
Demikian juga dalam kehidupan nyata, ketika aku selesai wisuda, tak memerlukan waktu lama tamat kuliah, aku segera bekerja di sebuah perusahaan multinasional, semangat Singa yang diberikan Ayah menjadikan semuanya lancar-lancar saja. Prestasiku yang luar biasa, segera saja mengantarkanku pada posisi pimpinan, posisi  yang untuk karyawan lain, dibutuhkan waktu puluhan tahun. Tetapi, tidak untukku.
Tak terasa, aku sudah jadi Singa untuk komunitas kecilku, untuk anak-anak dan untuk  istriku, aman dalam lindunganku, mereka tercukupi semua. Aku telah menjadi Singa yang sempurna, yang hanya mengaum dan mengeluarkan taring dan cakarnya bila berada di luar rumah, di luar komunitasnya. Sedangkan, ketika aku di dalam rumah, aku melayani mereka semua.
*****
Kini, semua keluarga telah berkumpul di ruang tengah. Di ruang tengah itu, terbujur kaku jasad Ayah. Sosok yang kami semua kagumi. Sosok yang tak tergantikan oleh siapapun juga dipermukaan bumi ini. Singa Tua itu kini telah pergi untuk selamanya, menghadap sang Khaliq, sang Perkasa. Meninggalkan kami semua. Kini, akulah yang akan menggantikannya. Menjadi pemimpin bagi keluarga besarku, sesuai dengan wasiat Ayah sebelum aku meninggalkan rumah ini untuk merubah hidupku ke Jawa dulu, ketika aku menamatkan sekolah SLTP.  
Mampukah aku menjadi sosok yang menggantikan Ayah, sebagai pemimpin dalam komunitas besar ini, menggantikan sosok Singa yang penuh kharisma itu? Dengan petuahnya yang selama ini kujalani, jawabannya, InsyaAllah aku akan mampu. Waktulah kelak yang akan membuktikannya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar