Senin, 13 Juli 2015

Pesantren Tepi Danau



Tanah pekuburan itu masih merah segar. Nisan  yang ditanamkan masih berbentuk kayu, mungkin beberapa bulan lagi, baru akan kuganti dengan batu,  Hari ini, hari terakhir  takziyah, atau yang biasa  orang kampungku sebut dengan yasinan, hari ketujuh berpulangnya pak Danu seto menghadap sang Khaliq.
Besok hari, akan menjelang, rumah kami akan kembali sepi. Seperti hari-hari sebelum datangnya pak Danu. Memang, sebelum datang pak Danu, rumah ini, pernah juga sepi, setelah kematian ibu mertuaku. Namun, kesepian itu, berangsur hilang setelah pak Danu masuk, sikapnya yang hangat, mau mengerti dan membantu beberapa pekerjaan rumah, membuat semuanya perlahan-lahan menjadi ramai kembali. Awalnya, anggota keluarga ini bertiga, aku,Nurjanah Isteriku dan Mbok Tinah, mertuaku. Kemudian, setelah Mertuaku meninggal, jadilah kami berdua, lalu masuklah Pak Danu, dalam keluarga kami. Jumlahnya, kembali bertiga. Belum dua tahun setelah pak Danu hadir, giliran Nurjanah Isteriku yang berpulang menghadapNya. Penyebabnya, karena Nurjanah melahirkan. Anak yang dilahirkan Nurjanah selamat, sedangkan Ibunya tak tertolong. Kembali anggota keluarga ini tetap tiga orang.
Bagai sebuah siklus bilangan yang berulang, sayangnya, perulangan bilangan itu, pada angka dua dan tiga. Begitu berulang-ulang hingga tiga kali kejadian yang mengiringinya. Tiga kali kejadian yang sangat berarti dalam perjalanan hidupku.
Lebih empat tahun lalu, aku menginjakkan kaki di Pesantren ini, tugasku ketika itu membimbing santri yang mengambil jurusan Hafidz atau jurusan hapal al-Qur’an. Karena ketika itu, jurusan hafidz Qur’an baru saja dibuka. Sedangkan guru untuk itu belum ada. Jadilah aku menjadi ustadz atau guru untuk jurusan yang baru dibuka itu.
Aku yang berasal bukan dari daerah ini, datang atas amanah kiyai di Pesantren tempatku menuntut ilmu dulu. Ketika itu, pada waktu itu, masih segar dalam ingatan ini, hari kamis malam Jum’at, setelah sholat Maghrib ditunaikan secara berjamaah, aku berencana akan merebahkan diri sejenak. Karena, malam Jum’at, antara Maghrib dan Isya, kegiatan santri kosong. Acara akan diadakan setelah Selesai Isya, berupa pembahasan hokum Islam oleh para santri senior. Acara yang disebut sebagai Istimbat Hukum itu, diharapkan akan melahirkan para ulama yang mengerti dengan paripurna hukum Islam yang disebut dengan Fiqih.
Tiba-tiba ada suara ketukan di Pintu kamarku, lalu sebuah ucapan salam mengiringinya. Seorang santri, utusan kiyai, memberitahukan padaku, bahwa aku diperintahkan untuk menghadap sang Kiyai. Ada hal penting yang akan disampaikan, demikian santri utusan kiyai menyampaikannya padaku.
Selesai sholat Isya, aku sudah duduk di ruang tamu kiyai Mustaqin, tak ada tamu di ruangan tamu itu. Demikian juga Kiyai Mustaqin, tak Nampak. Beliau masih di dalam kamarnya, mungkin beliau sedang berdzikir, di dinding, di atas pintu yang menuju ruang dalam, bertengger lukisan foto yang sangat besar, itulah kiyai Khilal, orang tua kiyai Mustaqin, kami para santri memanggilnya dengan kiyai sepuh, sayang kini kiyai sepuh telah berpulang, ketika aku masih kelas dua. Itu terjadi enam tahun lalu. Aku kini yang telah menjadi ustadz di Pesantren ini sangat mengagumi beliau, selain kiyai Mustaqin tentunya.
Sejurus kemudian, kiyai Mustaqin keluar dari kamar beliau, setelah aku menyalami beliau, lalu beliau tanya kedaan santri yang aku asuh, akupun menjelaskan secara detail keadaan mereka. Meskipun aku tahu, semua itu hanya mukadimah saja, semacam prolog sebelum kiyai Mustaqin menyampaikan maksudnya, mengapa aku dipanggil untuk menghadap beliau.
“Begini shodiq…” kata kiyai Mustaqin memulai pembicaraan seriusnya.
“Temanku ketika di Al Azhar dulu, kini sedang merintis Pesantren Hafidz Qur’an, Beliau membutuhkan ustadz yang dapat membimbing santri di jurusan baru itu. Kemarin dia meminta Kiyai untuk mencarikan ustadz yang dibutuhkan itu.  Kiyai teringat, antumlah orang yang tepat untuk itu. Bagaimana pendapat antum?” kata kiyai Mustaqin.
“Saya rasa saya masih butuh banyak belajar dari kiyai…” Jawabku singkat. Coba merendah.
“Begini anakku….. Belajar itu tidak mengenal istilah selesai, seumur hidup, kita butuh belajar, bahkan ketika ajal menjelang  sekalipun. Lalu kapan antum akan mengamalkan ilmunya jika hanya belajar terus, lalu kalaupun antum sekarang sudah mengamalkan ilmunya disini, pertanyaannya, mana lebih banyak manfaatnya disini atau disana, disini antum sudah melahirkan adik-adik yang akan melanjutkan apa yang sudah antum rintis, sedangkan disana, sama sekali belum ada, lahan itu masih kosong, baru akan dibuka,. Maka, kiyai berpendapat, akan banyak sekali arti kehadiranmu di sana.” Begitu kata kiya Mustaqin lagi.
“Jadi… berangkatlah anakku, jadilah pioneer. Jadilah trend setter, jangan jadi follower, agama kita memerlukan pioner-pioner muda, bukankah dulu, wali sanga adalah pioner-pioner semua, mereka adalah anak-anak muda, ketika memulai tugasnya berdakwah. Kiyai akan mensuport antum. InsyaAllah keberkahan dan keberhasilan kelak antum akan dapatkan” demikian keputusan yang diambil kiyai Mustaqin. Itu artinya, aku hanya punya satu pilihan, yakni memenuhi keinginan  kiyai Mustaqin untuk berangkat ke Pesantren kiyai Hakim Nasution di Pedalaman Sumatera ini, untuk membantu beliau membuka jurusan baru Hafidz  Qur’an.
**********
Memang….. jodoh, rezeki, dan maut semuanya rahasia Allah, dua tahun kemudian, sejak kedatanganku di Pesantren tepi danau ini, aku mendapatkan jodoh, seorang ustadzah juga, kebetulan, sang Ustadzah, orang yang berasal dari daerah yang sama denganku, anak mbok Tinah, yang awalnya menjadi kepala dapur untuk santri di Pesantren Tepi Danau..
Awalnya, kiyai Hakim Nasution, yang berinisiatip mencarikan jodoh untukku, maksudnya biar aku betah mengabdi dan menjadi warga Pesantren selamanya disini. Aku setuju saja dengan niat baik kiyai Hakim Nasution. Apalagi, kulihat Nurjanah orangnya baik, cerdas dan memiliki jiwa yang agresif, semua itu sesuai dengan apa yang aku idealkan tentang seorang wanita. Demikianlah, akhirnya aku menjadi suami Nurjanah, anak semata wayang dari mbok Tinah, seorang janda yang datang ke Pesantren ini, dua belas  tahun lalu. Dengan perilaku dan akhlaq yang ditunjukkan mbok Tinah, beliau akhirnya diberi kepercayaan oleh kiyai Hakim Nasution untuk mengelola dapur Pesantren.
Dua tahun kami berumah tangga, mbok Tinah dipanggil Yang Maha Kuasa, membawa misteri yang tak kunjung selesai, aku tidak berhasil mengorek nama mantan suami beliau, yang juga orang tua Nurjanah dan sekaligus Mertuaku. Nurjanah juga tidak tahu siapa nama ayahnya, yang dia ketahui ayahnya meninggal ketika usianya satu tahun, lalu untuk menghilangkan kesedihan yang mendalam, ibunya merantau meninggalkan tanah Jawa ke sumatera. Hingga akhirnya tiba di Pesantren ini.
Setahun setelah mbok Tinah meninggal, Pesantren kami kedatangan pak Danu, beliau bekerja sebagai tukang kebun, orangnya tekun dan telaten, sekaligus pendiam, tak banyak yang kutahu tentang pak Danu, selain beliau berasal dari Pulau Jawa, daerah yang sama dengan daerah asalku. Tetapi Jawanya dimana, mengapa beliau di usia setua ini masih merantau, kemana keluarga beliau, semuanya gelap, tak ada yang dapat kukorek dari cerita beliau. Hanya saja, hampir setiap sore, aku melihat, beliau duduk pada bangku dibawah pohon Mahoni tua, memandang berlama-lama pada arah danau, ada kesedihan mendalam di wajah beliau.
Melihat perilaku tukang kebun yang sudah berusia senja itu, aku hanya menduga-duga saja, mungkin beliau ingat pada keluarganya, yang aku sendiri tak tahu dimana, yang kutahu, beliau duduk selalu di tempat yang sama, pada waktu sama serta pada arah pandang yang sama, memandang ke danau itu sekaligus kearah pemakaman warga Pesantren kami. Demikian hamper tiap sore beliau lakukan. Anatara waktu setelah Ashar dan waktu Maghrib.
Akhirnya, aku memberanikan diri, meminta pak Danu, agar mau untuk tinggal di rumah kami. Tujuanku hanya satu, agar pak Danu tidak merasa kesepian, Agar beliau merasa memiliki “keluarga” disini, di Pesantren ini. Dengan begitu, aku berharap beliau akan betah tinggal di Pesantren tepi danau ini.
Tinggal di rumah kami, awalnya pak Danu merasa canggung, karena di rumah, hanya ada aku dan istriku, Nurjanah. Namun, lama-kelamaan, beliau menjadi bagian dari keluarga kami. Beliau rajin membantu mengerjakan pekerjaan rumah, dari mulai menyapu, bersih-bersih. Bahkan kini, Pak Danu, mengerjakan hampir semua pekerjaan rumah kami, setelah beliau tahu bahwa Nurjanah, istriku sedang berbadan dua. Beliau memperhatikan Nurjanah lebih dari perhatianku sendiri, pekerjaan rumah yang biasanya dilakukan Nurjanah kini diambil alih oleh pak Danu. Maksudnya agar Nurjanah cukup istirahat, demikian alasan pak Danu, seperti yang pernah dia kemukakan padaku. aku terharu sungguh mendengar alasannya, kurasa pak Danu sudah menganggap kami, khususnya Nurjanah sebagai anak kandungnya sendiri. Demikianlah, perjalanan nasib, tak ada yang mengetahui, apa yang akan terjadi kelak. Semua kemungkinan bisa saja terjadi selama hayat masih dikandung badan.
Rupanya, Itulah pengabdian pak Danu yang terakhir untuk Nurjanah, Nurjanah berpulang ketika melahirkan anak pertama kami. Anak kami pertama kami selamat, sedangkan Nurjanah, tak terselamatkan. Kulihat beliau demikian terpukul dengan kejadian itu, beliau ikut menggali kuburan Nurjanah, bahkan ketika mayat itu dimasukan ke liang lahat, aku dan pak Danu yang meletakkan jasad itu diperistirahatannya yang terakhir.
Satu minggu kemudian, setelah rumah kami selesai mengadakan takziah atau tahlilan, Pak Danu menceritakan siapa dia sebenarnya. Dialah orang tua Nurjanah sebenarnya, sekaligus suami dari mbok Tinah. Mendengar penuturan beliau aku kaget, seakan tak percaya, ketika itu, pada awalnya, aku hanya menduga, semuanya hanya karangan Pak Danu. Karena kesedihan yang mendalam, maka beliau membuat cerita. Agar Pak Danu tetap berada di rumahku, agar beliau tetap dapat menjaga anak kami. Namun, dengan cara beliau bercerita dan bahasa tubuh yang diperlihatkannya, akhirnya aku percaya, bahwa apa yang dikatakan beliau, benar adanya. Inilah cerita beliau.
*****
Ketika itu, saya seperti biasanya, pergi ke Jakarta, untuk bekerja sebagai tukang pada proyek konstruksi, setiap bulan atau dua minggu sekali pulang, membawa hasil kerja selama di Jakarta untuk nafkah keluarga. Tetapi, pergaulan Jakarta telah membuat saya tersesat, saya terbawa arus pergaulan yang jauh dari agama, hingga akhirnya saya  tertangkap tangan ketika sedang merampok di sebuah rumah di wilayah Kebayoran, tak ada teman sekampung yang tahu, hingga saya menghabiskan masa tahanan selama lima tahun di penjara.
Selepas dari Tahanan, saya pulang ke kampung, istri dan anak yang ketika berumur satu tahun  saya tinggalkan, tidak berada di kampung lagi. Pergi entah kemana. Lalu sayapun mencari istri dan anak yang telah ditelantarkan selama bertahun-tahun itu.
Akhirnya, setelah sekian puluh tahun pencaharian itu, saya temukan di Pesantren ini. Sayangnya, istri tempat saya hendak memohonkan maaf itu telah tiada, sedangkan anak semata wayang itu, kini telah menjadi ustadzah dan menjadi istri seorang guru hafidz. Kepalang dosa ini sudah demikian besar, maka saya putuskannya untuk menghukum diri sendiri, biarlah orang-orang terkasih yang sudah didapatkan setelah lelah dalam pencarian puluhan tahun itu tetap tidak mengetahui siapa saya sebenarnya. Biarlah rindu dendam itu saya reguk sendiri, bentuk penebusan dosa itu biarlah saya ganti dengan sebuah pengabdian, yakni tetap berada dekat orang terkasih, walau mereka tidak tahu, siapa saya sebenarnya.
Menjadi tukang kebunpun tak menjadi masalah, asal tetap dapat melihat sang buah hati, tetap dapat melihat pusara isteri tercinta di senja hari. Tokh, usiaku sudah senja juga, saya ingin dibaringkan kelak dekat orang yang saya cinta dan saya cari selama ini. Demikian cerita pak Danu padaku, Beliau bercerita dengan sesungguhnya, uraian air mata yang mengiringi cerita itu, menjadikan aku yakin, bahwa apa yang beliau ceritakan itu, benar adanya.
Aku tak tahan membendung kesedihan mendengar cerita pak Danu. Begitu besar cinta pak Danu pada keluarganya, begitu besar pengorbanan yang pak Danu telah lakukan untuk menebus kesalahan-kesalahan masa lalunya.
Kini pak Danu telah tiada, telah pergi menghadap sang Khaliq untuk selamanya, dialah orang tua terakhir sebagai kerabatku di Pesantren ini.
Hari ini, acara tahlilan ini akan selesai, selanjutnya dirumah ini, akan tinggal aku dan anak sematang wayangku, hanya kami berdua, aku tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya dalam perjalanan hidupku, semuanya masih misteri, hanya Allah yang tahu. Yang kutahu, selama hayat masih dikandung badan, masih akan banyak hal-hal lain yang akan kualami bersama sang buah hati kelak. Apa bentuknya….? Wallahu A’laam.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar