Senin, 27 Juli 2015

Perjamuan Di Gerbang Pertama


Silaturahmi, memperpanjang umur dan menambah rezeki, demikian kata yang sering saya dengar. Kata-kata  yang dua ratus persen benar. Hasil silaturahmi saya malam itu membuahkan rezeki ilmu yang ingin saya bagikan pada pembaca semua.
Malam itu, kami membahas fenomena orang dekat pada Allah dengan segala kelebihan yang mereka miliki, entah itu kemampuan terawangannya, kemampuan menaklukan makhluk halus dan Jin,  serta kemanjuran do’a-do’anya yang mereka panjatkan. Do’a mereka selalu terkabul, bahkan sebelum mereka berdo’a mereka sudah yakin akan makbulnya do’a yang akan mereka baca. Seakan, Allah tunduk akan keinginannya.
Kok…. Allah bisa tunduk dengan keinginannya? Tanya salah satu teman diskusi.
Bagaimana tidak, ketika mereka membaca mantera agar mereka kebal, maka yang akan terjadi, mereka benar-benar kebal. ketika mereka membaca mantera agar mereka dapat terbang, mereka benar-benar dapat terbang. Bukankah Allah bisa saja tidak mengabulkan do’anya. Tidak ada keharusan bagi Allah harus mengabulkan do’anya. Bukankah, Allah tidak harus patuh pada sesuatu, termasuk dalam hal mengabulkan do’a hambanya, sekalipun hamba itu sangat patuh padaNya. Tidak ada satu pun hal yang dapat mengharuskan Allah. Yang ada, keharusan hamba melaksanakan apa yang sudah diperintahkan Allah…. Jawab teman lain lagi.
Akibat yang paling jelek lagi, pada hamba yang do’anya selalu dikabulkan Allah, akan menimbulkan sikap sombong dan riya (pamer) pada diri mereka, padahal dua sifat ini sangat dibenci Allah. Lalu, pertanyaannya,  bagaimana korelasinya hubungan antara dia yang dekat dengan Allah, dengan segala do’a yang selalu terkabul karena demikian dekatnya dengan Allah. Tetapi, dilain pihak melahirkan sikap yang sangat dibenci Allah? Yakni, sifat somboong dan riya? Tanya teman yang lain lagi.
Lalu seorang diantara kami, yang kami anggap paling tinggi ilmu agamanya, paling bijaksana dan paling memiliki satu kesatuan antara ucapan dan perbuatanya. Mencoba memberikan jawaban atas sejumlah pertanyaan diatas, dengan mengambil iktibar yang sangat sederhana.
Demikian beliau bercerita;
Ketika seorang hamba berkutat dengan ketakwaannya, analoginya sama seperti seorang jelata yang sedang berjalan menuju istana, segala aral melintang dia kalahkan agar dapat menghadap dan bertemu dengan Raja yang sangat dia cintai dan agungkan. Sang Raja mengetahui akan hal perilaku sang rakyat jelata tadi, maka ketika perjalanan sang rakyat jelata sudah mendekati istana Raja.  sang Raja memanggil dan menyuruh para pelayanannya untuk menyambut sang rakyat  jelata tersebut di Gerbang Istana. Pesan Raja, agar sang jelata diberi jamuan makanan yang enak-enak, minuman yang serba lezat, kemudian jika semua sudah selesai, maka persilahkan mandi ditempat pemandian yang indah dan menyenangkan, lalu, jika selesai mandi, berikan pakaian yang indah-indah serta wewangian yang mahal, setelah semua itu selesai, barulah sang jelata tadi, dihadapkan pada sang Raja.  Demikian pesan sang Raja.
Reaksi dari sang jelata terhadap jamuan sang Raja, bermacam-macam.
Diantara mereka yang dijamu ini, ada yang sudah puas dengan jamuan makan dan minum itu saja, mereka makan dengan sepuas-puasnya, mereka minum dengan sepuas-puasnya. Hingga, tidak dapat berdiri dan muntah. Sedangkan Raja sangat benci dengan orang yang makan dan minum berlebihan. Tetapi sang Raja juga maklum, bahwa porsi jamuan yang terhidang itu sangat banyak, sangat menggiurkan dan membangkitkan selera, dapat menyalurkan dahaga nafsu yang sifatnya rendahan. Nafsu yang bersifat jasmani semata. Sementara sebagian yang lain, setelah lulus dari ujian makan dan minum, karena mereka makan dan minum sekedarnya saja, hanya sibuk mandi-mandi  di kolam pemandian Istana yang menyenangkan dan mewah itu. Mereka tidak pernah menyelesaikan kesibukan aktivitas mandinya, untuk selanjutnya, berpakaian indah yang disediakan Istana serta minyak wanginya,  untuk selanjutnya menemui Raja.
Singkat kata, hanya mereka yang makan dan minum sederhana, mandi secara tidak berlebihan lalu memakai pakaian yang disediakan Istana lah yang berhasil dihadapkan dan bertemu dengan Rajanya.
Jadi, Si Alim, yang do’anya selalu dikabulkan Allah dan melahirkan sifat sombong dan riya diatas, ibaratnya rakyat jelata yang mendapat jamuan makan dan minum di gerbang pertama pintu Istana sang Raja. Dia memakan jamuan itu dengan sepuas-puasnya hingga muntah-muntah, dan tidak pernah melewati gerbang pertama Istana itu, untuk segera membersihkan tubuhnya. Kemudian, berpakaian yang selayaknya untuk menemui sang Raja. Singkat kata, sang Alim itu, kelak dia tidak akan pernah bertemu dengan Allah. Karena dia sudah puas dengan jamuan digerbang pertama saja.
Jadi, kita hendaknya, jangan tertipu dengan jamuan-jamuan Allah untuk mereka yang sudah mendekat pada Allah, semua jamuan itu bukanlah tujuan kita, tujuan kita yang sesungguhnya adalah bertemu dengan Allah. Memandang wajah Allah dan Allah ridho dengan kita. Demikian teman kami mengakhiri pembicaraannya.
Saya pun melongo, sungguh penggambaran iktibar sederhana. Tetapi, gambaran yang diberikannya sangat mengena, tentang fenomena sang Alim yang serba hebat itu. Tetapi, kadang ada perilaku sang Alim yang tidak matching disana, menyadari hal ini, saya pun tidak bisa berkata-kata, hanya mencoba untuk mengerti dan memahaminya.
Harapan saya, apa yang saya pahami dan ketahui itu, dapat juga dimengerti dan dipahami oleh saudara-saudara saya semua, makanya tulisan ini saya buat.…….. Wallahu A’lam bish-shawab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar