Minggu, 26 Juli 2015

Perjalanan Terakhir Bagas


Selamat Tahun baru dik Mini. Seperti biasa, ketika kita memasuki tahun baru, kita selalu mengharapkan sesuatu yang baru. Sesuatu yang lebih baik. Sesuatu yang memberikan makna lebih. Minimal lebih baik dari tahun sebelumnya.
Masih ingatkah dik Mini, di alun-alun kidul dulu, ketika Mas memberanikan diri, meminta dik Mini untuk menemani Mas, untuk melewati hari-hari esok, sepanjang masa, selama hayat dikandung badan. Mengarungi bahtera rumah tangga kita. Menghadang badai gelombang yang kelak, bisa saja menghadang bahtera rumah tangga kita, atau melewati jalan setapak, yang mungkin saja penuh onak dan duri. Hingga akhirnya, bahtera rumah tangga kita selamat hingga tepian tanah tujuan. Tanah harapan kita, yang disana kelak, kita akan hirup dan mereguk kebahagiaan itu sekuat kita dapat mereguk, semampunya kita dapat menikmati bahagia. Syurga sesungguhnya yang dapat kita ciptakan dan nikmati bersama.
Ketika itu, dik Mini, bertanya pada Mas. Mampukah dik Mini, melangkah bersama Mas, jika memang rumah tangga itu kelak, tidak selamanya berisi madu, tidak selamanya jalan yang dtempuh itu mulus dan datar? Melainkan, penuh gelombang, banyak onak dan durinya, pada jalan yang tidak mulus dan tidak rata itu. Ada nada cemas yang dapat Mas tangkap, ketika dik Mini, mengutarakan semuanya.
Sambil Mas rengkuh Mini, dalam pelukan Mas, Mas Menjawab, mengapa tidak? Fisik tak selalu mewakili kemampuan mengatasi apa yang akan terjadi. Meskipun dik Mini, kecil Imut-imut, khas wanita ningrat yang selalu harus dijaga dengan segala kehati-hatian agar tak retak. Tetapi sesungguhnya, tidak sepenuhnya demikian keadaannya. Sesuai nama dik Mini, Padmini, yang berarti wanita ulung, dari bahasa Sanskerta, Mas Percaya dik Mini, akan kuat, dik Mini, akan keluar sebagai pemenang, sebagai mana namanya. Wanita Ulung.
Demikian juga halnya dengan Mas. Mas akan sepenuh hati menjaga dik Mini, menjadi kapten kapal yang akan menghantarkan Bahtera itu dengan selamat, pada tanah seberang, tanah impian kita bersama, tanah dimana ada kebahagiaan yang sepenuhnya akan kita nikmati bersama. Tak percuma, orang tua Mas, memberi nama Mas, Bagas. Artinya tegap dan kuat. Hanya wanita ulung yang pantas untuk didampingi oleh lelaki kuat dan tegap. Padmini dan Bagas. Pasangan yang ditakdirkan untuk hidup berpasangan.
Dik Mini, ditahun baru ini. Gelombang untuk rumah tangga kita, kembali datang. Ada keputusan yang harus kita terima dengan ikhlas, bahwa “program” yang peduli pada pengentasan kemiskinan itu berakhir pertanggal 31 Desember 2014. Itu artinya, Mas akan segera menjadi pengangguran. Berita baik dibalik berita sedih itu, Mas akan segera kembali ke Tanah Jawa. Kembali ke rumah kita. Kembali merajut kehangatan cinta kita yang tertunda, karena kepergian Mas ke luar Jawa, untuk ikut membantu mengentaskan kemiskinan sekaligus memastikan agar asap di dapur kita tetap ngebul.
Berita sedihnya, Mas belum bisa langsung pulang. Mas harus menyelesaikan sisa pekerjaan yang belum tuntas hingga dua minggu kedepan, meski sudah tidak ada imbalan yang akan Mas terima. Tetapi, bukankah, tanggung jawab lebih utama dari pada sekedar imbalan sejumlah nominal uang yang harus kita terima. Tak ada yang gatis dik Mini, Allah akan mengganti jerih payah ini, dari pintu rezeki yang lain. Disamping Mas juga, harus menunggu redanya gelombang laut. Awal tahun ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, tak ada kapal yang berani menyeberang. Ombak laut kini, sungguh tak bersahabat.
Akhirnya, Mas berharap dik Mini untuk tetap tabah. Pada kesempatan pertama yang memungkinkan, Mas tentu, segera akan pulang. Percayalah, apa yang terjadi pada kita sekarang. Hanya satu episode dari sejumlah drama panjang rumah tangga kita. Perjalanan boleh menurun, hujan boleh turun. Tetapi, tanah kebahagiaan kita semakin dekat.
Peluk cium suamimu di tanah seberang…..(Bagas).
………………………………………………………………………….
Bagas, dengan teliti mengkoreksi surat untuk Mini. Sebelum dia kirimkan melalui email. Berkirim surat untuk isteri, terasa lebih sulit dibanding pada pacar. Jangan ada kebohongan dalam kalimat yag tertulis, karena Mini akan tahu ketika Bagas berbohong, jangan ada kata-kata lebay, karena Mini akan tahu perilaku Bagas dalam kehidupan kesehariannya pada Mini. Hindari kata-kata sedih, karena Mini adalah bagian dari Bagas, bagian yang harus dibuat tersenyum, bagian yang harus dibuat senang dan bahagia. Bagian dari diri, yang semaksimal mungkin tetap terjaga dari segala gangguan, hatta dalam bertutur dalam tulisan sekalipun.
Yakin tak ada lagi yang perlu diperbaiki. Bagas segera mengklik send, pada laman emailnya, dihadapan laptop tua miliknya. Dalam hitungan detik berikutnya, surat itu sudah tiba dirumahnya, di Pulau Jawa yang nun jauh disana, ditempat Mini dengan setia menunggu kepulangan Bagas.
*****
Langit cerah, angin berhembus sepoi-sepoi, cakrawala diatas sana, diliputi oleh warna biru melingkupi seluruh permukaan langit. Waktu baru menunjukkan pukul 9.25 WITa, jika saja semuanya lancar. Tepat pukul 10 nanti, kapal kayu Bahari ini, akan segera meninggalkan pelabuhan. Dan bila cuaca seperti ini terus menerus, maka, sekitar jam 19 keesokan harinya, mereka seluruh penumpang dan awak kapal sudah merapat di Pulau Jawa.
Bagas, duduk manis dibagian buritan, bagian inilah bagian yang paling nyaman menurutnya, disebelahnya ada tas gendong dua buah. Inilah harta miliknya yang akan dia bawa menemui Mini. Jumlah penumpang “Bahari” biasa-biasa saja, tidak kosong dan tidak penuh. Hanya sekitar empat puluh orang. Mungkin, untuk sebagian orang, ada keengganan untuk menyeberang di bulan Januari hingga Maret. Resikonya terlalu besar. Gelombang besar, sekali-kali masih sering datang. Laut sering tak bersahabat.
Terik matahari mulai menyengat kulit Bagas. Kalau saja angin tak berhembus kencang, mungin sejak tadi, kondisi demikian sudah mengganggunya. Sudah tiga jam sejak Bagas meninggalkan pelabuhan. Beberapa penumpang ada yang tertidur, sebagian ada yang bermain kartu remi di bagian geladak, mencoba menghilangkan kejenuhan. Tokh perjalanan ini, masih membutuhkan waktu sekitar 28 jam lagi untuk tiba di Pulau Jawa. Waktu yang lama itu, mungkin saja, dapat dipersingkat dengan menyibukkan diri, salah satunya, dengan bermain remi.
“Sudah Jam berapa Mas?” tanya Daeng Ambo Upe, dengan khas dialeg daerahnya yang kental. Teman Bagas dalam perjalanan di kapal Bahari itu.
“Jam satu siang, Daeng” jawab Bagas. Beruntung Bagas, mengenal Daeng Ambo Upe, lelaki sebayanya. Meski, dari tampangnya serem, tapi memiliki hati yang lembut.
“Kita sholat dulu yuk. Berjamaah saja” ajak Daeng Ambo Upe, dia tersenyum, kontras dengan kulitnya yang hitam, nampak gigi Daeng Ambo Upe demikian putih. .
“Baik Daeng. Tapi gimana caranya? Kapal ini gak punya Mushola, sementara goyangannya begitu kuat” jawab Bagas lagi. Bingung juga dia. Berjamaah dalam kondisi begini. Harus menghadap kemana, harus sholat dengan cara apa?
“Kita tetap disini saja. Gak perlu berdiri, cukup duduk saja. Sholat menghadap kemana, tokh, kemanapun kita menghadap, maka disana ada Allah” jawab Daeng Ambo Upe lagi. Merasa tak memiliki cukup ilmu dan mengerti soal laut. Bagas akhirnya menjadi makmum dari Daeng Ambo. Lelaki yang sukunya dikenal sebagai suku pelaut ulung itu.
*****
Seluruh barang-barang telah diungsikan dari geladak. Dibawah ke dalam, ke ruang barang yang letaknya sebelah bawah. Geladak itu sudah bersih. Beberapa lelaki, kini tinggal bercelana pendek. Mewaspadai segala kemungkinan yang terjadi. Kapten Kapal telah memberitahu, bahwa badai akan segera datang. Ambo Bengnga sudah naik ke atas anjungan. Melepaskan bajunya dan memakai baju kebesaran “kapten” Bugis, melakukan semacam ritual untuk tolak balak. Hanya dia sendiri. Kapten kapal yang Asli Bugis itu, punya keyakinan sendiri untuk keselamatan kapalnya. Kini dia sedang mempraktekan keyakinan itu. Demi sebuah tanggung jawab yang besar. Keselamatan seluruh anak buah kapal dan penumpang.
Daeng Ambo Upe juga telah bercelana pendek, baju atasnya dia ganti dengan jaket hujan. Bukan untuk menahan air, tapi untuk menahan hempasan air laut. begitu katanya pada Bagas.
“Mas Bagas, masuk ke bawah saja” kata Daeng Ambo upe,
“Tidak Daeng, biar saya ikut diatas saja.” bantah Bagas, ada sisi lelakinya yang tersinggung, mendengar ajakan Daeng Ambo Upe, agar dia masuk kebagian dalam kapal. Bagaimana mungkin dia pindah kebawah, sementara yang lain ikut menguras air.
“Tapi ini, sangat bahaya Mas” kata Ambo Upe lagi. Kini suaranya keras. Angin mulai kencang bertiup, kapal mulai naik turun, mengikuti gelombang yang mulai kuat.
“Saya akan coba Daeng. Membantu yang lain”.teriak Bagas lagi. Suaranya dia keraskan agar terdengar Ambo Upe.
“Tapi. Taruhannya Nyawa, Mas” teriak Ambo Upe lagi. Angin semakin kencang saja. Kapal Bahari semakin diayun-ayun, naik turun.
“Sampai batas kekuatan saya Daeng. Kalo gak kuat lagi, nanti masuk” Bagas coba meyakinkan Ambo Upe
“Oke Mas. Kita jibaku bersama yang lain” jawab Daeng Ambo Upe lagi. Dua anak muda itu, bersalaman. Persisnya salam komando. Layaknya perajurit Marinir.
Tiba-tiba…. Byuuuuurrrrr. Air laut itu, tumpah ke tengah geladak. Memporak porandakan semua yag ada di geladak. Ambo Upe terpisah dengan Bagas. Bagas terlempar sejauh tiga meter. Kepalanya membentur tiang geladak. Untung saja, tadi dia telah memakai helm, sesuai anjuran Ambo Upe. Kalau saja tidak, Bagas tak dapat membayangkan apa yang akan dia rasakan.
Sekali rengkuh, tagannya berpegang pada tiang geladak. Bagas coba berdiri. Lalu mulai menguras air yang masuk ke geladak. Masih sempat Bagas menghitung, ada delapan orang yang sama sepertinya dirinya, menguras air yang masuk geladak.
Zwiiiiingggg…. Tiba-tiba kapal ini, bergerak naik, cepat sekali. Sekitar delapan meter tingginya, dipuncak tertingginya, lalu menukik tajam dua kali jarak naiknya. Enam belas meter. Bayangkan! Itu artinya, sama dengan ketinggian bangunan lima lantai, terasa seakan copot jantung Bagas, perutnya seakan diaduk-aduk, untung dia masih bisa berpegangan. Sampai pada titik terendah…. Byuuuuurrrr. Kembali air laut tumpah ke seluruh permukaan geladak.
Hujan lebat turun. Langit hitam pekat, padahal feeling Bagas, paling baru jam tiga atau empat sore. Pandagan hanya satu setengah meter didepan. Ambo Upe sudah tak terlihat lagi. Berteriak sekencang-kencangnya sudah percuma. Suara ombak dan air hujan akan mengalahkan suara Bagas.
Tak ada pilihan bagi Bagas, menguras terus air yang masuk ke geladak. Untuk masuk ke bawah, jalan menuju sana sudah tak terlihat. Resiko lainnya, jika dia melepaskan pegangan, mungkin akan tergelincir lalu terseret air yang menggenangi geladak, lalu masuk ke laut. Itu artinya, dia tidak akan pernah bertemu lagi dengan Mini.
Zwiiiiingggg…. Kembali kapal bergerak naik, cepat sekali. Kini bercampur dengan melawan tetesan air hujan. Kecepatan tinggi dan benturan air hujan, terasa sakit di kulit Bagas. Pada paha dan kaki yang tak terlindungi, rasa sakit itu, begitu menyengat. Bayangkan rasa sakit yang akan Bagas rasa pada badannya, jika tak memakai jaket. Belum hilang rasa kaget itu, kembali kapal meluncur turun dengan derasnya. Pada sisi kanan yang bisa terlihat Bagas. Air laut sebesar bukit begitu dekat pada sisi kapalnya. Suaranya begitu bergemuruh. Menakutkan dan mengerikan. Belum lagi hujan lebat ini, sambaran kilat yang menakutkan, sekaligus memberikan sinar penerangan hingga jelas semua terlihat, hal yang mengerikan itu. Jelas tergambar di depan mata Bagas.
Entah berapa lama kejadian itu bewrlangsung dan terus berlangsung. Berjam-jam. Sangat lama terasa oleh Bagas.
Kembali…. Zwiiiiingggg…. Kembali kapal bergerak naik, cepat sekali. Tinggi..tingggi sekali. Pegangan Bagas terlepas. Dengan cepat, tubuhnya terhempas ke bagian tengah geladak… lalu ketika kapal dengan kecepatan tinggi menukik turun, kembali tubuh Bagas terlempar ke bagian anjungan. Kepala Bagas tepat mengenai tempat ikatan tali tambatan kapal. Lalu semuanya jadi nyaman.
*****
Kapal “Bahari” berjalan sangat tenang, ombak yang kemarin setinggi bukit itu, entah kemana perginya, seakan tak pernah ada. Kini, laut begitu tenang, bagaikan pualam saja laut terlihat oleh Bagas. Tak ada sedikitpun ombak. Bahkan bergoyangpun tidak. Kemana Ambo Upe? Mengapa tak terlihat. Mengapa kapal ini berjalan dengan sendirinya, tak ada mereka yang bermain remi, dibalik tumpukan barang seperti yang kemarin? Kemana Ambo Bengnga yang biasanya lewat, walau tak menyapa, tapi senyum itu, cukup mewakili kalau sang Kapten cukup ramah.
Tiba-tiba… Bagas telah berada di dalam rumah. Mengapa Mini, tak membalas salam yang dia ucapkan. Mini hanya tercenung di depan TV, surat yang beberapa minggu lalu dia emailkan, ternyata sudah dia print. Kini berada didalam genggamannya, sementara tangannya menopang dagunya, dengan wajah tertuju pada TV. Ada air mata yang merebak di pipi yang sangat Bagas rindukan itu. Mengapa Mini menangis? Mengapa dia tidak menyambut kedatangannya? Tak rindukah Mini pada  Bagas?
Diam-diam Bagas duduk di sebelah Mini. Melihat pada apa yang sedang dilihat Mini. Pada layar kaca, terlihat, seorang reporter sedang membacakan berita. Kapal Bahari yang ditumpang Bagas telah hilang selama enam hari. Telah meleset empat hari dari jadwal kedatangannya di Pelabuhan Tanjung Mas.
Bukankah itu, Kapal yang dia tumpangi? Lalu siapa aku yang sedang duduk di sebelah Mini sekarang? Bagas bingung, tak tahu apa arti itu semuanya.  Bagas masih mencoba menenangkan Mini, dia peluk Mini, dia ciumi, dia bisikkan kata-kata manis agar Mini tak sedih. Tapi mengapa semua tak berarti. Mini tetap pada pandangannya yang tertuju pada siaran TV, air mata itu tetap menetes. Bagas makin bingung. Bagaimana menjelaskan semua ini. bagaimana menjelaskan siapakah aku yang sekarang ini, yang sedang duduk disebelah Mini, tanpa dia ketahui?



Catatan:
Padmini*                   = wanita ulung (bhs Sanskerta)
Bagas*                      = Tegap/kuat (bhs Jawa)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar