Minggu, 12 Juli 2015

Penebusan Dosa



Penyeberangan antara Batam-Singapore bukanlah penyeberangan perdana bagiku, penyeberangan ini terlalu sering kulakukan, tiap saat, ketika ada keperluan. Tak siang tak malam. Namun, penyebrangan kali ini, agak berbeda dengan penyeberangan yang sudah-sudah. Karena Boss besarku menyuruh aku langsung datang ke rumahnya, bukan ke kantor sebagaimana yang biasa kulakukan.
Taksi yang kunaiki, kini sudah berada di West Coast Highway, kecepatannya tidak begitu tinggi, aku sengaja memperingatkan supirnya agar tidak ngebut. Prilaku yang khas pada prilaku Supir, takut ngebut ketika kendaraan tidak dikemudikannya sendiri. Ada rasa kurang percaya pada supir lain. 

Lalu, sebelum Keppel Viaduct Taksi berbelok ke kiri, memasuki Jalan Kampung Bahru Road, kecepatan taksi makin menurun, setelah melewati Mount Faber Road kembali taksi berbelok ke kiri memasuki daerah Telok Blangah Rise, akhirnya pada region 28 taksi berbelok ke kanan, tak lama kemudian, tibalah aku di rumah Boss besarku, rumah yang baru pertama kali aku kunjungi, rumah Tuan Wan Ahmad bin Wan Ramli.
Rumah besar itu terlihat sepi, seorang pemuda mempersilahkanku duduk di sisi sebelah luar, agak ke pinggir rumah, di depan garasi yang menempel pada rumah besar wan Ahmad. Tak berapa lama seorang PRT keluar membawakan segelas air pada sebotol air mineral, tiba-tiba saja, darah ini berdesir kencang.
“Tini…” Reflek aku menyebut nama itu, air dan botol air mineral hampir saja jatuh dari pegangan Tini. Kulihat Tini diam terpaku, agak menggigil. Keterkejutan yang luar biasa. Persis seperti yang kualami, saat itu.
“Hend…” katanya lirih. Tiba-tiba Tini sudah dalam pelukanku. Kami berdua hanyut dalam pelukan, semua reflek, tanpa rencana, tanpa rekayasa. Tiba-tiba, ada penolakan yang kurasa dari Tini. Mungkin Tini sadar, kami berpelukan di ruang terbuka, dan posisinya yang riskan, Tini hanya PRT, sedang aku seorang tamu asing, yang baru pertama kali datang ke rumah majikannya. Lalu…. Pelukan kami merenggang. Aku berdiri terpaku.
“Duduk Hend.”  kata Tini, setengah memerintah. Bak kambing congek aku menuruti perintah Tini..
“Baik Tin.” aku duduk, seperti yang disuruh Tini, tak ada perlawanan disitu.
“Tini kemana saja, aku mencari kemana-mana, tapi gak ketemu..” tanyaku, agak terbata
“kamu yang kemana Hend..” Tini membela diri, tak mau disalahkan.
“Sesuai janjiku Tin, aku pulang kampung untuk datang lagi. Tapi ketika aku datang, Tini sudah gak ada, begitu juga ketika aku datang ke Kediri, ayahmu tidak mau memberitahu keberadaan Tini dimana” cerocosku, aku berusaha menerangkan semuanya, agar dapat sedikit mengurangi beban bathin yang kurasakan selama ini.
“Tapi kamu datang terlambat hend, waktu itu aku bingung, waktu berjalan terus, perut ini gak bisa dibohongi hend, makin hari makin besar” suara Tini bergetar, keharuan sangat terasa pada suara itu. aku ikut trenyuh dan merasakan kegetiran dalam suara Tini.
********
Tini adalah adikku kelasku ketika kami sama-sama satu sekolah di kota Gudeg, kami awalnya hanya pacaran, semacam cinta monyet ala anak SMA, runtan runtun kemana-mana berdua, tak kenal siang tak kenal malam. Dunia seakan milik kami berdua. Kami tak memperdulikan semuanya.
Siang itu, pulang sekolah kami berdua duduk di alun-alun utara. Semuanya terlihat wajar, tak ada yang aneh. Langit diatas Jogya masih cerah, sinar matahari mencorong dengan sempurna. Aku dan Tini duduk pada bangku di bawah rindangnya pohon  beringin.
“Hend…” Tini, memanggil dengan mesranya, tapi ada keraguan dalam kalimat itu.
“iya Tin, ada apa sayang?” jawabku, aku genggam tangan Tini.
“Mau dibawa kemana hubungan kita Hend?” tanya Tini,
“Maksud Tini gimana?” tanyaku, aneh aja kok Tini bertanya tentang hubungan kami.
“Aku ingin kepastian Hend..”
“Tini gak percaya aku? Masih ragu dengan cinta kita. Ya kepernikahanlah ujung-ujunnya” jawabku lagi coba untuk menenangkan Tini. Aku rengkuh dia dalam pelukanku, lalu segera kulepaskan lagi, aku lupa ini ditengah alun-alun dan tengah hari. Tentu banyak mengundang perhatian orang. Aku tak ingin menjadi perhatian banyak orang.
“Tapi… Tini takut Hend” suara itu bergetar, aku heran, kok ketakutan itu, benar-benar Tini rasakan, nada suara itu, nada jujur, tak dibuat-buat, aku dapat merasakannya.
“Takut kenapa? Aku kan sudah jujur pada Tini, gak bohong dan menjanjikan untuk pernikahan kita kelak. Coba ceritakan kenapa takut, mestinya ada alasan logisnya kenapa takut?”
“Aku hamil Hend..” ucap Tini lirih, pelan suara itu, hampir tak terdengar, tapi bagiku sebuah gelegar besar, bagaikan sebuah bom. Mematikan. Dunia seakan runtuh. Aku sungguh limbung dan bingung.
“kok diam Hend?” ucap Tini lagi, ada air mata bening yang menetes dari mata indahnya.
“Aku tidak diam Tin, sedang berpikir. Sekarang aku putuskan pada Tini, aku akan bertanggung jawab. Kita akan nikah Tin.Tetapi aku juga tidak ingin durhaka pada orang tua. aku akan pulang dulu ke Tasik, memberitahu kedua orang tuaku, bahwa aku akan menikahi Titin. Aku bukan minta ijin, tapi hanya memberitahukan, diijinkan atau tidak, Titin akan tetap kunikahi” kataku tegas. Aku mencoba menutupi segala kegalauan yang baru saja menyergap diri ini.
“Bener Hend?” Tini masih bertanya, mungkin belum sepenuhnya percaya pada apa yang kuucapkan..
“Bener Tin..Suer” kupeluk Tini. Apapun resikonya aku akan siap hadapi. Inilah saatnya aku membuktikan diriku benar-benar laki-laki, paling tidak untuk orang yang aku cintai.
“lalu kapan Hend, akan datang ke rumah orang Tua Tini di Kediri?”
“Tini tunggu aja di Jogya, besok aku akan pulang ke Tasik, sekembalinya aku dari Tasik kita berdua akan ke Kediri, aku akan melamar Tini” jawabku mantap, aku sendiri tak tahu, darimana ketenangan ini kuperoleh. Atau ini hanya konpensasi dari rasa galauku.
Tetapi, semua hanya rencana, kenyataan berbicara lain, orang tuaku meninggal dua hari setelah kedatanganku ke kampung, dalam sebuah kecelakaan. Ketika itu, mobil yang ditumpangi Ayah, masuk jurang di daerah Kawali, sebelum aku sempat mengutarakan niatku pada Ayah, sebulan kemudian, ibuku menyusul pada bencana longsor di desaku. Pagi itu, ketika aku akan pergi ke kota untuk mengurus pensiun Ayah, ibu kulihat masih sehat dan segar bugar, kami masih sempat sarapan bersama. Tetapi ketika aku pulang lewat tengah hari, rumah kami telah hilang tertimbun tanah, ibuku tak sempat menyelematkan diri. Ikut tertimbun bersama rumah kami. Bencana yang beruntun itu, menyebabkan aku tertahan di kampung.
Ketika aku kembali, setelah dua bulan sejak aku meninggalkan Jogya, kudapati Tini sudah tidak ada, temen-temen gak ada yang tahu, ibu kost hanya memberitahukan kalau Tini kembali ke Kediri, siang itu aku ke Kediri menuju rumah Tini, dengan hanya berbekal alamat yang kumiliki, aku tiba di kampung Tini esok hari jam sepuluh pagi. Tetapi semuanya nihil. Orang tua Tini tak mau memberitahukan keberadaan anaknya. Firasatku mengatakan kalau mereka tahu semua, tetapi pura-pura tidak tahu. Bahkan ketika kuberitahu maksud kedatanganku untuk melamar anak mereka, mereka tak bereaksi sebagaimana mustinya orang tua. Apa mereka pikir aku terlalu muda, sehingga hanya akan membawa kesengsaraan bagi Tini, anak semata wayang mereka.
Sejak itulah perjalanan panjang mencari Tini dimulai, aku singgah dari satu kota ke kota lain, dari satu Provinsi ke Provinsi lain, hingga akhirnya, aku terdampar di Batam, sebagai seorang driver.  Kedatanganku ke rumah Tuan Wan Ahmad bin Wan Ramli karna beliau ingin membawaku ke Thailand sebagai supir pribadinya. Tetapi kedatangan yang pertama kerumah Tuan Wan Ahmad bin Wan Ramli, ternyata membawaku untuk bertemu dengan wanita yang kucari selama ini.
********
Telah enam bulan kami berkeluarga. Astuti buah cinta kami dulu sudah naik kelas dua SMA, aku kini, telah benar-benar menjadi laki-laki utuh, mampu mempertanggung-jawabkan dosa masa lalu pada Tini. Profesi supir yang dulu kugeluti kini berubah menjadi pedagang kecil di desa Tini, di lereng Gunung Kelud. Sempurna sudah kini kehidupan yang kujalani bersama Tini dan Astuti, ada rumah kecil hasil tabungan aku ketika masih kerja di Batam, ada warung kecil yang aku usahakan setiap hari sebagai hasil tabungan Tini selama kerja di Singapore, ada Astuti yang merasa utuh karena kedua orang tuanya telah bersatu kembali, ada mertua yang sudah welcome menyambut kedatanganku sebagai bagian dari keluarga mereka. Rasanya, sempurna sudah semuanya, tak kurang suatu apa. Terimakasih Tuhan, Engkau telah memberi aku kesempatan untuk menebus segala kesalahanku selama ini. kesalahan dari masa laluku.
***********
Tapi sekali lagi, perjalanan hidup itu. penuh misteri, tak satupun manusia yang tahu apa yang akan terjadi pada dirinya untuk esok hari, bahkan sedetik kemudianpun, manusia tidak tahu. Semuanya, hanya Tuhan yang tahu. Manusia hanya menjalani apa yang telah ditetapkan oleh Alllah padanya. Apakah ketentuan itu akan dijalani dengan ikhlas atau tidak  dengan ikhlas, tokh, ketentuan itu sudah terjadi dan harus dijalani.
Ditengah kebahagiaan yang sedang kuhirup dengan sempurna itu, tiba-tiba Gunung Kelud memuntahkan lahar panasnya. Membawa semua apa saja yang bernyawa dan yang tak bernyawa pada aliran larva yang dimuntahkannya. Termasuk kedua mertuaku yang sudah kuanggap sebagai pengganti orang tuaku sendiri dan Astuti anak semata wayang kami. Anak Astuti dan aku.
Tak ada Astuti, tak ada kedua mertua, tak ada rumah mungil itu, tak ada toko kecil itu, semuanya tuntas tandas ditelan bencana erupsi Gunung  Kelud.. Tak menyisakan apa-apa bagiku dan bagi Tini.
*****
Aku masih memeluk Tini, tak ada kata yang terucap, semalam aku telah bercerita banyak pada Tini, bahwa kita akan meninggalkan seluruh masa lalu kita, bersama erupsi Gunung Kelud yang telah meluluh lantakkan orang-orang terkasih dan benda-benda yang pernah menjadi kenangan manis bagi kami berdua. Biarlah kita mencari penghidupan baru di tanah baru, memulainya semua dari nol. Mungkin, sebagai bentuk penebusan dosa-dosa kami di masa lalu, yang masih belum terampuni semua oleh Allah SWT. Semoga saja, semua bencana yang kami terima, jika saja kami ikhlas menjalaninya, dapat menghapus segala dosa-dosa yang telah kami perbuat selama ini.
Tengah hari ini, seluruh barang kami yang hanya terdiri dari satu koper, telah kami letakkan pada tempatnya di kelas ekonomi KM Kelud, aku sengaja mengajak Tini untuk naik ke Geladak Kapal. Aku ingin mengajak Tini, memandang sepuasnya Pulau dimana kami dilahirkan dan dibesarkan dan yang terakhir, dimana kami baru saja mengecap bahagia hidup bersama orang-orang yang kami cintai bersama.
Mungkin saja, pandangan kami, pada Pulau yang akan kami tinggalkan ini, merupakan pandangan terakhir.
“Tin” bisikku  pada telinga Tini, sementara tangan kami berpegangan erat. Isyarat bahwa kami akan saling menguatkan, akan selalu bersatu. InsyaAllah tak akan berpisah lagi.
“Mas berharap suatu ketika kita akan kembali menjejakkan kaki kita di Pelabuhan ini lagi.” Kataku pada Tini. Tini tak menjawab ucapanku. Dia hanya menengadahkan wajahnya. Aku melihat ada kesenduan disitu. Lalu reflex, dia kurengkuh dalam pelukanku, ada rasa hangat disitu, ketika Tini, mempeerat pelukannya padaku.
Terompat kapal dengan suara keras itu mengejutkan kami. itu tandanya, kapal akan segera bergerak meninggalkan pelabuhan menuju tanah seberang, tanah baru, tempat harapan baru kami tambatkan, tempat segala sesuatu akan kami mulai dari nol.
“hend..”
“Hhmmmm”
Tak ada kata yang terucap, yang ada hanya ada dua tangan dengan jemari yang saling menggenggam erat, saling menguatkan, saling menyandarkan harap dan asa pada keduanya, pada satu sama lain, pelukan kami semakin erat saja.
Tekat kami sudah bulat. Ada asa yang akan kami jemput pada tanah baru yang akan kami songsong, pada sesuatu yang kami tidak tahu apa bentuk dan rupanya kelak. Pelan-pelan kapal menjauh dari daratan, ada dua pasang mata yang menitikan cairan hangat dari pelupuk matanya, entah sebagai pertanda apa, apakah itu artinya sebagai bentuk keniscayaan, bila mungkin, suatu hari kelak, kami masih diberi kesempatan untuk kembali menjejakkan kaki ini disana. Tanah yang baru kami tinggalkan, sebagai bagian dari masa lalu kami, masa lalu aku dan Tini.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar