Kamis, 23 Juli 2015

Pada Sidang Sugih

Ruang ini tidak begitu luas, tetapi bagiku terasa amat luas, pada sisi depan kiri, duduk Jaksa penuntut umum.  Pada bagian depan tengah, terdiri dari tiga kursi, yang terdiri dari dua kursi Hakim Anggota yang mengapit kursi tengah Hakim Ketua. Pada sisi kanan, agak mundur sedikit, terdapat  kursi yang menghadap kursiku, itulah kursi pengacara, sedang aku sendiri, duduk pada sisi tengah, tepat dihadapan Hakim Ketua, sebagai terdakwa.
Hari ini, adalah sidang yang kesekian kalinya, jika semuanya lancar, maka setelah sidang hari ini, akan dilanjutkan sidang berikutnya, yakni sidang tuntutan Jaksa, yang menuntut hukuman yang pantas untuk aku terima,  setelah itu baru sidang putusan Hakim, putusan yang menentukan bagi nasibku telak, berapa lama aku harus mendekam dalam LP.
Semua peserta sidang sudah lengkap, aku datang dengan pengawalan dua anggota yang berwajib, tidak memakai borgol memang, tetapi dua petugas yang mengawalku memakai senjata api lengkap. Bagiku tidak berpengaruh apakah mereka memakai senjata atau tidak, aku terlalu sibuk dengan kondisi kejiwaanku, dibanding dengan memikirkan usaha untuk kabur atau memikirkan senjata yang mereka bawa.
Hakim Ketua telah mengetok palu, tanda sidang di mulai. Semua mata tertuju padaku dan pada Hakim anggota yang menginterogasiku.
Hakim Anggota (HA):”Apakah saudara terdakwa sehat?”
Terdakwa/Aku (T):“Sehat yang Mulia” Jawabku singkat.
HA:”Apakah bisa dan siap untuk mengikuti Sidang?”
T:”Siap yang mulia”.
HA:”Ketika peristiwa itu terjadi, siapa saja yang ada di TKP ketika itu?”
T:”Hanya kami bertiga yang mulia”
HA:”Tolong disebutkan”
T:”Saya, Nita dan Korban”
HA:”Ok, terima kasih”
T:”Tapi yang mulia, Saya bukan pelakunya, pasti ada orang lain yang melakukannya.”
HA:”Saudara terdakwa, ini persidangan, kami tidak menanyakan alibi saudara, yang kami perlu tahu, data-data dan bukti-bukti yang ada di TKP. Dari sana kami akan mengambil keputusan. Simpan saja alibi saudara. Kesimpulan yang akan kami ambil tidak dipengaruhi oleh alibi. Tetapi oleh alat bukti”
T:”Tapi, saya benar-benar bukan pelakunya, yang Mulia”
HA:”Sekali lagi saya ingatkan, ini persidangan, kami hanya memerlukan bukti, bukan alibi”
******
 Persidangan sudah mengarah pada satu kesimpulan, bahwa aku adalah pelaku pembunuhan terhadap Sugih, semua bukti menunjukan kearah sana, sangat akurat dan tak terbantahkan. Pengacaraku sendiri sudah mati akal, sepertinya segala upaya yang dilakukannya tak akan merubah keadaan lagi. Akulah sang pembunuh Sugih.
Pada sidang terakhir kemarin, Sidang tuntutan Jaksa, Jaksa telah menuntut hukuman untukku selama lima belas tahun, potong masa tahanan. Aku tinggal menunggu sidang terakhir, sidang Putusan Hakim. Menurut Pengacaraku, kondisi tidak akan banyak berubah, putusan hukuman untukku akan lima belas tahun, atau kalaupun ada pengurangan, paling ringan aku akan di Vonis selama dua belas tahun. Keputusan yang sangat menyakitkan. Aku yang tidak melakukan pembunuhan, harus menerima hukuman selama dua belas tahun  hingga lima belas tahun.
Apa dosaku pada Allah, hingga aku harus menanggung akibat dari apa yang tidak pernah kulakukan sama sekali. Sugih memang brengsek, sejak hidupnya, sudah banyak membuatku susah, hingga ketika dia mati sekalipun, masih saja menyeretku dalam kesusahan. Tak tanggung-tanggung, dia menyeretku dalam tahanan selama dua belas hingga lima belas tahun penjara. Sungguh keterlaluan manusia yang bernama Sugih itu.
Malam kejadian itu, Sugih datang kerumahku bersama pacar selingkuhannya Nita, tidak sopan memang, datang ke rumah orang jam setengah dua belas malam. Malam itu Sugih memaksaku untuk memberikannya uang komisi penjualan Mobil yang berhasil aku jual dua hari sebelumnya, begitu menurut Sugih. Aku katakan  pada Sugih, bahwa penjualan itu batal. Calon pembeli membatalkan pembelian mobil yang sudah kami sepakati karena toko miliknya terbakar. Calon pembeli hanya memberiku uang seratus ribu sebagai konpensasinya. Sugih tak percaya, lalu segala sumpah serapah keluar dari mulutnya. Aku hanya diam saja, tidak melayani perilaku Sugih padaku, aku menyadari, Sugih malam itu memang sangat memerlukan uang untuk dia gunakan membayar hotel, agar dia bisa menghabiskan malam itu di hotel bersama dengan selingkuhannya Nita.
Lelah dengan kemarahannya, lalu kami bicara hal-hal lain, setengah satu dinihari, Sugih pamit untuk pulang, aku masih sempat mengantarkan Sugih dan Nita ke halaman, ke tempat dimana mobilnya di parkir. Ketika aku kembali menuju rumah, baru kira-kira aku akan memasuki pintu rumah, aku mendengat Nita berteriak-teriak minta tolong. Aku segera kembali pada Sugih dan Nita. Kulihat Sugih sudah bersimbah darah, pada lehernya mengucur banyak sekali darah. Lalu tanpa pikir panjang, Sugih segera kularikan ke Rumah Sakit terdekat. Tetapi ajal tak ada yang tahu kapan tiba. Begitu sampai di Rumah Sakit nyawa Sugih tak tertolong. Dia menghembuskan napas terakhir. Polisi berkesimpulan akulah sang algojo itu. Akibatnya, disinilah sekarang aku berada. Pada Sidang terakhir nanti, vonis dua belas hingga lima belas tahun sudah menungguku. Aku akan habiskan lima belas tahun dari sebagian usiaku di Lembaga Pemasyarakatan.
*****
Ruang sidang sudah lengkap, Jaksa Penuntut Umum, Hakim Anggota dua Orang, ditengah antara keduanya Hakim anggota itu, ada Hakim Ketua. Pengacaraku juga sudah hadir, disebelah pengacara, duduk Nita. Hari ini, adalah hari dijatuhkannya Vonis untukku. Setelah vonis dijatuhkan, maka aku akan resmi menjadi narapidana. Pagi tadi aku sudah mandi bersih-bersih, mempersiapkan mentalku untuk mendengar hal terburuk yang akan menimpaku. Aku juga sudah minta tolong pada pengacara untuk membelikan nasi Padang, makanan mewah yang tak pernah kurasakan selama empat bulan terakhir ini.
Hakim Ketua telah mengetokan palu, tanda sidang dimulai. Lalu, mulailah pertanyaan-pertanyaan standarpun kembali ditanyakan padaku, seperti; Apakah aku sehat, apakah aku siap untuk mengikuti jalannya Sidang. Lalu… setelah itu, ada jeda sejenak yang sunyi. Jeda sejenak yang bagiku terasa begitu lama dan mencekam.
Hening……Tiba-tiba dari belakang tempat dudukku, terdengar suara berat dan lantang, aku menoleh, pada asal suara itu datang. Ternyata, Daeng Sirpa. Suami Nita.
“Hakim Ketua, Saya Suami dari Saksi Nita, Nama Saya Daeng Sirpa. Mohon saya diberi waktu, saya ingin memberikan pengakuan” Demikian suara itu, begitu berat dan berwibawa, menyentakkan seluruh pengunjung sidang pagi itu.
“Saudara Daeng Sirpa… Silahkan!” demikian Hakim Ketua.
“Sayalah pembunuh Sugih, bukan terdakwa”. Ruang Sidang tiba-tiba sunyi,oleh suara Daeng Sirpa menyihir semua hadirin, semua mata tertuju pada daeng Sirpa. Termasuk Hakim Ketua.
“Tolong saudara ceritakan dengan jelas, singkat saja, langsung masuk pada masalah, jangan bertele-tele…” Demikian Hakim Ketua.
“Pada malam kejadian itu, saya baru tiga hari pulang dari berlayar. Ketika saya pulang, rumah saya dapati dalam kondisi kosong, saya pikir, Nita istri saya sedang keluar untuk urusan sebentar, tapi hingga malam hari belum pulang juga, malamnya saya dapat informasi bahwa istri saya sedang tergila-gila dengan korban, begundal makelar mobil second itu. Saya panas yang mulia. Saya lalu mengasah golok dan mencarinya. Dua hari saya cari tanpa hasil, hingga akhirnya, saya tahu mereka berdua sedang di rumah terdakwa. Tekad saya sudah bulat, saya ingin membuktikan informasi yang saya terima. Jika informasi itu benar, maka hukuman yang wajar untuk korban adalah kepalanya harus berpisah dengan badannya. Ini soal sirri yang mulia, soal harga diri. Dan itu artinya, hukuman yang layak untuk korban adalah nyawa” demikian Daeng Sirpa menceritakan seluruh kejadiannya, singkat dan jelas, tanpa bertele-tele sesuai permintaan Hakim Ketua.
“Saya bersembunyi hanya empat meter dari mobil korban, dibalik pohon rambutan milik terdakwa. Saya masih melihat terdakwa mengantarkan Sugih dan Nita ke mobilnya, lalu terdakwa berbalik meninggalkan korban. Setelah terdakwa berbalik, saya lihat korban memeluk dan mencium Nita dengan mesra dan lama. Darah saya mendidih yang mulia. Apa yang saya lihat, sudah cukup bagi saya untuk membenarkan semua informasi yang saya terima. Saya keluar dari persembunyian. Lalu dengan sekali tebas, saya lihat kepala korban terkulai. Saya yakin, sasaran saya tidak meleset, pas pada lehernya. Lalu saya pun menghilang dikegelapan malam. Begitulah kejadian sesungguhnya yang mulia” lanjut Daeng Sirpa menjelaskan kejadiannya dengan singkat dan gamblang.
Semua terdiam, ruangan sidang sunyi senyap, entah apa yang mereka rasakan dan pikirkan, mungkin saja semua tak menyangka dengan pengakuan Daeng Sirpa atau semua serem membayangkan apa yang dilakukan Daeng Sirpa terhadap korban.
Tiba-tiba, Hakim Ketua mengetok palu. “Sidang kita tunda hingga minggu depan. Pada Petugas,  tolong Daeng Sirpa diamankan”
Sidangpun ditunda. Pada ruang Sidang terjadi kegaduhan, terdengar olehku suara-suara yang saling bergaung, mereka tak menyangka, jika pembunuh Sugih adalah Daeng Sirpa. Lelaki yang selama ini terkenal sebagai pribadi yang ramah dan santun. Beberapa lagi, ada yang memperbincangkan kejantanan Daeng Sirpa yang dengan jantan mengakui perbuatannya. Daeng Sirpa yang dengan jantan telah menegakkan harga dirinya dengan Sirri.
Beberapa lagi, ada yang yang melihatku dengan kasihan, aku yang tidak melakukan apa-apa harus menanggung siding yang panjang, harus mendekam, di tahanan kejaksaan.
Namun semua kegaduhan itu, aku tak dapat mengikutinya lebih lama lagi. Karena, beberapa Polisi segera menghampiri kursi tempat dudukku, mempersilahkan aku berdiri untuk meninggalkan ruang,siding dengan pengawalan ketat mereka, untuk akhirnya, mereka masukkan kembali ke rumah tahanan titipan kejaksaan. Untuk selanjutnya, untuk dihadirkan kembali pada sidang selanjutnya.
  
                                                                          *****        
Pagi ini, aku sudah mengemas semua pakaianku, aku akan meninggalkan rutan tempat aku mendekam selama lima bulan ini. Tadinya, selepasnya aku dari rutan ini, aku akan menziarahi makam Sugih, akan kuhajar habis makam orang sialan itu, orang yang selama hidupnya, bahkan ketika sudah mati sekalipun, masih membuatku susah. Tetapi akal sehatku mengatakan, kasihan dia, boro-boro dia akan membalas seranganku, sedangkan cacing tanah yang memakan isi perut dan kepalanya saja dia tak mampu untuk mencegahnya. Lalu kuputuskan untuk meludahi makamnya, karena itu, hukuman teringan yang paling pantas diterima Sugih. Tetapi sekali lagi, rencana itu aku ralat, sayang rasanya membuang ludah untuk orang yang tak pantas itu, lalu kuputuskan saja untuk merubah segalanya.
Aku akan focus pada diriku sendiri, sudah cukup rasanya, waktu lima bulan dalam usiaku habis sia-sia mendekam dalam penjara, tahanan kejaksaan ini, untuk sesuatu yang aku tak pernah lakukan.
Sudah kuputuskan dengan tekad bulat. Sekeluarku beberapa menit lagi, aku akan melangkah maju, tanpa menoleh lagi ke belakang, pada masa laluku, pada kota ini. Aku akan melangkah terus, meninggalkan semuanya, menjemput masa depanku, pada waktu yang baru, pada tempat yang baru, pada kota yang baru. Pada semua yang tidak memiliki hubungan dengan semua masa lalu.

Masih ada masa depan yang perlu kuperjuangkan. Untuk kebaikan. Kebaikan untuk diri sendiri, dan kebaikan yang akan kuperbuat untuk manusia yang lain, sebagai wujud dari rasa syukurkuku padaNya. Pada Dia yang telah menyayangiku, yang telah membebaskanku pada detik-detik terakhir sebelum putusan hakim jatuh. Untuk itu, aku harus menyayangi ciptaanNya juga. Hidup ini adalah pilihan, maka, aku putuskan untuk memilih yang terbaik, sedapat yang bisa kulakukan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar