Selasa, 14 Juli 2015

Adik Iparku Besanku



Kalau ada lelaki yang kokoh bak batu karang, maka akulah orangnya. Bukannya, aku tak punya kelemahan, tentu saja, aku memilikinya, namanya juga manusia. Tetapi di depan Assad, aku harus bersikap dan berperilaku sebagai bapak Singa. Bahkan jauh sebelum aku memilki anak, Assad. Ayahku selalu mengingatkan akan arti namaku. Togar.Kau tahu arti Togar? Begitu selalu Ayah bertanya. Artinya adalah tegar, kokoh, bak batu karang di tepi laut. Selalu dihantam ombak dan badai. Namun, selalu saja berdiri kokoh tak bergeming. Bahkan, kau harus lebih kuat dari itu. Batu karang tak memiliki otak dan tak sekolah. Tetapi, kau memiliki dua-duanya. Itulah Ayah, selalu menjawab apa yang dia tanyakan sendiri. Jadi bagiku, perilaku  kokoh bak batu karang itu, bukan hanya di depan anakku, Assad, tetapi juga sebuah amanat yang diberikan Ayah atas nama yang kusandang.
Aku masih ingat, bagaimana marahnya Ayah, ketika aku pulang sekolah, dilihatnya aku berdarah pada pipi. Ayah berkesimpulan kalau aku kalah berkelahi. Padahal aku sudah meng-KO-kan dua temanku. Ayah tak percaya. Malam itu, selesai makan malam. Sekitar jam tujuh malam, aku dipaksa Ayah untuk menemaninya menemui Amanguda. Rumah Amang uda, berjarak tiga kilo dari rumah Ayah, melewati jalan setapak, semak belukar dan tanpa tanpa rumah diantaranya. Pada Amanguda, Ayah menitipkan aku untuk diajar beladiri. Jadilah aku, sejak hari itu, setiap sore berjalan kaki ke rumah Amanguda untuk malam hari diajar  bela diri. Lalu esok pagi pulang kerumah untuk sekolah dan kembali lagi sore hari ke rumah Amanguda untuk belajar bela diri. Begitu dan begitu, hingga aku tamat SMP. Masa-masa SMA di kampung aku lewati secara damai. Aku tak dibebani lagi dengan acara belajar  ilmu beladiri.  Ada inang yang selalu menemani di rumah. Aku tak lagi ke rumah Amanguda setiap sore, karena menurut Amanguda, seluruh “kepandaian”nya sudah dia turunkan padaku.
******
Bus Sibual-buali, sudah menghidupkan mesinnya, penumpang yang akan ke Jawa, semua sudah mulai naik, Inang masih mengelus kepalaku. Tak ada kata yang terucap, malam tadi, Inang sudah banyak bicara padaku. Sementara, Ayah hanya berdiri disebelah Inang, memperhatikan kami. Hari ini, aku akan ke Bandung, untuk melanjutkan kuliah ke ITB. Tekadku sudah bulat, aku akan kuliah di Institut terkenal di negri ini, jurusan yang akan kuambil Tekhnik Sipil, karena itulah jurusan yang diambil Soekarno. Jika kelak gagal, maka aku akan masuk Akabri dan berusaha untuk masuk jurusan Angkatan Darat, karena jurusan itu yang dipilih Soeharto. Tak ada pilihan lain. Gagal dua-duanya, maka aku akan jadi Preman besar. Modal dasar aku punya. Pintar secara akademis, Jago beladiri dan Tegar bak batu karang. Lengkap sudah, semua persyaratan yang dibutuhkan untuk jadi preman besar.
“Bang, Bus akan segera berangkat” ada suara yang mengingatkanku, aku menoleh, ternyata kondektur Bus.
Aku berdiri, kupeluk Inang, lalu kupeluk Ayah, ada tetes air bening yang jatuh dipipi Inang, ketika aku memeluknya.
Bus bergerak, Inang melambaikan tangannya, Ayah juga melambaikan tangannya. Aku memandang mereka berdua, tak berkedip, Bus terus bergerak, hingga Inang dan Ayah hilang dari pandanganku. Ada rasa hangat di kedua kelopak mata ini, lalu ada tetes air bening yang tumpah membasahi pipiku. Inilah tangisan pertama Togar dalam sejarah hidupnya.
******
Langit sudah gelap, lampu taman sudah sejak satu jam lalu menerangi taman ini. Aku masih setia duduk di tepi jalan Supratman, pada Taman sebelah Gedung Sate itu.  Irma janji akan datang tepat jam tujuh nanti, setelah mata kuliah terakhir selesai. Tak ada yang membuatku buru-buru, semuanya sudah selesai. Sidang terakhir sudah selesai, pagi tadi. Aku sudah layak menyandang gelar Ir di depan namaku. Jika saja acara wisuda tak ada dalam basa-basi perkuliahan di negri tercinta ini.
“Dah lama nunggu Bang” suara itu sangat aku kenal, Irma.
“Baru setengah jam, gimana Irma? Lancar kuliah tadi?” tanyaku
“Lancar bang, biasa… ada sedikit masalah”
“Masalah itu ma?” tanyaku, kami melangkah sambil berjalan menuju motor bututku.
“Biasa bang, Kurniawan… dosen muda itu tertarik pada Irma”
“Hahhh? Apa perlu Abang buat perhitungan sama dia?”
“Gak perlu bang..” tangan Irma, menyentuh jemariku, ku genggam jemarinya, isyarat sentuhan itu, menyadarkanku. Aku telah dipintu akhir, meninggalkan dunia akademis. Sikap dan prilakuku harus mulai diseimbangkan.
“Bang…”
“Ya….”
“Bagaimana dengan hasil Sidang tadi?” tanya Irma.
“Abang lulus dengan hasil sangat memuaskan” kuraih Irma dalam pelukanku, tak ada kata terucap dari bibir Irma. Pelukan Irma makin erat, isyarat Irma bersyukur dan gembira dengan perolehan hasil sidang tadi siang.
“Bang..apa rencana Abang selanjutnya?”
Aku tak langsung menjawab, kubimbing Irma untuk duduk, sudah pada saat krusial aku harus menbicarakan ini pada Irma.
“Itulah masalahnya. Abang ingin, peristiwa wisuda nanti dihadiri oleh orang-orang yang dekat sama Abang”
“Maksudnya..?”
“Abang ingin Inang dan Ayah hadir. Tapi mau bilang apa, Inang sudah setahun lalu berpulang, Ayah mungkin tak bisa hadir. Kondisinya tak memungkinkan untuk itu…”
“Kan ada Irma..”
“Iya sayang…. Tapi masalahnya..”
“Masalahnya kenapa?”
“Irma baru sebatas pacar Abang..”
“Emang kenapa kalo sebatas pacar? Abang gak enak hati? Karna ada Ellen, ada Misye yang mantan Abang, lalu Abang gak enak pada mereka?”
“hahahaha…. Gak githu..”
“Lalu apa? Kenapa ragu? Tidak biasanya bang Togar ragu dalam hidupnya” Irma mencecarku dengan pertanyaan yang menyudutkanku. Ku raih jemari itu, kini giliranku menenangkan Irma dengan genggamanku. Saat-saat begini yang dibutuhkan Irma, sentuhanku, yang mewakili hati ini, biar dia tahu, aku benar-benar berpihak padanya. Irma merebahkan kepalanya di bahuku.
“Kenapa Abang gak membuat keputusan sekarang, mumpung masih ada waktu”
“Maksud Irma gimana..?” tanyaku sambil membelai rambut Irma.
“Lamar Irma. Lalu, bawa Irma ke wisuda Abang bukan sebagai pacar, tetapi sebagai calon istri Abang”. Aku tersentak kaget. Tak menyangka kalimat itu akan keluar dari mulut Irma. Secepat itu, seyakin itu dia mengucapkannya.
“Abang gak salah dengar?” Kini Irma duduk disebelahku. Aku ingin pembicaraan ini dengan penuh ratio, tinggalkan sementara perasaan sentimental itu.
“Gak salah bang”
“Irma yakin dengan apa yang Irma katakan?”
“Yakin.. bang”
“Baiklah Irma, Abang akan datang besok malam, Abang akan lamar Irma pada Ayah Irma, Prof Natakusumah” dengan mantap itu kuucapkan pada Irma. Tak ada kamus dalam diri Togar, tantangan yang ditolak atau dihindari, harus siap untuk dilayani. Apapun itu,  Apalagi, tantangan itu, datang dari orang tercinta.  Irma.
*******
Assad terlelap di sebelahku, wajar saja. Dinihari setengah empat begini, sedang enak-enaknya tidur. Aku membelokkan kendaraan arah kiri, pintu Toll Kanci berada di depanku, sebentar lagi aku masuk Toll kanci. Kalau saja semuanya lancar jam tujuh pagi nanti,kendaraan ini akan masuk kota Bandung. Kota yang hampir tiga puluh tahun tak pernah kuinjak lagi. Peristiwa wisuda itu, telah menyebabkan aku meninggalkan Bandung. Aku diwisuda tanpa pendamping. Irma merengek untuk mendampingiku, tapi aku tetap pada pendirianku, aku tak mau didampingi oleh pacar, aku hanya mau didampingi oleh calon istri. Salahnya Prof Natakusumah sendiri, mengapa dia tolak lamaranku. Selesai semua urusanku dengan kampus, aku segera hijrah ke Pekalongan. Di Pekalongan, ku mulai semuanya dari nol, hingga kumiliki semuanya. Aku tak mau dilecehkan lagi, hanya karena status sosial dan kepemilikan materi. Hingga ketika aku melamar Retno, aku diterima dengan suka cita. Sayangnya, perjalanan bahagia rumah tangga itu, harus berakhir ketika Assad baru saja menyelesaikan sekolah dasar.
Kini, Assad yang sedang lelap, memintaku untuk melamarkan Fey.
“Sudah sampai mana Yah” tanya Assad, dia terbangun dari tidur lelapnya.
“Baru sampai Jamblang, Palimanan. Selesai sholat Subuh sebentar lagi, kita ngopi” kataku.
“Ayah gak lelah?”
“Karna lelah itu, kita sholat subuh dulu, lalu ngopi” aku menghentikan mobil di depan Mesjid di kiri jalan. Ada udara segar subuh itu. Akan lebih segar lagi setelah wudhu nanti, lalu makin segar lagi setelah sholat subuh. Jiwa yang segar itu, makin komplet jika tubuh kasarnya disiram dengan kopi panas.
*******
“Kau sudah lama kenal Fey?”
“Sejak semester empat yah.  Orangnya baik.”
“Yakin, kalau lamaran ini, akan diterima oleh keluarga Fey” aku kaget dengan pertanyaanku sendiri, sekelebat kembali ingatanku pada Irma, bagaimana keluarganya menolakku, hanya lantaran aku bukan siapa-siapa, tak memiliki apa-apa, hanya seorang Insinyur, yang bahkan diwisudapun belum.
“Yakin yah, mereka datang dari keluarga akademisi, kakeknya almarhum,  Professor, ibu dan uwaknya Dosen” jawab Assad lagi. Jawaban polos, untung dia tak menangkap kenapa aku bertanya begitu.
Kota kadipaten telah kami lewati, kini jalan mulai menanjak, berbelok kiri kanan diselingi dengan tanjakan dan turunan, apalagi ketika kendaraan yang kukemudikan memasuki daerah Nyalindung. Aku kagum dengan Nyalindung kini, disitu kini berdiri dengan megahnya Mesjid Besar.  Padahal dulu, daerah ini tempat mangkalnya perempuan-perempuan nakal, dengan berdirinya Mesjid, maka perempuan-perempuan nakal itu, berangsur-angsur  menghilang, cara cerdas memberantas kemaksiatan dengan cara damai. Tak lama lagi, kami akan masuk kota Sumedang. Kota dimana aku pernah menziarahi makam Cut Nyak Dien dan Ibunda Proklamator Bung Hatta.
“Mereka memang banyak bertanya  tentang keluarga kita, yah” Assad memulai lagi
“Terus, jawabmu apa?”
“Assad cerita apa adanya, tak ada yang disembunyikan”
“Misalnya?” tanyaku lagi.
“Assad cerita, kalau Assad anak tunggal, Ayah dulu, juga kuliah di Bandung, di ITB. Ibu telah meninggal ketika Assad masih kelas 5 SD. Ayah sekarang berprofessi sebagai pengusaha sukses yang kini sedang merintis perguruan Tinggi  di Pekalongan”
“Tak kau katakan kalau Ayahmu ini, duda”
“Iyalah, itu gak ketinggalan Assad katakan pada mereka”
“Awas, jangan kau sebut alasan, Ayahmu menduda, karena gak laku”
“Gak lah yah….. Assad, katakan pada mereka,  kalau Ayah menduda, karena ingin Konsen membesarkan dan menjadikan Assad menjadi orang” jawab Assad polos. Lalu kami berdua tertawa. Anak ini begitu lugunya, padahal sebentar lagi dia akan menikah.
“Bahkan foto Assad berdua dengan Ayah mereka punya Yah, maafkan Assad yang sudah kasih foto Ayah pada mereka tanpa Ijin Ayah”
“Gak papa, santai aja. Biar mereka tahu, Ayahmu ini gagah. Gak seganteng kau memang, tapi Ayahmu lebih jantan kan?” mendengar kalimatku yang terakhir Assad senyum. Lalu kami tertawa bersama. Kendaraan ini, memasuki kota Sumedang, aku sengaja masuk kota, hitung-hitung sambil bernostalgia. Lalu sampai alun-alun, di ujung Lembaga Pemasyarakatan kami berbelok ke kanan, lalu di ujung lapangan alun-alun itu, ada jalan yang berbelok ke kiri, disanalah beristirahat dua orang penting negri ini. Cut Nyak Dien dan Ibunda dari proklamator Moh Hatta.
******
Ruang tamu itu cukup besar, aku dan Assad duduk berdampingan. Di seberang meja duduk Fey, Ibunya, nenek Fey dan uwak Fey. Sementara diatas meja, seperangkat oleh-oleh yang kami bawa, sebagai tradisi pemanis dalam acara lamaran ini.
Perasaanku terasa agak aneh, ada apa? Aku sendiri tidak tahu, yang pasti, wajah ibu Fey itu, tak asing bagiku. Tetapi aku sendiri tak tahu persis dimana kami pernah ketemu. Perasaan, teman kuliahku dulu, semuanya cowok, lingkungan tempat kost di Dago tak ada wanita juga, lalu dimana aku pernah ketemu. Wajah itu seakan tidak asing. Uwak Fey lebih aneh lagi. Ada apa dengan wajah itu? Kenapa ditutupi?  Bukankah dia, menurut cerita Assad Dosen, dimana logikanya, Dosen mengajar mahasiswanya dengan wajah tertutup begitu. Yang lebih aneh lagi,  sejak tadi tak mengeluarkan kata sepatahpun.
Setelah acara basa-basi, saling memperkenalkan diri, lalu cerita sedikit tentang, aku pernah kuliah di bandung, selesai kuliah tahun berapa. Akupun masuk pada niatan awal, melamar Fey untuk Assad.
“Jadi demikianlah bu, maksud kedatangan saya untuk melamar anak Ibu, untuk Putra semata wayang saya Assad. Menyatukan dua keluarga besar ini, melalui pernikahan anak kita. Mohon maaf, kami hanya datang berdua, Ibu Assad telah lama pergi meninggalkan kami, ketika Assad masih kelas 5 SD” demikian aku melamar Fey pada ibunya dengan kalimat yang singkat saja. Kini, giliran ibu Fey yang menjawabnya, apakah lamaran ini, akan diterima atau ditolak. Aku semakin gak karuan rasa saja, takut kejadian yang kualami dulu, akan berulang pada Assad putra semata wayangku.
“Terima kasih atas kedatangan Pak Togar yang bermaksud untuk meminang Fey putri kami. Baiknya saya panggil Bang Togar saja ya Pak? Prinsipnya, kami menerima pinangan Bang Togar untuk Assad dan Fey. Tetapi sarat yang kami ajukan sungguh berat. Apakah Bang Togar sanggup?” demikian jawaban ibu Fey. Aku kaget. Apa pula sarat berat itu? Kalau soal materi, tidak masalah. Togar yang datang ini, bukan Togar yang datang melamar Irma tempo dulu. Berapapun nominalnya sebut saja, aku akan sanggupi, aku tak akan mengecewakan Assad hanya karena alasan soal materi.
“Mohon maaf bu, apa sarat berat itu ya? Kalau saya boleh meminta, lebih baik ibu sebutkan saja, maklum saya orangnya suka berterus terang. Lebih terbuka lebih baik” jawabku, aku tak mau, makin larut dengan segala prasangka, yang mungkin saja tidak benar.
“Akh…. Bang Togar kok kaku githu sih. Ini Erni Bang, adik Teh Irma. Sejak awal Assad cerita tentang keluarganya lalu memberikan fotonya bersama Abang, Erni sudah yakin kalau Erni akan berbesan dengan Abang, keyakinan itu, makin jelas, ketika Abang masuk ke rumah ini tadi, gaya berjalan dan senyum Abang itu, masih seperti yang dulu” kata Ibu Fey, alias Erni. Alamaaak….!!! Apa pula ini.
“Lalu.. apa sarat yang Abang harus penuhi, supaya lamaran Abang Erni terima” tanyaku, aku tak tahu bagaimana wajahku kini, Assad kulihat hanya bengong aja, dia menundukkan wajahnya, Fey kulihat hampir sama dengan Assad, bingung dengan perkembangan yang diluar dugaannya. Sementara uwak Fey, masih menutup wajahnya, aku tak tahu apa ekspressi wajahnya. Ibunya  Erni dengan wajah tua itu, menatapku dengan teduh, tatapan mata itu, tak dapat kumengerti sepenuhnya.
“Begini Bang, sejak Abang melamar Teh  Irma dulu, ada sesal yang tak terkatakan, baik pada ibu maupun Ayah, kami merasa bersalah, ternyata cinta Teh Irma pada Abang, cinta mati. Tak ada lelaki lain dihati Teh Irma selain Abang, setiap lamaran yang datang, selalu ditolak Teh Irma, hingga akhirnya Ayah meninggal Teh Irma belum juga menikah. Bahkan hingga kini. Hingga detik ini, ketika kita duduk di sini. Jadi sarat yang Erni minta, Abang bukan saja melamar Fey untuk Assad, tetapi sekaligus juga melamar Teh Irma, untuk Abang” begitu kata Erni. Aku tak menyangka, cinta Irma begitu kuat padaku.
“Dimana Irma sekarang, Er?” tanyaku.
“Di sini bang….” Jawab Erni singkat, bersamaan dengan itu, wajah penutup muka uwak Fey terbuka. MasyaAllah..!!! Dia Irma. Tanpa kata, aku sigap bertindak, aku berdiri, kubimbing Irma duduk di sebelah nenek Fey….. lalu ketika mereka telah duduk bersamaan. Aku berlutut di depan Irma dan Ibu Irma.
“Aku melamar Irma untuk istriku.  Tolong terima ya Bu, jangan ditolak lagi” kataku penuh harap pada Ibu Irma. Sekaligus dengan penuh harap pada Irma. 
Tak ada kata yang keluar dari bibir tua itu, selain mengangguk, lalu sambil mengusap-usap kepalaku, terdengar lirih suara, iya nak Togar, ibu terima lamaran nak Togar. Tiba-tiba saja Irma sudah berlutut juga disebelahku, aku dan Irma berlutut pada Ibu. Kami bertiga, Irma, Aku dan Ibu sudah berlinang  air mata. Kepalaku dan kepala Irma bergantian dibelai oleh Ibu.







Catatan:
Assad  berarti  Singa
Togar berarti Tegar
Amanguda berarti adik Ayah.
Inang berarti Ibu.
Uwa berarti kakak Ibu (bude)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar