Minggu, 12 Juli 2015

Nisan Makam Mak Nan Tak Bertepi



Nas masih berdiri di geladak Tanker Minyaknya, Diatas langit sana, warna hitam terlihat paripurna. Sempurna hitam pekat. Tak ada satupun bintang tampak, apalagi rembulan, kalau saja, kapal tanker itu tak memiliki penerangan cukup, Nas tak mampu melihat apapun. Bahkan telapak tangannya sekalipun. Sempurna hitam pekat.
Hanya tiupan angin kencang, hempasan air laut yang menghempas dinding kapalnya, begitu keras, sekeras-kerasnya, seakan dinding kapal itu akan robek terurai dalam banyak keping dibuatnya. Tak ada belas kasih disitu, seolah hanya kemarahan laut yang ada, kalau saja dinding kapal itu tak terbuat dari baja, tak tahulah apa yang akan terjadi. Membayangkan hal itu, Nas jadi bergidik. Masa lalu itu, kembali hadir dihadapannya.
Tapi bagi Nas, semua nan terbentang dihadapannya kini,  punya arti khusus. Arti yang tak mudah untuk dijelaskan, bahkan, untuk menceritakan peristiwa itu sendiri, sudah sulit, apalagi memindahkan rasa yang dirasakannya pada lawan bicaranya. Itu sebabnya, Nas tak pernah menceritakan arti perairan Masalembo ini pada anak buahnya. Yang anak buah Nas ketahui, hanya perilaku Kapten Kapalnya saja. Perilaku aneh. Sang Kapten akan selalu berdiri di geladak, setiap kali kapal mereka melewati perairan Masalembo.
Nas masih berdiri di geladak kapalnya, memperhatikan perairan Masalembo itu, pandangnya jatuh sepanjang perairan itu, karena persis tempatnya Nas tak tahu, begitu panjangnya Nisan makam Mak, sepanjang perairan Masalembo. Memang ada angka yang menunjukkan bahwa posisi perairan Masalembo itu berada pada 114º25’60”BT - 5º30’0” LS, tetapi angka itu, tak memiliki arti banyak bagi Nas, tak mampu menunjukkan posisi persisnya dimana Mak di makamkan.
Berdirinya Nas di geladak, semacam bentuk ziarah seorang anak pada makam Ibunya, sebuah bhakti cinta sang anak pada sang Bunda. Sebagai bentuk ilustrasi penyesalan yang tak berujung sudah, ketika Nas tak mampu memegang tangan Mak, sehingga Mak terlepas, tak pernah Nas lihat lagi setelah peristiwa itu.
*****
Tut…tut..tut..suara itu berulang-ulang memekakkan gendang telinga Nas,  antara sadar dan tidak, suara itu kembali terdengar. Mimpi itu, menakutkan Nas, Kereta Mak Hitam* itu terus saja melaju, tak mengurangi sedikitpun kecepatannya. Nas yang berada ditengah jembatan Kereta api itu, semakin panik. Jika tak segera mengambil langkah penyelamatan, Nas akan tertabrak Kereta Mak hitam, jika mengambil penyelamatan, bagaimana caranya?. Dibawah sana hanya ada air yang sangat dalam, berarus deras. Menghindari  dari arus deras dan dalam, itu berarti menyongsong Mak hitam yang sebentar lagi menghantam dirinya. Tak ada jalan lain bagi Nas, Nas segera melompat, menjemput air dalam dan berarus kencang….. aaaaargh.
Tiba-tiba…..sejenak sebelum tubuh Nas menyongsong air,  muka Nas telah tersiram air duluan. Nas gelapan, minta tolong dengan sekuat suara yang dapat diteriakkan. Sesaat kemudian, sebuah tangan, menggoyang-goyang tubuh Nas.
“Nas..Bangun. kau mimpi ya?” suara itu sangat jelas, suara Emak.
“Astaghfirullah… ya Mak, Nas mimpi, ngeri banget, Nas rasanya mau ditabrak Mak hitam, waktu Nas masih ditengah jembatan” jawab Nas. Mak hanya senyum, tak mengomentarinya. Biasa seperti itu, Mak lebih banyak tersenyum dibanding bicara, apalagi ketika malam mendekati subuh seperti ini.  Mak terlihat telah  memakai mukena, itu artinya waktu subuh telah hampir  tiba.
Telah menjadi kebiasaan Mak, beliau bangun sebelum subuh, lalu mengerjakan sholat tahajud, berdo’a dengan panjang, mengadukan segala hal pada Pemilik dan Penguasa segala hal, menceritakan segala hal, pada sang Pendengar Setia segala hal.  Setelah subuh tiba, Mak akan membangunkan Nas. Lalu mereka berdua akan melaksanakan sholat subuh berjamaah. Nas yang anak laki-laki semata wayang Mak, akan menjadi Imam Sholat Subuh.
“Sudah subuh, ambil wudhu ya Nas,..Mak tunggu”. kata Mak, lalu Mak melanjutkan sholat tahajudnya, Nas yang belum pulih benar dari mimpi menyeramkan itu, lalu segera mengambil wudhu. Tak ingin rasanya membiarkan Mak menunggu lama, atau kalau masih sempat ada waktu, rasanya ingin ikut tahajud juga, walau dua rakaat sekalipun.
Baru saja, Nas akan melaksanakan tahajud, suara adzan subuh  terdengar, itu artinya Nas harus berhenti, menunggu selesai adzan, lalu mengerjakan sholat sunah subuh sebelum mengerjakan sholat  subuh berjamaah dengan Mak.
***** 
Kepulan asap masih menari-nari dari gelas yang berisi kopi, Mak Nampak kurang sehat pagi itu, jika sudah demikian kondisinya, maka tugas Nas lah, ke pasar sendirian. Biasanya jika Mak sehat, Nas akan membonceng Mak dengan sepeda peninggalan Bapak, membelah jalan tanah menuju pasar dalam kondisi pagi yang masih terang tanah, beberapa tetes embun masih bertengger di dedaunan yang kadang tersenggol oleh Nas, pada kelokan jalan menuju pasar di daerah Nas. Atau pada jalan yang menurun, sejurus menjelang sepeda tua itu  tiba di pasar. Lalu,  setelah selesai membantu Mak, menata  jajanan pasar yang akan ditunggu Mak, Nas akan pergi ke sekolah Menengah Pertama satu-satunya yang ada di daerah itu. Ketika siang tiba, jam sekolah usai, kembali Nas menjemput Mak, untuk kembali ke rumah.
“Nas, Mak kurang sehat, kau bawalah dagangan itu, titipkan saja di warung Mak Khadijah” pesan Mak, Mak Khadijah, adalah pedagang di pasar yang membuka kedai nasi, biasanya, kalau Mak kurang sehat, dagangan panganan jajanan pasar Mak akan dititipkan pada Mak Khadijah, atau terkadang juga, sisa dagangan jajanan pasar yang belum juga habis ketika Nas pulang sekolah akan dititipkan Mak pada Mak Kadhijah.  Tentu harganya jadi berkurang, karena semua orang tahu, berapa biasa Mak menjual jajanan itu, sementara Mak Khadijah juga perlu mendapatkan keuntungan. Selisih dari keuntungan yang diambil Mak Khadijah itulah yang akan Mak terima esok harinya.
“Iya Mak…” jawab Nas singkat, sebentar lagi, setelah sarapan, Mak akan membekali Nas sebungkus nasi untuk  dibawa sekolah dan sekotak besar  jajanan pasar yang akan dihantar pada Mak Khadijah. Dari berjualan jajanan pasar itulah, mereka berdua hidup. Rezeki tak kemana, Rezeki sudah ada yang mengatur, hatta seekor cacing sekalipun, yang hidup dalam tanah dan tak pernah mengenyam bangku sekolah telah Allah tentukan rezeki untuknya.
“Mak gak apa-apa sendiri di rumah?”
“Gak apa-apa Nas, pergilah, jangan kuatir tentang Mak, kita sebenarnya, tak pernah sendiri. Selalu ada dua malaikat yang menemani kita, selalu ada Allah tempat kita mengadu, Selalu ada Dia yang memperhatikan kitaujar Mak, menguatkan Nas, agar jangan mengkhawatirkannya.
“Nas tahu itu Mak, tapi Mak sedang sakit” tak tega rasanya Nas meninggalkan Mak sendiri. Ingin rasanya Nas hanya mengantarkan jajanan pasar itu saja, lalu kembali lagi pulang menemani Mak, jika saja ini bukan hari terakhir Ulangan semester pertama SMP Nas di kelas tiga. Tapi begitulah Mak, pendiriannya teguh, Mak sudah mengatakan kalau Mak tidak pernah sendiri, ada Malaikat yang menemaninya, ada Allah tempatnya Mengadu. Nas hanya bisa berharap agar tak ada sesuatu yang terjadi pada Mak.
*****
“Assalamu’alaikum”…. Nas sengaja mengeraskan suaranya, agar Mak tahu bahwa anaknya sudah pulang sekolah, jika saja, Mak sedang berada dihuma dibelakang rumah, Nas yakin, suaranya tetap dapat didengar Mak.
Namun tak ada jawaban, rumah ini terlihat sunyi, perlahan Nas masuk, tak ada siapa-siapa, Ah.. mungkin Mak lagi di belakang rumah. Tapi, tak mungkin, bukankah Mak sedang kurang sehat. Lalu…. Di ruang tamu itu, ada sesuatu yang lain, diatas meja, ada buah apel, siapakah yang membawa buah kota itu? Orang kampung Nas, kalaupun menjenguk Mak, tentu tak akan membawa buah kota, mereka paling membawa buah Jambu air, atau paling tinggi membawa krupuk sanjai**. Nas langsung masuk ke kamar Mak, dilihatnya Mak sedang sholat, lalu siapakah yang membawa buah kota itu?
“Nas…” suara Mak memanggil Nas, sesaat Nas hendak keluar dari Kamar Mak
“iya Mak..” sahut Nas, Nas berbalik, menuju tempat Mak, Mak masih bersimpuh di tikar sembahyangnya.
“Pamanmu Leman datang tadi Nas, sekarang beliau lagi pergi mandi di Tabek Gadang*** kau gorenglah Ikan Bilih**** itu, lalu campur dengan sambal lado, beliau sangat senang dengan sambal ikan Bilih itu..”
“Iya Mak.. sama siapa beliau datang?” tanya Nas lagi, Nas sebenarnya tidak begitu mengenal Paman Leman, karena ketika beliau berangkat merantau ke Makasar, saat itu, Nas masih kecil, Paman Leman adalah adik dari almarhum Bapak Nas.
“Sendiri Nas. Beliau sudah jadi orang sukses, rumah makannya di Makasar sudah tiga, agaknya, beliau sudah sulit untuk mengunjungi kita dikampung,  makanya beliau bermaksud mengajak kau dan Mak untuk ikut beliau di Makasar” kata Mak lagi, menjelaskan tentang Pamannya, Leman.
“Mak mau diajak ke Makasar?” tanya Nas lagi, agak aneh saja, kalau Mak mau, bukankah di negeri Ranah Minang ini, Wanita adalah tiang negeri, yang merantau itu, hanya para lelaki. Sedangkan kaum wanita menjaga dan menjadi taing negri, bagaimana jadinya, jika sebuah rumah tanpa tiang.
“Tadinya mak tidak mau, biarlah kau saja yang ikut beliau ke Makasar. Disana kau akan disekolahkan beliau, kalau kau tetap di kampung, akan jadi apa nanti? Lagi pula, budaya kita, laki-laki harus merantau dulu, mencari ilmu sebanyak-banyaknya sebelum kembali lagi kelak ke kampung..” 
“Kalau Nas pergi sendiri, bagaimana dengan Mak?
“Nah..pertanyaan ini sudah Mak duga, maka demi Nas, supaya bisa sekolah lebih tinggi, makanya Mak mau diajak ke Makasar, Mak harap kau juga mau, semua demi masa depanmu Nas..”
****
Udara malam itu sangat cerah, dilangit nampak ditaburi bintang, Mak tertidur dengan lelap, tak ada yang menyangka jika takdir membawa Nas dan Mak akan berkunjung ke Makasar, atau lebih tepatnya pindah ke Makasar, menyongong masa depan yang lebih cerah, karena di Makasar lah kelak, Nas akan dapat melanjutkan pendidikan. Tak disangka, adik Bapak, Paman Leman begitu perhatian pada Nas. Pada masa depannya, semuanya untuk membangkitkan batang terendam keluarga kita…begitu Paman Leman menyebutnya. Surabaya telah siang tadi mereka tinggalkan, Nas masih ingat betul, siang tadi, 24 Januari 1981 pukul sepuluh lewat dua belas menit, ketika Kapal Tampomas II bertolak, meninggalkan Pelabuhan Tanjung Perak. Menuju Pelabuhan Makasar. Diantara penumpangnya ada Nas, ada Mak dan sang Paman, Leman. 
Di samping Nas duduk di geladak kelas ekonomi itu, ada seorang yang sebaya dengan Paman Leman, Pak Kasman. Beliau akan ke Goa, setelah mengunjungi kerabatnya di Mojokerto.
Sudah jadi kebiasaan lumrah, segera saja, sesame penumpang ekonomi, akan segera menjadi akrab. Penyebabnya bisa beragam, mungkin saja karena letak mereka yang saling berdekatan, atau juga merasa senasib, bisa juga karena ingin menghilangkan kejenuhan. Atau karena disebabkan oleh semua hal diatas.
“Nas di Makasar tinggal dimana?” tanya Pak Kasman
“Persisnya kurang tahu Pak, saya baru pertama ini ke sana, tapi kata Paman di daerah Maccini.” Jawab Nas.
“Baru naik di Surabaya tadi ya?” tanya Pak Kasman lagi.
“Tidak pak. Kami naik dari Tanjung Priok. Kemarin siang” jawab Nas.
“Emang dari mana nak Nas?” Tanya Pak Kasman lagi.
“Dari Sumatera  Pak..”
“oooo…kapten kapal ini juga dari Sumatera lho, dari Bengkulu..” jelas Pak Kasman.
“Kok, Bapak tahu?”
“Dari ABK yang kasitau Bapak, kebetulan dia, masih kerabat Bapak. Bahkan menurut kerabat Bapak, nama Kapten Kapal Thampomas II ini Riva’i jelas Pak Kasman lagi lebih detail.
Perbincangan antara Nas dan Pak Kasman terus berlangsung, Pelayaran Kapal Tampomas II melewati Perairan Masalembo juga terus berlangsung. Banyak diantara penumpang yang kelelahan sudah terbang kea lam mimpi. Hanya mereka yang memiliki stamina cukup, masih berbincang-bincang diantara sesamanya.
 Tiba-tiba Nas melihat Paman Leman tergegas menuju mereka…wajahnya terlihat kalut..
“Nas, Pak Kasman…… Ayo siap-siap, ada kebakaran di Kamar Mesin” kata Paman Leman.
“Sudah bisa di padamkan pak?’ Tanya Pak Kasman pada Paman Leman..
“Justru karena tak bisa dipadamkan, makanya kita diminta untuk siap-siap, menghadapi segala kemungkinan” jelas paman Leman.
Perkembangannya begitu cepat. Dalam sekejap saja, semua penumpang sudah ribut, kalang kabut, api sudah semakin besar di lantai bawah, dibeberapa tempat di geladak sudah terasa panas, penumpang berlari kesana-kemari menghindari lantai yang mulai membara. Paman Leman memberesi barang-barang yang dianggap penting saja, lalu memasukkannya dalam tas jinjingnya, kemudian menyelempangkannya di dadanya. Sementara Nas melindungi Mak, menuntunnya, menjaga dengan sangat, bagi Nas, Mak adalah satu-satunya harta yang sangat berharga baginya, demikian sebaliknya Mak. Sementara suasana, semakin krodit saja. Ada jeritan disana-sini, ada teriakan-teriakan yang Nas tak sepenuhnya ngerti apa yang mereka jeritkan.
Mak dan Nas sudah terjun ke laut, mereka beruntung mendapat potongan kayu yang cukup besar untuk digunakan sebagai pelampung. Tampomas II sudah mulai memerah ditelan sang jago merah, manusia berhamburan ke laut, sementara jerit dan pekik masih dapat di dengar Nas. Sementara di laut, ombak begitu besar, angin sangat kencang, satu-satunya penerangan hanya dari Tampomas II yang sedang terbakar. Suasana benar-benar krodit, tak ada kalimat yang pas dan mampu untuk menggambarkan kejadian yang sesungguhnya terjadi.
Tiba-tiba sebuah ombak besar, menghantam balok kayu pelampung Nas, pegangan Nas pada Mak terlepas, Nas menjerit sekuatnya, memanggil Mak, tak ada jawaban atau balasan dari Mak, masih sempat Nas melihat Mak sejauh tiga meter dari kayu pelampungnya, setelah itu….Mak hilang terbawa ombak yang datang berikutnya. Itulah terakhir kali Nas melihat Mak.
****
Nas tersadar di Rumah Sakit di Surabaya, tak ada lagi Mak, tak ada lagi paman Leman, tak jadi kaki Nas menginjak Makasar. Perjalanan ke Makasar itu, terhenti hanya hingga perairan Masalembo saja. Selanjutnya Nas dikembalikan lagi ke Surabaya bersama mereka-mereka yang berhasil diselamatkan, dari Tragedi bencana Nasional itu, Tenggelamnya kapal Tampomas II di perairan Masalembo.
Di Surabaya, perjalanan nasib Nas, akhirnya dilanjutkan, Nas dipertemukan Allah dengan seorang Dermawan yang bersimpati pada nasib Nas, Nas diangkat jadi anak asuh oleh beliau, disekolahkan hingga tamat SLTA, lalu dilanjutkan pada Akademi Pelayaran di Surabaya, hingga akhirnya dengan bantuan kolega sang Dermawan Nas dapat bekerja pada bidang yang sesuai dengan disiplin ilmu yang dipelajarinya.  Hingga akhirnya, peruntungan juga yang akhirnya menjadikan Nas seorang Kapten Kapal di Kapal Tanker Minyak itu….
Itulah jawaban dari pertanyaan, mengapa setiap Kapal Tanker itu melewati perairan Masalembo, sang Kapten selalu berdiri di geladak Kapal. Tak hirau akan angin yang kencang, tak hirau gelap yang sempurna membalut mayapada. Sebabnya jelas, di perairan itu, tempat Mak dimakamkan. Dimana Nisan makam Mak? Nas tak tahu persisnya dimana. Bisa jadi,  Nisan Makam sepanjang perairan Masalembo itu. Nisan  makam Mak nan tak bertepi 



 Note:
  1. Kereta Mak Hitam, sebutan untuk Kereta  Api yang menggunakan Uap, sebagai tenaga penggeraknya. Lokomotifnya  yang berwarna hitam, karena itu  orang kampong Nas  menyebutnya sebagai Mak Hitam
  2. Kerupuk sanjai, adalah kerupuk yang terbuat dari ubi singkong, diberi garam dan irisan daun jeruk, kerupuk ini, adalah krupuk khas Bukittinggi.
  3. Tabek Gadang adalah tempat mandi, semacam pemandian umum, untuk laki-laki, umumnya tidak mandi di rumah, tetapi di Tabek Gadang
  4. Ikan Bilih adalah ikan yang hanya ada di perairan Danau Singkarak, besarnya hanya sebesar jari kelingking pria dewasa. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar