Kamis, 23 Juli 2015

Mas P

Acara pameran itu, usai sudah, penutupan sudah selesai beberapa waktu lalu. Aku baru saja membuka pintu kamar tempatku menginap, untuk coba merebahkan diri, melepaskan lelah, karena besok rencana akan pulang ke Tanah Air. Pameran lukisan yang diadakan di Hotel Ibis Hongkong dijalan Onham strand W yang diapit jalan Wing look street dan Queen street terbilang sukses, semuanya sesuai dengan harapanku, demikian juga sesuai dengan harapan sponsor penyelenggaranya. Apa yang menjadi idamanku selama ini terwujud sudah, demikian juga dengan nominal profit yang diharap sponsor terwujud.
Baru saja, langkah kaki ini memasuki kamar tempatku menginap. Tiba-tiba hpku berbunyi, ada sms yang masuk “Mas, saya tunggu di ruang lobby”  tertulis di HP  Sally.
Segera niat untuk merebahkan diri kubatalkan. Aku segera turun, menuju ruang lobby hotel, sebagaimana yang tertulis di pesan singkat pada HPku, tak berapa lama, aku sudah keluar dari lift dan tiba di ruang lobby. Kulihat Sally, sedang  duduk, pada ruang agak ke pojok, membelakangi arah aku datang, dekat kolam renang, ada kaca tebal yang memisahkan antara lobby dan kolam renang dimana Sally duduk. Sally tidak mengetahui kedatanganku.
“Malam…..” sapaku, menjulurkan tangan, mengajak Sally bersalaman.
“Malam juga, Mas” Sally mengulurkan tanggannya, menerima uluran tanganku, untuk bersalaman. Lalu Sally mempersilahkanku untuk duduk. Aku segera duduk diseberang tempat duduk Sally, ada meja yang memisahkan antara aku dan Sally.
Kulihat, masih ada getaran cinta di mata Sally, perasaan yang sama, juga terjadi pada hati ini, tapi segera kutepiskan rasa itu. Rasa itu, tidak boleh diteruskan, karena akan membawa aku hanyut, terlalu pedih cerita lama yang ku alami bersama Sally. Biarlah dia jadi kenangan saja, menjadi sebuah episode cerita, dari banyak cerita dalam perjalanan kehidupanku.
“Besok Mas langsung pulang?” tanya Sally, membuka percakapan, langsung pada pokok  masalah, Sally memang type begitu, tak suka bertele-tele. To the point.
“Iya…” Jawabku pendek. Aku tak  mengerti harus menjawab apa lagi.
“Gak bisa ditunda sehari atau dua hari lagi, Mas?” tanya Sally lagi.
“Untuk apa Sal? Aku harus cepet pulang. Ada yang menungguku di Tanah Air”
“Siapa Mas? Tinah kah?”
“Iya….” Jawabku singkat, terlihat Sally terkejut, sekilas memang, lalu kembali pulih, Sally memang pintar menyembunyikan perasaannya. Selalu terlihat tegar dihadapan orang lain. Tapi aku sebagai mantan suaminya, dapat menangkap apa yang dia sembunyikan pada orang lain.
“Mas mencintainya? Begitu pentingkah dia dalam kehidupan Mas?” tanya Sally lagi, makin dalam saja pertanyaan itu. Aku bingung, untuk apa dia bertanya begitu.
“Ini bukan soal cinta Sal, ini sebuah tanggung jawab, sebuah komitment”
“lalu, apakah bisa rumah tangga di bangun tanpa cinta?” tanya Sally.
“Lalu apakah sebuah cinta mampu menjadikan rumah tangga langgeng?” jawabku pula.
“Mas menyindir saya…???” tanya Sally, sebuah sergapan yang tak kusangka.
“Tidak Sal, Mas hanya coba meletakkan sesuatu pada porsinya” Jawabku pula. Aku harus menjawab semuanya dengan ratio, sebisa mungkin  menghilangkan perasaan.
*******
Sally adalah mantan Istriku, dia cinta pertamaku sekaligus cinta terakhirku, ketika itu, kami sama-sama mahasiswa di Gajah Mada. Aku yang mahasiswa siswa Tekhnik Sipil memiliki hobby melukis. Pada sebuah pameran lukisan di Balairung UGM, Sally adalah salah satu pengunjung, dia dari fakultas Hukum. Kunjungan Sally pada Stand lukisanku, membuka lembaran baru untuk kehidupanku, kami segera akrab, segera jatuh cinta dan hanyut dalam cinta itu.
Akhirnya kami menikah, ketika itu Sally telah menyelesaikan kuliahnya, sedangkan aku sedang mengerjakan tugas akhir. Kami mengontrak rumah kecil sekitar Baciro. Kehidupan rumah tangga, ternyata sama sekali berbeda dengan dunia kampus dan dunia pacaran. Sementara, Sally belum diterima bekerja, maka dengan modal nekat dan tekad untuk membiayai rumah tangga, aku terpaksa membuka lapak di Malioboro. Memamerkan karya-karyaku, juga menerima pesanan lukisan dari yang datang kelapak aku. Usaha nekadku, mampu memenuhi kebutuhan minimal rumah tangga kami memang. Tetapi, akibatnya, tugas akhirku tak kunjung selesai.
Akhirnya, Sally diterima di Deplu, dan tugasnya di kantor Pusat, Pejambon. Kamipun segera hijrah ke Jakarta. Aku masih pada profesiku, seniman lukis jalanan. Kini, lapak ku di seberang gedung kesenian Jakarta, seberang kali Pasar Baru. Bersama-sama dengan seniman lukis lain. Sementara karier Sally melesat bak meteor, dia dianggap punya potensi besar, acara-acara jamuan makan yang mesti di dampingi suami, banyak sekali yang tak dapat kupenuhi. Aneh saja kurasa, seniman kaki lima seperti aku, harus berpakaian rapi, lalu berperilaku serba protokoler. Tak jarang, kami berselisih paham ketika pulang dari acara-acara jamuan makan itu. Akhirnya Cinta kami kandas ditengah jalan. Karena karier Sally dan keegoanku yang setia pada seni lukis.
Selesai, kami mengurus perceraian, yang sebenarnya diluar perkiraan kami berdua. Aku terdampar di LA..(bukan Los Angelas, tapi Lenteng Agung) pertimbanganku ketika itu, agar hemat transportasi dengan KRL ke tempatku mangkal di Depan Gedung Kesenian Pasar Baru. Karena, untuk sampai pada lapakku, aku cukup berjalan kaki dari Stasiun Gambir. Entah karena kandas rumah tangga, entah karena dendam dengan kemiskinan yang kuderita dalam berkesenian, aku mulai melukis tanpa kenal waktu, bisa berhari-hari aku melukis tanpa henti, aku bagai kesetanan melukis, tanpa kenal lelah dan waktu, baju kotor dimana-mana, bahkan mandipun kadang lupa. Akhirnya aku ambruk………sakit.
Di tempat kost murahanku di LA, aku tergolek lemah,  Mbok Tinahlah yang mencucikan bajuku, membelikan aku obat dan membelikan makanan ke warung, membersihkan kamarku yang berantakan.
Mbok Tinah yang tinggal sebelah kontrakan kecilku di LA. Adalah seorang pembantu rumah tangga di Margonda. Seorang janda tanpa anak, tanpa pendidikan, berumur delapan tahun lebih tua dariku. Dengan teliti merawat tubuhku yang semakin hari semakin akut, garfik kesehatanku yang makin menurun membuat aku yakin bahwa umurku tak lama lagi. Hingga ketika malam itu, disaat aku merasa ajal sudah dekat, aku tak mau jika kelak mayatku keleleran tak ada yang mengurus, dengan iseng dan putus asa kukatakan pada mbok Tinah, aku kan menikahinya. Entah karena iba, entah karena mbok Tinah sudah lama menjanda, atau karena mbok Tinah hanya ingin menyenangkan hatiku saja, mbok Tinah menerima lamaranku. Kamipun menikah. Rumah tangga yang sulit kugambarkan bagaimana bentuknya. Bagiku saat itu, apa yang akan terjadi kelak, tak masuk dalam pertimbanganku. Aku hanya ingin meninggal bukan dalam kondisi duda. Tak ada yang lain.  Apa yang akan terjadi terjadilah. Que sera-sera. It will be will be.
*******
Sally masih duduk di depanku, diruang lobby Hotel Ibis Hongkong ini. Ada sedikit kekakuan yang kulihat pada prilaku Sally. Atau itu hanya perasaanku saja.
 “Oke mas, kalau mas mau pulang besok, izinkan saya bertanya beberapa hal” pinta Sally
“Tanya aja Sal..Mas akan jawab sebisa Mas” jawabku pada Sally, wanita yang masih sepenuhnya kucintai. Tak ada cinta yang lain selain pada Sally. Sebuah bentuk cinta yang aneh.
“Kenapa mas ganti nama? Mas sekarang dikenal dengan Mas P” tanya Sally
“Oooh, itu panggilan Tinah untuk mas, P itu singkatan dari Priyayi, kata Tinah, dia sungkan manggil mas dengan nama asli mas. Istilahnya saru” aku coba menjawab pertanyaan Sally dengan jawaban yang lengkap.
“Lalu bagaimana mas bisa hidup dengan wanita lain tanpa cinta, dan lebih tua, apalagi tanpa pendidikan yang cukup” tanya Sally ingin tahu. Dia masih memakai pertimbangan rationya dalam memandang sebuah rumah tangga.
“Mas belajar banyak dari kasus kita Sal, rumah tangga yang dibangun dengan cinta, tokh akhirnya ambruk karena ambisi pribadi. Akhirnya mas punya kesimpulan, apa alasannya rumah tangga mas harus hancur dengan Tinah, kalau ambisi bisa diraih tanpa cinta. Awalnya memang aneh Sal, setiap selesai mengerjakan satu lukisan, mas akan tanya Tinah, apa pendapatnya dengan lukisan yang baru selesai itu?  Tinah akan menjawab bagus, lalu bagusnya dimana, tanya mas lagi, pokoknya bagus mas P, Tinah gak tau penjelasannya, tapi yang kerasa sama Tinah itu bagus, jangan tanya Tinah dengan segala teori lukisan itu, Tinah gak tau Mas” jawabku dengan lengkap dan lugas.
“Terus….” Tanya Sally lagi
“Berapa banyak orang hebat di dunia ini beristrikan wanita yang lebih tua Sal, tanpa pendidikan cukup, tapi mereka sukses. Apakah Inggit sepintar Soekarno? Apakah Inggit mengerti apa yang dibicarakan Soekarno? Tidak sal, Inggit tidak sepintar Soekarno, tidak mengerti apa yang dibicarakan Soekarno. Inggit hanya mendengar seluruh percakapan Soekarno tentang politik, tentang cita-cita merdeka, tentang penjajahan dan derita bangsa yang terjajah. Tetapi Inggit memiliki Cinta, Inggit memiliki rasa hormat yang sangat pada suaminya, Inggit memiliki oase keteduhan yang dibutuhkan Soekarno, tempat Soekarno melabuhkan lelahnya ketika menemui jalan buntu dalam kegiatannya diluar rumah, Inggit memiliki pengayoman yang menyejukan pada suaminya, bak seorang ibu yang mendekap anaknya ketika sakit menyergap sang buah hati. Merelakan dadanya tempat air kehidupan mengalir untuk didekap oleh sang Suami. Apa yang dimiliki dan dilakukan Inggit, itu pula yang dilakukan Tinah”
“Terus..” tanya Sally kembali, agaknya dia kaget dan aneh dengan segala yang kuucapkan. Aku hanya merasa Sally lucu saja mendengar segala celotehku.
“Suport pada jiwa yang lelah dan hancur, pasca Sally pergi, itu yang menjadikan mas sehat, menjadikan mas bangkit lagi. Mas gak perlu menceritakan masalah yang mas hadapi, karena Tinah gak bakalan mengerti. Tapi, dekapan itu, rasa aman itu, ketika mas meletakkan kepala di dadanya, merasakan dadanya, yang tidak pernah ada air kehidupan yang mengalir di dadanya untuk anak kami, karena kami belum memperoleh keturunan, membuat mas bangkit lagi”
“Terus..” tanya Sally lagi.
“Elusan tangan kasarnya karena menjadi buruh PRT terasa bagi mas begitu lembut dan ikhlas, efeknya begitu dahsyat  Sal. Menjadikan mas kesetanan untuk berkarya sebaik mungkin dan sebanyak mungkin. Padahal apa yang mas bisa berikan pada Tinah Sal? Gak ada, mas tidak mampu memberikan cinta sama Tinah. Karena cinta mas sudah tuntas mas persembahkan pada orang yang mas cintai, sama kamu Sal. Tapi  apa yang  mas terima? Cinta hanyut bersama ambisi. Sedangkan Tinah? Dia memberikan cintanya, seluruh hidupnya dan seluruh pengabdiannya pada Mas”
“Terus..”.  Ada sedikit getar suara serak dinada pertanyaan Sally kini, mungkin Sally terharu ketika itu, ketika aku sebut cintaku sudah aku habiskan untuknya hingga tak bersisa untuk yang lain.
“Mas kini hanya ingin membalas cinta Tinah dalam bentuk lain Sal, dalam bentuk komitmen, mas akan jaga dia sepanjang hidupnya, dia kini tidak memiliki siapa-siapa lagi kecuali mas, mas kini satu-satunya yang Tinah miliki, mas akan jaga hatinya agar jangan kecewa, mas akan setia padanya, pelampiasan lain biar mas tumpahkan dalam lukisan. Mas tak ingin seperti Soekarno Sal..”
“Ada apa dengan Soekarno?”
“Inggit kecewa ketika Soekarno menikah lagi. Mas tak ingin Tinah mengalami hal yang sama. Biarkan komitment mas pada Sally mengalami transformasi menjadi rasa iba, mas iba ketika akan mengecewakan Tinah, mas iba ketika akan berselingkuh di belakang Tinah” jelasku pada Tinah. Aku ingin menjelaskannya secara tuntas pada Sally agar dia dapat membedakan antara Komitmen, Cinta dan Iba.
Aku masih akan berkata-kata terus, tetapi semuanya tak bisa dilanjutkan lagi, karena Sally tiba-tiba memelukku, tangis dan sedu sedannya meledak didadaku. Aku tak tahu apa yang ada dipikirannya, apakah karena sesal, karena rindu, atau karena terharu dengan segala logika aneh yang kupaparkan pada Sally. Tapi. Satu hal yang harus jujur kuakui, cinta ini pada Sally tidak akan pernah berkurang walau sedikitpun. Tetapi untuk mengulangi cerita lama. Kuputuskan tidak mungkin. No time to return.


4 komentar:

  1. Keren pak zulkarnaen...ga sangka...cerita yg berbeda sekali dari cerita biasa...kereennn..

    BalasHapus
    Balasan
    1. suprise.... mbak Suzie sudah sudi untuk memberikan komen..
      makasih ya, mbak Suzie..
      salam,IZ

      Hapus
  2. Keren pak zulkarnaen...ga sangka...cerita yg berbeda sekali dari cerita biasa...kereennn..

    BalasHapus
    Balasan
    1. suprise.... mbak Suzie sudah sudi untuk memberikan komen..
      makasih ya, mbak Suzie..
      salam,IZ

      Hapus