Rabu, 22 Juli 2015

Mande, Aku Pulang

Kalau ada tamsil tentang gembiranya Mande, itu layaknya, seperti seorang lelaki yang telah kehilangan Untanya, lalu dia mencari kesana kemari Untanya, hingga sangat letih, hingga lelaki itu tertidur lelap dalam keletihannya. Ketika lelaki itu terbangun, ternyata Unta itu telah berdiri didepan matanya. Begitulah gembiranya Mande mendengar kau akan pulang, bahkan lebih gembira dari lelaki itu, karena Mande bukan lelaki, tetapi seorang ibu, dan kau bukan Unta, tetapi anak Mande.
Begitulah akhir kalimat Mande yang sangat aku ingat ketika, aku menelpon Mande, mengabarkan bahwa aku akan pulang. Kantor Pusat telah memutuskan untuk memutasi aku pindah ke Kantor Cabang di Bukittinggi. Pertimbangannya sangat logis dan sederhana, tenaga Ahli dengan spesialisasi yang kumiliki, cukup banyak di Surabaya, sedangkan di Bukittinggi tak satupun ada, kebetulan aku berasal dari sana, jadi kecil kemungkinan setelah bertugas setahun atau dua tahun, untuk minta dimutasi kembali ke Pulau Jawa. Mereka yakin, aku akan tetap betah untuk bekerja di kampong halaman sendiri.
Aku menerima keputusan itu dengan gembira dan suka cita. Inilah kesempatanku untuk membangkitkan “batang terendam” itu pada orang kampungku, bahwa anak Mande benar-benar kerja seperti yang sering Mande katakan pada sanak saudara dan tetangga di kampung. Sebab, ada saja suara yang menyangsikan apa yang dikatakan Mande. Mana mungkin, anak seorang Janda miskin akan kerja di Jawa, paling juga, dia hanya pedagang kaki lima di emperan toko di Surabaya. Setelah lelah digusur kesana-kemari, ketika membuka lapak kaki lima di Jakarta.
*****
Udara pagi pukul delapan pagi itu cerah, Matahari sudah terang, mengeluarkan sinarnya dengan kekuatan penuh. Beberapa tukang Becak masih duduk di becaknya. Suasana di depan Stasiun Pasar Turi mulai sibuk. Di sebelah kanan Stasiun Pasar Turi, berjarak sekitar 700 Meter, Pasar Turi mulai ramai, bangunan Pasar itu, beberapa tahun lalu pernah terbakar total, tetapi kini, sisa-sisa terbakar itu sudah hilang sama sekali. Sebagai gantinya, sudah berdiri pasar yang lebih megah dan lebih bersih dari sebelumnya.
Jam di tanganku, menunjukkan pukul 8.00. Aku tak sempat memperhatikan sekelilingku, aku bergegas masuk ke Emplasment KA Argo Bromo Anggrek Pagi, jika sesuai Jadwal, KA Argo Bromo Anggrek Pagi akan mulai bertolak menuju Jakarta jam 8.15 pagi. Itu artinya, aku hanya memiliki sisa waktu 15 menit lagi.
Aku langsung menuju Gerbong 3 lalu naik, setelah mencocokkan nomer kursi sama dengan nomer tiket KA 18A, aku segera meletakkan Tas, lalu, dengan sedikit berbasa-basi menanyakan nomer tempat duduk, pada gadis yang duduk di nomer 18B, dia menjawab, yang kutanyakan itu, benar no mer 18A, lalu aku pun duduk.
Sementara itu, beberapa penumpang lain, masih hilir mudik, mencocokkan bangku mereka dengan nomer tiket KA yang mereka pegang. Tepat pukul 8.16 KA Argo Bromo Anggrek Pagi pun, bergerak meninggalkan Stasiun Pasar Turi menuju Jakarta.
******
Awalnya KA bergerak perlahan, ketika telah keluar dari wilayah Stasiun Pasar Turi, kecepatannya makin bertambah, lalu bertambah kencang lagi. Pandangan mataku, kualihkan keluar jendela, banyak rumah-rumah kecil sepanjang sisi Rel, kehidupan mereka bertumpuk, tumpang tindih, selintas mereka terlihat susah, jika dipandang dari kondisi rumah yang dihuni, tetapi keceriaan dari wajah-wajah lelaki yang telanjang dada, dan anak-anak yang berlari kian kemari, aku tak melihat raut kesusahan di sana. Benarkah antara bahagia dan kepemilikan materi tidak selalu berbanding lurus. Ketiadaan materi yang mereka miliki tidak harus identik dengan ketidak bahagiaan. Meskipun, idealnya, dua-duanya terpenuhi. Memiliki materi yang berlebih dan bahagia yang berlebih.
Tiba-tiba, sinar Matahari terhalang, ternyata posisi KA Argo Bromo Anggrek Pagi sedang berada di bawah Jalan Tol Gresik - Surabaya Gempol. Aku tak berminat lagi untuk melihat keluar, KA sdh semakin cepat saja. Pemandangan diluar, sekitar Gresik terlihat gersang, aku lebih tertarik untuk melihat pemandangan yang lebih indah di sebelahku. Gadis cantik yang akan menemaniku hingga Jakarta kelak.
*******
Setelah berbasa-basi, sedikit senyum dan anggukan akrab. Aku nekat untuk memperkenalkan diri pada gadis yang duduk disebelahku.
“Arman” kataku, sambil mengulurkan tangan, memperkenalkan diri.
“Hera” jawab gadis itu. Alamak….Cantik nian. Aku berharap KA Argo ini mogok di jalan, agar perjalanan bisa lebih lama lagi, hingga makin lama aku bisa duduk bersama Hera.
“Mbak Hera mau ke Jakarta?” tanyaku, sebuah pertanyaan konyol, emang KA Argo ini mau kemana? Ya ke Jakarta lah.
“Iya Mas, sebaiknya panggil nama saja” jawab Hera singkat plus tawaran panggiil nama.
“Tinggal di Jakarta Hera?” tanyaku lagi, menyebut namanya Hera, sesuai permintaan.
“Ndak Mas, hanya transit saja” jawab Hera lagi.
“oooo…. Emang mau dilanjutkan kemana?”
“Sumatera Mas. Sengaja naik KA pagi, karena flightnya nanti malam. Bareng sama saudara sepupu. Kalau sendiri takut” kata Hera lagi, Nampak Hera suka cerita. Tetapi bahasa tubuhnya sopan, bukan jaim, tetapi lebih pada memiliki wibawa. Sementara KA Argo Bromo Anggrek Pagi terus melaju kencang, disudut mataku, aku dapat melihat kami memasuki Stasiun Bojonegoro.
“Sering pulang ke Sumatera?” tanyaku lagi, sekedar Tanya, intinya, aku masih ingin berlama-lama ngobrol dengan Hera.
“Setelah tiga tahun, baru kali ini mas. Mas sendiri mau kemana?” Hera sudah mulai berani tanya, tadinya hanya menjawab pendek-pendek apa yang aku tanyakan.
“Sama dengan Hera, mau ke Sumatera juga” jawabku pula.
“Sumateranya dimana Mas?” Tanya Hera kembali.
“Bukittinggi” jawabku singkat.
“ooo ya? Naik flight malam juga Mas?”
“Gaklah, mungkin akan di Jakarta dulu.” Jawabku singkat. Tiba-tiba aku merasa berdosa, kok bisa-bisanya aku berbohong pada Hera. Orang yang baru kukenal, apa untungnya aku berbohong padanya, apa pula ruginya aku jika berkata benar. Tokh, tak ada untungnya dan ruginya jika aku berkata benar. Tetapi yang jelas, dengan berbohong aku telah berdosa pada yang Diatas. Jujur saja, aku akan terus ke Sumatera, tetapi tidak dengan naik pesawat, melainkan dengan kapal laut. Malam nanti, sahabatku akan menjemputku di Gambir, lalu kami akan habiskan malam itu dengan ngobrol, cerita kesana kemari, menunggu pagi sebelum akhirnya aku meninggalkan Tanjung Priok menuju Teluk Bayur. Pertimbanganku, karena aku merasa, pulangku yang sekarang, adalah kepulangan yang terakhir, sangat kecil kemungkinan aku akan kembali lagi kesini. Sedangkan waktu masuk kerja, masih tersisa waktu sepuluh hari. Jadi untuk apa aku harus terburu-buru sampai di kampung.
“Tentu ada hal penting, hingga Hera perlu langsung pulang dengan flight malam nanti?” tanyaku pada Hera. Aku bertanya asal saja, karena telah merasa berdosa sudah berbohong pada Hera.
“Iya Mas, ini masalah janji yang harus ditepati” jawab Hera.
“Janji sama siapa?” tanyaku lagi
“Pada Ibu…”
“Janji apa itu?”  tanyaku lagi, kok mirip denganku, aku janji pada mande, mau pulang.
“Janji perjodohan Mas, pulang ka Bako”
“Maksudnya?” tanyaku lagi, aku kaget juga, ternyata Hera orang Minang. Karena istilah pulang ka bako, hanya ada dalam budaya Minangkabau.
“Begini mas, biar Mas paham, pulang ka bako, adalah istilah dalam budaya Minang. Artinya berjodoh dengan keluarga Bapak. Setelah Ayah meninggal, maka ibu membesarkan dan membiayai pendidikanku sendirian. Sebagai anak tunggal, ibu ingin agar saya berjodoh dengan keluarga Ayah. Alasan ibu, agar hubungan dengan keluarga Ayah tetap baik. Dengan cara berjodoh, maka harapan Ibu akan mudah terlaksana. Sekaligus Ibu dapat memberikan yang terbaik pada keluarga Almarhum suaminya”. Demikian penuturan Hera.
“Hera setuju dengan keinginan Ibu Hera”.tanyaku sedikit heran, bagaimana wanita dengan wajah demikian cantik dan berpendidikan cukup baik, masih konsisten dengan budaya lama, menikah dengan pria yang tidak begitu dia kenal, juga  bukan berdasarkan rasa cinta, tapi lebih pada pertimbangan adat.
“Prinsipnya setuju Mas, dengan satu syarat”
“Apa itu?” tanyaku ingin tahu.
“Hihihihi… Mas kayak polisi aja nih, menginterogasi saya. Tapi baiklah, sudah terlanjur cerita, jadi saya tuntaskan saja. Saya meminta pada Ibu, berikan saya waktu empat tahun setelah selesai kuliah, jika waktu empat tahun itu, saya belum dapat calon pendamping sendiri, maka saya akan memenuhi keinginan Ibu. Kini waktu itu telah habis Mas dan saya belum bertemu dengan Arjuna pilihan saya” cerita Hera agak panjang.
“Berarti ini kepulangan untuk nikah dong?” tanyaku lagi. Aku semakin kagum dengan keputusan yang akan diambilnya.
“Tidak serta merta begitu Mas. Ibu ingin, kami bertemu dulu, jika dalam pertemuan itu tidak ada penolakan dari saya baru lanjut pada tahap berikutnya. Tetapi jika tidak, maka selesai dalam pertemuan pertama itu saja”
“lalu bagaimana bisa menentukan iya dan tidak dalam pertemuan pertama? Bagaimana tahu cinta atau tidak jika hanya baru pertama bertemu?”
“Terasa aneh memang terdengarnya Mas. Ini bukan soal cinta atau tidak, tetapi soal felling saja. Jika tidak ada rasa yang antipati. Maka, soal cinta akan datang dengan sendirinya, seiring perjalanan rumah tangga kelak”
“Saya masih kurang paham dan kurang dapat mengerti Hera” jawabku singkat, meskipun dalam hati, aku sangat kagum dengan Hera, dengan pendidikan yang cukup, wajah cantik, Hera masih berani gambling dalam menentukan jodohnya dengan mengikuti tradisi kolot itu, tradisi yang “tak lapuk karna hujan dan tak retak karna panas”
“Tidak semua masalah hidup, dapat dipahami dan dimengerti Mas” kata Hera singkat. Makjleb… kata-kata Hera tepat menikamku. Hera dengan usianya yang masih kepala dua, mampu mengajari filosofi hidup padaku yang sudah berkepala tiga. Aku makin kagum saja pada Hera. Wanita muda, berpendidikan, cantik, berwibawa sekaligus mantap dengan filosofi hidup yang akan dijalaninya.
******
Aku sudah berdiri di Pelataran Pelabuhan Teluk Bayur, kuhirup udara Teluk Bayur sekuat kumampu untuk menghirupnya. Selalu saja, segarnya Teluk Bayur ini, berbeda dengan segarnya Tanjung Perak atau Tanjung Mas dan Tanjung Priok. Aku tak tahu alasannya, apakah faktor alam penyebabnya, hingga terasa berbeda, atau itu hanya faktor pshikis saja. Dengan menghirup udara Teluk Bayur, lalu masuk dalam memoriku, sebentar lagi akan menghirup suasana masa kecilku.
Setelah lewat kota Padang, kendaraan ini sudah menuju arah Bukittingi, dikiri jalan ada jalur KA yang sudah tak terpakai lagi, juga beberapa stasiun KA yang tak dipakai, lalu aku terjebak pada sesuatu yang luar biasa lembah Anai. Lokasi destination yang luar biasa, yang berada di pintu gerbang kabupaten Agam. Disini, Lembah Anai, keindahan itu, begitu sempurna. Tumpang tindihnya, Rel KA dan Jalan Raya saling bersilang dan tumpah tindih. Kadang Rel KA diatas, Jalan Raya dibawah, dilain kesempatan Jalan Raya di Atas, Rel KA di bawah. Adanya Air terjun dengan ketinggiannya disebelah kiri jalan. Di belakang Air terjun itu, terletak Taman Nasional yang melindungi hewan-hewan langka. Sungguh  luar biasa
“Nanda sudah dimana posisinya?” demikian pertanyaan diujung sana, ketika aku mengangkat poselku, sambil menikmati Lembah Anai. Itu suara Mande.
“sudah di Lembah Anai. Mande sehat?.”
“Alhamdulillah sehat, sejak anak Mande mau pulang, semua penyakit sudah terbang jauh, nampaknya, mereka semua takut sama waang” jawab Mande diseberang sana.
“Mande sabar ya, sejam lagi nanda akan sampai rumah” bujukku pada Mande.
“Mande, akan sabar nak, puluhan tahun waang merantau Mande sabar, apalagi, cuma dalam hitungan jam” jawab Mande lagi. Ada rasa haru dan berdosa mendengar kata-kata Mande, haru karena sabarnya Mande menghadapiku, berdosa karena telah begitu lama meninggalkan Mande puluhan tahun.
“Mande pesan nak, jangan lupa mampir di pasar lereng, bungkuskan nasi Kapau tiga bungkus?”
“Iya Mande, Siap” jawabku singkat. dalam hati aku bertanya, sejak kapan Mande ada teman, biasanya Mande hanya pesan dua bungkus, untukku dan Mande. Setelah aku mencium tangan Mande, lalu Mande mengusap-usap kepalaku, maka kami akan makan nasi Kapau berdua, semacam ritual yang biasa dilakukan ketika aku kecil. Ketika itu, Mande selalu membawa nasi Kapau, ketika pulang dari kota, lalu kami makan berdua.
Setelah dari Pasar Lereng, perjalanan ini mulai menurun, arahnya menuju kota Padang Panjang. Sebelum kampung Jambu air. Kendaraan berbelok ke kiri lalu setelah melewati persawahan, lalu mendaki sedikit, akupun turun. rumah Mande kok terlihat sunyi.
Tak sabar aku memasuki halaman rumah Mande, sementara dari Surau seberang jalan terdengar suara Adzan. Memanggil umatNya untuk menunaikan Ibadah padaNya. Akupun mengetuk pintu. Ketika pintu itu terbuka. MasyaAllah…. Mande mengembangkan kedua tangannya ingin memelukku. Sementara di belakang Mande agak merapat ke tubuh Mande, berdiri Hera. Aku bengong tak tahu apa yang akan kulakukan. Lalu tiba-tiba, aku dan Mande saling berpelukan. mande menangis penuh haru, sambil mengusap-usap kepalaku.
*****
Sholat Maghrib baru selesai di tunaikan. Ketika aku, Mande, dan Hera telah duduk di beranda rumah. Sejuk udara Bukittinggi selalu menyegarkan, diatas sana, bintang terlihat jelas, agaknya besok akan panas, memang musim hujan telah berakhir, musim kemarau segera datang menggantikannya.
“Man…. Ini Hera, anak Mamak mu, Sutan Batuah dari Banuhampu” kata Mande
“Iya Mande..” tak kusangka ternyata Hera anak dari Pamanku Alrmarhum.
“Tadi pagi datang, ditemani Ibunya, lewat tengah hari tadi, Ibunya pulang.
“Iya Mande.. Tapi kok nanda belum pernah melihat sebelumnya?”
“Selepas SD, Hera tinggal di Padang Bang, di rumah adik Ibu” jelas Hera. Lho? Kemana panggilan Mas empat hari lalu itu, ketika kami sama-sama di Argo Bromo. Apakah karena tempat dan situasinya sudah berubah.
“Mande berharap, kalian berjodoh. Jika kalian berjodoh, maka bagi Hera, itu dinamakan pulang ka bako”
“Nanda terserah Mande saja,, mana yang terbaik bagi Mande, nanda ikut” jawabku, aku tak dapat berpikir jernih lagi. Semua terlalu cepat, langsung pada permasalahannya dan dihadapkan pada yang bersangkutan. Pada Hera.
“Semuanya tidak perlu buru-buru nak, kalian perlu saling kenal dulu. Apalagi untuk Hera, untuk seorang wanita ada felling yang tak dipunyai lelaki. Mande hanya sangat berharap, keputusan akhir, ada pada kalian. Walaupun perjodohan ini, sangat kami harapkan, oleh Mande dan oleh Ibu Hera”
“Iya Mande..” kini Hera yang menjawab.
Mande masih terus berkata-kata, Hera terus menjawab. Percakapan antara Mande dan Hera, agaknya nyambung, mereka kelihatan saling cocok. Kecocokan antara Mande dan Hera, bagiku sudah cukup sebagai modal awal untuk memenuhi keinginan Mande. Apalagi yang akan kucari. Umur sudah sangat cukup, sudah kepala tiga, pekerjaan di kampung sendiri, Mande cocok dengan calon mantunya, tradisi pulang ka bako sangat mendukung.
Agaknya inilah jawaban dari semua teka-teki selama ini. Mande akan membuatku tak akan pergi lagi setelah pulang nanti, pesan nasi Kapau tiga bungkus dan adzan yang menyuruh umatNya untuk menunaikan kewajiban padaNya, ketika memasuki halaman rumah Mande tadi. Dua kewajiban terakhir sudah kutunaikan, yakni panggilan adzan dan membelikan nasi Kapau untuk Mande. Sedangkan kewajiban pertama, yakni Mande akan mengikatku untuk tidak pergi lagi setelah pulang, agaknya akan segera terwujud pula. Karena Mande mengikatku dengan menghadirkan Hera…..
Siapakah anak yang mampu lari dari kewajiban pada Mandenya, siapa pula lelaki yang mampu lari dari pesona Hera? Aku tak tahu jawabnya. Yang kutahu. Aku tak mampu lagi tuk  lari dari keduanya. Dari Mande dan dari Hera



Keterangan:
Mande berarti Ibu
Waang berarti kamu (biasanya untuk orang tua sama anaknya)
Lembah Anai, destinasi Wisata antara Padang - Bukittinggi
Mamak berarti Paman, yakni saudara lelaki Mande, bisa kakak Mande atau Adik Mande.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar