Sabtu, 11 Juli 2015

Malaikat diujung Ramadhan



Terik matahari siang itu, sempurna  menyengat tubuh renta Firman. Makin terasa berat karena Firman sedang puasa. Pagi tadi Firman sahur dengan sepotong tempe yang harus dibagi dua dengan Maryam Istrinya. Ada memang sebutir telur, tetapi rasa sayang mengalahkan segalanya, termasuk kepentingan pribadi. Hatta hingga yang akan dimakan sekalipun. Aisyah baru delapan tahun, baru belajar mengerjakan puasa. Rasanya, sungguh egois jika memberikan Aisyah tempe yang sepotong itu. Biarlah dia mengalah dengan Maryam, agar Aisyah dapat menjalankan puasa dengan gembira. Lagi pula, dia dan Maryam sudah kenyang dengan kehidupan ini,  mereka tak butuh pertumbuhan lagi, sedang Aisyah masih dalam masa pertumbuhan, masih lebih membutuhkan gizi untuk pertumbuhannya, guna menyongsong kehidupan yang masih terbentang luas di hadapannya kelak.
Sengatan Matahari itu, seakan menyempurnakan dera yang harus dipikul Firman, hingga sesiang ini, belum ada tanda-tanda rupiah akan singgah ke sakunya, padahal ini hari terakhir ramadhan, sejam lagi akan memasuki waktu Dzuhur, lalu enam jam kemudian, maghrib akan segera menjelang, setelah Maghrib ditunaikan, maka akan berkumandang deru takbir. Pertanda besok akan datang hari raya idhul fitri, hari kemenangan. Kemenangan iman terhadap nafsu angkara murka. Kemenangan akal sehat terhadap nafsu yang tak berkesudahan. Kemenangan kemanusiaan dan kasih sayang terhadap hidup egois dan kehidupan nafsi-nafsi yang tak memperdulikan pada sesama manusia.
Tapi apakah semua itu benar? Semuanya terasa kontradiksi dihadapan Firman. Yang jelas, inilah titik paling pahit yang dirasakannya. Boro-boro untuk membelikan Aisyah baju baru, membelikan Aisyah sandal baru, untuk berbuka sore nanti saja, dia tidak tahu akan berbuka pakai apa? Semuanya masih gelap. Tak seberkas titik terang yang terlihat oleh Firman, padahal cuaca udara siang itu sungguh cerah, terik, sinar Matahari mencorong dengan ganasnya, menyengat perih dikulit tuanya, tapi, bagi Firman, semuanya gelap.
Sejak pagi tadi, dagangan yang dijajakannya belum satupun terjual, padahal inilah satu-satunya tempat Firman menggantungkan harapan, harapan untuk membeli beras, membeli penganan untuk berbuka, syukur-syukur bisa membelikan Aisyah baju dan sandal baru. Memang zaman sudah berubah, dijaman kini, siapa yang akan memakai gerabah lagi? Ibu-ibu lebih suka memakai alat masak dengan aluminium, bahkan hampir semua kini memakai steenless. Kalau bisa memakai yang praktis untuk apa memakai yang merepotkan. Kalau bisa menggunakan yang bersih untuk apa pula memakai yang kotor. Mana ada kini ibu-ibu yang memakai kayu bakar atau minyak tanah. Semuanya sudah beralih ke Gas Elpiji, tidak hanya di kota, tapi sudah merambah hingga ke desa-desa. Tempat dimana Firman kini tinggal.
******
Firman terduduk nanar, semua kejadian itu begitu cepat terjadi, tanah yang masih merah di pemakaman Halimah,  sebagai pertanda bahwa dia kini sudah dipisahkan dengan putri satu-satunya. Ketika itu, mobil truk yang membawa batu-batu besar yang biasa dikemudikannya masuk jurang. Semuanya selamat, hanya Halimah yang menjadi korban. Sedangkan dia dan Seno, anak pemilik truk yang dibawa Firman selamat. Kejadian itu, menimbulkan duka yang sangat mendalam bagi Firman dan Maryam. Anak semata wayang yang menjadi tumpuan hidupnya kelak jika tua menjelang, dan kini sang tumpuan itu, telah tiada. Pergi ketika usianya sangat muda, ketika beberapa bulan lagi akan menempuh ujian SMA. Meskipun dalam kejadian itu, ada rahasia besar yang hingga kini tak diceritakannya pada siapapun, termasuk pada Maryam.
Peristiwa yang membawa trauma itu, akhirnya membuat Firman memutuskan untuk mengakhiri profesinya sebagai supir truk pembawa batu besar dari gunung ke desa. Dia memboyong Maryam pindah ketempatnya yang sekarang, ditempat baru inilah Firman memulai kehidupan sebagai pengrajin sekaligus penjual gerabah yang dibuatnya. Sayangnya, usaha yang dimulai diusia tua itu salah tempat dan salah waktu. Era peralihan dari kayu bakar dan minyak tanah ke bahan bakar gas elpiji membawa dampak yang tidak menguntungkan untuk usaha Firman.
Dua tahun ditempat barunya, Firman menerima kepercayaan seorang bayi, yang kata ibunya terpaksa ditinggal untuk cari kerja di Kota, sejak itulah Firman merasa hidup kembali, gairahnya hidup sama seperti ketika Halimah kecil dulu. Aisyah sudah dianggapnya sebagai anaknya sendiri. Karena Ibu Aisyah tak pernah kembali, tak ada kabar berita, dimanakah kini berada, masih hidupkah atau…..
******
Dari arah selatan tempat Firman menunggu dagangannya, terdengar Suara Adzan Dzuhur, pertanda waktu telah tepat tengah hari, Firman segera berdiri, lalu dengan segala daya yang masih dimilikinya, dia segera menuju Mesjid untuk melaksanakan Dzuhur. Mengerjakan kewajiban sebagai hamba, sekaligus mengadukan nasibnya pada sang “Boss Besar”, Boss dari segala boss-boss di muka bumi ini. Ketika manusia sudah tak memiliki boss untuk mengadukan masalahnya, maka Dia sebagai Boss diatas Segala Boss, masih memiliki waktu untuk mendengarkan curhat hambaNya, ketika manusia sudah tidak memiliki sesuatu untuk diberikan pada sesama manusia, maka Dia memiliki segalanya untuk  diberikan pada makhlukNya. Kesanalah kini, Firman melangkahkan kakinya. Mencari solusi setelah solusi itu tak ditemuinya pada sesama manusia.
Hilang semua penat, hilang segala gelisah, ketentraman menggantikan semuanya. Perut masih tetap lapar, apa yang akan dijadikan takjil buka tetap belum ada, apatah lagi baju baru dan sandal baru untuk Aisyah. Semua tetap seperti awal ketika dia mengangkat takbir sebagai tanda dimulainya sholat. Tetapi kini, Firman merasa diberikan ketenangan dan kemanusiaan yang sempurna. Bagaimana tidak. Seorang papa yang tidak memiliki segalanya, tidak memiliki harta, tidak memiliki kedudukan dan tidak dianggap pula dalam pergaulan sosial, kini, sedang berhadap-hadapan dan beraudiensi dengan Boss dari segala Boss yang ada. Presiden dari segala presiden yang pernah ada dan Raja dari segala raja yang pernah ada diatas muka bumi.
Dimulai dari pernyataan dan kesaksian akan kebesaran Dzat yang sedang disembah dan diakhiri dengan salam untuk seluruh makhluk dipermukaan bumi. Diantara keduanya itulah Firman mengadukan segala masalahnya, kepapaan yang dialaminya dan menyerahkan seluruh solusi yang terbaik untuknya dari Sang Penguasa Tunggal Jagat Raya ini. Airmata yang tercurah, isak tangis yang terlenguh merupakan manifestasi dari cinta, kepasrahan dan cita yang terserahkan bulat-bulat. Tak ada solusi yang terbaik selain solusi yang ditawarkan dan diberikanNya.
Selesai dengan semuanya, Firman masih menyandarkan tubuh renta itu pada selasar Mesjid itu, rehat sejenak, sebelum akhirnya langkah tua itu digerakkan kembali untuk menjemput rezeki yang sudah ditebarkan oleh sang Khaliq. Jika tadi sebelum tengah hari rezeki itu belum juga singgah, siapa tahu, paruh waktu setelah matahari condong ke barat akan menemukan rezeki yang telah ditetapkan untuknya.
******
Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh bahu Firman. Repleks Firman menoleh. Pada pemilik tangan yang menyentuh pundaknya. MasyaAllah, tangan yang menyentuh pundaknya itu. Tangan Seno.  Anak itu kini telah berdiri dihadapannya, mengulurkan tangan, mengajak Firman bersalaman. Firman menyambut uluran tangan itu. Mereka bersalaman, tak disangka mereka dipertemukan kembali di rumah Allah ini.
“Sehat pak Firman?” tanya Seno singkat.
“Alhamdulilah sehat Mas” jawab Firman.
“Ibu Maryam gimana? Sehat jugakah?”
“Alhamdulilah sehat. Bagaimana dengan juragan dan Ibu” tanya Firman. Juragan dan Ibu yang dimaksud Firman, kedua orang tua Seno. Majikan Firman ketika masih membawa truk dulu.
“Mereka sehat semua pak. Kami semua telah pindah ke kota P pak. Setelah  kejadian tempo dulu itu. saya melanjutkan pendidikan ke luar negri” kata Seno menjawab pertanyaan Firman, sekaligus menceritakan keadaan keluarga mereka.
“Syukurlah Mas, kalo semua sehat” kata Firman lagi. Kejadian tempo dulu, kembali membuka luka lama Firman, dia sudah memaafkan Seno, tetapi mana pula dia dapat melupakannya. Kejadian itu telah merenggut Halimah, milik satu-satunya yang paling berharga saat itu dan untuk selamanya. Milik Firman yang tak pernah akan tergantikan.
“Tiga tahun lalu, saya kembali ke desa pak Firman untuk menemui bapak, tetapi bapak sudah pindah. Tak satupun orang desa mengetahui kemana bapak pindah. Setahun itu, saya selalu mencari bapak, namun hasilnya nihil” kata Seno kembali.
“kami pindah ke desa KP Mas, tiga kilo jaraknya dari kecamatan ini, tepatnya dari Mesjid ini” jawab Firman, menjelaskan tentang keberadaannya kini.
“lalu, bapak sekarang kerja apa?” tanya Seno lagi
“Bapak tidak kerja Mas, siapa yang akan memperkerjakan tenaga renta seperti bapak ini, ditambah pendidikan yang tak memadai” jelas Firman pula.
“lalu untuk penghidupan sehari-hari, bapak bertani?” tanya Seno lagi, ingin tahu keadaan Firman.
“Tidak Mas, bapak membuat gerabah, lalu menjajakannya di pasar”
“Bagaimana hasilnya pak?” tanya Seno lagi.
“Sekarang susah Mas, apalagi setelah adanya gas elpiji. Ibu-ibu lebih suka memakai peralatan stainless dari pada gerabah” jelas Firman. Dia tidak tega untuk menceritakan, bahwa sampai saat ini, gerabah yang dipikulnya dari rumahnya, di desa, belum satupun terjual. Padahal, itulah satu-satunya harapan untuk membeli takjil berbuka puasa nanti. Buka puasa terakhir di Ramadhan tahun ini.
“Masya Allah…….”
“Kenapa Mas?” kini balik Firman yang tanya, kenapa Seno menyebut begitu, apa artinya kalimat itu, apa yang salah dalam ucapannya sebelumnya, Firman tak sepenuhnya mengerti.
“Sungguh Allah Maha Besar. Bapak memang dikirim Allah selalu sebagai dewa penyelamat bagi saya. Bapak telah menyelamatkan saya pada kejadian tempo dulu, dengan mengakui bapak sebagai supirnya ketika kejadian itu. bapak tidak mengatakan sayalah yang menyetir mobil truk itu, sehingga kejadian itu terjadi, meskipun yang menjadi korban akibat kelalaian saya itu, anak bapak sendiri. Kini ketika saya kesulitan mencari orang yang akrab dengan gerabah, sekali lagi pak Firman menyelamatkan saya” kata Seno panjang lebar.
“Maksudnya gimana Mas? bapak belum mengerti kalimat Mas tentang gerabah itu?”
“Begini pak, sepulangnya saya dari pendidikan di luar negri itu, saya membangun usaha kerajinan gerabah untuk export. Tapi sayang, sejak dua bulan lalu, pekerjaan ini mengalami kendala, karena bagian Quality control kami mengundurkan diri. Padahal usaha ini, sangat bergantung pada kualitas. Kualitaslah sebenarnya yang membedakan diantara kami yang berusaha dalam bidang ini. Oleh karenanya, saya berharap pak Firman mau kembali bekerja membantu saya sebagai  Quality control”  Seno memaparkan usaha dan harapannya pada Firman.
“Apa yang saya bisa lakukan dengan usia begini Mas?” tanya Firman, sedikit pesimis.
“Tentu bisa pak. Bapak hanya mengawasi kualitas saja. Barang yang tidak memenuhi syarat setelah bapak kontrol, tidak kita jual. Tetapi didaur ulang kembali” lalu Seno menyebutkan sejumlah nominal yang akan diterimanya, seandainya mau membantu Seno. Jumlah nominal yang diluar dugaan Firman. Dengan nominal itu, tentu dia akan dapat membahagiakan Maryam dan menjamin keberlangsungan sekolah Aisyah.
“Baiklah Mas, saya bersedia” kata Firman lirih.
“Alhamdulillah……”ucap Seno kembali, lalu reflex  Seno memeluk Firman. Mereka berpelukan. Bagi seno pelukan itu sebagai ungkapan rasa syukurnya karena dua kali Firman telah menjadi malaikat penolongnya. Bagi Firman, pelukan itu, sebagai rasa maaf yang tulus darinya atas peristiwa dulu. Peristiwa yang tak mungkin dia lupakan, meskipun sudah dia maafkan dengan sepenuh maaf dan ikhlas.
“Kalau begitu, begini saja pak, saya tinggalkan kartu nama saya sama bapak, seminggu setelah lebaran saya akan temui bapak di Mesjid ini lagi, atau kalau bapak mau kerumah, dikartu nama itu, ada alamat rumah saya, juga nomer HP yang pak Firman bisa hubungi” lalu Firman memberikan kartu nama dan segepok uang merah bergambar dwi tunggal proklamator.
******
Setelah Seno pergi,kini Firman yang tersungkur, melakukan sujud syukur…. Sungguh Allah Maha Besar. Uang yang diberikan Seno berjumlah tujuh juta rupiah.  Dengan uang pemberian Seno itu, Firman dapat membelikan takjil untuk buka nanti sore. Bukan hanya itu, termasuk baju lebaran dan sandal baru untuk Aisyah, Baju lebaran dan sandal baru untuk Maryam, serta menggantikan sarung butut dan sandal butut Firman sendiri. Besok akan lebaran, agaknya Allah, zat yang Maha Kaya itu, sangat bermurah padanya, masih memberikan kesempatan pada dirinya, pada Maryam juga pada Aisyah untuk merayakan hari kemenangan itu besok hari.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar