Rabu, 15 Juli 2015

Mak Rabiah Dari Muara


Mak Rabiah kembali lagi kerumah, wajahnya terlihat murung dan sedih, sementara senja mulai menebarkan kegelapan. Segelap hati Mak Rabiah  yang kini sudah menapaki usia senjanya. Sebentar lagi, diusia senja itu, akan juga gelap, lalu orang tak mengenalnya lagi. Dia akan kembali pada sang Adzali, ditelan perut bumi.
Hampir setiap sore Mak Rabiah selalu berdiri di Dermaga Muara itu, mata tuanya memandang jauh ke tengah laut, melihat kapal yang datang. Lalu, menelisik mereka yang turun, adakah Pamenan diantara mereka. Anak itu sudah lama nian merantau, tak ada kabar berita yang dia kirimkan, apakah masih hidup atau sudah tiada. Mengapa tak juga memberi berita?.
Dari lebaran ke lebaran, Mak Rabiah selalu berharap jika saja Menan pulang. Lebaran tahun ini tak pulang, mungkin saja lebaran tahun depan, demikian berulang-ulang harapan itu, harapan yang selalu kandas, pada kenyataan, bahwa Menan tak juga kunjung menemui bundanya, Mak Rabiah.
Tapi kehadiran Menan tahun ini sudah sangat mendesak, rindu ini sudah tak tertahankan lagi, Mak Rabiah takut usianya tak ada lagi, dia ingin menutup matanya setelah melihat Menan. Kehadiran Menan juga diharapkan oleh Buya Rusdy dan Datuk Sutan. Mereka berdua itu, tokoh agama dan tokoh Adat yang mewakili pemerintah di Desanya. Kedua mereka  tak bisa mengambil keputusan hukum, tanpa hadirnya Menan. Itu karena, keinginan Mak Rabiah sudah bulat, menyerahkan satu-satu miliknya, untuk diwakafkan pada perjuangan rakyat Gaza.
*****
“Tekad Mak Rabiah sudah bulat?” Tanya Buya Rusdy.
“Iya Buya, Mak ingin mati dengan memberi arti untuk sesama manusia” Jawab Mak Rabiah. Sore itu, Mak Rabiah mendatangi  Buya Rusdy di Pesantrennya, selesai Ashar, setelah beberapa tamu pulang, maka Mak Rabiah diterima Buya Rusdy. Mak Rabiah menyampaikan niatnya,  untuk minta tolong pada Buya Rusdy agar mencarikan orang yang berniat membeli tanahnya. Hasil penjualan tanah itu, akan dia sumbangan seluruhnya bagi saudara-saudaranya di Gaza. Anak-anak kecil, janda-janda tua yang jadi korban kekejaman Israel itu. Semuanya telah meluluh lantakkan rasa iba yang ada di dada Mak Rabiah, karena itulah,  dia ingin berbuat untuk mereka.
Tokh, Pamenan sudah tidak butuh lagi warisan tanah itu darinya, bukan hanya itu, bahkan dia sekalipun sudah dilupakan Menan.
“Lalu Mak Rabiah, akan tinggal dimana” Tanya Buya Rusdy lagi
“Itu juga yang Mak minta tolong pada Buya, Gubuk Mak yang berada ditanah itu, jangan dibongkar sama pembelinya. Biarkan Mak tinggal disitu dalam beberapa tahun saja, hingga ajal menjemput Mak?” jawab Mak Rabiah lagi.
“Tapi masalahnya bukan sesederhana itu Mak, Mak kan punya anak, si Menan”
“Kenapa dengan Menan, Buya?”
“Karena Mak sudah tua, ada baiknya, Menan ikut juga menyetujui penjualan tanah itu. Supaya pembelinya tenang Mak, tak takut digugat kelak kemudian hari. Dengan alasan karena Menan tidak dimintai persetujuannya”.
“Tapi Menan tak pulang-pulang Buya, sudah lupa dia sama Maknya. Sebenarnya, itu juga yang Mak mau, dia pulang, dia lihat Maknya yang sudah tua ini” jawab Mak Rabiah lagi, tak terasa ada genangan hangat air dikelopak matanya, lalu turun membasahi pipinya yang sudah keriput.
“kita sabar ya Mak, mungkin tahun ini dia akan pulang. Tak ada do’a yang tertolak, ketika  seorang Ibu berdo’a  untuk anaknya” kata Buya Rusdy lagi. Cepat Mak Rabiah  mengamienkan ucapan terakhir Buya tadi, semoga diwaktu yang sama ada malaikat yang juga mengaminkannya. Sehingga ketika, sedapatnya, jika malam-malam Mak Rabiah bermunajat  pada Allah, supaya Menan pulang, maka do’a itu akan segera terkabul.
“Iya Buya, Mak selalu sabar. Tapi harapan Buya tadi semoga dikabulkan Allah juga”
“Amien..” Buya mengangkat tangannya, mengamienkan harapan Mak Rabiah.
*****
Sore ini, Mak Rabiah kembali berdiri di Dermaga Muara, milihat satu-satu mereka yang turun dari Kapal. Masih berharap kalau Menan akan ada diantara para penumpang yang turun itu. Mak Rabiah sudah memutuskan tidak akan membuat makanan apa-apa untuk lebaran ini, tokh tak ada juga tamu yang datang. Kalau hanya untuk perut tua sebatang ini, Mak Rabiah bisa singgah di rumah Buya Rusdy atau Mak Rabiah ke rumah Datuk Sutan. Tapi, sayang ibu pada anaknya, ibarat lautan yang tak bertepi, bagaikan sang Surya menyinari dunia, tak terhalangi, tak tak terbatasi. Mak Rabiah tetap membuat “anyang” untuk Menan. Makanan kesukaan Menan ketika kecil, sebelum dia pergi merantau. Manatau dia tiba-tiba muncul, maka cinta yang meluap pada anak, dapat dipresentasikan dengan anyang yang disukai Menan.
Kemarin sore, Buya Rusdy telah membawa Mak Rabiah ke rumah Datuk Sutan. Tujuannya jelas, menceritakan keinginan Mak Rabiah yang ingin menyumbangkan seluruh kekayaannya untuk korban Gaza. Tanah satu-satu miliknya, akan dia sumbangkan untuk korban Gaza. Kesimpulan yang Mak Rabiah terima sama, akan sulit menjual tanah itu, jika tanpa Menan. Sebab, si pembeli akan takut, jika suatu hari kelak akan digugat Menan. Pewaris sah dari Mak Rabiah.
Hingga penumpang terakhir, tak ada Menan. Tinggal nanti kapal terakhir jam Sembilan malam yang akan singgah. Tapi bagi Mak Rabiah, tak mungkin untuk ke Dermaga lagi. Sudah terlalu malam untuk wanita seusianya. Resiko yang diakibatkannya sungguh besar, bagaimana jika Mak Rabiah terjatuh, bagaimana gunjingan orang nanti, melihat wanita seusianya, tengah malam masih berkeliaran di Dermaga. Dan yang paling penting lagi, dia akan melakukan takbir seorang diri di rumah. Memuja kebesaran Tuhan, setelah satu bulan berpuasa. Apapun yang terjadi padanya, tak akan mengurangi kebesaran Tuhan, sebesar apapun sengsara yang dialaminya kini, tak mengurangi rasa kasih sayang Tuhan, hatta hingga detik-detik terakhir ramadhan usai, Menan tetap tak kunjung tiba. Sebagaimana Tuhan yang Maha Kasih pada Hambanya, maka Mak Rabiah demikian pula pada Menan. Sayur anyang ini akan tahan hingga pagi. Jam berapapun Menan mengetuk pintu reot ini, dia makasih dapat menikmati makanana kesukaannya dari Maknya yang sudah peot dan renta ini.
Dengan hati remuk, harap yang tak terlaksana, asa yang tak tergapai, sang buah hati yang tak datang, Mak Rabiah melangkahkan kakinya menuju gubuk reotnya, gubuk reot dan tubuh peot, sepasang keadaan yang saling melengkapi. Itulah sebabnya, sebelum tubuh peot dan gubug reot ini ditelan bumi, Mak Rabiah ingin berbuat sesuatu, sesatu yang tuntas menurut hitungan Mak Rabiah sendiri, seluruh miliknya akan dia sumbangkan bagi korban Gaza, korban kemanusiaan, yang membuat malam-malam Mak Rabiah terganggu, yang membuat sujud malam Mak Rabiah dipenuhi sedu dan tangis, semoga mereka yang jadi korban dijadikan syuhada dan ada solusi untuk Palestina yang lebih baik. Tapi semuanya terhalang dengan urusan administrasi dunia, dengan tiada kembalinya sang buah hati, Menan.
Jingga merah terlihat jelas diatas Dermaga Muara, membayang hingga ke tempat tinggal Mak Rabiah yang kini sedang ditapakinya. Suara Adzan terdengar di Mesjid Buya Rusdy. Itu artinya Mak Rabiah harus lebih mempercepat langkahnya. Dia harus berbuka puasa, buka puasa yang terakhir tahun ini. Malam ini akan terdengar takbir dimana-mana, menghiasai angkasa raya, baik desa maupun kota. Dimanakah kau Menan anakku, tak ingatkah kau pada Makmu? Demikian rintih Mak Rabiah pada Sang Maha Kasih, sang Maha Penyayang hambaNya.
*****
Letih sudah tenaga Mak Rabiah bertakbir seorang diri, mulai setelah sholat Maghrib hingga Isya, kini Mak Rabiah bingung harus mengerjakan apa, mau makan rasanya perut tua ini, tak rasa lapar. Mau ke rumah Buya Rusdy, ada rasa segan, bagaimana nanti jika Buya Rusdy bertanya tentang Menan. Apa yang akan dijawab oleh Mak Rabiah? Dalam keletihan tenaga itulah Mak Rabiah tertidur, masih dengan mukena yang dikenakannya.
Tiba-tiba… sayup-sayup, antara sadar dan tak sadar, terdengar ketukan di pintu, ada panggilan yang menyebut Mandeh, tak ada yang menyebut diri Mak Rabiah Mandeh kecuali Menan. Tapi Mak Rabiah yang terlalu letih tak mempercayai itu semua. Mungkin itu hanya obsesi, dua minggu ini dia terobsesi, akan kepulangan Menan.
Panggilan itu makin keras, ketukan di pintu makin keras. Menyadarkan Mak Rabiah, kalo itu bukan mimpi, dia terduduk. Astaghfirullah…………. Ini nyata.
Mak Rabiah, bangkit menghambur menuju pintu, sebelum dia tiba dipintu, pintu itu sudah terbuka sendiri, mungkin di buka oleh Menan, anggota keluarga inti tahu cara membuka pintu itu, karena dia tidak dikunci, hanya dikaitkan saja.  Mak Rabiah melihat Menan berdiri terpana di depan pintu. Mak Rabiah memeluknya, memeluk anak yang selama ini dirindukan. Tetapi kok Menan tak bereaksi, tatapan Menan tetap lurus ke depan, seakan dia tak merasakan pelukan Mak Rabiah. Menan lalu berjalan memasuki rumah, dia bersujud di samping Mak Rabiah yang masih mengenakan mukena dalam tidurnya, membangunkannya dari tidurnya, lalu menengadahkannya, lalu…. Meledaklah tangis Menan.
Mak Rabiah bingung, melihat semua kejadian itu, aku melihat diriku, ditangisi Menan, aku melihat diriku, terlentang dalam tidur, masih dengan mukena, tidur dengan senyum, lalu siapa aku yang memeluk Menan, tadi? Siapa aku yang sedang bertanya ini?
Lewat tengah hari, di satu Syawal, hari lebaran, hari kemenangan ini. Masyarakat Muara berduyun-duyun menghantar jenazah Mak Rabiah ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Seluruh oleh-oleh yang dibawa Menan dari perantauan panjangnya, tak ada yang bisa dikenakan Mak Rabiah, kecuali kain putih panjang yang awalnya dimaksudkan untuk membuat mukena. Kini memang dipakai Mak Rabiah  sebagai kain kafan.
Tak ada sesal yang lebih besar bagi seorang anak, ketika seluruh jerih payahnya tak memberi manfaat pada bunda tercinta, tak kecuali Menan, harta segunung yang berhasil dia kumpulkan di rantau, hanya menyisakan kain kafan yang terpakai untuk sang Mandeh, Mak Rabiah. maka ketika, Buya Rusdy dan Datuk Sutan menceritakan keinginan terakhir Mak Rabiah, tentang wakaf dirinya untuk korban Gaza, Pamenan hanya tersedu-sedan menyesali nasib, Menan hanya mampu mengangguk dan langsung menyetujui.
Semoga, wakaf  itulah kelak yang akan menemani dan membantu Mak Rabiah dalam perjalanan panjangnya menuju sang Khlaiq.  




Catatan:
1.Anyang, jenis sayuran yang sama persis dengan urap, hanya kelapanya di sangrai/gongseng, sedang pada urap tidak disangrai.
2. Mandeh, artinya Ibu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar