Sabtu, 11 Juli 2015

Lelaki Tua Yang Kalah



Lampu jalanan sudah mulai menyala, coba tuk menggantikan sinar Mentari, mengusir gelap dari sang persada, meskipun tak memiliki kemampuan berarti, tetapi, cukup mengusir gelap sepanjang jalan ini, ketika mobil-mobil yang berlalu lalang, terkadang absen untuk beberapa jenak. Lelaki tua itu, terus mengayunkan langkah kakinya, tak tahu kemana diri itu akan dibawa pergi.  Arah langkah ke depan dengan tujuan yang tak pasti, tetapi berjalan meninggalkan rumah sudah menjadi keputusan yang bulat, tak mungkin langkah ini surut kembali. Inilah hasil yang dia peroleh ketika usai kalah berjudi, dalam kehidupan rumah tangga yang telah dia jalani. Kalah telak pada babak akhir perjalanan hidup.
Sore kemarin, masih dia coba untuk berbicara pada sang istri, coba beragumentasi dan mengajuk diri, manatahu masih tersisa harapan untuk mempertahankan diri, dalam menyelamatkan biduk rumah tangga yang telah lama dia jalani. Tetapi, semua sia-sia, tak ada yang bisa lagi diselamatkan, biduk bocor itu, tak mungkin lagi ditambal, sudah terlalu banyak yang bocor, kebocoran terbesar, ketika sang buah hati, satu-satunya tempat perekat hati, juga sudah ikut larut teracuni. Anak semata wayangnya, sudah menfoto copy apa yang dilakukan oleh sang istri.
 ****
Memang, harus diakui, ketika membahas rumah tangga yang gagal, tak ada yang berdiri sendiri, tak ada suami yang salah sendiri, tak ada istri yang salah sendiri, dua belah pihak, memiliki andil. Tak mesti sama banyak memang, bisa istri yang dominan, bisa juga suami yang dominan. Tetapi siapapun yang dominan, jika dua-duanya masih dapat untuk saling memahami, mau saling memaafkan, perpisahan itu, tentu akan dapat dicegah. Tak akan terjadi. Tapi agaknya pengertian dan maaf itu tak tersisa lagi, maka keputusan untuk mengakhiri itulah yang akhirnya diambil.
“Ma, sepertinya Mas sudah gagal membina rumah tangga ini” kata Tono diberanda rumahnya sore itu, waktu itu baru pukul tujuh malam. Bulan hampir penuh berada diufuk timur, terlihat menerangi cakrawala diatas rumah mereka. Tono bermaksud mengajuk hati Ima, manatau dialog pembuka masih dapat melunakkan hati Istrinya.
“Memang iya, Mas sudah gagal, Mas sudah tak berguna lagi…” jawab Ima ketus, terkejut juga Tono mendengar jawaban Ima, rasanya, dialog ini akan menjadi sia-sia saja, apa yang akan dikemukakan Tono, agaknya tak kan membuahkan hasil seperti yang dia harapkan.
“Iya… mungkin juga begitu” kata Tono  lagi, coba mengikuti pola alur berpikir Ima, jika dapat,    lalu dia giring dalam pola pikirnya sendiri, hingga Ima akan menangkap apa yang akan Tono sampaikan.
“Nah, kalau sudah tahu, lalu maksudnya apa?” kembali Ima mengajukan pertanyaan bernada ketus, tidak bersahabat,
“Begini Ma, setelah sekian lama rumah tangga ini kita bina, Mas rasa, Mas telah gagal menjadikan Ima percaya pada Mas” Bujuk Tono kembali, masih mencoba memberikan pengertian, masih mencoba agar terbuka dialog.
“Memang iya” kembali ketus jawaban Ima itu. Tono sudah bertekad untuk tetap berusaha meyakinkan Ima akan maksud tindakannya selama ini.
“Padahal Mas sudah berusaha jujur selama ini, semua yang Mas lakukan, itu demi untuk kita semua, demi untuk keluarga kita” jawab Tono kembali, masih mencari celah, agar dialog antara mereka berdua, masih mungkin untuk dilakukan.
“Bohong… itu demi untuk Mas sendiri” cepat sekali Ima menyambar kalimat Tono. Kembali Tono terkejut, memang belakangan ini, dia semakin mudah terkejut, apakah karena usianya yang membuat Tono demikian? Usia ketika memasuki tahun ke delapan masa pensiunnya.
*****
Tono memang keras dalam keluarga, posisinya yang hanya golongan dua, yang datang dari keluarga miskin, yang terseok-seok menaklukan kerasnya kehidupan, hingga menjadi pegawai negri, menjadikannya, selalu berhitung dalam hidup. Dia tak mau gagal dihari tua seperti yang dialami Marjono, Tanto dan teman-temannya yang lain, ketika mereka memasuki usia pensiun, mereka semua tak memiliki rumah untuk berteduh. Aku tak mau mengalami hal yang sama dengan mereka, demikian tekad Tono. Untuk itulah, maka Tono sangat keras mengatur keuangan, mengatur gaji yang diterimanya setiap bulan. Itulah yang dilakukan Tono, sejak diterima menjadi pegawai negri.
Tetapi, selalu saja, hidup tak mulus sesuai keinginan, ada saja kendala yang menghadang, yang akan menghalangi tercapainya tekad yang sudah dipancangkan Tono. Tiga tahun setelah pernikahannya dengan Ima, seluruh gajinya, dia serahkan pada Ima, dengan pesan agar dapat dikelola dengan baik, dengan satu tujuan, agar kelak keinginan Tono dapat terwujud. Tetapi apa yang terjadi? Semua gaji tak tersisa serupiahpun, bahkan belakangan, memasuki minggu ke empat, sudah harus ngutang pada warung tempat mereka tinggal.
Ima memang punya latar belakang yang lain. Dia adalah tetangga Tono ketika iitu, tak cantik memang, juga tidak seksi. Sedangkan Tono, jika saja mereka tak tahu apa profesinya, mirip-mirip coverboy. Tetapi itulah jodoh, selalu aja ada kemiripan dan perbedaan. Kemiripannya, mereka berdua saling cinta, perbedaannya, Ima lebih pada kekayaan yang dimiliki orang tuanya, Tono lebih pada fisik dan gantengnya.
“Ma,…”
“hmmm..” Ima ngelendot pada Tono, ada rasa ragu pada Tono, jika melihat kemanjaan Ima, padahal yang akan dibicarakannya, soal berat, soal rumah tangga, soal yang kelak akan mereka nikmati bersama ketika memasuki usia pensiun, tetapi pahit ketika hendak memulainya.
“Semuanya harus diakhiri Ma..” Tono mencoba memulai memberikan pengertian pada Ima
“Maksudnya Mas?” Tanya Ima, tak tahu apa maksud yang akan Tono sampaikan.
“Soal management keluarga ini” kata Tono lagi, dia sudah bertekad akan merubah pola pengendalian keuangan selama ini, selama tiga tahun terakhir yang tak ada tanda-tanda pencapaian untuk cita-cita yang sesuai idaman Tono. Wujudnya sebuah rumah tempat berteduh, setelah usia pensiun menjelang.
“Ima gak ngerti Mas..” kata Ima lagi, Tono maklum, Ima yang pendidikannya sama dengan Tono, tak memiliki kemampuan pikir sama dengan Tono, mungkin karena hidupnya yang tak sekeras yang dialami Tono selama ini, atau karena Ima yang kurang banyak membaca, kurang berminat menambah pengetahuan.
“Mulai besok, Mas akan membuka rekening. Setelah itu, 20% dari gaji Mas, akan kita tabungkan pada rekening yang Mas buka itu” jelas Tono pada Ima.
“Untuk apa Mas?” masih saja Ima bertanya, padahal keinginan untuk memiliki rumah itu, sudah berkali-kali disampaikan Tono. Tapi, selalu saja, Ima tak mengerti.
“Uang itu, akan kita belikan rumah, Mas ingin, kelak ketika pensiun, kita sudah memiliki rumah Ma..” jelas Tono kembali pada Ima.
“Tapi… Mas”
“Mas tahu, maksud Ima, untuk makan saja tidak cukup, apalagi harus dikurangi untuk ditabungkan” ujar Tono, mencoba membaca jalan pikiran Ima. Tono sadar, masalah ini bukan sederhana. Tetapi kalau tidak sekarang, kapan lagi.
“Iya Mas..”
“Mas akan cari tambahan diluar Ma, Mas akan jadi supir tembak angkotnya Mas Gatot. Kemarin kami sudah ngomong banyak, Mas Gatot setuju untuk memberi Mas, waktu empat jam setiap harinya” jawab Tono lagi.
Terkadang, kita dipaksa untuk dewasa, saat kemudahan tak ada
Terkadang kita terpaksa jadi orang tua, ketika semua bergantung pada kita
Rencana menabungkan gaji 20% dari yang diterima terwujud, semua sesuai dengan keinginan Tono. Malah kondisi ekonomi keluarga semakin baik saja. Penghasilan tiap hari yang dibawa Tono pulang, dapat menutup kebutuhan sehari-hari.
Demikianlah, hukum alam memang begitu, tak ada yang gratis, semuanya ada dalam volume yang sama, sebagai sebuah hukum kekekalan energi, semua hanya peralihan dari satu hal menjadi hal yang lain. Kelebihan penghasilan Tono, harus dibayar dengan berkurangnya waktu untuk berkumpul dengan Ima, Tono hanyut dalam rutinitas mencari tambahan, Ima makin tersingkirkan dalam kesunyian di rumah, entah karena konpensasi dari kekurangan fisik yang dimilikinya, atau karena kekurangan ilmu dan pergaulannya, Ima makin tenggelam dalam cemburu yang  membabi buta. Cemburu yang bukan hanya terhadap wanita, tetapi juga pada perolehan rezeki yang Tono terima.
*****
“Ma.. coba ngerti deh” Tono masih coba menjelaskan dengan sabar, terhadap tuduhan selingkuh keuangan yang dilakukannya. Rezeki berlebih yang diterimanya, selalu berakhir pada penambahan angka pada rekening tabungan mereka. Tetapi Ima, selalu saja curiga, seakan apa yang yang ditabungkannya, hanya sebagian saja dari rezeki yang dia terima, sedangkan sebagian yang lain, digunakan untuk yang lain. Selingkuh pada wanita lain.
“Buktinya… angkanya cuma nambah segitu.” Kata Ima, penuh kecurigaan.
“Iya memang cuma segitu lebihnya, setelah dipotong biaya hidup kita” bela Tono.
“Bohong, Ima gak percaya”..
“Subhanallah… masak Ima gak percaya sih? Mas sudah melakukannya dengan jujur Ma” jawab Tono, coba menenangkan Ima. Coba memberinya pengertian.
“Gak percaya, pasti dibuat untuk selingkuh. Mana ada sih, supir yang jujur?” sergah Ima dengan emosional.
“Istighfar Ma…”
“Bodok…” cemberut Ima makin menjadi. Pertengkaran demi pertengkaran selalu mewarnai rumah tangga mereka, yang semestinya gak perlu terjadi, karena, hanya disebabkan karena sifat cemburu buta Ima, cemburu tanpa bukti. Tanpa sebab tanpa ada indikasi awal. Semua itu. Melelahkan jiwa pada tubuh Tono yang sudah penat dalam mengejar asa yang ingin dimaihnya. Memiliki rumah sendiri, dihari tua.
*****
Mendekati usia pensiun, rumah idaman itu selesai  juga, Anton anak semata wayang mereka telah duduk di semester lima. Supir tembak Angkot telah lama ditinggalkan Tono, dia kini telah memiliki usaha. Nyaris semuanya telah berubah dari kondisi ketika rumah tangga itu dimulai, nyaris sempurna semua, kalau saja Imah mau berubah. Tetapi, disitulah masalahnya, Ima masih seperi dulu, tak juga kunjung berubah, masih dengan cemburu yang membabi buta. Kalaupun ada yang berubah pada Ima, itu hanya terlihat dari bentuk tubuhnya yang makin melar, rambut putih yang makin banyak.
Pagi itu, udara cerah, Tono baru saja selesai membuka warung yang berada di depan rumahnya. Koran pagi itu, baru saja akan Tono baca, ketika, tiba-tiba ada suara teriakan keras. Dari siapa lagi suara teriakan itu, kalau bukan dari Ima.
“Mas… memang keterlaluan ya?” teriak Ima, membuat Tono jantungan,
“Apalagi sih Ma” Tanya Tono dengan tenang, dia merasa tak berbuat salah apa-apa.
“Mas selingkuh lagi ya?” Ima kembali menuduh Tono dengan tanpa dasar.
“Duh, apalagi sih, coba Ima lihat, Mas sudah tua gini. Apa iya masih pantes untuk selingkuh?” bela Tono, dia berusaha untuk sabar, Tono sudah lelah untuk bertengkar, semua awal pertengkaran itu, hanya memperebutkan pepesan kosong.
“Coba lihat ini..” Ima menyorongkan HP pada Tono, disitu ada tulisan terimakasih ya om, om sudah bantu Eka bayarin anak Eka sekolah.
“oooo itu, itu dari Eka..” jawab Tono. Nadanya datar saja, tak ada rasa bersalah.
“Siapa Eka? Pasti selingkuhan Mas, janda punya anak” teriak Ima lagi.
“Eka itu, anaknya Almarhum Mas Gatot. Ingat Mas Gatot gak? Dulu, almarhum pernah bantu kita, waktu awal-awal kita nikah. Mas jadi supir tembak dia” jelas Tono.
“Tapi dia janda kan? Kenapa bantu dia segala? Bayarin uang sekolah anaknya segala?” makin gencar tuduhan-tuduhan yang dilancarkan Ima. Tono makin gak ngerti aja, melihat perilaku Ima yang sudah kelewatan itu.
“Apa salahnya Ma, Eka gak bisa ambil raport anaknya, karna nunggak bayaran uang sekolah dua bulan, makanya Mas bantu” jawab Tono lagi, datar tanpa emosi, masih berusaha menyadarkan Ima dari kekeliruan tuduhannya.
“Berarti Mas bantu dia setiap bulan? Pasti ada maunya? Ada apa-apanya?”
“Istighfar Ma, Mas cuma ketemu sekali doang, kebetulan waktu itu, Mas sedang belanja warung kita. Mas pikir kenapa gak, tokh dulu bapaknya pernah bantu kita”
“Bohong… gak percaya” teriak Ima lagi. Tono hanya diam, berusaha untuk sabar. Gak ada yang perlu diladeni, makin diladeni makin jadi. Bisa bertengkar akhirnya. Tono sudah lelah. Sudah makin gak ngerti aja jalan pikiran Ima. Rumah tangga yang mestinya bahagia ini, kok rusak hanya karena cemburu buta yang gak perlu. Mestinya, kinilah saatnya bahagia itu mereka nikmati. Kurang apa lagi. Anak selesai kuliah, rumah sudah ada, lilitan kesulitan ekonomi disebabkan karena pension tidak mereka alami. Toko di depan rumah, sudah sangat membantu perekonomian mereka.
*****
Kejadian kemarin sore itulah yang kini mengantarkan Tono, menapaki jalan sunyi ini. Ada rasa gamang yang menghampiri dirinya, kemana langkah ini akan dibawa? sementara lampu jalanan masih menyala, langkah ini makin terasa penat, sementara jalanpun telah terasa sunyi. Sementara tujuan pasti yang akan dituju belum juga Tono peroleh.
Tono lalu menghentikan langkahnya, menoleh ke belakang, ada angkot yang terlihat dari jauh menuju arah dimana dia berdiri. Lalu Tono, melambaikan tangannya, mengisyaratkan agar angkot berhenti, dia putuskan untuk menaiki angkot itu, langkah ini semakin berat untuk diajak berjalan. Biarlah ketika sudah diatas angkot kelak, dia akan putuskan kemana tujuan itu akan diputuskan. Angkot itu, menuju ke arah posisi Tono berdiri. Sinarnya lampunya begitu mencorong wajah Tono. Begitu menyilaukan. Tetapi satu yang Tono heran, kecepatan angkot tetap tidak melambat. Malah semakin cepat saja. Untuk menghindar dari angkot yang datang, tungkai tua ini, terasa berat untuk menghindar, untuk diajak pergi menjauh.
Tiba-tiba… dalam hitungan detik, blaaargghhhh, suara dentuman keras terdengar. Tono tak tahu, apa sebenarnya yang terjadi. lalu, samar dia melihat Mas Gatot datang padanya mengulurkan tangan, Mas Gatot mengisyarat pada Tono untuk dibimbing, mereka berjalan berdua beriringan, semakin lama semakin cepat dan makin cepat, lalu perlahan-lahan mereka berdua tak menapakan kaki mereka pada jalan aspal yang mulai sunyi dari lalu lintas yang beberapa saat lalu masih ramai dengan kendaraan.. Lalu perlahan semuanya gelap, menjadi sunyi dan menjadi dingin mencekam.





 Catatan:
Untuk mencari Jodoh, hindari type istri  yang memiliki sifat-sifat sbb:
1. Wanita “Ananah” : wanita yang banyak mengeluh.
2. Wanita “Mananah” : wanita yang suka meniadakan usaha dan jasa suami,
3. Wanita “Hananah” : Menyatakan kasih sayangnya kepada suaminya yang lain.
4. Wanita “Hadaqah” : Boros, suka mengkoleksi barang-barang yg gak perlu.
5. Wanita “Basaqah” : Pesolek, suka dipuji-puji, gak boleh ada yang menyainginya.
6. Wanita “Syadaqah” : Suka ngegosip
[Sumber dari Ihya Ulumuddin – Imam Al Ghazali]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar