Rabu, 22 Juli 2015

Latina, Kau Tak Tergantikan

Tanah merah masih segar, kayu nisan baru saja ditanamkan, bunga melati dan mawar baru beberapa menit lalu ditaburkan diatas pusara. Aku masih berjongkok disisi kubur, ketika sebuah tangan menggapai pundakku..
“Ayo ayah, kita pulang” bisik suara anakku Lastri.
“Ya…nak” jawabku lirih, aku berdiri, mengiringi langkah Lastri. Lastri berjalan didepanku, diantara sisi-sisi makam, aku mengikuti  selangkah dibelakangnya, langkah kakiku turut mengiringinya. Air mata ini, tanpa terasa menetes.
Lastri adalah anak sewata wayang kami, hasil buah Cintaku dengan Latina. Dialah satu-satunya milikku kini, setelah beberapa saat sebelumnya Latina, berbaring untuk selamanya di tanah pekuburan yang baru saja kutinggalkan bersama Lastri.
*****
Telah seminggu ini, rumahku silih berganti tamu, jika siang hari,mereka datang untuk mengucapkan bela sungkawa, jika malam tiba, maka rumah akan ramai dengan mereka yang yasinan. Orang kampungku menyebutnya dengan tahlilan. Kepergian Latina belum membawa sepi yang mencekam bagiku dan Lastri. Maklum rumah masih ramai dengan mereka yang datang, apakah itu tetangga sebelah menyebalah maupun para handai taulan yang datang dari luar kota.
Ini hari terakhir, takziyah di rumahku, mulai besok para tetangga tak akan ada lagi yang datang. Sebab yasinan telah selesai.Masing-masing akan sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Kembali pada rutinitas seperti biasanya. Rumah ini akan sepi. Lastri mungkin lusa akan meninggalkan aku. Kembali ke kota, pada suami dan anaknya.
*****
Aku duduk diberanda, sinar lampu agak redup, hanya delapan watt, sepinya rumah mulai terasa, paling tidak untuk area beranda rumah ini. Aku sedang duduk menghadap halaman, terdenggar ada suara kaki seakan terseret di belakangku, aku tak menoleh, aku yakin itu suara langkah Lastri. Lalu diam. Suara itu hilang. Aku masih diam, tak menoleh. Lalu ada tangan dingin menyentuh pundakku, tangan dingin itu kuraih, kubawa ke depan, kuisyaratkan agar duduk di kursi di sebelahku.
“Ayah…” suara Lastri lirih, matanya nanar menatap kedepan, tidak memandangku. Apa itu artinya Lastri sedang menangis, atau tidak tega menatap wajahku. Aku tak mau mana yang benar.
“Ya…Las…” jawabku lirih, aku memandang langit-langit beranda rumah, ada genangan yang terkumpul di kelopak mata, dengan sekuat yang bisa kutahan, aku berusaha agar genangan dikelopak mata ini, tak sampai jatuh.
“BesokLastri akan pulang, Ayah…” suara Lastri lirih
“Ya Las, ayah paham….”
“Lalu ayah bagaimana?”
“Ayah akan tetap disini, pulanglah, kasihan suamimu, juga edo… dia menantikan mamanya” jawabku lirih.
“Ya ...Yah, tapi Lastri tak tega meninggalkan ayah sendiri…”
“Ayah tidak sendiri las…. Ibumu masih disini, tak tak tampak memang, tapi bagi ayah masih di sini, masih seperti hari-hari yang lalu…”
“Ayah….!!!” Tiba-tiba Lastri memelukku, lalu sesenggukan, aku memeluknya, kurengkuh dia dalam pelukanku, mencoba memberikan kekuatan pada Lastri, atau mungkin sebaliknya, aku yang mencari kekuatan pada lastri, atau malah kami berdua saling mencari kekuatan. Genangan dikelopak mata yang sedari tadi telah ada, kini jatuh. Kutahan sekuatku, agar tak ada suara yang keluar. Aku tak ingin lastri mendengarnya, kuatir malah suara itu akan melemahkan Lastri dan mengurungkan niatnya untuk kembali ke kota.
“Ini yang kutakutkan yah… ayah akan larut dengan situasi ini”
“Tidak Las, ayah cukup kuat. Ini memang sudah seharusnya begitu”
“Tapi…”
“Tapi apa las?”
“Lastri akan kepikiran terus pada ayah… ayah akan larut dalam suasana duka ini. Ayah harus meninggalkan rumah ini, kalau tidak, ayah akan teringat terus pada ibu. Rumah ini terlalu banyak membawa kenangan pada Lastri, juga pada ayah”.
“Tidak Las, ayah akan kuat…biarkan ayah tetap di rumah ini, biarkan ayah mereguk sedikit waktu di rumah ini, agar ayah masih dapat menziarahi ibumu. Besok Lastri berangkatlah,  kehadiran Lastri lebih ditunggu disana. Ditunggu suamimu dan Edo, cucu ayah” jawabku lagi, masih berusaha menguatkan Lastri.
*****
Pagi berganti siang, siang berganti malam, lalu pagi lagi, malam lagi, semua berputar berkelindan pada porosnya dan saling berganti dalam satu putaran yang selalu berulang. Seperti gerakan berkeliling, layaknya manusia tawaf mengelilingi Ka’bah, layaknya bumi berkeliling mengitari Matari. Dan Matahari berputar para pada porosnya mengelilingi Galaksi. Begitulah perulangan yang seakan sama, meskipun sesungguhnya tak lah sama, karena berputarnya bumi hari ini mengelilingi Matahari tentu berbeda dengan mengelilinginya Matahari kemarin,
Demikian juga yang terjadi pada Lastri, setelah kejadian berpulangnya Latini, maka Irama perpuataran kehidupan Lastri akan berputar pada garis edar rutinitasnya pula. Lastri telah kembali siang tadi, kembali pada kehidupan rutinitasnya, mendampingi suami dan mengasuhnya anaknya,  aku telah mengantarkannya ke stasiun. Perjalanan pulang dari stasiun terasa sangat panjang, rumah ini benar-benar sepi.
Tak ada siapa-siapa lagi, hanya aku seorang. Walau sebenarnya, aku sudah dibiasakan sendiri, oleh keadaan. Latina delapan tahun terakhir sudah tergolek lemah di tempat tidur, akulah yang merawatnya, dari mulai menyuapi, memandikan hingga membersihkan semua kotorannya. Semuanya kulakukan dengan ikhlas, sesuai kodratnya, aku yang sehat melayani Latini yang sakit. Apakah itu berat? Tentu jawabnya tidak berat, semuanya belum seberapa dibandingkan dengan lamanya Latini melayaniku dalam perjalanan rumah tangga kami. dia dengan setia melayaniku, melayani suaminya yang sehat, lalu dimana beratnya ketika aku yang sehat melayani Latini yang sedang sakit. Tak ada yang terasa berat, cintaku pada Latina membuat segalanya jadi ringan. Sinar mata kuyu Latina, bagiku masih seperti dulu, ketika aku baru mengenalnya, pancaran sinar mata cinta Latina, yang membuat semua ini seakan syurga yang tak bertepi.  Sehingga kemanapun aku lari dan menghindar, maka kehadiran cinta latina, selalu melingkupiku. Kalaupun bisa disebut pelarian, maka mesin tik disudut ruang tamu itulah satu-satunya pelarianku.
Diantara waktu luang, dari kesibukanku melayani Latini, aku mengetik, mengetik dengan sangat hati-hati, karena takut suara mesin ketik itu, akan mengganggu ketenangan istirahat Latina.
*****
Pernah, pada lima tahun pertama sakitnya Latina, Lastri dan suaminya menemuiku, mereka menawarkan, untuk bergantian mengurus Latina.
Sore itu, di ruang kamar tidur Latina. Duduk dikursi Lastri dan suaminya, sementara aku duduk ditepi ranjang Latina, sementara Latina tergolek lemas dikasur.
“Lastri putuskan untuk pulang ke rumah saja, Yah. Mas juga sudah setuju kok” kata Lastri memulai pembicaraan.
“Maksudnya bagaimana Las? Apakah lastri sedang ada masalah dengan suami?” tanyaku, aku belum tahu arah pembicaraan mereka.
“Kami baik-baik saja Yah, masih rukun-rukun saja kok. Ini bukan masalah keluarga Lastri, tapi masalah Ayah..”
“Duh…. Ayah makin tak mengerti maksud Lastri” jawabku jujur pada Lastri.
“Begini Yah, Lastri putuskan untuk pulang ke rumah saja, untuk mengurus Ibu, sudah lima tahun Ayah mengurus Ibu, dari mulai bangun tidur hingga tidur kembali. Lastri pikir itu terlalu berat untuk Ayah. Ayah tak mempunyai waktu untuk Ayah sendiri, untuk kesenangan Ayah sendiri.”
“Terus…”
“Makanya, Lastri pulang. Setelah Ibu Lastri urus, maka Lastri berharap Ayah akan punya waktu untuk Ayah sendiri. Ayah bisa menikmati usia pensiun Ayah, menikmati masa tua dengan tenang, Ayah bisa meneruskan hobby Ayah menulis, melahirkan karya-karya sastra yang kini harus tertunda karena mengurus Ibu…”
“Lalu bagaimana dengan suami  dan Edo anakmu?” tanyaku pula
“Mas akan tetap bekerja di kota, Edo akan ikut bersama Lastri. Biar rumah ini menjadi ramai. Edo juga mungkin akan menjadi hiburan bagi Ayah. Menemani hari-hari tua yang mungkin saja sepi, atau mungkin ayah ingin….”
“Ingin apa Las?”
“Ingin menikah lagi. Lastri dan Mas sudah sepakat untuk mendukung keinginan Ayah itu. Lima tahun, Lastri pikir waktu yang cukup, ketika ibu sudah tidak dapat memberikan apa-apa yang semestinya Ayah terima” kata Lastri lagi. Aku sungguh kaget mendengar usulan Lastri yang sama sekali diluar perkiraanku. Darimana datangnya ide liar itu, kulihat suami Lastri hanya diam saja, dia sejak dulu memang pendiam tak banyak bicara. Lastri lah yang lebih banyak berfungsi sebagai juru bicaranya. Kutatap wajah mantuku itu. Kulihat dia gugup. Aku mencari kepastian wajah itu. Benarkah semua ide liar itu, datang dari mereka berdua, atau hanya ide dari Lastri sendiri.
“Benar Yah. Kami sepakat untuk setuju, jika itu memang Ayah kehendaki. Saya dan Lastri, akan mendukung itu dan kami sangat bisa memakluminya” kata Suami Lastri. Inilah kalimat pertama yang keluar dari bibirnya. Kalau saja, aku tak menatap tajam padanya tadi, mungkin saja dia tak akan bicara.
“Dengar Las. Ayah sudah menikahi ibumu selama selama tiga puluh enam tahun, sebelumnya kami pacaran selama empat tahun. Sudah empat puluh tahun, hati Ayah ini dipenuhi oleh cinta pada Ibumu. Jika lima tahun ini, Ibumu sakit, itu artinya, tiga puluh lima tahun lamanya, kami reguk kebahagiaan ini bersama. Kau lahir kedunia, juga sebagai hasil buah cinta kami. Kami asuh dan besarkan lastri juga dengan penuh cinta yang kami refleksikan dalam bentuk cinta lain. Tiga puluh satu tahun Ibumu melayani Ayah dengan sepenuh cinta yang menggelora. Yang menghanyutkan Ayah pada lautan Cinta Ibumu, lautan Cinta yang tak bertepi. Lalu bagaimana Ayah bisa mencari pendamping lain selain Ibumu. Sedangkan orang yang Ayah cintai masih tergolek lemah tak berdaya. Kinilah saatnya, Ayah membuktikan cinta Ayah pada Ibumu sebagai Cinta yang murni dan tulus. Cinta yang melewati batas ketertarikan pada sosok sebuah bentuk fisik, cinta yang melewati batas pertanyaan apa yang dapat saya peroleh ketika saya mencintainya. Cinta yang harus Ayah buktikan, bahwa cinta ini sudah tak berharap balasan lagi, cinta yang hanya ingin memberi  tanpa harapan untuk dibalas.” Jawabku panjang lebar pada Lastri. Aku tak tahu, apakah Lastri paham dengan apa yang kukatakan atau tidak. Aku melihat Lastri dan Suaminya hanya menunduk.
Pandangan ini kualihkan pada Latina. Meskipun Latina tak dapat bicara, tetapi pendengaran dan kesadarannya masih ada. Ada genangan air mata yang tertahan di kelopak mata itu, ketika pandanganku bertemu dengan pandangan mata Latina, maka jatuhlah air mata yang selama ini masih bertahan dikelopak mata itu.
Pada saat air mata Latina jatuh itu, rupanya dapat tertangkap oleh pandangan Lastri. Aku segera memeluk  Latina. Pelukan yang multi arti, pelukan permohonan maaf karena aku masih kurang sempurna memelihara disaat Latina sakit dan pelukan cinta seorang suami pada Istri yang sangat dicintainya.    
Lastri tiba-tiba, ikut memeluk Latina. Tak perlu kata-kata lagi, tak perlu lagi ucapan, semua kami paham, tak diperlukan lagi hadirnya wanita lain untuk melengkapi cinta yang sudah sempurna ini.
******
Kini Latina telah meninggalkanku untuk selamanya. Tapi cinta ini masih tetap bergelora, sama ketika pertama kali aku mengenalnya. Cinta pada Latina sudah kubuktikan padanya, delapan tahun merawatnya tanpa keluh, tanpa kesah. Hanya ada senyum dan kasih sayang, bukan hanya sebagai suami, tetapi lebih sebagai seorang kekasih.
Kini……..kembali aku duduk menghadapi mesin tik tuaku, akan kuhadapi dia, mesin tik tua itu,  kujadikan dia sebagai alat tunggangan, sebagai alat pembuktian cinta ini pada Latina. Biarlah kami -aku dan mesin tik-  menghabiskan malam-malam kami untuk mewujudkan bukti cintaku pada Latina. Sebuah buku sedang kami garap bersama, kami usahakan segera selesai, buku yang menceritakan cinta yang tak pernah padam pada Latina. Buku yang berjudul Latina, Kau Tak Tergantikan.  Buku inilah yang kelak menjadi bukti cintaku pada latina, dan satu-satunya warisan yang paling berharga yang akan kuwariskan pada Lastri. Sebagai moment peringatan bahwa Ayahnya mencintai Ibunya dengan cinta yang benar. Cinta yang tak pernah tergantikan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar