Sabtu, 11 Juli 2015

Konsekwensi Dari Sebuah Janji



Aku masih saja mematung, tak menunjukkan ekspresi apapun dari wajahku, dari sudut mataku, kulihat Bram memasukan baju-baju dalam kopernya, ada celana, ada laptop, dan alat-alat tulis lainnya. Tak ada suara, semua dilakukan dengan diam, dengan wajah penuh penyesalan. Sementara itu. Aku hanya diam, tak ada usaha dariku untuk mencegahnya.  Bagai sebuah patung, aku duduk tak bergerak, diatas kursi pada sudut meja riasku.
“Tak ada maaf lagi darimu Hen?” Tanya Bram. Suara itu, lebih dia tujukan pada dirinya sendiri, bukan padaku, sebagai isyarat agar dia mampu untuk meneruskan kegiatannya mengemasi barang pribadi miliknya.
Aku, tak bergeming. Diam seribu bahasa, bahkan untuk menoleh sajapun aku tidak. Semua sudah selesai, sesuai dengan kesepakatan awal, ketika kami memulai rumah tangga.
“Beri aku satu lagi kesempatan Hen..” Bram masih mencoba untuk mengajakku berdialog,  kuakui ada  nada penyesalan pada nada bicaranya. Tapi, aku sudah tidak peduli lagi. Sudah terlambat semuanya.

“Aku akan sujud padamu, memohon pada kebesaran jiwamu, untuk memberikan satu kali lagi kesempatan. Apapun syaratnya, tanpa reserve, akan kupenuhi semuanya. Apakah kau tidak iba pada Maya, pada Ira..” Bram masih berusaha merayuku untuk memberi maaf, kini dia membawa-bawa nama kedua putri kami, dengan harapan aku akan luluh, dia coba, mengaduk-aduk rasa seorang ibu pada kedua putrinya, Bram berlindung pada rasa seorang Ibu pada kedua putrinya.
Lalu, tiba-tiba Bram berlutut di hadapanku, didepan  kursi tempat aku duduk, seperti orang yang sungkem, dia benamkan  wajahnya pada kedua pahaku, dengan tangis yang menghiba disertai ratap….. Bram memohon berulang-ulang, agar aku sudi memberinya maaf. Tetapi, aku tetap mematung. Tak bergeming sedikitpun. Setelah lelah merengek-merengek  bak  anak kecil yang minta dibelikan coklat. Lalu  Bram berdiri.
“Baiklah Hen, maafmu untukku telah habis, aku akan pergi. Jaga Maya dan Ira, aku titip mereka berdua” lalu dia meraih tanganku, diciumnya, ada tetes air mata yang tertinggal disana.. Aku tak tega untuk  menariknya.
Lalu. Terdengar pintu tertutup, lalu langkah itu hilang dari pendengaranku. Jujur, aku juga merasa terpukul, tak terasa ada genangan hangat di dua kelopak mata ini, tanpa kusadari, bendung itupun jebol. Aku menangis. Tepatnya mengisak.
********
Delapan bulan sudah aku di rumah, di kampung bersama Ayah lagi, setelah aku menyelesaikan SMA di kota, di rumah Bibi.
Sore itu, Ayah memanggilku, ada sesuatu yang akan dibicarakan, demikian kata Ayah.
“Hen, bagaimana dengan kegiatanmu di PAUD?” tanya Ayah.
“Baik yah, semuanya lancar” Jawabku singkat.
“Bagaimana dengan usaha kerajinan yang kamu rintis?”
“Baik yah, semua lancar” Jawabku pula. Aku memang sedang merintis membuka PAUD dan usaha kerajinan tangan yang dilakukan oleh ibu-ibu di kampungku, aku berharap orang desa mau terbuka dan maju bersamaku, kemajuan mereka, juga kemajuan untukku.
“Begini Hen, Pak Bain, sudah begitu baik pada kita, sejak ibumu hidup, hingga kini, dia tidak pernah minta bayaran atau bagian dari tanah yang Ayah garap. Dia telah  menganggap kita bagian dari keluarganya. Begitu baik dan tanpa pamrih. Benar, dia dulu teman bermain Ayah ketika kecil, tetapi tidak semua teman bermain Ayah lalu menganggap Ayah bagian dari keluarganya” Kata Ayah, aku tidak mengerti arah pembicaraan Ayah. Untuk apa Ayah menceritakan kebaikan pak Bain padaku.
“Lalu, kenapa yah?” tanyaku, penasaran, kemana arah pembicaraan Ayah ini.
“Bram putra pak Bain, sudah dua tahun ini, selesai kuliah, pak Bain ingin agar Bram dapat berjodoh dengan kamu Hen. Bagaimana pendapatmu?” tanya Ayah, begitu cepat dan begitu langsung. Langsung pada inti masalahnya. Aku tergagap dengan hal yang sama sekali diluar perkiraanku.
“Sebelum Hen berpendapat, Hen ingin tahu dulu pendapat Ayah tentang Bram. Hen tidak ingin, Ayah ingin besanan sama pak Bain, hanya karena ingin membalas jasa saja” kataku pula, sebenarnya aku berharap, dengan penilaian Ayah, ada hal-hal positif yang dapat kutangkap tentang kepribadian Bram. Terus terang, Bram masih gelap bagiku. Masih asing bagiku.
“Sepengetahuan Ayah, Bram orangnya baik, tanggung jawab, buktinya dia empat setengah tahun, sudah selesai kuliah. Lalu soal jodoh, dia juga masih mendengarkan pendapat orang tuanya. Tidak menolak, tidak mengiyakan, Bram mensyaratkan pada pak Bain, hanya mau, jika calon yang ditawarkan tidak keberatan dan terpaksa. Pak Bain juga tidak memaksakan kehendaknya pada Ayah, dia hanya mengemukakan pendapat saja, keputusan sepenuhnya ada pada kita. Jadi kesimpulan Ayah, Bram pantas untuk Heni” kata Ayah lagi, menguraikan niatan pak Bain dan cerita tentang Bram.
“Kalau begitu, saya setuju Yah, bagi Hen, menuruti kemauan Ayah adalah bagian dari pengabdian pada orang tua, bagian dari ibadah, Hen akan mengabdikan hidup Hen pada Bram, sebagaimana yang dilakukan Ayah pada ibu dan Hen selama ini” demikian jawabku pada Ayah.
“Begitu sederhannya Hen? Tanpa syarat apa-apa?” tanya Ayah sedikit terkejut, apa yang diperkirakan Ayah akan rumit, ternyata sangat mudah dan simple. Tak butuh waktu lama, semuanya jadi selesai. Meski ada satu syarat yang akan aku ajukan.
“Tentu ada syarat, perkenankan Hen untuk bertemu empat mata dulu dengan Bram, sebelum Hen memutuskan iya dan tidaknya.” Jawabku tegas. Aku tak ingin salah pilih, pengabdianku yang kelak akan kupersembahkan secara paripurna, hendaknya jatuh pada manusia yang layak untuk menerimanya.
“Hanya itu Hen?” tanya Ayah lagi, masih dengan keterkejutannya, begitu mudah syarat yang aku mohonkan.
“Iya.. yah” jawabku singkat. Bagiku pernikahan itu tidak sulit-sulit amat, aku percaya jika memang jodoh kenapa tidak. Untuk memeperoleh rumah tangga bahagia, modal cinta saja tidak cukup, bahkan tanpa itu sekalipun, jika tak ada antipati rasa didalamnya, bisa datang bersama berjalannya waktu. Tetapi, aku punya prinsip yang sudah aku pegang, dengan teguh. Tak bisa ditawar-tawar lagi.
Ayah menyetujui syaratku. Maka diadakanlah pertemuan empat mata yang aku syaratkan pada Ayah. Sengaja pertemuan itu, tidak dilakukan di rumahku atau di rumah Bram. Melainkan di lakukan di rumah sahabat ayah di kota. Tujuannya, jika pada pertemuan antara aku dan Bram tak terjadi kesepakatan, kedua belah pihak tidak merasa dirugikan.
Pada pertemuan empat  mata itulah aku mengajukan syarat pada Bram untuk tidak pernah selingkuh, walau satu kalipun, juga tidak pernah akan menduakan aku. Apapun alasannya. Konsekwensi, dari permintaanku. Aku akan baktikan seluruh hidupku pada Bram. Pada anak-anak yang kelak akan lahir dari rahimku. Pada keluarga besar Bram. Aku tidak membicarakan cinta, keluarga bagiku hanya ajang pembuktian baktiku pada Ayah, sekaligus pada Bram suamiku. Dengan bhakti tulus itu, aku berharap Allah akan Ridho akan diriku. Jika Allah Ridho, apalagi yang paling berharga, yang akan kucari, selain mendapat RidhoNya.
*******
Pesta pernikahan sudah selesai, segala tetek bengek, pernak-pernik yang mengiringi budaya pernikahan itu, telah berlalu. Kulihat Ayah sangat bahagia. Tunai sudah beban berat yang disandangnya, sepeninggal ibu menghadap yang Maha Kuasa. Akupun merasa lega, apa yang diharapkan Ayah sudah aku laksanakan, meskipun ini bukan paksaan. Bagiku pernikahan dengan Bram syarat dengan makna. Membahagiakan Ayah, menunaikan tugas sebagai anak dan sekaligus menyempurnakan nikmat Allah yang ditebarkan untuk mahklukNya, termasuk manusia. Termasuk aku didalamnya.
Selesai acara pernikahan, Bram memboyongku ke kota. Dengan modal dari orang tua, Bram membuka kantor Pengacara, sesuai disiplin ilmu yang dia tuntut ketika kuliah dulu. Kami memulainya dari nol. Dalam perjalanan rumah tanggaku, satu demi satu anak-anak lahir, anak pertama Maya lalu tiga tahun kemudian, menyusul Ira. Aku bukanlah istri yang hanya menunggu  uang gaji suami di rumah, kebiasaan ketika ikut Bibi dulu aku kembangkan, mulai dari membuka warung kecil semuanya dimulai, hingga akhirnya menjadi sebuah toko.
Agaknya Allah memang menyayangi kami sekeluarga. Keluarga ini diliputi dengan kebahagiaan, usaha toko yang kubuka lancar, Maya dan Ira tumbuh menjadi anak-anak yang sehat dan pintar. Karier Bram melesat, hampir semua klien yang dibelanya puas, nama Bram sudah menjadi ikon tersendiri dikalangan lawyer, nama yang identik dengan kepuasan para pelanggan. Pergaulannya makin luas saja, semua yang dikerjakan Bram sukses. Bram mulai membuka kantor cabang di kota lain, dan sudah mulai sering tidak pulang, jika kebetulan sedang berada di kantor cabang di luar kota.
*******
Satu-satu cabang kantor Bram dibuka. Hingga akhirnya, cabang terbesar setelah kantor pusat akan dibuka di kota M. Bram ingin aku ikut dalam acara pembukaannya. Dia ingin menunjukan, kalau suksesnya Bram, tidak berarti melupakan aku. Begitu ungkap Bram, pada waktu dia mengajakku menghadiri pembukaan kantor cabang di kota M.
Acara pembukaan kantor cabang keempat di kota M cukup sukses, aku benar-benar bangga dengan Bram, ayah yang sayang pada anak-anak sekaligus sukses dalam karier. Meskipun secara ekonomi, aku sudah tidak berharap lagi padanya. Usaha yang kujalani termasuk sukses, toko retail milikku kini sudah berjumlah lima. Dari luar kami benar-benar ideal, sebuah gambaran keluarga yang sukses dan bahagia. Sempurna.
Malam itu, ada yang ganjil, Nita, kepala cabang kantor Bram di kota S begitu manja kulihat pada Bram. Naluri kewanitaanku mengatakan tentu ada sesuatu yang tidak beres. Biasanya naluri istri tidak pernah salah. Kemana suami Nita? Kok membiarkan istrinya yang hamil muda tanpa ditemani. Tetapi semuanya kupendam. Itu hanya perasaan cemburu seorang istri pada suaminya, demikian, aku coba kompromi dengan bathinku.
Pulang dari pembukaan kantor cabang ke empat, kami tidak pulang ke rumah, tetapi bermalam di Hotel K, hotel berbintang empat yang ada di Kota M. sebagai rasa syukur untuk kesuksesan malam itu, demikian kata Bram. Malam itu, kami bak berbulan madu kembali. Aku dan Bram hanya berdua. Bermalam di hotel berbintang empat. Pada usia pertengahan, usia pasangan yang mateng secara fisik dan mental. Sebuah kondisi yang sungguh sempurna. Kami hanyut dalam kelelahan yang sempurna.
Adzan subuh menyadarkan diriku dari kelelapan yang sempurna. Kini saatnya untuk berterima kasih pada yang memberikan kesempurnaan nikmat yang kuperoleh.
Selesai aku mengerjakan sholat subuh, ada pesan masuk pada ponsel Bram. Kulihat Bram masih begitu terlelap, aku yang biasanya tak pernah membaca isi pesan yang masuk pada ponsel Bram, entah mengapa, pagi itu membuka dan membacanya.
“Mas, aku ingin mas mengantarkanku periksa USG, aku sudah gak sabar untuk tahu, jenis kelamin anak kita” tertulis pengirim Nita.
Sangat terkejut aku membaca isi SMS dari Nita. tapi, kucoba untuk bersikap tenang. Aku segera melipat mukena yang kukenakan. Lalu menghias diri secantik yang dapat kulakukan, aku ingin Bram melihat istrinya terlihat cantik,  dalam kondisi ketika ia membuka matanya. Sebuah kebiasaan yang kulakukan selama pernikahan kami. lalu apakah kebiasaan itu tidak kulakukan, hanya karena SMS dari Nita? Aku harus konfirmasikan dulu pada Bram tentang kebenaran. Apakah SMS itu valid, atau ada maksud lain.
Selesai Bram mandi dan sarapan, aku menanyakan isi SMS yang masuk tadi. Kulihat Bram sungguh kaget, wajahnya bak pelangi, Bram sungguh terkejut, ada rasa bersalah dan bermacam rasa yang aku sendiri tak tahu persis untuk menggambarkannya.
Bram tidak dapat mengelak lagi, bukti sms dari nita, sangat kuat. Bram mengakui semuanya, bahwa memang Nita telah dinikahinya sepuluh bulan yang lalu. Anak yang dikandung Nita, adalah benar anaknya.
Berbagai alasan coba dikemukakan Bram, aku hanya mendengarkan saja seluruh pembelaan Bram, tak ada sanggahan dariku, tak ada juga pertengkaran. Semuanya solusi dari masalah ini, bagiku sudah jelas. Tak ada lagi yang dikompromikan.
Langit terasa runtuh, semuanya menjadi mimpi buruk bagiku,  begitu cepat dan sama sekali tak terduga. Aku. tetap pada pendirianku, aku ingin Bram menepati kesepakatan awal pernikahan kami, ketika kami akan menikah tempo dulu. Dan itu artinya, kami segera berpisah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar