Sabtu, 25 Juli 2015

Ketika Bajay Tiba-tiba Berbelok



Percaya dengan takdir? Percaya dengan suratan nasib? Percaya dengan garis tangan? Dan hal-hal sejenis itu?
Segala perbincangan tentang itu sudah dibahas panjang lebar oleh banyak orang, pada banyak tempat, pada banyak waktu, hingga detail sekali, dengan segala argument dan dalilnya yang mengiringinya. Dari mulai alasan yang sifatnya logis hingga dengan sandaran hadist dan ayat. Namun, pembahasan yang kelewat panjang, menyakiti kaum ibu, sedangkan yang kelewat lebar, tidak memberikan rasa nikmat untuk kaum bapak. (halah… ngomong apa saya ini? Heheheh)
Saya hanya ingin memberikan sebuah iktibar yang pernah diucapkan Ali bin Thalib tentang hal itu. Takdir adalah laksana lautan yang sangat dalam, lautan itu bukan tak memiliki dasar. Tetapi, untuk sampai dasar itu, kita perlu oksigen yang cukup, jika tidak, sebelum kita sampai pada dasarnya, kita sudah keburu meninggal. Demikianlah pembahasan takdir. Cukupkah kita memiliki dasar-dasar ilmu tentang keimanan dan waktu yang cukup, hingga mau membahas sesuatu yang menghabiskan waktu dan memerlukan gabungan antara ilmu dan iman?
Berikut ini, saya hanya ingin bercerita tentang kejadian yang baru saja saya alami. katakanlah sebagai catatan harian. Saya tidak ingin, mempersoalkan apakah dia masuk pada takdir atau suratan nasib atau apapun istilanya. Karna membahas itu, akan menghabiskan waktu dan lembaran kertas berlembar-lembar.
Kejadiannya bermula hari senen yang lalu, ketika ada lowongan kerja untuk sebuah kegiatan yang telah saya geluti selama lima tahun terakhir. Sifat dari pekerjaan ini, hanya memerlukan kemampuan tekhnis yang sangat minimalis, hanya menyangkut kulit-kulit permukaan saja. Kebutuhan lainnya, mendampingi masyarakat. Dalam pendampingan, pengetahuan akan budaya local sangat dibutuhkan. Alhamdulillah dua persyaratan itu saya punya. Dan pekerjaan itu, telah saya lakukan selama lima tahun terakhir tanpa putus. Jika mau disebutkan terputus, hitungannya baru 12 hari.
Kelebihan lain yang saya miliki, saya memiliki pengalaman mengerjakan konstruksi dengan kecermatan dan kesulitan yang njelimet selama 25 tahun. Ditambah dengan pengetahuan dan pengalaman bermasyarakat dan berorganisasi yang cukup. Jadi, menurut saya, test masuk kerja hari senen itu hanya syarat yang harus dijalani saja.
Namun, apa yang terjadi? Saya dinayatakan tidak diterima. Sedangkan mereka yang jauh yunior dibawah saya diterima. Alasannya apa? Tentunya mereka memiliki alasan untuk itu. Saya tidak bertanya tentang hal itu pada mereka. Namun, secara manusiawi saya jadi kecewa. Tentunya, ada alasan yang tak logis dibalik ditolaknya saya. Tapi, okelah, kenyataannya berbicara begitu. Saya harus menerimanya.
Selasa, keesokan harinya. Di tempat lain,di kota yang lain lagi, Saya ditest lagi untuk pekerjaan konstruksi. Ada sebuah pekerjaan Pembangunan Hotel di daerah kota, Jakarta Barat. Untuk lulus test pada hari selasa itu, dibutuhkan kemampuan konstruksi yang handal, njelimet dan berpengalaman. Tak percuma pengalaman di konstruksi yang lebih dua dasa warsa itu, membuat, akhirnya saya diterima. Salary yang ditawarkan pada kisaran 3X lebih besar dari gaji yang ditawarkan pada perusahaan yang melakukan test pada saya hari senen, sehari sebelumnya.
Selesaikah masalahnya? Ternyata belum. Malam harinya, saya ditelpon oleh pemilik sebuah yayasan untuk mengelola pendidikan yang beliau miliki. Saya diberikan kebebasan melakukan modifikasi apapun, selama tujuannya baik dan untuk kemajuan pendidikan dan kemaslahatan Masyarakat.
Malam itu, saya tidak dapat tidur. Saya dituntut untuk segera menentukan sikap. Untuk pekerjaan konstruksi saya sudah harus masuk kerja hari Jum’at, artinya masih ada kesempatan tiga hari kedepan. Untuk yayasan juga saya diberi kesempatan berpikir hingga hari Jum’at. Juga masih ada tiga hari kedepan.
Ternyata saya tak membutuhkan waktu tiga hari untuk membuat keputusan. Hari rabu, besoknya saya saya sudah menentukan pilihan. Saya memilih opsi terakhir, mengelola pendidikan yang ditawarkan pada saya.
Alasan mengapa saya membuat keputusan untuk memilih opsi ketiga itu, antara lain;
Satu, usia saya sudah mulai menua, saya sudah tidak ingin keluar masuk kerja lagi. Sehebat dan sebesar apapun proyek, paling lama 3 tahun selesai, lalu pindah proyek lain atau cari kerja yang lain. sedangkan untuk dunia pendidikan usianya jauh lebih lama.
Dua, dengan perjalanan hidup yang panjang dan pengalaman yang menyertainya, rasanya sayang jika saya hanya berbagi untuk perusahaan, mengapa tidak berbagi pada masyarakat. Ada perbedaan luas wilayah dalam berbagi, antara perusahaan dan masyarakat. Saya memilih untuk wilayah yang lebih luas lagi. Dunia itu, ada di dunia pendidikan.
Tiga, dilihat dari outputnya. Apa yang saya cetak jika saya mengerjakan konstruksi, lalu apa yang saya cetak jika saya berada didunia pendidikan. Dua obyek yang sama sekali berbeda. Yang satu benda mati yang lainnya benda hidup.
Empat, dari feedback yang saya peroleh. Jika saya bekerja di perusahaan, sebesar apapun sallarynya, saya hanya menerima duit. Tetapi jika saya memasuki dunia pendidikan, saya memperoleh semuanya. Iya duit, iya pergaulan, iya hidup bermasyarakat, iya kepuasan bathin.
Lima, menurut keyakinan saya. Bekerja pada perusahaan itu seperti orang jual putus. Setelah terjadi transaksi maka semuanya selesai. Ketika kita bekerja, kita dapat pahala, lalu pahala berhenti disitu saja Tetapi, jika mengajar. Seperti pedagang MLM, artinya pahala ketika mengajar dapat, lalu ketika, yang kita ajarkan menularkan ilmunya pada pihak ketiga,kita masih dapat bonus, demikian terus, dan terus tanpa terputus.
Enam, tentu akan ada tantangan dalam memasuki dunia baru ini. Misalnya dengan berkurangnya pendapatan. Tetapi, ada adagium yang mengatakan bahwa rezeki itu, sudah ditentukan jumlahnya. Mungkin saja, rezeki tidak masuk lewat pendidikan yang kelak saya geluti, tetapi, bisa saja masuk melalui bidang-bidang lain. seperti, ketika isteri membuka warung, warungnya jadi lebih laris. Rumah kost akan penuh terus dll.
Tujuh, saya akan memiliki boss yang luar biasa. Boss saya yang baru ini kelak, adalah boss dari segala boss bahkan boss dari seluruh alam semesta. Persoalannya kini, bagaimana mentransfer pengertian ini, menjadi sebuah keyakinan yang tak tergoyahkan. Menyatunya apa yang diucapkan, dipikirkan dan diyakini menjadi sebuah kesatuan yang bulat.

Waktulah kelak yang akan menjawab semuanya. Bagaimana kita akan tahu jika kita tidak mengalaminya, bagaimana kita akan sampai jika kita tidak mulai melangkah?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar