Rabu, 22 Juli 2015

Ketika Ari Pulang Kampung

Jam menunjukkan pukul dua belas, tengah hari bolong. Mentari tepat tegak lurus di atas kepala, udara begitu cerah, tak satupun awan diatas, semua biru dilangit sana, sinar Mentari tembus tak terhalang sesuatu apapun membakar bumi. Memang di bulan Juni, sudah biasanya demikian. Kemarau ini masih akan berlangsung lama, kira-kira tiga hingga empat bulan ke depan.
Ari melambaikan tangan, menggapai sekumpulan tukang ojek yang sedang mangkal. Seorang diantara mereka mendekati Ari, agaknya tukang ojek itu sudah kenal dengan Ari
“Pulang Kang” demikian tukang Ojek
“Hehehe… iya” Jawab Ari
Ari segera menaiki ojek yang arahnya sudah diketahui oleh tukang ojek, perjalanan ini akan menuju rumah di kampung, perjalanan yang sebenarnya dengan jarak dekat, hanya delapan kilometer. Tetapi, medan yang ditempuh bukan ringan, melewati satu sungai Cikandea yang besar, Jembatan gantung dengan panjang lima puluh dua meter, dan jalan yang seluruhnya masih tanah merah.
Tidak jarang, jika musim hujan, jarak yang delapan kilometer itu, ditempuh dengan jalan kaki. Ari hapal betul kapan dia harus pulang, pertimbangannya, bukan pada hari libur atau tidak, karena dia kini sudah bebas dari soal tetek bengek mengisi absen, Ari yang kini adalah pengusaha sukses. Ari bisa kapan saja meninggalkan kantor, kapan saja dia mau untuk masuk kantor. Tetapi untuk pulang kampung, dia tidak dapat melakukan hal demikian. Ari harus tahu betul, kapan ketika dia pulang kampung, kondisi cuaca harus tidak hujan. Kepastian itu penting, jika Ari tidak ingin jalan kaki sepanjang delapan kilometer untuk sampai di rumahnya. Dulu, kondisi demikian, tak begitu jadi masalah baginya. Ketika masih muda dan badan masih gagah, ketika kenyamanan hidup belum menjadi bagian akrab dari keseharian gaya hidupnya. Tetapi kini, sulit baginya membayangkan untuk jalan kaki sepanjang jarak delapan kilo itu.
******
Sore itu, udara cerah, langit di atas hanya sedikit dihiasi awan berwarna putih, tak ada tanda-tanda hujan. Udara terasa sejuk, karena kampung ini, memang berada cukup tinggi di atas permukaan laut, pada anak kaki Gunung Gede.
Di pendopo rumah, Ayah sedang duduk, dengan kopi kental dan ubi jalar rebusnya, dua jenis penganan yang menjadi pavorit Ayah. Di sebelahnya duduk Ari.
“Bagaimana dengan usahamu Ri?” Tanya Ayah, terlihat wajah Ayah masih segar aja.
“Alhamdulillah lancar yah..” Jawab Ari singkat.
“Lalu bagaimana rencanamu selanjutnya?”
“InsyaAllah yah, Ari akan ikut nyaleg” jawab Ari, ini kesempatan yang ditunggunya, kini kesempatan untuk menyatakan pendapatnya pada Ayah datang, kesempatan itu tak akan dia sia-siakan. Ari berharap Ayahnya, ikut mendukung rencana Ari.
“Pertimbangannya apa?” tanya Ayah, ingin tahu apa yang ingin dicapai Ari dengan rencananya nyaleg. Sudah jadi kebiasaan Ayah, semuanya harus dijelaskan dengan pertimbangan logika, semuanya harus jelas, alasan rasionalnya harus bisa diterima, jangan hanya mengandalkan perasaan.
“Saya ingin agar daerah kita ini maju yah, dengan jadi bagian dari mereka-mereka yang mengatur lalu lalang kebijakan pemerintahan, saya akan lebih banyak bisa berbuat untuk kampung kita ini” jawab Ari, menjelaskan mengapa dia harus nyaleg.
“Kamu yakin dengan rencana dan pemikiran itu?” Tanya Ayah, beliau terlihat serius. Jika Ayah sudah serius, itu berarti, jawaban yang harus diberikan harus lebih rasional lagi.
“Yakin… yah” Jawab Ari mantab. Ari tak ingin terlihat ragu pada prinsipnya.
“Ayah kok berpikiran beda Ri” jawab Ayah, coba mengelak.
“Maksudnya?” Ari terkejut, bagaimana mungkin, jawaban logis itu, kok ada alternative lain dari Ayahnya, bukankah Ayahnya sangat ingin agar kampung ini maju. Bukankah Ayahnya berkepentingan juga dengan kemajuan kampung ini, mengingat Ayahnya yang menjadi kepala Desa dikampung ini.
“Coba kamu liat Nandar, Syaiful dan Taufik, semua mereka menjadi anggota legislatif. Tetapi apa yang telah berubah dengan kampung ini? Tetap sama, tak ada perubahan, sejak mereka jadi anggota dewan terhormat, hingga mereka menyelesaikan tugasnya. Semuanya tetap sama. Okelah, mereka bukan dari kampung ini, mereka dari kampung sebelah. Tapi coba kamu lihat, apa yang sudah berubah pada kampung mereka. Tak ada perubahan. Tetap sama. Kalaupun ada perubahan. Perubahan itu terjadi pada pribadi Nandar, pribadi Syaiful dan pribadi Taufik. Mereka kini jauh lebih kaya, jauh lebih makmur, jauh lebih terhormat, jauh dari Mesjid dan jauh dari masyarakat yang dulu memilih mereka. Padahal ketika belum terpilih dulu, mereka dekat dengan masyarakat, dekat dalam artian fisik mereka dan dekat dalam artian rezeki yang mereka miliki. Tetapi kini? Iya seperti yang Ayah sebutkan tadi” Ayahnya menjelaskan alasannya berikut contoh konkret, tentang mereka yang telah jadi anggota legislative yang terhormat itu.
“Lalu… menurut Ayah, bagaimana baiknya?, apa langkah yang harus saya tempuh, yang lebih bermanfaat daripada jadi anggota legislatif” Ari coba memancing pendapat Ayahnya.
“Kamu beda dengan mereka Ri, secara materi, kamu memiliki harta yang jauh diatas mereka. Pendidikanmu jauh diatas mereka, kamu satu-satunya warga asal di kampung ini, bahkan di kecamatan ini yang memiliki gelar S2, Jadi apa yang kamu cari dengan nyaleg? Kalo untuk harta, kamu sudah punya segalanya, kalau untuk gengsi kamu sekarang memiliki gengsi diatas mereka, bukan hanya di kampung ini, tetapi juga di kota sana, dimana kamu sekarang tinggal. Kalo untuk mengabdi pada masyarakat kampung ini, contoh ketiga orang sebelumnya sudah cukup bagimu untuk mengambil pelajaran. Tak ada satupun yang berhasil mereka kerjakan untuk kampung mereka.” Ayah coba menjelaskan segalanya dengan pertimbangan logis.
“Lalu..” Tanya Ari, ingin Ayah bercerita lebih konkret lagi
“Kenapa kamu tidak langsung saja pada pointnya. Pada titik masalahnya. Kamu langsung majukan Desa ini dengan ilmu dan hartamu. Kamu bisa ajarkan pemuda-pemuda Desa ini dengan berbagai ilmu yang kamu miliki, misalnya kamu ajarkan mereka ilmu bangunan dan Tekhnik Sipil, lalu dengan ilmu yang telah kamu tularkan, pemuda-pemuda itu kamu kerahkan untuk membangun jembatan diatas sungai Cikandea. Sehingga tidak ada penduduk yang terjatuh ketika menyeberangi sungai Cikandea, kamu dapat kerahkan pemuda-pemuda yang telah kamu bekali ilmu itu untuk membangun jalan di Desa kita, yang hanya delapan kilo meter ini, sehingga menjadi jalan aspal atau beton. Soal tekhnologi yang akan digunakan, kamu lah yang lebih tahu, bukankah kamu akhli dibidang itu. Ingat Ri, Desa kita hanya selemparan batu saja dari Ibu kota Negara Besar yang disebut Indonesia, yang luas wilAyahnya, sama dengan seluruh Negara Eropah dijadikan satu, tetapi kondisinya memprihatinkan. Sejak zaman Belanda hingga zaman SBY kondisinya sama saja, tak ada perubahan yang signifikan disitu”.
“lalu..” tanya Ari lagi, Ari mulai menangkap ide brilliant yang dilontarkan Ayahnya.
“Kamu bisa ajarkan kaum perempuan berbagai kerajinan dan usaha-usaha rumahan yang selama ini luput dari perhatian mereka. Dengan Jembatan yang bagus, jalan yang bagus, tenaga pengrajin yang cukup tersedia dan pemuda-pemuda Desa yang telah melek tekhnologi, kamu bisa alihkan usahamu yang di kota ke Desa kita. Desa ini sudah ada listrik, TV sudah nyala, signyal Internet sudah tersedia. Jadi kamu tidak bakal tertinggal dalam hal informasi. Yang jadi masalahnya, Desa ini belum ada motivator, sekaligus mereka yang mau membimbing step by step penduduknya. Ayah yakin, semua itu dapat kamu lakukan. Kamu dapat menjadi bapak Asuh bagi mereka, dengan menjadikan bahan mentah menjadi hasil olahan, lalu kamu tampung dan kamu jual, kamu tetap bisa sebagai pengusaha, tetapi bedanya dengan yang dikota, semua kamu lakukan untuk bersama-sama masyarakat desa ini, menjadikan seluruh warga desa makmur secara berjamaah” Ayah menjelaskan semuanya dengan bersemangat. Ari kaget juga dengan ide besar Ayahnya. Dalam hatinya, secara logika leadership, Ayahnya tak kalah hebat dengan dirinya yang bergelar S2.
“lalu, apalagi Yah?” Ari ingin mendengar seluruh pendapat Ayahnya tentang desa ini, juga tentang apa yang terbaik yang dapat dia lakukan untuk kemajuan desa ini.
“Diatas segalanya, Ayah sudah tua, jika semua yang Ayah sebut tadi bisa kamu lakukan, kamu akan tinggal dekat Ayah, dengan semua prestasimu yang akan kamu kerjakan kelak, maka kamu akan dengan mudah menggantikan Ayah kelak, sebagai kepala Desa. Anakmu Faisal akan ada yang mengurusnya, karena Rini kini telah menjanda, suaminya terbawa hanyut sungai Cikandea dua tahun lalu, dengan kesendiriannya tanpa anak, Ayah yakin dia akan mau mendampingi hidupmu, bukankah dia dulu, teman kamu ketika sama-sama sekolah dasar”
“Tepatnya adik kelas Yah, beda tiga tahun dibawah Ari…” Ari coba mengoreksi kesalahan Ayahnya.
“Ya, begitulah, Ayah kurang tahu persisnya, karena waktunya sudah lama berlalu, kamu lah yang lebih tahu, persisnya”
******
Tiga bulan sudah berlalu, sejak kepulangan Ari ke kampung dulu. Ide besar Ayah Ari sudah menyadarkannya, bahwa perubahan yang mendasar untuk desanya, bukan berharap pada apa yang akan dilakukan Pemerintah, tetapi apa yang dapat dia lakukan untuk Desanya. Dialah yang lebih tahu apa yang menjadi kebutuhan Desanya, dialah yang lebih tahu, apa yang pertama yang harus dilakukannya, lalu apa yang kedua yang harus dia lakukan, lalu yang ketiga, lalu yang keempat dan selanjutnya. Bukan pada mereka yang berasal dari luar Desanya, apalagi dari Pemerintah. Sang pemilik sepatulah yang tahu persis berapa ukuran sepatunya, bukan orang lain.
Siang itu, Ari kembali dari kota, sengaja dia tidak membawa mobil pribadinya, turun dari mobil elf yang dianaiki Ari dari kota, Ari sengaja berdiri agak ketengah dari pinggir jalan. Maksudnya jelas, agar tukang ojek, segera mengenalinya. Diatas ojek yang menurun tajam dan berdebu itu, Ari sudah tidak sabar ingin segera tiba di rumah. Tekadnya sudah bulat untuk segera membangun Desanya, memenuhi semua keinginan Ayah, yang juga merupakan mimpi besarnya. Menjadikan Desanya berubah. Kerja optimal pada titik pointnya, pada titik akar masalahnya. Bukan berputar-putar tanpa pernah menyentuh akar masalahnya. Ari masih ingat, seminggu sebelumnya, bagaimana ketua partainya membuat hitung-hitungan untuk nyaleg dibutuhkan dana sebesar Dua Milyard. Sejak itu dia putuskan untuk keluar dari partai. Dua Milyard bukan nominal sedikit jika di bawa pulang kampung untuk membangun Desa. Dengan bekal dana dan ilmu yang dimilikinya Ari yakin akan mampu merubah Desa dimana dia dilahirkan dan dibesarkan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar