Kamis, 16 Juli 2015

Harimau dan “Harimau”



Jam menunjukkan pukul dua siang, terik Matahari masih memancarkan sinarnya dengan garang, Medan memang panas, apa karena udara panas itu pula, maka masyarakatnya memiliki karakter yang keras. Meskipun hati mereka umumnya lembut. Kondisi mereka itu, seperti yang diistilahkan temanku sebagai “Wajah seperti Rambo, tapi hatinya seperti Rinto”.
Bus ALS jurusan Jakarta – Medan baru saja meninggalkan kota Medan. Perjalanan ini akan memakan waktu lama, tiga hari tiga malam, jika semuanya lancer sesuai rencana. Akan melelahkan dan menjemukan sekali, apalagi ini Bus Ekonomi, tanpa AC. Kita harus-harus pintar menjaga stamina dan pintar-pintar mengalihkan perhatian. Jika tidak, akan sangat meletihkan dan menjemukan.
Perjalanan ini, bagiku bukan perjalanan yang pertama, tetapi sudah beberapa kali kulakukan. Aku yang akan bepergian ke Jakarta dengan isi kantong pas-pasan tentu tidak berharap untuk naik Bus AC, apalagi bermimpi untuk naik pesawat. Bagiku, banyak alasan yang dapat  kusampaikan pada mereka yang bertanya, mengapa kok naik Bus ekonomi? Apakah tidak membosankan, apakah tidak membuang-buang waktu yang demikian lama, apakah tidak merasa terganggu dengan bau keringat penumpang ketika sudah memasuki hari kedua dan ketiga?
Aku akan menjawab, bahwa perjalanan dengan Bus non AC merupakan pengalaman yang mengasyikkan, dapat menelusuri setapak demi setapak ranah Sumatera, begitu banyak budaya yang dapat kita nikmati dan kenali, dari mulai dengan makan salak Sidempuan, Nasi Kapau di Bukittinggi, makan ikan Bilih di tepian Danau Singkarak, makan tempoyak di perbatasan Sumatera Selatan dan menikmati nikmat kopi Lampung, hingga asyiknya berlayar diatas kapal Feri diatas selat Sunda yang menghubungkan Sumatera dan Jawa. Soal bosan? Apanya yang bosan? Keindahan Sumatera tak kalah indah dengan tujuan destinasi lain seperti Jawa dan Bali. Bagaimana indahnya Sungai Batang Gadis di Daerah Mandailing, rimbunnnya tanaman sawit sepanjang perjalanan Medan-Rantau Prapat, Indahnya kelok-kelok Jalan yang ditingkahi hutan di Rimbo Panti, pemandangan petani sawah yang sholat di atas batu besar pada sawah-sawah mereka pada daerah Rao dan Sidempuan, jernihnya air sungai bak air aqua di daerah sijunjung, berderet-deretnya Rumah Gadang, yang merupakan rumah Asli Ranah Minang di daerah Solok, lebatnya hutan karet dengan jarak puluhan kilometer didaerah Jambi, serta rumah-rumah panggung yang eksotik di daerah Muara Enim, dan Baturaja di sumatera Selatan.
Soal bau keringat? Bukanlah sesuatu yang mengganggu benar, jika kita memang sudah akrab, bukankah mereka yang tinggal pada TPA (Tempat Pembuangan Sampah Akhir) tidak begitu terganggu dengan bau sampah? Sama halnya mereka yang tinggal pada pinggiran jalan Kereta Api, tetap tidur nyenyak di malam hari, meskipun Kereta Api tetap lalu lalang. Jadi intinya, bagaimana kepiawaian kita beradaptasi dengan lingkungan dimana kita berada.
Tetapi, diatas segalanya, jujur aku akui, bahwa semua jawaban diatas hanya sebagai penghibur saja, alasannya sebenarnya, karena aku tidak memiliki cukup uang untuk beralih pada moda angkutan lain. Utamanya Bus AC dan Pesawat Udara
******
Bus ALS yang kutumpangi baru saja, meninggalkan Deli Serdang, itu artinya sebentar lagi, akan memasuki daerah Perkebunan Sawit yang sangat Panjang. Selamat teman satu perjalanan yang baru saja aku kenal di Bus ini mengajakku ngobrol, mungkin dia mulai Bete dengan irama perjalanan ini.
“Abang sudah sering ke Jakarta Bang” tanya Selamat.
“Iya begitulah… lima tahun terakhir ini, tinggal di Jakarta” Jawabku pula.
“Di Jakarta kerja dimana Bang?” tanya Selamat Lagi
“Usaha kecil-kecilan..” jawabku pula, aku senang-senang saja ditanya Selamat, hitung-hitung, sebagai salah sat cara membunuh waktu dan kebosananan.
“Hebatlah, pengusaha rupanya Abang?”
“Enggaklah, mana pula ada pengusaha yang naik Bus ekonomi” Jawabku.
“Setelah Deli Serdang ini, kok mulai banyak kebun Sawit ya Bang?” Tanya Selamat lagi, dia mulai memperhatikan sawit-sawit sepanjang jalan yang kami lalui.
“Iya…. Ini akan terus dan terus kebun Sawit, masih sekitar enam jam lagi perjalanan kita akan selalu ditemani kebun Sawit, hanya sedikit berkurang ketika kita memasuki kota Tebing Tinggi, kota Lima Puluh, Aek Kanopan dan Rantau Prapat, selebihnya hanya ada Sawit dan sawit” Jawabku lagi. Coba menjelaskan secara detail pada Selamat.
“Abang keliahatannya hapal betul..” kata Selamat lagi, sedikit memuji.
“Gaklah, masih banyak daerah yang tak Abang sebutkan disitu” jawabku jujur pada Selamat. Lagi pula, apa pula untungnya, jika aku berbohong pada Selamat.
Tak lama kemudian, Selamat kulihat sudah terlelap tidur, Bus ALS masih terus berjalan, mengikuti irama jalan di depannya, berkelok kiri-kanan, naik turun, setapak demi setapak menyulusuri jalan sepanjang pulau Sumatera, sebuah perjalanan  yang masih akan berlangsung lama, masih beberapa hari kedepan.
******
Jam tujuh pagi, Bus ALS masuk kota Sidempuan, setelah tadi pukul empat singgah di Kota Nopan untuk Sholat Subuh. Memang Armada yang merajai jalan darat Sumatera ini, Boss besar mereka umumnya berasal dari Kota Nopan, ketika Istirahat Sholat Subuh tadi, sekalian mereka melaporkan segalanya yang berkenaan dengan kondisi kendaran, jumlah penumpang, dan biaya perjalanan pada Perusahaan Angkutan.
Di Sidempuan, Bus tidak berhenti lama, hanya sejenak melepaskan lelah, ada diantara mereka yang sarapan, ada juga yang membeli buah Salak, buah yang menjadi Icon kota Padang Sidempuan. Untuk dimakan selama perjalanan atau buat oleh-oleh untuk sanak saudara di Jakarta.
“Masih lama ya, Bang perjalanan kita?” Tanya Selamat, teman seperjalanan yang duduk di sebelahku, ketika Bus mulai bergerak maju.
“Masihlah… Jangan dipikirkan waktu,  liat kiri kanan saja, ini kesempatan langka, manatau kau nanti jadi Boss, kau tak akan rasakan ini lagi. Kau akan naik pesawat udara, pemandangan ini tak akan kau temui lagi” kataku, mencoba akrab pada Selamat, karena sejak kemarin, teman sebelahku ini, seakan menjaga jarak. Entah segan atau dia lagi banyak pikiran, aku tak tahu persis apa penyebabnya.
“Bah…. Abang bisa aja. Mana pula awak bisa jadi Boss, sedangkan sekolah saja Cuma tamat SLA” Jawab Selamat pula.
“Rezeki orang manapula ada yang bisa kira? Itu rahasia Allah. Kau tau, banyak orang kaya raya yang pendidikannya hanya pas-pasan, hanya tamat SLA bahkan dibawahnya. Tak selalu kaya identik dengan sekolah, masih banyak lagi faktor yang mempengaruhinya”
“Benar juga Abang nih, awak jadi optimis jadinya” Jawab Selamat pula sambil tersenyum.
“Ngomong-ngomong sudah berapa kali ke Jakarta?”
“Baru kali ini Bang..”
“Sudah berkeluarga..?”
“Sudah… Bang” jawab Selamat.
“Kok tak dibawa ke Jakarta sekalian..?”
“Itulah sebabnya, gara-gara dia awak ke Jakarta Bang” jawab Selamat pula, lalu, tanpa kuminta, selamat meneruskan ceritanya.
“Dia tergoda sama Assisten Kebun Bang, agaknya dia, tak tahan hidup susah sama awak, makanya awak lepas dia, biar dia kejar mimpinya indahnya sama Assiten Kebun itu, mudah-mudahan apa yang impikan akan dia dapat. Tak tahan menanggung malu di kampung, makanya awak ke Jakarta, Bang. Ingin merubah nasib Bang. Manatau apa yang abang katakan tadi, jadi nyata untuk awak, biar terangkat malu ini” kata Selamat pula
“Amien…. Semoga itu jadi nyata” Kataku pula, mengaminkan apa yang dikatakan selamat. Bukankah semua berawal dari mimpi dulu.
“lalu di Jakarta rencana mau kerja apa?” tanyaku lagi  pada Selamat.
“Belum tahu bang, tapi ada teman yang buka tambal ban, sementara, awak bantu dia dulu lah, selanjutnya, biar nasib yang akan membawanya, kemana awak akan dia akan bawa awak pergi” jawab Selamat pula. Aku mengaminkannya dalam hati. Semoga apa yang dicitakan Selamat akan menjadi nyata. Kebahagiaan yang dia cari akan bertemu.
Bus ALS terus melaju, setapak demi setapak menyusuri jalanan daratan di permukaan tanah pulau Sumatera. Tak terasa kota Sidempuan sudah lama kami tinggalkan. Bus kini telah memasuki daerah Simangambat, lalu masuk wilayah daerah Siabu.
Tiba-tiba Bus berhenti, rupanya ada penumpang baru yang naik, seorang wanita berumur sekitar tiga puluh lima tahunan. Kursi bagian depan dan tengah sudah penuh terisi semua, akhirya Marni, demikian nama penumpang yang baru naik itu, dapat tempat duduk pada kursi yang agak belakang, sebelah selamat. Jadilah kami duduk bertiga, Marni di pinggir jendela, lalu Selamat dan aku pada sebelah kiri ujung arah ke bagian tengah Bus.
Bus terus berjalan melaju, menyusuri punggung daratan Sumatera, berkelok ke kiri, lalu kanan, menanjak pendakian dan menurun, mengikuti alur jalan yang berada di depannya,  sebelum daerah Panyabungan, Marni dan Selamat sudah mulai akrab.
“Marni mau kemana?” Tanya Selamat
“Ke Jawa Bang, nanti berganti Bus di Jakarta” Jawab Marni
“Suaminya mana, kok tak ikut?” Tanya selamat pula.
“Baru meninggal Bang, baru dua bulan yang lalu” jawab Marni lagi, aku hanya jadi pendengar.
“Kenapa rupanya? Sakit apa?” tanya selamat. Ada nada prihatrin dalam perftanyaannya.
“Tidak sakit Bang, tapi diterkam Harimau” jawab Marni lagi.
“Abang ikut prihatin, kok bisa begitu? Bagaimana ceritanya?”
“Iya Bang, waktu itu, kami ke kebun bersama, jam tiga sore saya pulang duluan, karena mau masak, supaya waktu suami sampai rumah, nasi sudah masak. Waktu suami pulang sore sekitar jam lima, dijalan pulang, dekat hutan itu, dia diterkam Harimau..” Kata Marni, ada getar sedih pada kalimatnya. Aku hanya menyimak saja pembicaraan mereka. Dalam hati ikut sedih, kok bisa, dua orang teman dalam perjalananku kali ini, memiliki nasib yang tidak beruntgung. Kini Marni sebatang kara, makanya dia pulang ke Jawa untuk berkumpul kembali pada keluarga besarnya. Suami tempat dia memperjuangkan hidup bersama telah mendahuluinya, diterkam Harimau.
“Abang sendiri, mau kemana?” Tanya Marni pada Selamat.
“Ke Jakarta, mau merubah nasib, mencoba peruntungan, manatau, bisa ketemu jalannya” Jawab Selamat.
“Kok sendirian saja Bang? Kakak tak dibawa?”. tanya Marni.
“Itulah sebabnya…” Jawab Selamat pula. Lalu selamat menceritakan kondisi rumah tangganya, yang kurang beruntung, sama persis seperti yang dia ceritakan padaku. Aku hanya mendengar saja seluruh pembicaraan mereka. Ada sympati yang besar dari Marni,  terhadap Selamat, ketika Marni mendengar cerita kondisi rumah tangga Selamat. Apakah sympati itu, karena cerita Selamat yang sedih, atau karena Marni dapat merasakan kesedihan itu, disebabkan dia juga mengalami kesedihan yang sama, meskipun dengan versi yang berbeda.
*******
Bus ALS itu masih melaju terus, menyusuri jalan dipermukaan bumi, diatas tanah pulau Sumatera. Dari sudut mataku, aku melihat Marni dan Selamat makin akrab saja. Aku yang berada diantara mereka sudah tidak mereka gubris lagi. Seakan keberadaanku sudah tak mereka anggap lagi.
Haripun berganti sore, setelah kami istirahat jam tujuh malam tadi, untuk istirahat makan, Bus ALS itu kini mulai memasuki jalan yang dikiri-kanannya gelap dengan hutan rimba. Lampu didalam Bus ALS itu pun dimatikan oleh supirnya. Mungkin maksudnya agar penumpang dapat tidur, untuk melepaskan lelah, untuk kembali besok merasakan kejenuhan yang lebih parah lagi setelah satu hari satu malam perjalanan penuh tanpa henti.
Untung udara diluar cukup cerah. Sinar bulan purnama sangat membantu melihat kondisi di luar. Meskipun tidak masuk dalam Bus yang kami tumpangi. Saya yang duduk ditengah, jika ingin melihat cahaya bulan, yang jatuh pada dedaunan hutan sepanjang jalan, harus menoleh ke kanan, kearah Jendela.
Tiba-tiba…MasyaAllah……Tanpa sengaja saya melihat adegan yang sungguh tak masuk akal saya. Mereka berpagutan  erat. Marni dan Selamat. Di lain kesempatan saya melihat bagaimana selamat bagai seorang bayi yang  sekian jam telat diberi susu oleh ibunya. Menyusuri dada Marni dengan liarnya,seakan takut kehabisan, tak kebagian air kehidupan yang kemasannya berada di dada Marni. Aku merasa jengah melihat pemandangan yang tak sengaja terlihat itu. Selanjutnya, aku merasa untuk tak menoleh ke kiri dan kanan lagi, mencoba menutup mata, menjemput kantuk, agar terlena menuju pagi.
Pagi itu, ketika Bus ALS berhenti untuk sholat Subuh di daerah Bonjol, daerah yang mengingatkan kita akan, seorang tokoh Pahlawanan Nasional Imam Bonjol, sekaligus memberikan kesempatan, bagi penumpangnya untuk ngopi dan sarapan pagi, aku melihat Selamat mandi basah. Aku  tak tahu apa yang sesungguhnya terjadi pada Selamat dan Marni. Untuk mengira-ngira saja, aku tak berani, karena kebanyakan dari kira-kira itu salah.
Tepat jam sebelas, ketika Bus ALS memasuki kota Bukittinggi, aku segera mengemas barang-barangku, kuputuskan untuk turun di Bukittinggi, lalu berganti dengan Bus lain menuju Jakarta. Banyak pertanyaan yang musti kujawab dulu, sebelum aku meneruskan perjalanan ke Jakarta. Kejadian selama perjalananku bersama Selamat dan Marni, memberikan banyak pelajaran bagiku, sekaligus banyak pertanyaan yang belum terjawab, bagaimana tidak? aku tak mengerti betapa buasnya Harimau yang telah merenggut nyawa suami Marni, tetapi pada saat sama pula, ada juga “Harimau” yang tak kalah buasnya, merenggut istri Selamat dari kehidupannya. Tetapi ketika rasa iba itu datang pada Selamat karna dia sudah menjadi korban kekejaman “Harimau”, tadi malam, aku menyaksikan “Harimau” selamat tak kalah buasnya merajam dan menerkam Marni.
Aku masih berdiri ditepi jalan lintas Sumatera, di Daerah Bukittinggi, tas bawaanku tergelatak di tepi jalan. Sementara pada pikiranku, masih dengan sejibun pertanyaan yang belum terjawab seluruhnya olehku, lamat-lamat kulihat, Bus ALS itu menghilang ditikungan membawa “Harimau” Selamat dan mungkin juga banyak “Harimau-Harimau” lain menuju Jakarta.


Note: 
Kakak  : panggilan pada perempuan yang lebih tua (seperti teteh dlm bhs  Sunda    atau mbak             dalam bahasa Jawa)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar