Sabtu, 11 Juli 2015

Hari Senja Lelaki Tua



Rusli masih duduk di teras Mesjid Istiqomah, kampung Waluran, Jasinga Bogor.   Sholat Ashar sore ini cukup banyak Jamaah. Ada sekitar enam shaf. Memang beberapa waktu belakangan ini, ada kecenderungan Jamaah yang ikut sholat semakin bertambah saja, fenomena apakah ini? Apakah kesadaran masyarakat makin bertambah, atau memang karena jumlah penduduk semakin banyak. Jasinga yang sekarang, memang bukan Jasinga yang dulu. Jumlah kendaraan yang lalu lalang di depan Mesjid Istiqomah semakin ramai saja, jumlah mereka yang memiliki kendaraan pribadi juga semakin banyak saja.
Yang pasti, Rusli yang sekarang bukan Rusli yang dulu. Rusli yang sekarang, Rusli yang tua, semakin renta saja, rumah sudah mulai sepi saja, ketika anak-anak satu demi satu berumah tangga, lalu satu demi satu meninggalkan rumah. Kesepian itu, makin lengkap ketika Dedeh meninggalkan Rusli untuk selamanya sekitar delapan bulan lalu. Meninggalkan rasa sepi yang sangat di hati Rusli, sekaligus membawa pergi cintanya yang tak tergantikan oleh wanita manapun.

Setelah semua peristiwa telah dilewati, apakah apa yang dulu dicari Rusli sudah didapatkannnya? Sebuah keinginan untuk menetap disatu tempat, berbagi  hal yang riel untuk manusia di satu tempat, tumbuh dan berkembang bersama pertumbuhan masyarakatnya. Sempurnakah sudah yang didapatkannya? Ataukah semuanya masih menjadi terminal antara? Masih aka nada pencapaian-pencapaian lain? Pertanyaan yang sulit untuk Rusli Jawab.
*****
Sudah seminggu ini Rusli berdiam di daerah Jasinga, sangat membosankan dan menjemukan, daerah yang berbatasan antara Kabupaten Bogor dengan lebak di Banten ini, benar-benar  tertinggal. Padahal, dari Ibu Kota Negara tercinta, jaraknya hanya sepelemparan baru saja. Mau ke kota Bogor terasa jauh dan melelahkan, tinggal terus di lokasi itu berarti kerja dan kerja, rutinitas yang tak tak ada ujungnya  Lalu, pertanyaannya, kapan selesainya pekerjaan ini? Seakan tak berkesudahan. Jikapun selesai, maka proyek baru segera menunggu. Itu artinya, Rusli, akan berpindah ke lokasi baru. Meninggalkan daerah lama menuju daerah baru, dengan segala persoalan dan masalah yang baru pula. Meskipun, perkerjaan Rusli tetap pada bidang konstruksi, tetapi bukan berarti ketika memasuki proyek baru, pengalaman di konstruksi sebelumnya dapat dicopy-pastekan pada proyek baru,  selalu saja ada hal-hal  baru yang perlu dipelajari, selalu ada hal baru untuk dimodifikasi. Lalu kapan untuk memikirkan diri sendiri? Sedangkan usia selalu saja bergerak, tak menunggu Rusli siap atau tidak siap. Usia Rusli kini, sudah kepala tiga, sudah saatnya untuk berumah tangga, saatnya berpikir untuk generasi penerus, saatnya berpikir untuk berbuat sesuatu yang lebih bermanfaat untuk masyarakat sekitar. Bukan hanya berpikir untuk proyek, untuk perusahaan yang ujungnya, hanya untuk peningkatan karier dan sejumput uang, lalu menisbikan kewajiban untuk sesama.
Berpikir tentang itu, menyebabkan Rusli lelah. Kalau ujung-ujungnya hanya  uang, lalu apakah perlunya bertahan di proyek? Tokh adiknya yang berdagang kecil-kecilan, memiliki uang lebih banyak dari yang dimilikinya, memiliki  keluarga yang bahagia. Teman ketika Rusli kecil, si Komar, memiliki uang yang cukup dan lebih dihargai dilingkungan  masyarakatnya, meskipun hanya sebagai guru SD. Lalu dia yang insinyur, hanya berpindah dari satu proyek ke proyek lain, tidak memiliki keluarga, tidak memiliki akar dalam masyarakat dan tak mendapatkan kepuasan bathin dalam hiruk pikuk pergaulan dalam masyarakat. Tidak ada orang yang mengenal Rusli, tidak juga dia mengenal masyarakat di daerah tugas proyeknya. Secara materi Rusli memang memiliki materi lebih, nominal rupiah yang dimilikinya juga lebih, tapi untuk apa semua kelebihan materi dan kelebihan uang itu? Tokh dikasi ayam juga, ayam gak doyan uang.
Tapi, masalahnya, darimana memulai apa yang dia inginkan itu, bagaimana cara memulainya, target apa dulu yang harus dicapai. Berpikir  hingga demikian, membuat Rusli makin butek, semuanya bagai benang kusut, Rusli tak tahu, bagaimana mengurai benang itu, sehingga layak digunakan dan bermanfaat ketika digunakan.
Sementara, hari semakin semakin sore. Sebentar lagi mendekati Maghrib. Lewat waktu Maghrib, itu artinya, akan tiba malam minggu. Bahkan ketika malam minggu tiba sekalipun, Rusli tak tahu apa yang akan dia kerjakan. Sangat Absurd memang. Seorang Insinyur, pemimpin dalam sebuah proyek, tetapi tidak tahu apa yang akan di lakukannya ketika malam minggu tiba.
“Gak ke Bogor pak?” tiba-tiba suara Herman, mengagetkan Rusli. Menyadarkannya sekaligus membawanya pada dunia nyata, setelah tadi dia tenggelam pada dunia yang dia sendiri tak tahu harus didefinisikan sebagai dunia apa.
“Gak Man, jauh dan buat capek aja” jawab Rusli sekenanya. Yang Rusli butuhkan kini, bukan hanya refreshing untuk fisiknya semata, melainkan lebih pada penyegaran terhadap jiwanya yang lelah. Jiwa yang tak tahu kemana biduk hidup ini akan dilayarkan, ketepian mana akan dilabuhkan.
“Tapi, di sini terus, bosen pak” jawab Herman pula. Dalam hati Rusli membenarkan apa yang dikatakan Herman.
“Iya juga sih, tapi ke Bogor membuat badan lelah, saya ingin refreshing yang membuat pikiran jadi fresh dan tubuh tak terlalu lelah” jawab Rusli lagi.
“kira-kira apa itu ya pak” balik kini Herman yang balik bertanya.
“Mana saya tahu, kalo saja saya tahu, saya dari tadi sudah berangkat dan gak perlu lama-lama duduk di sini” jawab Rusli lagi. Ada nada sewot di kalimat Rusli.
“Saya punya usul pak, gimana kalau kita ke Ajengan Bukhory saja, mudah-mudahan ada penyegaran di sana” usul Herman, sebuah usul yang tak sepenuhnya dimengerti oleh Rusli
“Siapa itu Ajengan Bukhory?” tanya Rusli penasaran.
“Beliau tokoh agama pak, manatahu, ada wejangan beliau yang membuat kita bisa fresh, bisa menjawab beberapa masalah yang sedang kita galaukan” jawab Herman pula, ada sedikit titik cerah, mulai dipahami oleh Rusli.
“Ok, kita berangkat Tapi ingat ya, kita Cuma refreshing, bukan mau jadi jamaah pengajian beliau” jawab Rusli. Dia sudah sering mendengar, untuk orang-orang yang sedang galau seperti dirinya, sering menjadi korban untuk orang-orang yang mengaku sebagai ajengan. Rusli tak ingin  menjadi korban untuk orang seperti itu. Rusli hanya ingin pencerahan terhadap kegalauan hatinya. Kegalauan yang sedang dihadapi oleh mereka yang telah jenuh dengan kegiatan rutin, kegalauan seorang lajang tua yang belum menemukan titik cerah tentang jodoh dan kegalauan akan keberlanjutan apa kelak yang akan dilakukan.
“Siap pak” jawab Herman, lalu berlari kecil menuju kendaraan proyek. Herman memang seorang supir, tetapi dalam kondisi tertentu, kadang bisa menempatkan diri sebagai teman bagi Rusli. Tak lama sejurus kemudian, Rusli dan herman sudah meninggalkan mess proyek, menuju pesantren Ajengan Bukhory.
*****
Rusli sudah duduk di depan ajengan Buchori, setelah sebelumnya, sempat menunggu karena ada tamu Ajengan yang lebih dulu masuk menghadap beliau, panjang lebar Rusli telah menceritakan pada Ajengan Bukhory tentang kegalauan perasaannya. Tentang sesuatu hal yang menjadi keinginannya. Tentang cita-citanya menghabiskan waktu sepanjang sisa umurnya.
“Maksud nak Rusli gimana?” tanya Ajengan Bukhory.
“Iya githu kiyai, seakan semua menjadi hampa. Ketika jalan itu hancur, kami yang memperbaikinya, ketika sudah bagus, mereka yang menggunakannya, lalu kami mengerjakan yang rusak kembali, ditempat lain di waktu yang lain lagi” urai Rusli.
“Seperti tukang jahit ya?’ kata Ajengan Bukhory membuat sebuah analog. Sebuah Analog yang pernah Rusli ketahui, ketika dia masih remaja tanggung dulu.
“Persis pak kiyai. Tukang jahit yang membuat Jas. Ketika satu Jas selesai, dia kembali membuat Jas baru yang lain, demikian terus menerus, sementara dia sendiri hanya memakai kaos oblong”  jawab Rusli.
“Lalu yang menjadi masalahnya apa? Bukankah itu kerjaan mulia, menjadikan orang lain senang, paling tidak ketika mereka menikmati hasil karya kita” tanya Ajengan Bukhory pula, lebih tepatnya, ingin agar Rusli lebih to the point mengemukakan keinginannya.
“Tapi kiyai..” jawab Rusli menggantung
“Tapi apa?”
“Kami tak punya waktu untuk diri sendiri, tak memiliki waktu untuk memikirkan masa depan kami sendiri, tak memiliki waktu untuk mencari calon pendamping hidup. Bahkan, tak punya waktu untuk menikmati hasil jerih payah kami sendiri” urai Rusli, mulai membuka keinginannya, menyampaikan apa yang menjadi inti kegalauannya.
“Kalau githu, tinggalkan saja pekerjaan itu..” jawab Ajengan Bukhory, membuat Rusli kaget.
“Terus…apa yang kami lakukan selanjutnya?” Tanya Rusli masih dengan rasa kaget dan tak mengerti kemana arah pembicaraan Ajengan Bukhory. Ada kesan pada Rusli, Ajengan Bukhory asal ngomong saja.
“Mohon ampunlah pada Allah, karena nak Rusli telah melakukan sesuatu yang salah” jawab Ajengan Bukhory dengan kalem, seolah tak tahu kondisi Rusli yang kaget.
“Lalu..?” Tanya Rusli, masih tak mengerti apa maksud Ajengan Bukhory
“Kerjakan sesuatu yang lain, sehingga nak Rusli menjadi pemilik Jas bukan sebagai penjahit, penikmat jalan bukan sebagai pembuat jalan” jelas Ajengan Bukhory dengan santainya.
“Caranya..?” tanya Rusli, tak sabar dia mendengar solusi yang akan diberikan oleh Ajengan Bukhory.
“Itulah bedanya antara belajar di bangku sekolah dengan belajar agama” Ajengan Bukhory mulai membuka wacana piker untuk Rusli.
“Maksud kiyai..?”
“Di bangku sekolah, nak Rusli dapat menjadi sarjana tanpa harus memperaktekan atau mengerjakan apa yang telah nak diketahui. Tetapi, ketika belajar agama, nak Rusli harus mempraktekan dulu apa yang telah nak Rusli diketahui, sebelum menambah pelajaran  yang selanjutnya” papar Ajengan Bukhory.
“Lalu apa yang harus saya lakukan kiyai?” Tanya Rusli lagi, masih penasaran. Kok gak ada sesuatu penjelasan yang tuntas yang diberikan oleh Ajengan Bukhory. Lalu, bagaimana dengan karier yang selama ini telah dia rintis. Haruskah akan ditinggalkan begitu saja, demi untuk mendengarkan penjelasan selanjutnya dari Ajengan Bukhory.
“Tadi kan sudah saya katakan, berhenti kerja lalu mohon ampunan Allah, karena telah melakukan pekerjaan yang membuat hati gelisah, lakukan itu dulu, selanjutnya saya akan beritahukan lagi setelah yang pertama dikerjakan” jawab Ajengan Bukhory dengan kalem, seakan tak mengerti kondisi pshykis Rusli yang terguncang dengan perintahnya yang aneh itu.
“Saya paham kiyai” jawab Rusli. Hati Rusli berkecamuk, antara melakukan apa yang disarankan Ajengan Bukhory dengan kekhawatiran akan nasibnya kelak, ketika dia melepaskan pekerjaannya. Ini bukan main-main. Semacam pertaruhan, semacam main judi. Iya kalau menang, kalau kalah? Akan sia-sia perjuangan Rusli selama ini dalam meniti karier. Semuanya akan habis hanya karena mengikuti perintah Ajengan Bukhory. Saran yang diberikan tanpa penjelasan lengkap. Apalagi untuk dikritisi.
*****
Waktu berlalu cepat, tak terasa, semua berjalan dengan tanpa mengalami halangan berarti. Tak semua hal musti dipikirkan dengan akal, sangat menggantungkan semua hal pada akal, kadang tanpa disadari, kita secara tak sadar telah menuhankan akal itu sendiri. Ada ruang-ruang kosong, yang tak perlu diisi dengan akal, melainkan harus diisi dengan iman. Pada ruangan itu, sikap kita hanya  menggantungkan semuanya, secara mutlak pada keinginan dan keputusan Allah. Karena sesungguhnya, keputusan dan rencanaNya itulah yang terbaik bagi kita. Meski kita, tidak sepenuhnya mengerti tentang itu.
 Alhamdulillah Dedeh telah melahirkan putra Rusli yang pertama, anak lelaki yang diberi nama Umar. Rusli berharap kelak Umar memiliki kecerdasan seperti dirinya dan keteguhan prinsip seperti kakeknya Ajengan Bukhory. Memiliki ketegasan dalam bertindak seperti Umar bin Khatab. Sosok yang menginspirasi dirinya, hingga memberi  nama anak pertamanya dengan nama Umar. Pada Umar, Rusli berharap akan meneruskan apa-apa yang belum sempat dia raih, belum sempat dia wujudkan.
Tak terasa waktu enam tahun berjalan begitu cepat, sejak Rusli memutuskan untuk berhenti kerja, lalu menjadi santri Ajengan Bukhory. Tabungan yang dimiliki Rusli dia gunakan untuk membeli tanah di samping pesantren, Rusli membuka warung sembako di sebelah sebelah Pesantren Ajengan Bukhory. Disela-sela waktu belajar pada Ajengan Bukhory dia membuka warungnya. Bukan sebaliknya, disela-sela membuka warung, Rusli belajar pada Ajengan Bukhory.
Dua tahun pertama Rusli telah mampu membaca al-Qur’an beserta makhroj dan tadjwidnya, disamping fiqh dan hadist. Ajengan Bukhory begitu baik pada Rusli dan memperhatikan dirinya,  bukan hanya memberikan ilmu yang dimilikinya, Ajengan Bukhory bahkan menjadikan Rusli menjadi  bagian dari keluarga besar beliau dengan menjadikan Rusli sebagai menantunya.
Sempurna sudah semuanya, ilmu dapat, ketenangan jiwa diperoleh, Dedeh menjadikan hidup lebih berarti, Umar sebagai penerus generasi dan dapat berbuat banyak pada masyrakat sekitar.
Banyak orang yang tak sepakat dengan istilah menjadi lilin. Membakar diri sendiri untuk menerangi sekitarnya. Namun demikian, tak semua iktibar sebagai lilin itu salah, lilin yang membakar dirinya untuk menerangi sekitarnya. Memang ada pada bagian dari diri kita sebagai manusia yang harus kita bakar terus menerus untuk menerangi sekitar kita. Seperti sifat sombong, kikir, riya, ujub, dan takabur. Dengan membakar sifat-sifat itu, maka kita berharap, akan  menjadikan diri sebagai api yang dapat menerangi sekeliling kita. Demikian kata-kata Ajengan Bukhory yang selalu diingat Rusli.
*****
Rusli masih duduk di teras Mesjid Istiqomah. Tak terasa, waktu telah lama berlalu, Ajengan Bukhory dan Dedeh telah mendahuluinya, Rusli yang kini jadi penerus  apa yang telah dirintis Ajengan Bukhory merasa perjalanan ini masih panjang, masih terasa berat dan berliku. Secara fisik memang Rusli tak kemana-mana, tapi membawa kapal pesantren yang dipimpinnya dalam menghadapai tantangan yang tak berkesudahan, bukanlah perkara mudah dan gampang. Tantangan berat itu kini berupa IT, bagaimana menggunakan IT untuk lebih mempercepat membawa manusia sekelilingnya menjadi lebih  beriman, lebih bermanfaat untuk sesama manusia.
Agaknya, pembakaran diri dari sifat-sifat jelek akan terus berlanjut dan akan terus selalu dilakukan, hingga ketika ajal menjemput, diri ini menjadi ringan, karena, yang tertinggal hanya sinar itu sendiri, sinar yang ringan menuju pada sang Pencipta. Menuju sang Khlaiq, sang Pemilik Keabadian.
Lalu lintas masih saja ramai dijalan, di depan Mesjid Istiqomah itu, meski semuanya memang sudah berubah, tak sesepi seperti dulu, ketika awal Rusli tiba di Pesantren ini. Karena, sesungguhnya, sunatullah yang berlaku adalah pergerakan, sesuatunya bergerak, dari posisi satu ke posisi lain, seperti pergerakan bulan mengitari bumi dan bumi mengitari Matahari. Semuanya bergerak dan berputar pada garis edarnya, yang kekal adalah perubahahan itu sendiri. Perubahan yang kini paling diharapkan Rusli, adalah bagaimana menghabiskan sisa-sisa diri yang harus dibakar itu segera terwujud.
Tiba-tiba Rusli berdiri. Adzan Maghrib sudah dikumandangkan, dia harus menjadi Imam sholat Maghrib bagi santri dan masyarakat sekitarnya. Itu juga menjadi tugas Rusli, dalam rangka menghabiskan sisa-sisa diri yang harus secara tuntas dibakar habis.   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar