Minggu, 26 Juli 2015

Hari Pertama



Semua proses, dari mulai proses seleksi penerimaan fasilitator sudah selesai, demikian juga dengan proses pelatihan pratugas selama dua minggu di Anyer. Demikian juga, ketika tiga hari pertama, setelah pelepasan Fasilitator oleh satker Provinsi, kami terlebih dahulu beradaptasi di Ibu kota Kabupaten. Istilahnya, pengenalan lingkungan.  Semuanya, terlewati dengan baik.
Hari ini, adalah hari pertama saya mengunjungi kecamatan dimana saya akan ditempatkan. Kecamatan  Gigemblong, salah satu daerah yang terletak di Kabupaten Lebak. Banten.
Pagi itu, saya bersama rekan kerja, seorang FK. Bersepakat untuk melalui rute, Rangkas Bitung, Kadubanen, Saketi, Banjar sari, Malingping, Cijaku dan berakhir di Cigemblong. Kesepakatan kedua. Sehubungan teman FK, tangannya sedang dalam tahap penyembuhan, dikarenakan kecelakaan motor yang beberapa waktu sebelumnya terjadi. Maka, teman FK akan membonceng dengan saya. Kesepakatan lainya, bila hujan turun, maka kami akan berteduh, hingga hujan usai. Lalu, meneruskan kembali perjalanan. Setelah semua kesepakatan kami sepakati. Maka, kamipun berangkat.
Jam baru menunjukkan waktu 9.18 menit ketika itu. Sepeda motor yang kami gunakan motor bebek Kawasaki zone. Saya yang mengendarai di depan, sementara teman FK duduk di belakang. Kami meninggalkan daerah Barata, lalu memasuki jalan Multatuli, nama yang mengingatkan seorang tokoh yang memiliki sejarah kental dengan Lebak. Ingat novel saijah dan Adinda. Di ujung jalan Multatuli, kami tiba di jembatan dua. Mengapa disebut jembatan dua? Karena memang ada dua jembatan. Satu jembatan untuk Mobil dan Sepeda motor dan jenis kendaraan lainnya, sedang jembatan yang satu lagi, khusus untuk Kereta Api.
Semangat kami masih menyala, waktu masih pagi hari, perjalanan kami diteruskan, kami tiba di daerah Mandala. Di daerah Mandala ini terletak terminal antar kota, menghubungkan Rangkas Bitung dengan kota sekitarnya, seperti Pandeglang, Serang, Balaraja, Jakarta dan lain-lain. Di ujung terminal, sebelah kiri, seberang jalan, ada pom Bensin, kesanalah kami berdua mengisi Premium. Tanki sepeda motor, perlu diisi full, karena perjalanan serba belum jelas. Di perjalanan selanjutnya, apakah masih ada pom Bensin atau tidak, saya sendiri tidak tahu persis.
Keluar dari Pom Bensin, jalan mulus hingga Kadubanen terbentang dihadapan kami, semoga semulus inilah apa yang akan kami hadapi kelak, di daerah tugas yang bagi kami berdua belum ada gambarannya. Sepeda motor jenis bebek yang kami tumpangi berjalan dengan santai dan lancar.
Memasuki daerah Kadubanen, perjalanan berhenti sejenak, karena, kami tiba pada lampu merah. Jika terus, maka arahnya, menuju kota Pandeglang, belok kanan, menuju kota Serang. Kami berbelok ke kiri, arah Saketi. Jam telah menunjukkan pukul sepuluh pagi kurang delapan menit. Lampu traficlight hijau, kami berbelok kiri, menuju daerah Saketi.
Belum tiga ratus meter setelah lampu merah arah Saketi, jalan mulai terasa kurang nyaman, di depan kami ada lubang besar. Saya menghindari lubang besar itu, sementara jalan menurun dengan sudut kemiringan tajam. Lewat itu, kami mulai sibuk dengan kegiatan baru, menghindari lubang yang setiap saat menghadang di depan kami. Masih dengan jalan yang kurang bersahabat, kini tanjakan tajam, menghadang di depan. Entah karena beban kami yang berat atau karena kecepatan yang rendah karena sibuk menghindari lubang, perseneleng motor terpaksa harus memakai gigi dua. Diujung jalan menanjak, hujan turun. Kami segera mencari tempat berteduh, kalau tidak mau basah kuyup dengan hujan yang turun.
`Reda hujan, kami melanjutkan perjalan. Jalanan dengan lubang di sana-sini dan kontur jalanan yang naik dan turun telah mulai akrab bagi kami berdua. Tidak nyaman memang, tetapi sudah tidak begitu mengganggu. Satu-satunya kendala kini, adalah hujan yang turun.
Menjelang makam syeh Mansyur, kembali hujan turun, kali ini, hujan turun agak lebat. Kami segera berteduh pada warung pertama yang kami temui. Jam telah menunjukkan pukul sebelas empat puluh delapan menit. Sambil berteduh, kami putuskan untuk sekalian makan siang. Selesai makan siang, selesai merokok, hujanpun reda. Kami segera melanjutkan perjalanan. Jam berapa sampai di Cigemblong, kamipun tidak tahu. Inilah perjalanan pertama kami ke sana. Dimana, apa dan bagaimana Cigemblong, kami belum tahu dengan persis.
Perjalanan masih berlanjut, kini kami memasuki daerah saketi, lewat beberapa puluh meter setelah pom Bensin, jalan bercabang dua, segera menghadang di depan kami. Arah ke kanan, jalan dengan tanjakan tajam di depan kami, kami memilih belok kiri dengan tanjakan landai dan menikung, kemudian lurus. Pada akhir jalanan lurus kembali jalan bersimpang dua. Jika berbelok ke kanan, arah ke Labuan dan jika ke kiri, dengan turunan tajam arah ke Banjar sari dan Malingping. Kami berbelok ke kiri dengan turunan tajam. Di akhir turunan tajam, kami tiba di pasar Saketi.
Kini, sempurna sudah kondisi jalanan yang hancur di depan kami. Tak ada lagi pilihan, kami hanya berusaha, agar roda motor tidak masuk pada lubang besar. Pilihannya, memilih jalan yang rusak diantara yang paling rusak. Memilih lubang kecil diantara lubang yang besar. Sementara diatas kami, langit mendung merata. Tiap saat, hujan bisa saja turun. Pada suatu saat, jalanan turun tajam, sementara lubang jalanan disana-sini menganga, hujanpun mulai turun. Kami terpaksa harus terus melanjutkan perjalanan, karena di kiri-kanan jalan, semuanya hanya hutan dan semak belukar, tidak ada satupun warung. Hingga, setelah melewati Jembatan di akhir jalan menurun itu, kami menanjak menyusur jalan. Beberapa puluh meter kemudian, ada sebuah warung, kami berteduh dan memesan kopi. Jam sudah menunjukan pukul satu siang lewat empat puluh menit.
Setelah melewat Banjar Sari, badan mulai letih, kiri-kanan jalan kini sudah didominasi oleh hutan lindung, kebun sawit dan huma para petani. Hujan gerimis, lubang-lubang besar yang menganga sepanjang jalan, sudah akrab bagi kami. Kami sudah tidak memperdulikannya lagi. Hingga akhirnya, ketika kami sampai di Desa Bolang, kecamatan Malingping hujan besar kembali turun. Kami terpaksa untuk berteduh lagi pada warung pertama yang kami temui. Jam menunjukkan pukul empat sore lewat sepuluh menit. Kopi hitam segera kami pesan, pemilik warung, menyatakan bahwa kopi yang kami pesan tidak ada, yang tersedia hanya kopi khas daerah setempat. Nama kopi yang dimaksud, kopi cap kupu-kupu. Pertama mendengarnya, saya merasa aneh. Namun, kelak, kopi cap kupu-kupu inilah yang menjadi teman setia saya menghabiskan malam-malam panjang, selama berada di Pedalaman Banten Selatan.
Tepat setengah enam sore, kami tiba di alun-alun Malingping. Daerah tujuan kami, Cigemblong masih jauh. Tetapi, sebentar lagi gelap akan menyergap kami. Suasana mendung masih belum berubah. Perjalanan ke Cijaku, sungguh menimbulkan rasa tidak nyaman. Air jalanan, jalananan penuh kubangan air, pohon karet di kiri-kanan jalan, lampu penerangan jalan yang sama sekali tidak ada, telah siap menghadang di depan kami. Akhirnya menjelang pukul enam sore, kami tiba di Cijaku.
Perjalanan ini, agaknya tak mungkin untuk diteruskan. Kami putuskan untuk bermalam di rumah ketua UPK Cijaku, Teh Uus, namanya. Setelah bertanya kesana-kemari, akhirnya rumah yang kami caripun bertemu.
Khas, lazimnya terjadi pada masyarakat pedalaman, tak ada rasa curiga, ketika kami mengetuk pintu rumahnya, ada sambutan hangat yang kami terima, dan semakin hangat setelah kami memperkenalkan diri, bahwa kami adalah FT dan FK yang kelak akan bertugas di kecamatan Cigemblong, disertai memperlihatkan surat tugas kami berdua.
Kami dipersilahkan untuk mandi, setelah mandi dan berganti pakaian, ada rasa segar yang kami rasakan setelah seharian naik motor pada jalanan yang rusak parah, dan diselingi dengan hujan deras dan gerimis dibeberapa tempat.
Bersama teh Uus dan suaminya, kami berempat menikmati santap malam. Jangan tanya tentang menu apa yang mereka suguhkan. Tetapi, lihat, bagaimana hangatnya mereka menyambut kami. Seolah teman akrab yang lama tak bertemu. Malam itu, suasana begitu hangat dan cair.
Jam delapan, kami diminta oleh suami teh Uus untuk memasukkan motor yang kami kendarai ke dalam kamar. Hal yang sama, dilakukan juga oleh suami teh Uus, memasukkan motornya ke dalam kamar. Beliau, mengatakan, memang demikianlah kebiasaan di daerah ini, mengingat, rawannya kemanan di daerah Cijaku khusunya dan Banten Selatan Umumnya. Tetapi, memasukkan motor kedalam kamar, sesuatu yang baru bagi saya. Saya sangat terkejut, sudah demikian rawankah keamanan di daerah Cijaku dan daerah Banten Selatan umumnya. Daerah yang akan menjadi daerah tugas saya, mendampingi dan memfasilitasi mereka.
Selesai memasukkan motor, kembali kami ngobrol tentang daerah Cigemblong yang akan kami kunjungi. Berbagai macam cerita, tentang daerah ini, mengalir dari teh Uus dan suaminya. Bagaimana tertinggalnya daerah Cigemblong, bagaimana rusaknya akses jalan menuju ke Cigemblong dan akses jalan di daerah kecamatan Cigemblong, bagaimana budaya masyarakatnya, tokoh siapa yang perlu kami datangi, semacam budaya mengucapkan “salam” sebelum memasuki rumah seseorang dan berbagai hal lain yang menyangkut Cigemblong. Tak terasa, ketika jam menunjukkan jam sepuluh malam, kami dipersilahkan untuk istirahat. Kami pun istirahat, lupakan sejenak tentang perjalanan ini, tubuh inipun, agaknya perlu diistirahatkan, sebelum esok hari, kami melanjutkan perjalanan yang belum selesai.
Jam delapan pagi, selesai ngopi dan sarapan, kami pamit pada keluarga Teh Uus yang telah menerima kami dengan hangat. Perjalanan menuju kecamatan Cigemblong akan kami teruskan.
Baru beberapa meter, lepas dari pasar desa Cijaku, kami segera terjebak dengan kondisi jalan kabupaten yang demikian parah rusaknya. Semakin menyulitkan kami, karena di samping, jalan tidak ada yang datar, setelah selesai menanjak lalu menurun, demikian seterusnya, disertai belokan-belokan tajam, dan makin menyulitkan karena lebar jalan yang sungguh sempit. Di kiri-kanan kami hanya hutan lindung, tanah huma dan kebun masyarakat. Tak jarang kami harus berhenti sejenak, ketika kawanan kerbau yang diasuh oleh anak gembala, menyeberangi jalan.
Pernah, setelah melewati turunan tajam, lalu menyeberangi jembatan, kami harus melalui jalanan menanjak tajam dan rusak parah. Motor yang saya tunggangi sudah dengan gigi satu, tetapi tetap tidak mampu untuk menanjak. Akhirnya, rekan FK saya, harus turun dan berjalan kaki hingga akhir tanjakan.
Akhirnya, kami sampai di desa Cigemblong. Tujuan kami adalah kantor kecamatan Cigemblong. Itu artinya, kami harus melanjutkan perjalanan kira-kira hampir dua kilo lagi dan akan melewati tanjakan seliter, menjelang akhirnya tiba di kantor kecamatan Cigemblong. Mengapa disebut tanjakan seliter? Konon ceritanya, sebelum jalan ini diperbaiki, dibutuhkan bahan bakar seliter untuk sampai di ujung tanjakan. Karena demikian rusak dan tajamnya tanjakan ini. Sekali lagi, teman FK saya harus turun dari motor yang kami tumpangi, ketika melewati tanjakan seliter.
Tepat jam sepuluh pagi, motor kami, memasuki halaman kecamatan Cigemblong. Ada rasa lega yang menyelimuti diri ini. Akhirnya, kamipun tiba di tempat tujuan. Kami kini berada pada suatu tempat yang tinggi. Dari halaman kecamatan ini, pandangan, dapat kami layangkan ke berbagai arah tanpa halangan. Karna, tempat kami berdiri kini, benar-benar tinggi.
Kami memasuki ruang kecamatan. Ajaib sungguh. Jam sepuluh pagi itu, di kantor kecamatan hanya ada empat orang, satu orang hansip, satu orang Ofice Boy, satu orang tenaga administrasi dan satu orang kepala seksi Pemerintahan. Kamipun, diterima oleh kepala Seksi Pemerintahan dengan ramah. Berbagai hal beliau ceritakan pada kami, tentang jumlah desa, tentang jarak desa masing-masing ke kantor kecamatan, tentang parahnya sarana-prasarana jalan, tentang kontur tanah yang tajam, hingga tak adanya penginapan,  dan tidak adanya warung makan yang buka selepas waktu jam enam sore.
Selepas, anjangsana dengan kepala seksi Pemerintahan yang ramah itu. Saya keluar kantor kecamatan, memandang jauh ke bukit-bukit yang puncaknya jelasnya terlihat. Semuanya nampak hijau dan sangat asri terlihat. Di Daerah yang sangat terpencil dan hijau ini. Namun, sangat kontras dengan kondisi jalannya yang rusak parah, dengan tidak adanya listrik yang masuk ke Desa. Saya harus memulainya semuanya dari nol. Dari mulai membentuk UPK, melakukan Musyarah Sosialisasi Desa dan lain-lain. Sementara, setiap bulan, saya harus ke ibu kota Kabupaten untuk mengikuti rakor kabupaten. 
Apakah saya mampu melakukan semua tugas yang dibebankan pada saya itu? Apakah saya mampu untuk beradaptasi dengan masyarakat Cigemblong? Beradaptasi dengan lingkungan tertinggal, yang untuk beberapa desa, masih belum dapat penerangan listrik. Apakah saya mampu mengalahkan diri saya sendiri? Semua pertanyaan itu, agaknya sulit untuk saya jawab sekarang. Waktulah kelak, yang akan menjawab semua pertanyaan diatas.
Langkah pertama untuk sampai ke daerah tugas, sudah saya lakukan. Akan ada langkah-langkah berikutnya yang segera akan mengiringi langkah pertama, yang telah saya lakukan. Hingga, akhirnya kelak, semoga langkah itu, menghantarkan saya pada apa yang diharapkan kita semua. Sebuah hasil berupa pengentasan kemiskinan. Semoga.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar